BUDIDAYA KELAPA SAWIT : PEMBIBITAN KELAPA SAWIT

LAPORAN KEGIATAN KERJA LAPANGAN
SEMESTER I TAHUN AKADEMIK 2009/2010

BUDIDAYA KELAPA SAWIT : PEMBIBITAN KELAPA SAWIT DI PT. SAMPOERNA AGRO TBK., SUMATERA SELATAN

Disusun oleh:
Nama : Puput Ninggariawan I
NIM : 05/185946/PN/10358
Program Studi : Pemuliaan Tanaman
Jurusan : Budidaya Pertanian
Dosen Pembimbing : Ir. Budiastuti Kurniasih, M.Sc.

JURUSAN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2010
LAPORAN KEGIATAN KERJA LAPANGAN
SEMESTER I TAHUN AKEDEMIK 2009/2010

I. LATAR BELAKANG

Komoditi perkebunan memiliki peranan yang nyata dalam memajukan perekonomian dan pertanian di Indonesia. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya taraf hidup petani, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan devisa negara. Salah satu komoditas perkebunan penting di Indonesia adalah kelapa sawit. Kelapa sawit merupakan primadona ekspor non migas, oleh karena itu komoditi ini selalu menjadi pilihan banyak pengusaha untuk menanamkan modalnya.
Perkebunan kelapa sawit di Indonesia dimulai sejak tahun 1911 di Sumatra Utara. Sejak saat itu perkebunan kelapa sawit mengalami banyak kemajuan sampai dengan pecahnya perang pasifik pada tahun 1940. Kemajuan perkebunan kelapa sawit ini didukung oleh lembaga-lembaga penelitian yang telah berdiri sampai dengan sekarang ini (Mangunsoekarjo dan Tojib, 2003).
Ke1apa sawit bukan tanaman asli Indonesia namun saat ini kelapa sawit menjadi salah satu sumber daya pangan, pemasok kebutuhan minyak nabati nasional menggantikan ke1apa (Cocos nucifera). Di Indonesia minyak kelapa sawit mentah mulai dipergunakan sebagai bahan minyak goreng pada tahun 1980 ketika terjadi kelangkaan minyak goreng (Anonim, 1997).
Produk utama kelapa sawit yang dimanfaatkan adalah tandan buahnya yang menghasilkan minyak dari daging buah dan kernel (inti sawit). Industri olahan minyak kelapa sawit dapat digolongkan menjadi 2 macam, yaitu dalam industri pangan (misalnya pembuatan minyak goreng, lemak pangan, margarin, kue, es krim, dan permen) dan dalam industri non pangan (misalnya pembuatan sabun, detergen, dan surfaktan, pelunak, pelapis, ramuan komponen karet, pelumas, dan kosmetik.
Pada saat ini telah dikenal beberapa varietas unggul kelapa sawit yang dianjurkan untuk ditanam di perkebunan. Varietas-barietas unggul tersebut dihasilkan melalui hibridisasi atau persilangan buatan antara varietas Dura sebagai induk betina dengan varietas Pisifera sebagai induk jantan. Terbukti dari hasil pengujian yang dilakukan selama bertahun-tahun, bahwa varietas-varietas tersebut mempunyai kualitas yang lebih baik dibandingkan varietas lainnya (Setyawibawa dan Widyastuti, 1998).
PT. Sampoerna Agro Tbk. merupakan salah satu perusahaan yang bergerak dalam industri kelapa sawit. Pelaksanaan pembudidayaan yang telah bertahun-tahun ini membuat perusahaan telah berpengalaman dalam pengembangan, pendekatan sosial dan lingkungan. Selain itu, luas areal yang dimiliki oleh perusahaan tersebut membuktikan bahwa perusahaan tersebut terus berkembang seiring dengan waktu. Areal penanaman kelapa sawit yang dimiliki oleh PT. Sampoerna Agro tersebar di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah (Anonim, 2006).

II. TINJAUAN PUSTAKA

Tanaman kelapa sawit berasal dari Guinea (pantai barat Afrika). Tanaman kelapa sawit (Elaies guineensis Jacq) termasuk anggota famili Palmae yang merupakan golongan tanaman keras penghasil minyak nabati. Berdasarkan taksonominya, tanaman kelapa sawit termasuk ke dalam divisi Tracheophita, kelas Angiospermeae, subkelas Monocotyledoneae, ordo Cocoideae, famili Palmae, subfamili Elaeis, spesies Elaies guineensis Jacq (Corley, 1976).
Kelapa sawit termasuk tanaman berumah satu (monocious) yaitu tanaman yang memiliki bunga jantan dan bunga betina dalam satu tanaman. Kedua jenis bunga tersebut keluar dari ketiak pelepah daun dan berkembang secara terpisah. Bunga dapat menyerbuk sendiri maupun menyerbuk bersilang. Tanaman kelapa sawit dapat dibagi menjadi bagian vegetatif dan generatif. Bagian vegetatif terdiri atas akar, batang, dan daun, sedangkan bagian generatif yang berfungsi sebagai alat perkembangbiakan adalah bunga dan buah (Mangoensoekarjo dan Tojib, 2003).
Deli Dura merupakan induk bagi sebagian besar tanaman kelapa sawit komersial yang saat ini ditanam di dunia. Material genetik lain yang dimiliki PPKS merupakan hasil introduksi dari Afrika maupun Amerika Selatan. Salah satu material yang diintroduksi dari Zaire adalah Tenera/Pisifera Binga, dilakukan pada 1987 oleh Balai Penelitian Perkebunan Medan. Material ini akan menjadi fokus penelitian pada 2006 untuk tujuan karakterisasi dan eksploitasi, mengingat mempunyai prospek dan potensi untuk dikembangkan terutama dari karakter kandungan minyak yang tinggi dan pertumbuhan meninggi yang lambat (Purba et al., 2006).
Kegiatan karakterisasi mengacu pada Descriptor for Oil Palm. Karakter yang diamati adalah seluruh bagian tanaman yang dapat diidentifikasi sebagai pembeda dengan tanaman kelapa sawit lain. Pembeda yang dimaksud harus mengacu pada kebaruan, keunikan, keseragaman, dan kestabilan suatu varietas. Hal ini merupakan standar yang ditetapkan oleh Kantor Pusat PVT Jakarta untuk pengajuan koleksi yang akan dilindungi, sedangkan keragaan hasil silang balik antara Elaeis oleifera dan Elaeis guineensis antara lain laju pertumbuhan meninggi yang lambat pada beberapa persilangan yang terbaik, yaitu berkisar antara 30–40 cm/thn, kemudian memiliki karakter tajuk kecil sehingga dapat ditanam dengan densitas tinggi per hektar, memiliki kualitas minyak yang cukup baik jika ditinjau dari kandungan oleat, asam lemak tidak jenuh, beta karoten yang lebih tinggi dibandingkan Elaeis guineensis, dan apabila ditinjau dari hasil analisis pada satu populasi silang balik generasi pertama maka dapat ditemukan rerata kandungan beta karoten lebih tinggi dari 1000 ppm, bahkan nilai tertinggi dapat mencapai 2118.63 ppm (Purba et al., 2006).
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik pada daerah tropikal basah di sekitar lintang utara-selatan 12° pada ketinggian 0-500 m di atas permukaan laut. Jumlah curah hujan yang baik adalah 2000-2500 mm/tahun, tidak memiliki defisit air, suhu optimal adalah 24-28° C dengan suhu minimum 18°C dan maksimal 32°C, kelembaban udara 80%, penyinaran matahari 5-7 jam/hari dan kecepatan angin 5-6 km/jam. Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti podsolik, latosol, hidromorfik kelabu (HK), regosol, andosol, organosol dan alluvial. Sifat fisik tanah yang baik untuk kelapa sawit yaitu memiliki solum setebal 80 cm, tekstur ringan, memiliki pasir 20-60%, debu 10-40%, dan liat 20-50%, kemudian memiliki perkembangan struktur baik, konsistensi gembur sampai agak teguh dan permeabilitas sedang, pH tanah sekitar 5-5½, dan memiliki kandungan unsur hara dalam tanah yang tinggi (Lubis, 1992).
Benih kelapa sawit mengalami dormansi (keadaan sementara istirahat tanaman) yang cukup panjang. Diperlukan aerasi yang baik dan temperatur yang tinggi (400 C selama 80 hari) untuk memutuskan masa dormansi agar bibit dapat berkecambah. Pada proses perkecambahan diperlukan kelembaaban 60-80 % dengan temperatur 35 oC. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm, optimal 2.000-3.000 mm/tahun. Kelapa sawit tumbuh baik pada tanah dengan struktur gembur atau remah yang cukup tebal lapisannya dan banyak mengandung humus dan mineral. Permukaan air tanah harus cukup dalam, sebab perakaran kelapa sawit tidak berkembang baik pada air tanah yang dangkal (Heurn, 1985).
Pengolahan tandan buah segar sampai diperoleh minyak sawit kasar (Crude Palm Oil, CPO) dan inti sawit dilaksanakan melalui proses yang cukup panjang. Secara ringkas urutan pengolahan kelapa sawit yang dimaksud adalah sebagai berikut (Setyawibawa, 1998) :
a. Pengangkutan buah dari kebun ke pabrik
b. Perebusan buah (sterilisasi)
c. Pelepasan buah (stripping) dari tandan dan pelumatan (digesting)
d. Pengeluaran minyak (ekstraksi)
e. Pemurnian dan penjernihan minyak (klarifikasi)
f. Pemisahan biji dari sisa-sisa daging buah
g. Pengeringan dan pemecahan biji
h. Pemisahan inti dari cangkang
Pembibitan kelapa sawit biasanya memerlukan waktu selama 12 bulan sampai siap ditanam ke lapangan, yang terdiri dari 2 tahap yaitu 3 bulan pembibitan awal (pre-nursery) dan 9 bulan pembibitan utama (main-nursery). Terkadang pembibitan kelapa sawit ada yang lebih dari 12 bulan berhubung terlambat dipindah ke lapangan, karena beberapa pertimbangan (Siregar dan Purba, 1992).
Perawatan tanaman merupakan salah satu tindakan yang sangat penting dan menentukan masa produktif tanaman. Perawatan bukan hanya ditujukkan terhadap tanaman semata, tetapi juga pada media tumbuh (tanah). Perawatan tanaman kelapa sawit meliputi penyulaman, penanaman tanaman sela, pemberantasan gulma, pemangkasan, pemupukan, kastrasi dan penyerbukan buatan (Syamsulbahri, 1996).
Panen dan pengolahan hasil merupakan rangkaian terakhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit. Kegiatan ini memerlukan teknik tersendiri untuk mendapatkan hasil yang berkualitas. Hasil panen utama dari tanaman kelapa sawit adalah buah kelapa sawit, sedangkan hasil pengolahan buah adalah minyak sawit. Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut brondolan, dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. Pelaksanaan pemanenan perlu memperhatikan beberapa kriteria tertentu sebab tujuan panen kelapa sawit adalah untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengan kualitas minyak yang baik. Kriteria panen yang perlu diperhatikan adalah matang panen, cara panen, alat panen, rotasi dan system panen, serta mutu panen (Fauzi et al., 2002).

III. ISI

A. Keadaan Umum Kebun Hikmah Dua
1. Sejarah Kebun
Kebun Hikmah Dua (HD) merupakan bagian dari PT Telaga Hikmah yang menjadi anak perusahaan dari PT Sampoerna Agro Tbk. Sebelumnya PT Telaga Hikmah merupakan bagian dari PT Tania Selatan yang kemudian dijual kepada PT Selapan Jaya. Pada pertengahan 2007 PT Sampoerna Agro mengambil alih kepemilikan kelompok PT Selapan Jaya termasuk di dalamnya adalah PT Telaga Hikmah.
Keadaan Fisik Kebun
Kebun HD terletak di Desa Pulau Geronggang Kecamatan Pedamaran Timur Kabupaten Ogan Komering Ilir. Berikut batas-batas Kebun Hikmah Dua :
- Utara : Desa Pulau Geronggang
- Selatan : Desa Embacang (Kebun Hikmah Tiga)
- Barat : Desa Maribaya
- Timur : Desa Kayu Labu (Kebun Hikmah Lima)
Jarak antara Kebun HD dengan ibukota kabupaten ± 3 jam, sedangkan dengan ibukota propinsi ± 7 jam dengan menggunakan roda empat pada keadaan lancar. Kebun HD memiliki kontur tanah yang bergelombang dengan kemiringan hingga ± 15º dengan ketinggian 0-50 m dpl. Temperatur harian di kebun HD belum pernah dicatat sebelumnya, namun diperkirakan 25º C pada malam hari dan 36º C pada siang hari. Curah hujan di kebun HD sendiri cukup tinggi dengan 2000 mm per tahunnya.

2. Struktur Organisasi
Kebun HD dipimpin oleh seorang senior manajer yang membawahi langsung asisten-asisten divisi dan KTU. Kebun HD terdapat 3 divisi inti, 2 plasma, serta 1 bibitan, sehingga ada 6 asisten divisi. Sedangkan untuk bagian administrasi dipimpin oleh seorang asisten kantor (KTU). Selain itu terdapat karyawan baik pegawai bulanan (PB), karyawan harian tetap (KHT), serta karyawan harian lepas (KHL). Pada bagian tata usaha kebun KTU dibantu oleh 9 orang kerani dengan pembagian 1 kerani pembukuan, 1 kerani administrasi, 1 kerani alat berat, 1 kerani produksi, 1 kerani divisi inti, 1 kerani divisi plasma, 1 kerani divisi bibitan, 2 kerani gudang.

3. Fasilitas Kebun
Kebun HD memiliki fasilitas perumahan (kamp) karyawan baik G1, G2 maupun G6 yang secara keseluruhan berjumlah ± 250 pintu dengan lebih dari 200 kepala keluarga. G1 merupakan perumahan menejer, G2 untuk asisten lapangan, KTU, dan satpam. Sedangkan G6 untuk karyawan baik PB, KHT maupun KHL yang berasal dari kerani, pemanen, sopir, hingga pemuat. Kebun HD juga dilengkapi dengan sarana ibadah (mesjid), sarana olahraga (lapangan bola kaki, tenis meja, lapangan bulu tangkis, dan lapangan bola voli). Selain itu, Kebun HD menyediakan fasilitas air dan listrik gratis bagi masyarakat yang tinggal di kamp Kebun HD.

Gambar A.3.1. Kiri: Perumahan Karyawan; Kanan: Mesjid Baitur Rahman.
Kebun HD memiliki kantor yang terletak di sebelah timur kamp. Fasilitas yang terdapat di kantor terebut adalah 4 buah komputer (3 administrasi dan 1 KTU), 2 buah printer dot matrix (Epson LQ 2180), 1 buah mesin fotokopi, scan dan printer (Minolta), 2 buah pendingin udara / AC (ruang menejer dan ruang rapat), 5 set meja kerani, 6 set meja asisten, 1 set meja KTU dan 1 set meja menejer serta 1 set sofa tamu. Selain itu, juga terdapat 3 buah kipas angin, masing-masing di ruang kerani, ruang administrasi dan ruang KTU.

Gambar A.3.2. Kiri: Gudang; Kanan: Ruang administrasi.

B. Budidaya Kelapa Sawit
1. Persiapan dan Pengolahan lahan
Persiapan lahan merupakan tahap awal dari kegiatan budidaya kelapa sawit. Ruang lingkup dari tahap ini adalah pra survey, survey, merintis dan pengukuran lahan serta koordinasi ke instansi terkait. Kegiatan pra survey departemen GAL dan menejer kebun bersama dengan asisten melakukan peninjauan dan meneliti calon kebun secara langsung guna mendapatkan informasi data kesesuaian dan ketersediaan lahan, tenaga kerja, pra sarana, partisipasi masyarakat serta dukungan pemerintah setempat. Sedangkan kegiatan survey dilakukan oleh menejer kebun dan asisten bersama instansi pemerintah (Badan Pertanahan Nasional, Dinas Perkebunan, Dinas Kehutanan, Dinas Transmigrasi, Dinas Lingkungan Hidup / Bapedalda, Tokoh Masyarakat) untuk menilai status legalitas dan kesesuaian lahan. Maksud survey areal adalah untuk menentukan batas areal, luasan yang akan ditanami kelapa sawit, situasi vegetasi, topografi dan batas konsesi areal yang dicadangkan. Dari hasil survey ini dapat digunakan sebagai dasar penentuan sistem pengawetan tanah, air, penentuan sistem jaringan jalan, emplasmen, kantor, perumahan dan pabrik. Sedangkan merintis dan pengukuran lahan adalah kegiatan pengukuran keliling lahan yang akan dijadikan kebun sesuai dengan peta pencadangan lahan. Dalam pembukaan lahan perlu diperhatikan beberapa ketentuan yang harus dipatuhi, yaitu:
- Cagar budaya atau situs
- Flora dan fauna yang dilindungi
- Kelerengan tanah
- Pohon tempat sarang burung dan lebah
- Sempadan pantai (minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi)
- Sempada sungai (100 meter kanan kiri sungai besar, 50 meter kanan kiri anak sungai di luar pemukiman, dan 10-15 meter di daerah pemukiman)
- Kawasan sekitar danau atau waduk (50-100 meter dari titik pasang tertinggi)
- Kawasan sekitar mata air (200 meter di sekitar mata air)
Tahap selanjutnya adalah pengukuran blok. tahap ini meliputi kegiatan kerja pengukuran, pembuatan blok, pembuatan peringgan batas, dan penetapan areal konservasi. Blok adalah suatu kesatuan administrasi terkecil sesudah divisi. Sedangkan peringgan batas adalah batas antara kebun dengan areal hutan areal perkebunan lain. Pengukuran blok dilakukan dengan menggunakan Theodolit untuk menentukan arah rintisan garis batas blok utara – selatan dan timur – barat. Pengukuran dilakukan dengan mengikuti arah rintisan dan memasang pancang ukuran 2 meter pada setiap jarak 50 meter. Pada setiap jarak antara timur-barat 1.009,26 meter dan pada utara selatan dengan jarak 1.036 meter dipasang pancang dengan ukuran 4 meter yang ujungnya diberi cat berwarna merah. Pembuatan blok dilakukan setelah proses pengukuran dan pemetaan selesai dengan ukuran setiap blok masing-masing 100 (seratus) Ha dan setiap blok dibagi menjadi 4 (empat) petak yang luasnya 25 Ha. Untuk blok yang berbatasan langsung dengan hutan, perkebunan lain, atau pemukiman dilakukan pembuatan peringgan batas. Ketika melakukan pengukuran blok, perlu diperhatikan lingkungan sekitar sehingga dapat ditetapkan areal konservasi. Penetapan areal konservasi berdasarkan Keppres No. 32 Tahun 1990.
Setalah pengukuran blok selesai, maka dilanjutkan dengan penebangan dan pembersihan lahan. Dalam penebangan dan pembersihan ini meliputi kegiatan mengimas, menumbang, merumpuk, pancang stacking, mechanical stacking dan semprot alang-alang. Mengimas adalah kegiatan membabat semak belukar dan pohon kayu yang berdiameter kurang dari 10 cm. Mengimas dilakukan dengan tenaga manusia dengan menggunakan parang. Kegiatan ini dilakukan untuk mempermudah pekerjaan menumbang dengan traktor. Selain itu untuk membersihkan lalang juga dapat digunakan herbisida. Menumbang adalah kegiatan menebang pohon kayu yang berdiameter lebih dari 10 cm yang biasanya dilakukan dengan menggunakan traktor. Namun apabila tidak bisa ditumbangkan dengan traktor, dapat menggunakan gergaji rantai (chain saw). Kayu hasil tumbangan ditumpuk memanjang arah utara selatan yang berjaraj sekitar 50-100 meter. Penumbangan dimulai dari pinggir ke tengah berbentuk spiral dan pohon ditumbangkan ke arah luar agar tidak menghalangi jalannya traktor. Merumpuk adalah kegiatan memotong cabang serta ranting-ranting hasil imasan den tebangan kemudian dikumpulkan di gawangan. Cara pengumpulan kayu hasil merumpuk juga sama dengan menumbang. Apabila kegiatan merumpuk dilakukan dengan menggunakan alat berat, maka disebut dengan mechanical stacking. Pancang stacking / rumpukan adalah kegiatan pengukuran dan pemancangan letak rumpukan yang akan dikerjakan secara mekanis maupun manual. Dalam kegiatan menumbang terdapat beberapa aturan yang harus diperhatikan mengenai tinggi tebangan yang disesuaikan dengan diameter tanaman.
- Diameter 10 – 20 cm tinggi maksimum 40 cm dari permukaan tanah.
- Diameter 21 – 30 cm tinggi maksimum 60 cm dari permukaan tanah.
- Diameter 31 – 75 cm tinggi maksimum 100 cm dari permukaan tanah.
- Diameter > 75 cm tinggi maksimum 150 cm dari permukaan tanah.
Setelah pembersihan lahan selesai dibuat dan pengukuran blok selesai dilaksanakan, dilanjutkan dengan pengelolaan tanah dan air. Pengelolaan ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya genangan air ketika musim hujan atau kekeringan ketika musim kemarau. Selain itu, juga dimanfaatkan untuk mencegah terjadinya erosi. Bagain-bagian dari konservasi tanah dan air seperti tapak kuda (suatu bentuk permukaan tanah yang ditinggikan dengan kemiringan sebesar 15º), terasan (bentuk permukaan tanah yang dibuat berjenjang/bertingkat untuk membatasi aliran air dipermukaan tanah), benteng (bentuk permukaan tanah yang ditinggikan yang berasal dari galian tanah dan telah dipadatkan, rorak (lobang bekas galian tanah yang digunakan untuk benteng yang berbentuk trapesium terbalik) dan parit (saluran air yang dibentuk secara manual maupun mekanis).

Gambar B.1.1. Benteng
Tahap terakhir dari persiapan lahan adalah penanaman kacangan. Penanaman kacangan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi kerja, mengurangi biaya produksi serta meningkatkan produksi kelapa sawit. Penanaman kacangan dilakukan sebelum penanaman kelapa sawit dilaksanakan. Namun adakalanya penanaman kacangan dilaksanakan setelah kelapa sawit ditanam. Hal ini karena perusahaan mengejar masa tanam yang singkat. Kacangan berfungsi sebagai penutup tanah sehingga diharapkan tidak ada gulma yang tumbuh disekitar tanaman kelapa sawit. Selain itu, kacangan juga mampu membantu mengikat N sehingga meningkatkan kandungan N di dalam tanah. Sebelum dilakukan penanaman kacangan terlebih dahulu areal disemprot dengan menggunakan herbisida sehingga areal bersih dari gulma.

Gambar B.1.2. Pembibitan kacangan
Penanaman kacangan dilaksanakan pada musim hujan untuk memastikan tanaman kacangan dapat tumbuh dengan baik. Kacangan yang ditanam merupakan pencampuran tiga jenis kacangan yang disertai pupuk dengan perbandingan kacangan Centrosema pubescens (CP), Calopogonium muconoides (CM), Pueraria javanica (PJ) dan pupuk RP ( 2 kg CP +2 kg CM + 1 kg PJ + 5 kg pupuk RP). Apabila penanaman kacangan telah selesai dilakukan, maka areal siap untuk ditanamai kelapa sawit.

2. Penanaman Kelapa Sawit
Penanaman kelapa sawit baru dapat dilaksanakan setelah semua kegiatan persiapan lahan selesai. Sebelum dilakukan penanaman, terlebih dahulu dilakukan pemancangan bibit. Arah baris tanaman umumnya utara selatan dan pada keadaan tertentu dapat diubah dan disesuaikan dengan keadaan topografi. Jarak tanam 9.25 m x 9.25 m x 9.25 m dengan jarak dala baris 8.01 m dalam bentuk segitiga sama sisi dengan kerapatan 135 pkk/ha. Di daerah berbukit dan kontur arah barisan mengikuti arah kontur dan jarak antar kontur adalah proyeksi jarak antara baris. Pemancangan dimulai dengan membuat pancang kandang yang berukuran 101.75 m x 96.120 m (11 x 9.25) x (6 x 16.02) m.

Gambar B.2.1. Kiri: Pemancangan; Kanan: Pancang yang telah selesai dibuat
Pancang tanam yang tepat mengenai tunggul kayu keras dapat dipindahkan dalam barisan tanaman maksimal 100 cm. Setelah dilakukan pemancangan, maka dilakukan pembuatan lobang tanam. Ukuran lobang minimal 50 x 50 x 40 cm sehingga bibit tertanam sampai batas leher akar. Sebelum lobang dibuat lebih dahulu sampah dan tunggul dibersihkan dan permukaan tanah diratakan. Lobang tanam dibuat 10 cm di sebelah selatan pancang. Pancang tidak boleh dicabut pada saat pembuatan lobang.

Gambar B.2.2. Kiri: Pembukaan polibag; Kanan: Penanaman kelapa sawit
Setelah pembuatan lobang tanam selesai dilakukan, maka bibit yang telah dipesan sebelumnya didistribusikan ke areal. Bibit yang dibawa oleh truk diturunkan ditempat yang telah diberi pancang. Setiap tumpukan bibit berjumlah 27 pokok untuk 2 baris atau pada areal yang tidak penuh (abnormal) pancang tanam harus terlebih dahulu dihitung sehingga dapat disesuaikan jumlah bibit yang akan diturunkan. Penerimaan bibit diselesaikan perpetak dalam kelompok varietas yang sama sehingga diperoleh penanaman yang seragam untuk setiap blok. Bibit yang telah disebar tadi kemudian diangkat dengan cara dipanggul dan ditempatkan pada pancang terjauh (pancang ke-14). Setelah itu secara berurutan bibit diangkat sampai ke pinggir jalan (pancang ke-1). Untuk areal tanaman yang sulit ditempuh dengan menggunakan truk, dapat digunakan samapat atau tongkang. Posisi bibit ditempatkan dengan berdiri tegak disamping lobang tanam. Penanaman kelapa sawit dilaksanakan dengan memotong plastik dasar polybag pada lobang tanam kemudian mengangkat plastik tersebut ke atas dan mengikatnya pada daun bibit kelapa sawit untuk memudahkan penutupan lobang. 3-4 hari setelah penanaman dilakukan konsolidasi untuk memastikan bahwa bibit kelapa sawit tersebut tertanam dengan benar (tidak miring atau tumbang).

3. Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM)
Pemeliharaan tanaman belum menghasilkan (TBM) dimulai dengan pembuatan jalan setapak. Jalan setapak ini nantinya akan digunakan sebagai jalannya pekerja ketika melakukan perawatan (merumput, semprot hama dan penyakit, serta gulma), sensus pokok, penyisipan, hingga akhirnya nanti menjadi jalan ketika panen dilaksanakan. Jalan setapak dibuat secara berkala, dimulai dengan jalan setapak 1 : 16 (3-6 bulan), jalan setapak 1 : 8 (12-16 bulan), jalan setapak 1 : 4 (18-24 bulan), jalan setapak 1 : 2 (28-32 bulan). Sedangkan untuk jalan tengah atau jalan 13 dibuat bersamaan dengan pembuatan jalan setapak 1 : 16. Jalan setapak dibuat arah utara–selatan sepanjang baris tanaman dengan ukuran panjang 250 meter dan lebar 1,25 meter, sedangkan jalan tengah / jalan 13 dibuat arah timur–barat dengan panjang 1.000 m dengan lebar 1,25 m. Perawatan jalan setapak dilakukan dengan melakukan penyemprotan yang dimulai pada saat tanaman kelapa sawit berumur 12 bulan. Rotasi penyemprotan dilakukan sebanyak 3 kali setahun. Penyemprotan jalan setapak disesuaikan dengan dosis yang direkomendasikan sesuai dengan anggaran biaya tahunan.

Gambar B.3.1. Dongkel Anak kayu (DAK) pada TBM.
Selain pembuatan jalan setapak, juga dilakukan kegiatan perawatan seperti perawatan gawangan. Perawatan gawangan ini dapat dilaksanakan secara manual ataupun kemis. Perawatan gawangan manual dilakukan dengan cara mencabut, mendongkel anak kayu, pengupasan kulit kayu dilakukan pada tunggul kayu yang masih hidup atau anak kayu yang tidak bisa didongkel dari bawah sampai keatas berkeliling. Hasil dongkel anak kayu (DAK) ditempatkan di atas tunggul yang mati atau para-para. Sedangkan rotasi rawat gawangan manual pada TBM 1 dengan interval 2 bulan sekali, TBM 2 dengan interval 3 bulan sekali, dan TBM 3 dengan interval 4 bulan sekali. Perawatan gawangan secara kemis dilaksanakan apabila gulma di areal lebih dominan. Gulma disemprot menggunakan alat Knapsack Sprayer dengan larutan herbisida pada gawangan sawit. Rotasi semprot gawangan pada TBM 1 dengan interval 2 bulan sekali, TBM 2 dengan interval 3 bulan sekali, TBM 3 dengan interval 4 bulan sekali. Selain rawat gawangan, juga dilakukan garuk piringan pada tanaman kelapa sawit. Garuk piringan ini dilakukan supaya area piringan tanaman kelapa sawit bebas dari gulma sehingga tingkat persaingan tanaman dalam mendapatkan unsure hara, mineral dan air dapat diminimalkan. Garuk piringan dilaksanakan dengan cara membersihkan rumput/gulma yang tumbuh di piringan pokok. Diameter piringan disesuaikan dengan lebar tajuk tanaman. Kacangan yang menjalar diatas pokok sawit harus diturunkan. Rotasi garuk piringan dilakukan dengan ketentuan TBM 1 dengan interval 2 bulan sekali, TBM 2 dengan interval 3 bulan sekali. Selain dilakukan perawatan garuk piringan, juga dilakukan semprot piringan. Pelaksanaan semprot piringan dilakukan dengan cara menyemprot rumput di piringan pokok dengan menggunakan Knapsack Sprayer. Jenis rumput yang disemprot adalah seluruh jenis–jenis rumput/gulma yang ada dipiringan dengan herbisida. Penyemprotan tidak dilakukan bila cuaca hujan/mendung untuk menghindari pencucian herbisida oleh air hujan. Penyemprotan piringan dilakukan pada TBM 3 dengan rotasi 4 bulan sekali.

Gambar B.3.2. Kiri: Semprot lalang; Kanan: Piringan yang telah dibersihkan
Selain merumput juga terdapat kegiatan perawatan semprot lalang. Lalang menjadi perhatian besar karena daur hidupnya sangat singkat dan sangat mudah tumbuh walaupun lingkungannya kurang mendukung. Terdapat dua cara untuk menanggulangi lalang yang tumbuh disekitar pertanaman kelapa sawit, yaitu spot spraying (kemis) dan lap lalang (manual). Pada spot sprayer lalang disemprot menggunakan Knapsack Sprayer yang berisi campuran bahan herbisida secara sporadic dan dilakukan 1 (satu) tahun sekali. Pada lap lalang digunakan kain yang telah dicampur bahan herbisida dengan konsentrasi 1% kemudian dilapkan pada lalang dari pangkal batang sampai pucuk daun. Lalang yang sudah dilap pucuk daunnya dipotong. Rotasi lap lalang dilakukan dengan ketentuan TBM 1 dengan interval 2 bulan sekali, TBM 2 dengan interval 3 bulan sekali, TBM 3 dengan interval 4 bulan sekali, dan pada TM dilakukan dengan interval 6 bulan sekali.
Untuk mengetahui jumlah kelapa sawit yang telah ditanam dan belum ditanam, maka dilakukan sensus pokok. Sensus pokok dilakukan satu bulan setelah penanaman dan sensus berikutnya satu kali setahun.apabila terdapat tanaman yang mati atau belum ditanam, maka dilakukan penyisipan. Penyisipan dilakukan berdasarkan laporan dari sensus pokok yang telah dilakukan sebelumnya. Pada masa TBM, selain dilakukan perawatan-perawatan rutin, juga dilakukan persiapan untuk panen. Sebagai contoh adalah pembuata tempat pengumpulan hasil (TPH). Pembuatan TPH dilakukan pada saat tanaman berumur 3 tahun (TBM 3) dengan cara meratakan tanah, membersihkan rumput, tunggul dan kayu dengan ukuran 4 x 7 m.
Pencegahan hama dilakukan sedini mungkin untuk menghidari kerugian yang besar akibat serangan hama. Untuk itu, di kebun HD dilakukan sensus hama, baik itu hama daun, hama tikus ataupun tirathaba. Sensus hama daun dilaksanakan minimal satu kali sebulan. Bila terjadi ledakan serangan hama (out break) maka dilakukan sensus setiap dua minggu sekali pada areal yang terserang berat. Pengamatan dilakukan pada pokok yang terdapat dalam baris sensus (titik sensus tetap) yang telah dibuat terlebih. Sedangkan untuk hama tikus dilakukan sensus hama tikus yang dilaksanakan satu kali sebulan. Cara pengamatan serangan hama tikus dibedakan antara TBM – TM 3 dan TM 4 ke atas. Sensus hama Tirathaba dilaksanakan di areal tanaman yang sudah selesai kastrasi dan dilaksanakan satu kali sebulan. Sensus ini tidak perlu dilakukan bila persentase serangan sudah dibawah 2 %.
Pada masa TBM, kelapa sawit diarahkan untuk memaksimalkan pertumbuhan vegetatif sehingga ketika bunga muncul, maka bunga tersebut langsung di musnahkan (kastrasi). Kastrasi dilakukan pada tanaman yang telah berumur 13, 15 dan 17 bulan. Sedangkan untuk pemupukan pada TBM dilakukan berdasarkan rekomendasi pemupukan yang diberikan oleh tim agronomy research unit (ARU) berdasarkan hasil analisa kebutuhan pupuk dan rekomendasi ini diberikan setiap tahun.

4. Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM)
Pada tanaman menghasilkan (TM), perawatan atau pemeliharaan tanaman kelapa sawit tidak seintensif ketika tanaman masih di TBM. Perawatan hanya meliputi merumput, merawat jalan serta pemupukan. Merumput di TM sendiri tidak berbeda jauh dengan merumput di TBM, karena pada prinsipnya adalah menghilangkan rumput yang mengganggu pertanaman kelapa sawit. Begitu juga dengan semprot piringan, gawangan dan TPH. Kegiatan merumput dapat dilakukan dengan cara merawat gawangan dengan herbisida (kemis) atau dengan mendongkel anak kayu/anak sawit (manual). Gulma disemprot dengan menggunakan alat Knapsack Sprayer dengan larutan herbisida pada gawangan sawit. Rotasi semprot gawangan dan dongkel anak kayu adalah 1 kali setahun. Semprot piringan/jalan setapak/TPH merupakan pekerjaan yang sama, hanya tempatnya saja yang berbeda. Pelaksanaan semprot piringan/jalan setapak/TPH dilakukan dengan cara menyemprot rumput dipiringan/jalan setapak/TPH pokok menggunakan Knapsack Sprayer dengan menggunakan nozlle yang sesuai dengan populasi gulma. Jenis rumput yang disemprot adalah seluruh jenis–jenis rumput/gulma yang ada di piringan , jalan setapak dan TPH. Penyemprotan tidak dilakukan bila cuaca hujan atau mendung. Rotasi semprot gawangan, piringan, jalan setapak, dan TPH 2 kali setahun.
Keadaan jalan menjadi faktor penting terutama ketika musim hujan. Kebun HD memiliki tekstur tanah yang didominasi lempung sehingga sangat licin ketika hujan dan lengket ketika hujan reda. Hal ini menyebabkan banyak truk menjadi sering macet/mogok karena tidak dapat berjalan di jalan rusak. Selain itu jembatan juga memerlukan perawatan khusus.Oleh karena itu, diperlukan perawatan jalan, baik itu jalan utama (poros), jalan produksi, dan jembatan. Perawatan jalan utama,jalan luar kebun, produksi dan jalan alternatif dilakukan dengan Road Grader. Road Grader berfungsi sebagai sebagai perata jalan yang bergelombang.

Gambar B.4.1. Kiri: Road Grader; Kanan: Compactor.
Bentuk badan jalan utama dan jalan produksi tetap dipertahankan seperti batok tengkurap. Badan jalan produksi dan jalan alternatif yang telah ditumbuhi rumput tidak perlu degrading. Badan jalan tidak terlindung oleh kanopi daun atau pelepah tanaman. Selain itu, perlu dilakukan perawatan saluran air di kanan dan kiri jalan secara manual pada saat musim hujan. Perawatan jalan utama, produksi dan jalan alternatif pada topografi rendah dibadan jalan dibuat saluran air berbentuk ”V” untuk mencegah genangan air di badan jalan saat musim hujan, dilakukan secara manual dengan menggunakan ”dodos modifikasi” berbentuk cangkul. Jalan yang berlobang ditimbun dan dipadatkan dengan Compactor. Rotasi perawatan jalan dilakukan dua kali setahun dan dalam kondisi tertentu dapat ditambah rotasi perawatannya. Untuk perawatan jembatan permanen dilakukan dengan membersihkan potongan kayu, sampah yang tertahan di tiang/pondasi jembatan. Penambahan tanah pada pangkal jembatan sehingga permukaan jalan sama tinggi dengan lantai jembatan. Tanah pada kiri kanan pondasi jembatan yang longsor ditimbun kembali dan dipasang cerucuk. Perawatan jembatan darurat dilakukan dengan membersihkan sampah, potongan kayu, melancarkan aliran air. Susunan batang kayu yang terlalu merenggang dirapatkan kembali dan mengganti kayu yang patah, lapuk pada jembatan darurat serta pangkal jembatan di timbun tanah sehingga permukaan jalan sama tinggi dengan permukaan batang kayu jembatan. Perawatan gorong-gorong dilakukan dengan membersihkan sampah, potongan kayu, tanah, melancarkan aliran air. Tanah timbunan gorong gorong dipertahankan rata dengan permukaan jalan. Untuk jalan yang ternaungi oleh pelepah dapat dilakukan perawatan rempes pelepah dengan menggunakan egrek dan bambu. Terkadang kerusakan jalan tidak terlalu parah sehingga hanya memerlukan beberapa orang untuk memperbaikinya. Perawatan manual ini termasuk di antaranya membuang air yang menggenang di jalan dengan membuat saluran pembuangan, membuang lumpur yang ada di badan jalan dengan menggunakan cangkul serta menimbunnya dengan tanah.
Pada TM terkadang pelepah yang ada di pohon sangat banyak dan terkadang pelepah yang matipun masih menempel pada pohon tersebut. Untuk itu, dilakukan pemangkasan (pruning) dan pembersihan (debris). Pemangkasan dilakukan dengan ketentuan sebagai berikut:
Umur tanaman (tahun) Pelepah yang dipertahankan di pokok
2.5 – 3 58 – 64
3.5 – 7 48 – 56
8 – 14 40 – 48
15 tahun ke atas 32 – 40
Tabel B.4.1. Jumlah pelepah yang dipertahankan di pokok berdasarkan umur tanaman.
Pemangkasan pelepah harus mepet, agar berondolan tidak sangkut dan di rotasi setiap 9 bulan sekali. Setelah dilakukan pemangkasan dilanjutkan pembersihan dengan membuang seludang buah, bunga jantan, brondolan kering yang terdapat di piringan dan ketiak pelepah pada tanaman menghasilkan dengan rotasi 1 kali setahun.
Aplikasi pemupukan pada TM mengikuti rekomendasi dari tim ARU yang keluar setiap tahun. Rekomendasi ini didapatkan dari hasil analisa Leaf Sampling Unit (LSU) yang pada masing-masing kebun berbeda.

5. Pemanenan Hasil
Pemanenan hasil merupakan tahap terakhir pada budidaya kelapa sawit. Sebelum dilaksanakan kegiatan pemanenan, terlebih dahulu dilakukan sensus buah. Hal ini untuk mengetahui jumlah tanaman kelapa sawit yang siap panen sehingga dapat diperkirakan hasil panen yang akan di dapat dan jumlah tenaga yang diperlukan. Sensus buah dimulai dengan pembuatan tanda yang pokok kelapa sawit yang akan di sensus. Sensus dilaksanakan diseluruh areal TM pada setiap petak ditentukan baris sensus (kelipatan 10 baris) yang mewakili areal tersebut (biasanya 25 Ha) dengan persentase 10% terhadap jumlah pokok. Pada baris sensus pokok pertama dan pokok terakhir diberi tanda cat berwarna merah dan diberi nomor baris berwarna putih. Sensus dilaksanakan setelah rotasi panen terakhir pada bulan Maret, Juni, September dan Desember. Penandaan baris pokok sensus dimulai dari arah barat ke timur yang terletak dipinggir jalan produksi. Sensus dilakukan dengan mengamati dan menghitung jumlah tandan buah hitam yang terdapat di pokok dalam barisan sensus.

Gambar B.5.1. Kiri: Pemanenan dengan menggunakan egrek; Kanan: Pengangkutan ke TPH.
Setelah diketahui perkiraan hasil panen, maka ditentukan jumlah tenaga yang akan digunakan pada hari itu. Sistem pembagian tenaga kerja terdapat 2 macam dan tergantung pada ketersediaan tenaga dan perkiraan hasil panenan. Ancak tetap adalah ancak panen yang luasan, lokasi dan pemanennya telah ditetapkan, sedangkan ancak giring merupakan ancak panen yang luasannya disesuaikan dengan kondisi buah dan produktivitas pemanen. Pemanenan biasanya dilakukan 2 orang sekaligus dengan pembagian tugas sebagai pemanen dan sebagai pengangkut. Kriteria buah yang siap di panen adalah warna buah pada tandan berubah dari hitam/hijau menjadi merah mengkilat/orange dan minimal sudah membrondol 5 brondolan per 1 tandan buah segar (TBS). pemanenan dilakukan dengan menggunakan dodos pada tanaman yang masih pendek, sedangkan pada tanaman yang sudah tinggi, pemanenan menggunakan egrek. Egrek yang digunakan di kebun HD sering disebut dengan fiber. Fiber tersebut dapat dipanjangkan hingga mencapai 6 m. hasil panen tadi kemudian diangkut ke TPH dengan menggunakan gerobak dorong (angkong). TBS yang telah terkumpul di TPH di sortasi terlebih dahulu oleh pemanen dan apabila terdapat tandan yang terlalu panjang dipotong hingga tersisa 2 cm dari buah. Setelah itu, pemanen memberikan tanda pada ujung tandan berupa nomor pemanen. Apabila pemanenan selesai dilakukan, kerani buah melakukan sortasi pada saat TBS dimuat ke truk pengangkutan.

Gambar B.5.2. Kiri : Sortasi TBS; Kanan: Buah yang telah didop oleh kerani panen.
Setelah TBS tersebut disortasi, kemudian kerani panen memberikan tanda di ujung tandan berupa nomor divisi dan nomor mandor. Apabila dalam 1 TPH telah selesai di sortasi, maka TBS tersebut siap dimuat ke truk pengangkut. Setiap truk yang akan mengangkut TBS disertai oleh 3 orang pemuat. TBS yang telah dimuat tadi kemudian dibawa ke PKS untuk proses selanjutnya. Truk yang digunakan adalah jenis dump truck yang mampu membawa TBS hingga 6 ton.

Gambar B.5.3. Kiri: Muat TBS; Kanan: Muat brondolan

C. Pembibitan Kelapa Sawit
Pembibitan kelapa sawit dimulai bersamaan ketika pembukaan lahan dimulai. Hal ini dikarenakan bibit kelapa sawit baru akan siap tanam setelah berumur lebih dari 10 bulan, sehingga diperkirakan waktu yang dibutuhkan sama dengan pembukaan lahan. Oleh karena itu, perencanaan pembukaan kebun dan pembibitan harus direncanakan secara matang sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau keterlambatan dalam pelaksanaan di lapangan. Perkiraan kebutuhan bibit juga mesti dihitung secara cermat dan tepat sehingga tidak terjadi kelebihan bibit, atau bahkan kekurangan bibit yang dapat menyebabkan perbedaan masa tanam yang kemudian tanaman dalam satu blok tidak lagi seragam.
Menurut Soepadiyo Mangoensoekarjo dan A. T. Tojib (2003), pada dasarnya terdapat dua jenis pembibitan kelapa sawit, yaitu pembibitan satu tahap (single stage) dan pembibitan dua tahap (double stage). Dengan memperhatikan alasan efisiensi biaya dan kemudahan dalam perawatan kebun HD memilih menggunakan metode dua tahap (double stage), yaitu pre-nursery dan main-nursery walaupun ketika pemindahan bibit dari pre-nursery ke main-nursery membutuhkan biaya ekstra.
Pembibitan memerlukan areal khusus yang benar-benar strategis baik dilihat dari efisiensi ataupun hal-hal pendukung lainnya. Berikut dipaparkan mengenai pembibitan yang dimulai dengan pembukaan lahan hingga transportasi menuju tempat penanaman bibit:
1. Tahap Persiapan
a. Penentuan Lokasi Bibitan
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa tempat pembibitan haruslah benar-benar strategis. Hal ini dilakukan antara lain untuk menekan biaya serta mengurangi kerusakan bibit. Beberapa syarat yang harus dipenuhi untuk dapat dijadikan areal pembibitan, antara lain:
1) Areal rata dengan kemiringan maksimal 5%. Lokasi yang akan dijadikan areal pembibitan memang harus rata, dan kalaupun miring, tidak boleh terlalu miring. Hal ini disebabkan apabila areal yang digunakan miring, maka langsung ataupun tidak langsung, tanaman akan miring karena polibagnya juga miring, walaupun nanti bisa dimodifikasi dengan pembuatan tapak kuda. Apabila dipaksakan, maka akan ada biaya tambahan yang muncul akibat pembuatan tapak kuda atau konsolidasi. Selain itu, jika areal pembibitan miring, sedangkan sistem pengairan menggunakan pompa air, dikhawatirkan akan ada perbedaan pembagian air antara areal yang tinggi dengan areal yang rendah.
2) Tidak banjir pada saat musim hujan. Lokasi yang digunakan bukanlah rawa-rawa atau dataran rendah yang memiliki potensi banjir ketika musim hujan. Apabila tetap dipaksakan, maka harus dibuat tanggul yang mampu menahan air dari luar serta pompa air yang khusus untuk mengeluarkan air yang tergenang di dalam pembibitan apabila tinggi air di dalam lebih rendah dibandingkan di luar areal pembibitan. Tentu saja ini akan mengeluarkan biaya yang lebih besar lagi, mengingat daerah Sumatera Selatan merupakan daerah tropis yang tingkat curah hujannya cukup tinggi. Oleh karena itu disarankan areal pembibitan merupakan areal yang rata dan bukan daerah rawa. Kebun HD memiliki areal bibitan yang relative aman dari kebanjiran, walaupun ada beberapa tempat yang tetap kebanjiran ketika hujan deras berturut-turut selama beberapa hari.

Gambar C.1.a. Kiri: Dataran rendah menyebabkan tergenang; Kanan: Kemiringan tanah tinggi.
3) Dekat dengan sumber air dan tersedia dalam jumlah yang cukup ketika musim kemarau. Air merupakan kebutuhan utama di dalam pembibitan kelapa sawit. Tanpa adanya air yang cukup, maka bibit tidak akan tumbuh optimal. Di kebun HD, sumber air yang tersedia berasal dari air sungai yang terhubung langsung oleh kanal sehingga potensi kekeringan pada musim kemarau sangat kecil. Selain itu, sumber air yang dipersiapkan tidak hanya terpusat pada satu tempat saja, sehingga apabila salah satu sumber kering, masih ada sumber air yang lainnya.
4) Aman baik dari gangguan pencurian maupun gangguan binatang liar. Pencurian merupakan gangguan yang paling berbahaya karena kerugian yang ditimbulkan sangat besar. Di kebun HD disediakan penjaga bibitan baik siang maupun malam yang berasal dari penduduk setempat dengan harapan tingkat pencurian dapat ditekan. Selain itu, gangguan binatang liar seperti babi ataupun tikus perlu diperhatikan, walaupun dampaknya tidak terlalu besar. Sapi penduduk asli merupakan hewan pengganggu utama di pembibitan kebun HD. Sapi-sapi yang jumlahnya mencapai 50 ekor tersebut dibiarkan bebas sehingga terkadang masuk ke areal pembibitan. Untuk mencegah masuknya sapi tersebut, disediakan tenaga khusus untuk menjaga sapi tersebut tetap berada di luar areal pembibitan.
5) Dekat dengan lokasi penanaman. Pada awal penetapan areal yang akan digunakan sebagai pembibitan, perlu dipertimbangkan jarak antara pembibitan dengan calon areal yang akan ditanami kelak. Biasanya dalam satu PT terdapat satu pembibitan yang kurang lebih terdapat 4-6 kebun. Dengan demikian, areal pembibitan sebisa mungkin diposisikan setepat mungkin dengan mempertimbangkan sarana jalan yang dilewati dan jarak yang ditempuh. Kebun HD sendiri menyuplai bibit ke empat kebun lain serta kebun sendiri.
6) Lokasi tidak tertutup oleh bayang-bayang dari pohon-pohon hutan atau pohon-pohonan lainnya sehingga dapat menerima sinar matahari penuh. Jarak terdekat dari hutan atau tanaman kelapa sawit yang sudah besar yang ada di sekitar tempat tersebut minimal 20 m.
7) Bentuk area pembibitan sebaiknya persegi panjang atau bujur sangkar. Hal ini akan memudahkan perhitungan kebutuhan pipa untuk pembuatan jaringan air penyiraman. Selain itu juga dapat memudahkan perhitungan kebutuhan dan kontrol penggunanaan herbisida, insektisida dan lain-lain.

b. Pengukuran Areal Bibitan
Pengukuran areal yang akan digunakan sebagai pembibitan dilakukan oleh juru ukur. Juru ukur melakukan pengukuran areal yang ditetapkan sebagai tempat pembibitan, yang meliputi luas areal, jalan, dan waduk penampungan air. Setalh hasil pengukuran diperoleh, manajer kebun dan asisten bibitan membuat tata letak (lay out) pembibitan yang mencakup posisi pre-nursery dan main-nursery, jalan, parit keliling, waduk penampungan air, rumah mesin, rumah hujan dan kantor divisi. Areal yang digunakan haruslah tepat dengan kebutuhan bibit yang akan ditanam nantinya. Kebun HD memiliki luas areal ± 80 ha yang dibagi menjadi 4 blok besar pembibitan. Pembibitan kebun HD sendiri berada di empat blok divisi inti yang berbeda dengan 75% berada pada divisi Inti Hikmah Dua Tiga (IHDT) blok 20, 17 dan 18. Sedangkan sisa 25% berada pada divisi Inti Hikmah Dua Satu (IHDS) di blok 16.

c. Pembersihan Areal
Pembersihan areal bibitan meliputi pekerjaan imas tumbang, mencabut dan membuang tunggul kayu serta akar kayu, penyemprotan lalang. Pembersihan areal ini dapat menggunakan cara mekanis maupun manual. Untuk cara mekanis dapat menggunakan alat berat baik itu bulldozer,excavator, maupun traktor bajak. Sedangkan cara manual adalah dengan menggunakan cangkil, sabit, parang dan dodos yang telah dimodifikasi.

d. Pembuatan Jalan dan Parit Keliling
Jalan pada pembibitan merupakan hal yang penting untuk distribusi bibit. Pembuatan jalan ini menggunakan alat berat, seperti bulldozer, road grader, compactor, dan excavator. Jalan di bibitan dibuat keliling dengan memperhatikan rencana disain blok yang akan dibuat. Selain jalan, dibutuhkan juga parit keliling. Parit keliling ini dibuat di samping-samping jalan untuk menghindari genangan di jalan yang dapat menyebabkan jalan cepat rusak.

Gambar C.1.d.1. Pembuatan parit

e. Pembuatan waduk penampungan air
Untuk menghindari kekurangan air pada musim kemarau, setiap pembibitan harus memiliki waduk yang mampu menyangga kebutuhan air bibit selama musim kemarau. Ukuran waduk penampungan air berdasarkan kebutuhan air yang harus tersedia sesuai dengan jumlah bibit. Waduk dibuat dengan menggunakan excavator dengan ukuran 50 m x 30 m dan dengan kedalaman 5 m. Kebun HD memiliki 2 waduk yang mampu memenuhi kebutuhan air hingga 120 ha. Namun karena saat ini luas areal bibitan hanya 80 ha, maka pompa air yang ada tidak digunakan secara maksimal. Dengan demikian, setiap waduk digunakan untuk menyediakan kebutuhan air bibit seluas 40 ha. Tiap-tiap waduk dilengkapi dengan 2 mesin pompa air yang menggunakan mesin truk fuso 5 silinder. Dengan mesin ini, air mampu didistribusikan hingga jarak ± 500 m. Masing-masing mesin digunakan untuk menyiram bibit seluas 20 ha.

Gambar C.1.e.1. Kiri: Waduk penampungan air; Kanan: Rumah mesin.
Waduk tersebut haruslah berasal dari sumber air yang bebas polutan, baik sisa pestisida, fungisida, pupuk maupun limbah lainnya. Debit air yang terdapat di waduk buatan tersebut menentukan besar kecilnya pembibitan dan jumlah bibit yang akan dihasilkan. Waduk buatan tersebut sebaiknya dikeruk lapisan bawahnya setiap beberapa tahun supaya tidak terjadi pendangkalan, namun hal ini belum dilakukan oleh kebun HD karena debit air yang terdapat di waduk buatan masih mencukupi untuk kebutuhan penyiraman bibit.

f. Pembuatan Instalasi Penyiraman Bibit
Instalasi penyiraman bibit di kebun HD menggunakan sistem selang dengan merek “kirico” sehingga lebih sering disebut selang kirico. Selang tersebut lebih efisien dan efektif untuk menyiram bibit kelapa sawit dalam jumlah besar dibandingkan dengan sistem sprinkler. Sistem sprinkler memang pernah digunakan di pembibitan kebun HD, hanya saja penggunaan sistem ini rawan pencurian (terutama pipa besi) dan rawan patah pada pipa penyangga sprinkler serta biaya perawatannya tinggi sehingga dirasa kurang efisien. Instalasi kirico memanfaatkan selang yang terbuat dari karet yang memiliki lubang kecil yang menyebar ke tiga arah dengan jarak antar lubang antara 5 – 7 cm serta sangat fleksibel dan alot. Selang kirico ini mampu bertahan hingga 3 kali tanam atau kurang lebih selama 3 tahun. Dengan menggunakan instalasi selang kirico, biaya perawatan dapat diminimalkan. Selain itu, selang kirico tersebut terbukti awet dan tahan terhadap cuaca panas ataupun dingin serta mudah dalam aplikasinya. Satu-satunya kekurangan instalasi kirico ini adalah selang tersebut sangat mudah sobek oleh benda tajam, terutama ketika perawatan bibit sedang dilakukan seperti merumput atau konsolidasi.

Gambar C.1.f.1. Kiri: Pengukuran tekanan; Kanan: Mesin pompa air.
Instalasi penyiraman bibit ini dilaksanakan sebelum bibit di tanam, sehingga ketika bibit telah ditanam, tidak terjadi keterlambatan penyiraman air yang dapat menyebabkan bibit menjadi kekeringan. Urutan pemasangan instalasi penyiraman ini adalah dari waduk kemudian disedot menggunakan pompa air melalui pipa PVC 6”. Setelah itu, air tersebut di dorong melalui pipa PVC 6” yang kemudian didistribusikan ke beberapa pipa PVC 4”. Dari pipa PVC 4” tadi kemudian didistribusikan lagi ke pipa PVC 2”. Panjang pipa PVC 2” tersebut ± 18 m. Setiap ± 3 m terdapat 1 selang kirico sehingga dalam 1 pipa PVC 2” terdapat 7 selang kirico yang dilengkapi dengan kran (gate valve). Panjang selang kirico tersebut 100 m sehingga diperkirakan mampu menyiram bibit sepanjang 100 – 110 pokok bibit sawit di main-nursery dan 9 bedeng bibit sawit di pre-nursery. Sebelum bibit ditanam, kekuatan selang kirico tersebut harus dikalibrasi dengan menggunakan alat pengukur tekanan (Pressure Gauge). Tekanan yang dianjurkan adalah 0.8-1.0 atm dengan perkiraan semburan air hingga 160 cm. Dengan demikian tiap-tiap selang kirico memiliki jangkauan siraman hingga 320 cm atau sekitar 4 pokok bibit lebih.
Untuk menjaga agar mesin tetap berjalan dengan baik dan benar, maka setiap satu mesin pompa air di kelola oleh satu orang operator mesin. Dengan demikian kebun HD memiliki 4 orang operator mesin yang mulai bekerja pukul 06.00 dan berakhir pada pukul 18.00 tergantung kepada keadaan cuaca. Kendala-kendala yang dihadapi dalam menjaga mesin air adalah radiator yang sering bocor sehingga perlu mendapatkan perhatian khusus. Akibat yang akan muncul apabila radiator kehabisan air adalah overheat yang tentunya akan menyebabkan umur mesin menjadi pendek. Belum lagi masalah aki yang sering tekor karena memang jumlah aki yang tersedia terbatas sehingga mesin hanya bisa dihidupkan secara berurutan. Jika dibanding dengan sistem sprinkler, pemakaian sistem selang kirico untuk penyiraman di pembibitan membutuhkan biaya yang lebih murah. Percikan/butiran air yang dihasilkan lebih cocok untuk pertumbuhan bibit karena pupuk dalam polibag tidak terganggu dengan adanya percikan air penyiraman. Selain itu tanah dalam polibag tidak menjadi keras atau membentuk lapisan atas yang keras.

g. Pembuatan Pagar Kawat untuk Areal Pre-Nursery.
Pembuatan pagar kawat di areal pre-nursery bertujuan untuk melindungi bibit-bibit tersebut dari gangguan binatang liar misalnya babi. Areal yang dipagari oleh pagar kawat tersebut sering disebut dengan istilah “kandangan”, karena memang bentuknya seperti sebuah kandang sapi atau kuda. Kawat yang digunakan adalah kawat duri yang dipaku pada tiang kayu dengan tinggi pagar kawat tersebut sekitar 1.5 m dan jarak antar tiang 2 m. Kayu yang biasa digunakan adalah kayu gelam. Kayu tersebut ditancapkan sedalam ± 30 cm dan diberikan penopang di tiap 3 tiang. Jarak antar kawat satu dengan kawat lainnya 25 cm sehingga terdapat 6 baris kawat. Setiap 25 m diberikan pintu gerbang dengan lebar 2 m untuk mempermudah keluar masuk ketika melakukan perawatan ataupun pemindahan bibit. Pagar dirawat sedemikian rupa sehingga tetap kokoh. Curah hujan yang tinggi pada musim hujan dan suhu udara yang tinggi pada musim kemarau menyebabkan pagar menjadi rapuh. Terutama pada tiang pagar, sebaiknya diberikan pelapis sebagi pelindung dari panas dan hujan, termasuk juga rayap yang sering menggerogoti tiang pagar. Pagar juga harus bersih dari gulma sehingga memudahkan dalam pemeriksaan. Di sekeliling tiang pagar dibuatkan parit yang dapat mengalirkan air untuk menghidari tergenangnya air disekitar tiang pagar yang dapat menyebabkan tiang pagar semakin cepat keropos. Kawat duri juga harus diperiksa ketegangannya. Kawat yang kurang kencang akan menyebabkan tiang pagar menjadi miring dan akhirnya roboh.

Gambar C.1.g.1. Pagar kawat.

h. Pembuatan Rumah Mesin, Kantor Divisi dan Gubuk Berteduh
Pembuatan rumah mesin seharusnya dibuat bersamaan dengan pembuatan waduk. Tetapi mengingat daerah kebun HD masih rawan terhadap pencurian, maka pembuatan rumah mesih dilaksanakan ketika penanaman kecambah akan dilaksanakan. Rumah mesin terdapat di tiap-tiap waduk sehingga pembibitan kebun HD memiliki 2 rumah mesin. Rumah mesin dibangun sedemikian rupa sehingga dapat menampung 2 buah mesin beserta jaringan pipanya. Lantai rumah mesin tersebut haruslah terbuat dari beton cor untuk menjaga mesin agar tidak mudah goyang serta menahan getaran.
Selain rumah mesin, juga dibangun kantor divisi yang digunakan untuk mengatur pembagian kerja dan memeriksa pekerja yang telah diabsen. Kantor divisi terletak tepat ditengah kebun dan dekat dengan kandangan sehingga memudahkan pekerja dalam mengontrol bibit di kandangan. Gubuk tempat berteduh juga perlu dibangun untuk tempat berteduh ketika pekerja sedang beristirahat. Hal ini disebabkan ukuran bibit yang rendah sehingga tidak ada tempat berteduh bagi para pekerja, terutama ketika turun hujan.

Gambar C.1.h.1. Kiri: Gubuk; Kanan: Kantor divisi.

2. Tahap Pre-Nursery
a. Persiapan Media Tanah
Media tanah yang digunakan adalah tanah lapisan atas (topsoil) yang biasanya dilakukan dengan bantuan alat berat baik excavator ataupun backhoe loader. Tanah yang digunakan tidak boleh kedap air, lempung gembur, atau kadar pasir < 60%. Untuk kebun HD sendiri tanah topsoil didapatkan dari divisi inti dan diangkut dengan menggunakan truk yang kemudian dikumpulkan menjadi 1 gunungan tanah.

Gambar C.2.a.1. Kiri: Tanah topsoil yang telah dikumpulkan; Kanan: Pengangkutan tanah.
Setelah tanah tersebut dikumpulkan, tanah kemudian diayak sehingga terbebas dari sampah organik (batang kayu dan pelepah) ataupun dari sampah anorganik (plastik dan karung). Tanah yang telah diayak tadi kemudian dicampur dengan menggunakan pupuk Rock Phospate (RP) dengan takaran 10 kg tiap 4.5 m3 tanah. Sebagai perkiraan, setiap truk mampu mengangkut sekitar 3-4 m3 tanah dan setelah di ayak akan didapatkan tanah 2-3.5 m3 tanah sehingga setiap tanah hasil ayakan dari 2 truk dapat dicampur dengan 10 kg pupuk RP. Tanah yang telah dicampur dengan pupuk dikeringanginkan selama 4 minggu. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan unsur hara P di dalam tanah sebelum dipergunakan sebagai media pembibitan.

b. Pengisian Polibag
Tanah yang telah di ayak dan dicampur dengan pupuk RP tadi kemudian dimasukkan ke dalam polibag yang berukuran 22 cm x 15 cm dengan ketebalan 0.22 mm. Pengisian polibag dapat menggunakan piring, sekop kecil ataupun tangan kosong. Selama pengisian polibag, pekerja juga harus memeriksa kembali tanah yang dimasukkan ke dalam polibag jika terdapat sampah. Polibag tersebut harus di isi sampai penuh untuk mengurangi resiko memadatnya tanah ketika disiram air.

Gambar C.2.b.1. Pengisian polibag kecil
Polibag kecil yang akan digunakan adalah polibag yang berkualitas baik. Kualitas yang jelek akan menyebabkan polibag mudah robek dan nantinya akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Jumlah polibag kecil yang dipesan sebanyak 110% kebutuhan yang akan digunakan untuk penanaman. Jumlah polibag kecil per kg sekitar 80-90 polibag sehingga ada baiknya ketika melakukan pemesanan, jumlahnya dilebihkan karena jika kekurangan cukup sulit untuk memesan ke kantor pusat dan membutuhkan waktu yang cukup lama. Polibag kecil yang dipakai haruslah memiliki lubang pengeluaran air berdiameter 3 mm. Hal ini untuk menanggulangi kemungkinan tergenang ketika hujan. Berat per polibag kecil sekitar 1-2 kg tergantung jenis tanah dan kelembaban tanah yang digunakan.
c. Penyusunan Polibag
Polibag kecil yang telah di isi kemudian disusun per bedeng. Bedeng tersebut berisi 1000 polibag dengan panjang 125 polibag dan lebar 8 polibag dengan perkiraan panjang bedengan 10 m dan lebar bedengan 1 m. Pada pinggir bedengan diberikan tanah timbunan (guludan) untuk menjaga agar polibag tidak mudah berubah dari posisi semula. Namun sebaiknya hal ini dihindari karena dengan menggunakan guludan, drainase air menjadi terhambat dan air menjadi menggenang disekitar polibag. Guludan tersebut sebaiknya diganti dengan menggunakan kayu sehingga drainase air dapat mengalir dengan lancer. Setiap 2 bedeng polibag kecil tersebut diapit oleh 2 selang kirico sehingga setiap selang kirico mampu menyuplai 2 bedengan sekaligus (kanan dan kiri).

Gambar C.2.c.1. Polibag yang telah selesai disusun di dalam bedengan.
Beberapa buku menyebutkan bahwa pada pre-nursery, bibit memerlukan naungan. Tetapi di kebun HD tidak menggunakan naungan karena beberapa tahun yang lalu pembibitan kebun HD pernah menggunakan naungan, dan ternyata bibit tersebut menjadi gosong. Kemungkinan besar hal tersebut disebabkan oleh pembukaan naungan yang tiba-tiba sehingga bibit tersebut “kaget”. Rekomendasi pemberian naungan di pre-nursery kemungkinan dibuat sewaktu belum ditemukan sistem penyiraman di pembibitan yang baik. Pemberian naungan di pembibitan baik dengan menggunakan pelepah kelapa sawit maupun dengan menggunakan bahan lainnya mulanya dimaksudkan untuk melindungi bibit dari penyiraman yang kurang sempurna terutama pada saat bibit dalam masa-masa pertumbuhan kritis. Setelah sistem penyiraman dapat dilaksanakan dengan baik, misalnya dengan sistem selang kirico, maka naungan pada pembibitan tidak direkomendasikan lagi. Apabila kebutuhan air peyiraman cukup maka pemberian naungan pada pembibitan tidak memberikan dampak positif pada pertumbuhan bibit. Penghilangan naungan akan memberikan dampak berkurangnya penyakit daun pada bibit. Kenyataan ini menimbulkan dugaan bahwa naungan berupa daun kelapa sawit akan menimbulkan (menularkan) penyakit daun pada bibit kelapa sawit. Apabila karena alasan-alasan tertentu naungan tetap dipasang dapat menyebabkan etiolasi (pertumbuhan memanjang akibat kekurangan intensitas cahaya) pada bibit yang tidak diharapkan.

d. Penerimaan Kecambah
Ketika transaksi penerimaan kecambah dilakukan, harus diperiksa kecocokan antara packing list dengan kecambah yang diterima. Packing list merupakan daftar kecambah yang diberikan pada saat transaksi yang berisi informasi mengenai jumlah kecambah, varietas, dan tanggal pengiriman dari Seed Proccesing Unit (SPU). Pada kardus kemasan kecambah juga terdapat segel untuk memastikan bahwa kardus tersebut tidak pernah dibuka sebelumnya. Apabila segel tersebut rusak atau hilang, dapat dipastikan bahwa kardus tersebut telah dibuka sebelumnya dan dapat dilaporkan kepada pihak SPU untuk menindaklanjuti temuan tersebut.

Gambar C.2.d.1. Kiri: Segel pada kardus; Kanan: Seed Label yang terdapat pada kantong.
Setiap kardus mampu menampung 2.500-2.600 butir kecambah. Pada waktu kardus tersebut dibuka, akan didapatkan kantong plastik berisi kecambah yang dilampiri dengan seed label untuk menunjukkan informasi mengenai kecambah yang terdapat pada kantong plastik tersebut. Informasi yang diberikan meliputi varietas, nomor referensi, nomor male dan female, isi kantong plastik tersebut serta tanggal pengiriman. Untuk memastikan bahwa kecambah tersebut telah melewati tahap pemeriksaan, maka di seed label tersebut disertai cap quality control. Isi dari tiap-tiap seed label tersebut dikumpulkan menjadi satu lembar terpisah yang disebut dengan packing list. Packing List tersebut harus disimpan sebagai bukti bahwa bibit yang ditanam berasal dari kecambah yang telah bersertifikat. Waktu pengiriman kecambah yang diperlukan dari SPU ke kebun HD hanya 1 hari yang artinya kecambah dapat di seleksi pagi hari, di kemas siang hari, dan langsung di antar ke kebun HD pada sore hari. Kecambah yang telah diterima harus segera ditanam untuk menghindari kerusakan kecambah. Kecambah yang dikirimkan dalam sekali pengiriman dapat mencapai 25.000 butir kecambah sehingga diperlukan manajemen yang baik untuk dapat menanam kecambah tersebut dalam waktu singkat dengan mengatur kebutuhan tenaga dan pembagian tugas yang jelas.
Kebun HD menerima seluruh varietas yang dikirim oleh SPU, mulai dari SJ 1 (Nigeria), SJ 2 (Ghana), SJ 3 (Ekona), SJ 4 (Avros), SJ 5 (Dami Komposit), dan SJ 6 (Yangambi). Oleh karena itu, penanaman dilakukan berdasarkan varietas sehingga memudahkan dalam pengawasan dan penjualan.
Kecambah yang dikirimkan merupakan hasil dari perkiraan penanaman tanaman kelapa sawit yang akan di tanam tahun berikutnya ataupun yang akan di jual kepada pihak luar. Secara sederhana, kebutuhan kecambah dapat diperkirakan sebelumnya dengan menetapkan jumlah-jumlah kecambah yang dapat hidup ataupun yang abnormal. Kebun HD menerapkan rumusan pada kerapatan 135 pokok per ha sebagai berikut:
- Seleksi penerimaan kecambah 2,5 % atau 5 butir
- Seleksi bibit di Pre Nursery 10 % atau 20 butir
- Seleksi bibit Main Nurser 15 % atau 30 butir
- Disisipan 5 % atau 10 butir
Jumlah diatas merupakan perkiraan untuk mengatasi kekurangan kecambah. Jumlah kebutuhan kecambah sebenarnya tidak dapat diduga dengan pasti. Namun dengan menggunakan kecambah bermutu tinggi, diharapkan pengurangan kecambah akibat seleksi dapat diminimalkan.

e. Seleksi Kecambah
Sebelum dilakukan penanaman kecambah, trelebih dahulu dilakukan seleksi kecambah untuk menghindari tertanamnya kecambah yang tidak layak tanam. Beberapa kriteria kecambah yang digunakan di kebun HD adalah sebagai berikut:
1) Kecambah normal
- Tunas (Plumula) dan akar (Radikula) dapat dibedakan dengan jelas,
- Akar berwarna putih gading dengan panjang 8 – 20 mm,
- Pucuk meruncing, berwarna kuning keputihan,
- Posisi Tunas (Plumula) dan akar (Radikula) bertolak belakang (T-shape).

Gambar C.2.e.1. Kecambah normal dengan panjang radikula < 20 mm.

2) Kecambah abnormal
- Tunas (Plumula) dan akar (Radikula) yang tidak berkembang,
- Kecambah lecet atau patah, berwarna coklat dan busuk,
- Tanpa akar atau pucuk dan atau salah satu akar atau pucuk tidak tumbuh,
- Tunas (Plumula) dan akar (Radikula) bengkok/berputar atau bentuk “U”,
- Tunas (Plumula) dan akar (Radikula) tidak dapat dibedakan.
- Tunas (Plumula) dan akar (Radikula) bersatu yang ujungnya membengkok seperti bentuk geraham.

Gambar C.2.e.2. Kecambah abnormal.
Kecambah yang telah ditetapkan termasuk kedalam kecambah abnormal kemudian diafkir atau dimusnahkan dengan cara dipatahkan. Seharusnya pemusnahan kecambah dilakukan dengan menggunakan alat nut cracker, namun berhubung alat yang dimaksud tidak tersedia, pematahan tunas atau akar adalah solusi terbaik yang dapat dilakukan. Terkadang didalam 1 kantong kecambah tersebut terdapat beberapa kecambah yang memiliki 2 atau 3 tunas. Kecambah tersebut sering disebut dengan “kecambah kembar”. Kecambah ini tetap ditanam dan dipelihara. Namun setelah bibit tersebut berumur 1,5 bulan, maka bibit tersebut dibelah, dan dipilih yang bagus untuk ditinggal dalam polibag. Bibit kedua yang dipisah selanjutnya ditanam pada polibag kecil yang lain, dan ditempatkan tersendiri untuk diberi perawatan khusus. Jika bibit kedua tidak baik maka langsung dimusnahkan.

f. Penanaman Kecambah
Penanaman kecambah dilaksanakan sesegera mungkin untuk mengungai resiko kerusakan kecambah. Biasanya kerusakan kecambah yang muncul ketika kecambah terlambat ditanam adalah adanya kecambah yang patah bagian tunas ataupun akarnya. Selain itu, terkadang kecambah yang disimpan terlalu lama akan memunculkan jamur walaupun pada kemasan kantong telah dilengkapi dengan busa serpih yang disemprot dengan fungisida, sehingga jamur tersebut kemungkinan besar tidak akan tumbuh. Ketika paket kecambah sampai ke bibitan, kardus tersebut dibuka kemudian diperiksa lagi dan dicocokkan dengan packing list yang menyertainya. Apabila sama, dilanjutkan dengan membuka kantong plastik dan memisahkan antara busa serpih dengan kecambah. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memisahkan busa serpih dengan kecambah ini. Pertama dengan mengangin-anginkan busa serpih tersebut sehingga busa serpih terbang dari kumpulan kecambah. Namun cara ini dirasa kurang baik karena busa serpih yang tertiup angin menjadi berterbangan dan menyebar di areal pre-nursery sehingga kandangan menjadi tampak kotor. Sedangkan cara kedua adalah dengan menggunakan ember berisi air. Isi yang terdapat di kantong kecambah tersebut ditumpahkan ke dalam ember sehingga busa serpih yang massanya lebih ringan akan mengapung, sedangkan kecambah yang massanya lebih berat akan tenggelam. Apabila sudah demikian, busa serpih tersebut dapat di angkat dengan mudah dari ember. Kecambah yang berada di dalam ember juga dapat di angkat dan diletakkan di piring.

Gambar C.2.f.1. Kiri: Menugal; Kanan: Pemisahan busa serpih dengan kecambah.
Penanaman kecambah dilakukan oleh tim yang biasa menanam kecambah, karena selain membutuhkan ketelitian yang tinggi, kebiasaan menanam kecambah juga akan mempengaruhi proses penanaman. Satu tim terdiri dari 3 orang yang memiliki tugas masing-masing. Orang pertama bertugas menugal tanah di polibag, orang kedua bertugas menanam kecambah, sedangkan orang ketiga bertugas menutup lubang yang telah berisi kecambah. Namun terkadang tim ini tidak berjalan seperti apa yang diharapkan. Beberapa orang lebih suka untuk mengerjakan semuanya secara bersama-sama, seperti menugal bersama, menanam bersama dan menutup bersama. Tapi hal ini bukan merupakan suatu masalah karena waktu dan hasilnya tidaklah berbeda.

Gambar C.2.f.2. Kiri: Aplikasi pupuk RP; Kanan: Penanaman kecambah.
Terkadang beberapa hari sebelum penanaman kecambah, dilakukan aplikasi pupuk RP. Hal ini dikarenakan jika aplikasi pupuk RP dilakukan ketika tanah belum di isikan ke dalam polibag, dikhawatirkan pupuk RP tersebut tidak tersebar merata diseluruh polibag. Dengan dilakukannya aplikasi pemupukan per polibag diharapkan terdapat pemerataan penggunaan pupuk RP tersebut. Dosis yang digunakan adalah 2 g/polibag dengan menggunakan takaran Ally.

g. Penyiraman Bibit
Curah hujan menjadi penentu utama dalam penyiraman bibit. Jumlah curah yang turun dapat diketahui dari ombrometer yang terdapat di halaman depan kantor. Apabila curah hujan di kebun HD di antara 8 mm dengan 18 mm, maka bibit disiram sekali dalam sehari. Apabila curah hujan pada hari itu lebih dari 18 mm, maka bibit tidak lagi memerlukan penyiraman. Tetapi apabila curah hujan kurang dari 8 mm, maka bibit disiram dua kali sehari (pagi dan sore). Kebun HD tidak menerapkan penyiraman 2 kali, namun hanya 1 kali walaupun curah hujan kurang dari 8 mm. hal ini dikarenakan untuk 1 mesin pompa air membutuhkan 10 liter dalam 1 jam, sehingga apabila dipaksakan 2 kali penyiraman dalam sehari akan menyebabkan kenaikan biaya yang sangat besar. Kebutuhan minyak solar setiap hari ketika musim kemarau dapat mencapai lebih dari 400 liter.
Terkadang penyiraman juga tidak mengikuti aturan yang ada, tetapi lebih mengandalkan insting dan pengalaman operator siram. Apabila ketika operator siram mengecek tingkat kelembaban tanah dan dinyatakan bahwa tanah tersebut cukup lembab dan tidak perlu disiram, maka pada hari itu tidak disiram. Hal ini disebabkan karena ombrometer berada di halaman depan kantor, sedangkan hujan yang turun belum tentu merata di seluruh kebun sehingga apabila ombrometer menunjukkan curah hujan tinggi, belum tentu kadar air di pembibitan juga tinggi, begitu juga sebaliknya apabila ombrometer di kantor rendah, belum tentu kadar air di pembibitan juga rendah.

Gambar C.2.g.1. Penyiraman bibit di pre-nursery.

h. Merumput dan Melumut
Kegiatan merumput dilakukan 2 minggu sekali dan hanya dilakukan dengan cara mekanis yaitu dengan cara mencabut atau memotong rumput yang ada di sekitar polibag ataupun yang ada di dalam polibag. Rumput hasil cabutan tadi kemudian dikumpulkan dan ditempatkan di luar areal bibitan yang nantinya akan dimanfaatkan sebagai mulsa. Namun sangat jarang rumput hasil cabutan tersebut digunakan sebagai mulsa, karena umur pre-nursery yang relatif pendek. Selain itu memang telah disediakan mulsa khusus yang didatangkan dari PKS berupa serat (fiber) kelapa sawit atau cangkang kelapa sawit. Selain itu memang di kebun HD tidak pernah mengaplikasikan mulsa pada masa pre-nursery. Selain rumput, lumut juga patut diperhatikan. Hal ini menyebabkan tanah menjadi kedap air sehingga air dan pupuk tidak mampu diserap oleh tanah. Pekerjaan melumut ini dapat dilakukan bersamaan denga kegiatan merumput di atas polibag.

i. Konsolidasi
Konsolidasi merupakan kegiatan memperbaiki posisi polibag yang kurang benar seperti miring ataupun roboh. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga bibit tetap tumbuh pada posisi yang normal baik letak maupun arah pertumbuhan. Kegiatan konsolidasi ini dilakukan seminggu sekali. Selain memperbaiki posisi bibit, dalam konsolidsasi juga terdapat kegiatan menambah tanah pada polibag yang kekurangan tanah, menutup akar yang terbuka dan memperbaiki arah bibit yang tidak tegak lurus. Terkadang sewaktu dilakukan penanaman, kecambah ditanam kurang dalam sehingga ketika dilakukan penyiraman, kecambah muncul dari tanah sehingga perlu dilakukan penimbunan tanah kembali. Selain itu, untuk bibit yang miring akan lebih mudah diperbaiki ketika masih muda.

Gambar C.2.i.1. Konsolidasi.

j. Pemupukan
Pemupukan pada pre-nursery dilakukan dengan mengikuti rekomendasi yang diberikan oleh ARU. Pupuk yang digunakan adalah pupuk urea dan pupuk NPK 15.15.6.4. yang mengandung N-P-K-Mg. pupuk yang digunakan terlebih dahulu dianalisa kesesuaian unsur hara yang terkandung di dalam pupuk tersebut. Untuk saat ini, rekomendasi yang digunakan oleh pembibitan kebun HD adalah sebagai berikut:

Gambar C.2.j.1. Pemupukan di pre-nursery.
Pemupukan dilakukan dengan melarutkan pupuk tersebut ke dalam 45 cc air. Untuk mempermudah dalam pelaksanaan, pelarutan pupuk dilakukan dalam jumlah yang besar sehingga cukup untuk jumlah bibit yang banyak. Sebagai contoh apabila ingin melarutkan pupuk urea untuk 10,000 polibag, maka diperlukan 750 gram pupuk urea dan 450 liter air. Dengan demikian, tidak perlu menggunakan timbangan digital untuk menimbang berat pupuk yang akan di aplikasikan. Dalam pelaksanaan pemupukan, pekerja menggunakan takaran yang telah disediakan oleh perusahaan sehingga setiap polibag mendapatkan jumlah pupuk yang sama.
Minggu ke- Jenis Pupuk Dosis/polibag Keterangan
(gram)
4 Urea 0.075
5 NPK 15.15.6.4 0.15
6 NPK 15.15.6.4 0.15
7 NPK 15.15.6.4 0.1875
8 NPK 15.15.6.4 0.225
9 NPK 15.15.6.4 3.5 dibagi dalam 2 kali aplikasi
10 NPK 15.15.6.4 3.5 dibagi dalam 2 kali aplikasi
12 NPK 15.15.6.4 7 dibagi dalam 4 kali aplikasi
Tabel C.2.j.1. Tabel pemupukan pada pre-nursery.

k. Pengendalian Hama dan Penyakit
Dalam pengendalian hama dan penyakit tanaman, kebun HD lebih bertindak preventif, hal ini untuk mencegah terjadinya serangan hama dan penyakit yang berat. Pencegahan dilakukan dengan menggunakan cara kemis, yaitu dengan menyemprot bibit setiap 2 minggu sekali. Walaupun begitu, pemeriksaan terhadap bibit dilakukan setiap hari untuk mengetahui ada atau tidak serangan hama dan penyakit. Penggunaan bahan insektisida ataupun fungisida sesuai dengan rekomendasi yang diberikan oleh ARU. Namun saat ini dosis yang digunakan oleh pembibitan kebun HD adalah decis 2 cc/liter dan dithane 2 g/liter yang diaplikasikan secara bersamaan. Hal ini dilakukan untuk menekan biaya sehingga bibit tersebut dalam sekali penyemprotan sekaligus mengaplikasikan insektisida dan fungisida sekaligus. Terkadang juga ditambahkan dengan Bayfolan (penghijau daun) dan Agristik (perekat). Dalam pelaksanaannya pekerja menggunakan knapsack sprayer yang mampu menampung air hingga 15 liter. Decis yang dibutuhkan untuk satu knapsack sprayer adalah 15 cc, sedangkan dithane yang dibutuhkan adalah 15 cc.
Walaupun di areal pembibitan telah dikelilingi oleh parit dan tanggul dan pada pre-nursery telah dilengkapi dengan pagar kawat, namun pencegahan terhadap serangan hama mamalia seperti sapi harus tetap dilakukan. Hama sapi dapat dicegah dengan menggunakan tenaga jaga yang bertugas mengawasi sapi sehingga tidak masuk ke areal pembibitan. Hama ini datang terutama ketika musim hujan tiba.

l. Seleksi Bibit di Pre-Nursery
Kemungkinan nasihat terbaik yang dapat diberikan kepada pekerja yang bertanggung jawab terhadap seleksi bibit adalah aturan dasar “bila ragu-ragu terhadap kondisi suatu bibit maka bibit tersebut diafkir saja”. Seringkali bibit yang kondisinya meragukan namun masih tetap dipertahankan atau tetap ditanam adalah karena adanya pemikiran bahwa “bibit tersebut dapat dipulihkan dalam waktu tidak lama dan membutuhkan sedikit perhatian”. Pemikiran tersebut salah, seharusnya seleksi bibit didasarkan pada pertimbangan yang realistis dan mematuhi standar-standar seleksi yang telah ditetapkan. Akibat dari kesalahan pelaksanaan seleksi bibit adalah produksi dari buah sawit yang ditanam akan memberikan hasil yang jelek.
Pembibitan kebun HD sangat menjaga kualitas bibit yang dihasilkan, sehingga diperlukan seleksi bibit yang ketat untuk mencegah keluarnya bibit yang bermutu rendah. Pelaksanaan seleksi bibit di pre-nursery dilakukan setiap satu bulan sekali. Hal ini juga dilakukan untuk mengurangi pengeluaran biaya perawatan yang tidak diperlukan. Seleksi ini dilakukan sampai bibit dipindahkan ke main-nursery. Bibit yang telah dinyatakan abnormal kemudian dipisahkan dan dimusnahkan dengan cara di cincang. Sedangkan kriteria bibit normal atau abnormal dapa ditentukan dengan melihat penampilan bibit, seperti:
a) Bibit normal:
- Bentuk daun tumbuh sempurna dengan memiliki 3 sampai 4 helai daun,
- Daun yang tumbuh terakhir harus lebih besar dari daun yang tumbuh terdahulu.

Gambar C.2.l.1. Kiri: Kecambah normal; Kanan: Kecambah abnormal (twisted leaf)

b) Bibit abnormal
- Berdaun tegak lurus seperti lalang (Narrow Leaf or Grass Leaf),
- Daun berkerut (Crincled Leaf),
- Daun berpilin (Twisted Leaf),
- Daun bersatu (Collante),
- Helai daun bergulung (Rolled Leaf),
- Bibit sakit (Diseased Seedlings),
- Bibit kerdil (Runtseedling),
- Bulai/Albino (Chimera).
Abnormalitas bibit di pre-nursery yang paling sering terjadi adalah daun berpilin (twisted leaf). Hal ini disebabkan karena ketika dilakukan penanaman, posisi plumula dan radikula terbalik, sehingga tunas berkembang memutar dan menjadi berpilin. Untuk abnormalitas lainnya sangat jarang ditemui di pembibitian kebun HD.

3. Tahap Main-Nursery
a. Persiapan Media Tanah
Langkah-langkah dalam persiapan media tanah di main-nursery ini tidak berbeda dengan langkah-langkah yang dilakukan pada persiapan media tanah di pre-nursery. Tanah yang digunakan adalah tanah topsoil yang berada di divisi inti. Setelah itu, tanah di pindahkan ke areal pembibitan dengan menggunakan truk. Setiap truk mampu mengangkut 3-4 bucket excavator atau setara dengan 3-4 m3 tanah yang mencukupi kebutuhan untuk 80-100 polibag besar. Oleh karena itu, perlu diperhitungkan kembali kebutuhan tanah sesuai dengan rencana penanaman di main-nursery. Tanah yang telah dikumpulkan tadi kemudian di ayak untuk membersihkan tanah dari sampah-sampah organik maupun anorganik. Aplikasi pupuk RP baru dilaksanakan pada saat akan dilakukan pindah tanam.

Gambar C.3.a.1. Kiri: Pembuatan ayakan; Kanan: Pengayakan tanah.
Ayakan dibuat dengan menggunakan kawat berlubang dengan ukuran lubang 1.5 cm x 1.5 cm dengan panjang 1.5 m dan lebar 1 m. Untuk rangka ayakan dibuat dari kayu gelam sepanjang 2 m yang diberi penguat bambu. Ketika melakukan kegiatan tersebut, ayakan dimiringkan ± 60º sehingga mempercepat menurunnya tanah. Sebelum melakukan pengayakan tanah, harus dipastikan tanah tersebut kering. Hal ini disebabkan supaya pekerjaan menjadi lebih cepat dan mudah karena jika tanah dalam keadaan basah tanah tersebut menjadi sulit untuk di ayak, selain tanah menjadi lebih berat, ketika basah tanah menjadi menggumpal.

b. Pengisian Polibag
Polibag yang digunakan di main-nursery kebun HD adalah polibag yang berukuran 40 cm x 50 cm dengan ketebalan sekitar 0.22 mm. Polibag tersebut haruslah memiliki lubang pengeluaran air yang berguna untuk mencegah terjadinya genangan air di dalam polibag yang berdiameter 3 mm. Berbeda dengan polibag kecil yang dipesan 110% dari kebutuhan, polibag besar dipesan 100% dari kebutuhan sebenarnya. Setiap kg polibag besar terdapat 10-14 lembar polibag. Polibag yang digunakan adalah polibag yang memiliki kualitas baik dengan melihat ketahanannya terhadap panas, dingin ataupun robek. Terkadang terdapat polibag yang memiliki warna hampir transparan yang dikarenakan zat warna yang digunakan sedikit, namun hal ini tidak mempengaruhi kualitas polibag.

Gambar C.3.b.1. Kiri: pengisian polibag; Kanan: Polibag terisi penuh.
Polibag di isi penuh supaya tidak terjadi penurunan ketinggian tanah dalam polibag akibat tersiram air. Pengisian polibag untuk main-nursery dilakukan secara bersama-sama yang beranggotakan 3 orang. Orang pertama bertugas mencangkul, orang kedua bertugas membersihkan ayakan, dan orang ketiga bertugas mengisikan tanah ke dalam polibag. Berat satu polibag besar berkisar antara 15 kg hingga 20 kg tergantung kepada jenis tanah dan kadar air tanah.

c. Penyusunan Polibag
Polibag yang telah terisi penuh kemudian di distribusikan (langsir) ke tempat penanaman yang telah direncanakan. Kegiatan langsir bibit ini dapat menggunakan angkong, dapat juga dengan cara dipanggul tergantung jarak yang ditempuh dan jumlah tenaga. Kegiatan langsir polibag besar ini langsung dilanjutkan dengan penyusunan (spacing) polibag. Pembibitan di kebun HD menggunakan jarak tanam polibag 90 cm x 90 cm x 90 cm, kegiatan spacing ini sama dengan kegiatan spacing ketika penanaman bibit di areal, hanya saja skalanya lebih kecil. Spacing dilakukan untuk membuat jarak tanam yang seragam, sehingga setiap bibit kelapa sawit mendapatkan kesempatan yang sama dalam memperoleh sinar matahari. Spacing polibag ini dilakukan dengan menggunakan kawat panjang yang telah diberi tanda berupa karet yang digulung. Terdapat dua macam kawat yang digunakan dalam kegiatan spacing ini. Pertama adalah kawat yang digunakan untuk posisi antar baris (90 cm) dengan panjang 11.7 m yang dapat memuat 13 titik spacing. Sedangkan yang kedua adalah untuk menentukan titik dalam baris polibag (78 cm) dengan panjang 10.14 m yang dapat memuat 13 titik spacing. Kegiatan spacing dimulai dengan memubuat kandangan, yaitu polibag pada posisi terpinggir dari suatu blok pembibitan tersebut.

Gambar C.3.c.1. Kiri: Langsir bibit; Kanan: Spacing bibit.
Perlu diperhatikan ketika kegiatan langsir polibag dilakukan. Ketika mengangkat polibag, yang diangkat adalah bagian dasar polibag, bukan pangkal polibag. Hal ini dilakukan untuk mengurangi resiko polibag robek. Selain itu perlu diperhatikan juga ketika menurunkan polibag baik dari panggulan ataupun dari angkong, polibag tidak boleh dibanting untuk menghindari pecahnya polibag akibat tekanan yang berlebihan ketika polibag diturunkan.

d. Pemasangan Instalasi Kirico
Instalasi kirico dipasang segera setelah seluruh polibag telah selesai di spacing. Setiap satu gulung selang kirico memiliki panjang 100 m yang cukup untuk 1 baris blok. Selang kirico tersebut disambung ke pipa dengan cara mengikatnya dengan kawat. Harus dipastikan bahwa lubang yang ada pada selang tersebut berada di atas. Setelah semua selang dipasang, selang tersebut di uji coba dengan mengalirkan air dan melakukan kalibrasi tekanan dengan menggunakan Pressure Gauge.

Gambar C.3.d.1. Pemasangan instalasi kirico.

e. Pemindahan dan Penanaman Bibit
Bibit kelapa sawit yang telah berumur 3 bulan di pre-nursery harus dipindah ke polibag besar (main-nursery). Pemindahan bibit dari pre-nursery ke main-nursery dilakukan berdasarkan tanggal tanam, varietas dan nomor male serta penempatan di lokasi main-nursery. Pindah tanam dilakukan dengan menggunakan angkong yang disusun sedemikian rupa sehingga dapat menampung maksimal 150 polibag kecil. Jumlah bibit yang dipindahkan harus dihitung untuk menghindari perbedaan catatan yang ada di kantor dengan jumlah di lapangan. Bibit yang telah dilangsir langsung didistribusikan ke setiap polibag besar dengan meletakkannya di samping polibag besar. Dengan demikian pekerja yang memiliki tugas menanam tidak lagi kesulitan untuk membawa bibit kecil ke tempat penanaman.

f. Penanaman Bibit
Sebelum dilakukan penanaman bibit kecil ke polibag besar, terlebih dahulu tanah yang ada di polibag dibor dengan menggunakan alat khusus yang telah disediakan. Tanah di bor dengan kedalaman sekitar 20 cm, sesuai dengan tinggi polibag kecil sehingga ketika penanaman tidak ada bagian tanaman yang menyembul keluar. Cara mengebornya adalah dengan menekan bor tersebut kedalam tanah, kemudian diputar hingga 90º dan kemudian diangkat dan bor tersebut diayunkan di sela-sela antar polibag. Untuk mempermudah dalam pengeboran, sebelum dilakukan pekerjaan ini sebaiknya tanah disiram terlebih dahulu sekitar 15 menit, baru kemudian di bor. Hal ini dikarenakan jika tanah kering cenderung keras dan mempersulit masuknya bor ke dalam tanah, begitu juga sebaliknya. Bor yang digunakan di pembibitan kebun HD terbuat dari pipa PVC 4” dengan ujung pipa diruncingkan dan pangkalnya diberi pegangan yang terbuat dari kayu. Panjang bor sekitar ± 60 cm dengan pegangan berada 10 cm dibawah pangkal bor yang terbuat dari kayu gelam.

Gambar C.3.f.1. Kiri: Bor pembuat lubang tanam; Kanan: Pembuatan lubang tanam.
Polibag besar yang telah dibor kemudian biberi pupuk RP untuk meningkatkan kadar P di dalam tanah. Seperti yang telah dijelaskan pada bagian persiapan media tanah bahwa aplikasi pupuk RP ketika tanah masih dalam bentuk gundukan sangat sulit sehingga lebih mudah apabila diaplikasikan ketika tanah telah di isikan ke polibag besar. Selain itu, apabila pupuk dicampur bersama dengan tanah yang belum di bor, ketika pengeboran secara langsung maupun tidak langsung akan ada pupuk RP yang terbuang bersama tanah yang terbawa bor tersebut. Dosis yang digunakan untuk setiap polibag adalah 30 gram yang aplikasinya menggunakan takaran yang telah disediakan oleh perusahaan. Pupuk RP tersebut ditaburkan tepat didalam lubang hasil pengeboran sebelumnya.

Gambar C.3.f.2. Penanaman bibit main-nursery.
Polibag yang telah di bor dan di beri pupuk RP siap untuk ditanami. Polibag kecil yang telah berada di samping polibag besar kemudian di angkat untuk dipindah tanam. Polibag kecil berisi bibit pre-nursery di angkat, kemudian dimiringkan dan dipukul-pukul sehingga tanah memadat dan mudah untuk dikeluarkan dari polibag kecil. Bibit kecil tadi kemudian di masukkan ke dalam lubang yang telah diberi pupuk, dan di tekan sedikit sehingga permukaan tanah menjadi rata. Harus dipastikan bahwa posisi bibit tersebut tegak lurus. Apabila kegiatan penanaman telah selesai dilakukan, sisa polibag kecil dikumpulkan dan dipilah-pilah antara polibag kecil yang masih dapat digunakan dan polibag kecil yang tidak dapat lagi digunakan. Polibag yang telah dipisahkan tadi kemudian dimasukkan ke karung. Untuk polibag yang masih dapat digunakan di simpan di dalam gudang, sedangkan untuk polibag yang tidak dapat lagi digunakan di letakkan di samping gudang.

g. Aplikasi Mulsa
Sekitar 2 minggu setelah penanaman di polibag besar, bibit kelapa sawit tersebut diberi mulsa. Hal ini bertujuan untuk mengurangi biaya perawatan dan efisiensi kerja. Dengan diberikannya mulsa pada bibit kelapa sawit tersebut maka pertumbuhan gulma dapat ditekan sehingga kegiatan merumput dapat dikurangi dan persaingan antar tanaman juga menurun. Selain itu, mulsa juga bermanfaat untuk mengurangi penguapan air tanah sehingga tanah tidak mudah kering. Mulsa dapat berasal dari serat (fiber) ataupun cangkang kelapa sawit. Tetapi belakangan ini penggunaan mulsa cangakang sangat jarang dilakukan, selain harganya mahal, cangkang juga digunakan sebagai bahan bakar di PKS sehingga jumlahnya sangat terbatas. Yang perlu di ingat adalah fiber yang baru dating dari PKS haruslah dibiarkan selama minimal 2 minggu, karena fiber yang baru dating tersebut masih panas sehingga apabila dipaksakan untuk langsung diaplikasikan dikhawatirkan akan membuat bibit tersebut gosong karena kepanasan. Cara aplikasi mulsa ini adalah dengan membawa mulsa dalam karung kemudian dibawa ke polibag besar yang akan di beri mulsa. Setelah itu mulsa tersebut disebar merata di atas tanah hingga mulsa menutup seluruh permukaan tanah.

Gambar C.3.g.1. Kiri: Polibag yang telah diberi mulsa; Kanan: Rumput di sela-sela mulsa.

h. Penyiraman
Salah satu kebutuhan utama bibit kelapa sawit adalah air, sehingga sebisa mungkin tanah yang berada dalam polibag dalam keadaan lembab atau basah. Penyiraman bertujuan memberikan seluruh bibit untuk memperoleh kelembaban yang cukup dan menghindari bibit kurang air. Kebutuhan air setiap polibag ± 2 liter per hari. Bibit disiram dua kali sehari (pagi dan sore), jika curah hujan lebih dari 8 mm, penyiraman cukup dilakukan satu kali. Jika curah hujan lebih dari 18 mm maka tidak perlu dilakukan penyiraman. Namun untuk mencapai tingkat efisiensi maksimum, pelaksanaan penyiraman dilakukan hanya 1 kali sehari walaupun hari sebelumnya tidak turun hujan. selain itu, keputusan dilakukan kegiatan penyiraman atau tidak juga ditentukan oleh operator siram dengan mengandalkan pengalaman yang dimiliki. Apabila dirasa tanah masih lembab, maka penyiraman ditunda pada hari berikutnya. Apalagi pada bibit main-nursery yang telah berumur lebih dari 9 bulan, penyiraman tidak lagi menjadi suatu kegiatan yang harus dilakukan. Hal ini dikarenakan pada bibit yang berumur 9 bulan ke atas, akar bibit telah menembus polibag dan sumber air serta unsur hara tidak lagi terfokus pada kandungan yang ada di polibag. Penyiraman dapat dilakukan 2 atau 3 harus sekali. Yang terpenting adalah bibit main-nursery yang berumur < 9 bulan tidak boleh kekeringan karena bibit berumur 10 bulan.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1997. Studi Tentang Perkebunan dan Pemasukan Minyak Kelapa Sawit Indonesia. International Contect Bussines System, Jakarta.

______. 2003. Pedoman Teknis Pembibitan Kelapa Sawit. Makin Group. (tidak dipublikasikan).

______. 2006. Plantation Location. http://www.sampoernaagro.com/plantation location.html. Diakses 10 Oktober 2008.

Corley, R. H. V. 1976. Oil Palm Research, The Genus Elaies. Elsevier, Amsterdam.

Fauzi, Y, YE. Widiastuti, I. Setyawibawa dan R. Hartono. 2002. Kelapa Sawit, Budidaya, Pemanfaatan Hasil dan Limbah, Analisis dan Pemasaran, Penebar Swadaya. Jakarta.

Hartoyo. 2009. Pengenalan Perkebunan Kelapa Sawit. Presentasi Asisten Training 2009 PT Sampoerna Agro, Tbk. Ogan Komering Ilir. (tidak dipublikasikan)

Lubis, A.U. 1992. Kelapa Sawit di Indonesia. Pusat Penelitian Perkebunan Marihat, Pematangsiantar.

Mangoensoekarjo, S. dan A.T. Tojib. 2003. Manajemen Budidaya Kelapa Sawit (dalam : Manajemen Agrobisnis Kelapa Sawit, Penyunting : S. Mangoensoekarjo dan H. Semangun). Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Murfiah, S. 2009. Pembibitan Kelapa Sawit. Presentasi Asisten Training 2009 PT Sampoerna Agro, Tbk. Ogan Komering Ilir. (tidak dipublikasikan)

Purba, A. R., D. Asmono, E. Supriyanto, Y. Yenni, Sujadi, dan N. Supena. 2006. Pusat Penelitian Kelapa Sawit – Pemuliaan Tanaman. http://www.iopri.org/ index.php?option=com_content&task=section&id =8&Itemid=31&lang=id. Diakses tanggal 1 September 2008.

Setyawibawa, I. dan Y.E. Widyastuti. 1998. Kelapa Sawit : Usaha Budidaya, Pemanfaatan Hasil dan Aspek Pemasaran. Penebar Swadaya, Jakarta.

Siregar, K. dan P. Purba. 1992. Pupuk tunggal sebagai pengganti pupuk majemuk dan pengurangan frekuensi aplikasi pada pembibitan klon kelapa sawit. Buletin Pusat Penelitian Perkebunan Marihat. 12(1):25-34.

Syamsulbahri. 1996. Bercocok Tanam Tanaman Perkebunan Tahunan. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

About these ads

Perihal puputwawan
About me? I don't have more story or something to description about me..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: