Pengendalian Gulma pada Kelapa Sawit

1. PENDAHULUAN

Perkembangan pertanian dewasa ini menunjukkan kemajuan yang semakin pesat. Namun bersamaan dengan itu banyak segi yang secara langsung ataupun tak langsung dapat memacu pertumbuhan gulma, seperti penanaman dalam baris, jarak tanam yang lebar, mekanisasi, pengairan, penggunaan bahan–bahan kimia berupa pupuk dan pestisida. Berarti dengan meningkatnya intensifikasi pertanian maka masalah gulma tidaklah semakin ringan, tetapi justru semakin berat. Keadaan suhu yang relatif tinggi, cahaya matahari melimpah, dan curah hujan yang cukup di daerah tropik, ikut mendorong gulma untuk tumbuh subur. Akibatnya gulma menjadi masalah dalam budidaya tanaman pangan, perkebunan, hortikultura, perairan, dan lahan non pertanian lainnya.

2. PENGERTIAN ISTILAH GULMA

Gulma adalah tumbuh-tumbuhan (tidak termasuk jamur) yang tumbuh pada tempat yang tidak diinginkan sehingga menimbulkan kerugian bagi tujuan manusia. Istilah gulma mempunyai pengertian yang sama dengan istilah weed dalam Bahasa Inggris.

Rumusan kerugian yang ditimbulkan dalam definisi gulma tidak terbatas hanya pada produksi tanaman saja, tetapi juga mencakup usaha-usaha manusia lainnya didalam mencapai tujuan, termasuk nilai-nilai estetika.

Tumbuhan yang lazim menjadi gulma mempunyai beberapa ciri yang khusus yaitu :

 Pertumbuhannya cepat
 Mempunyai daya bersaing yang kuat dalam perebutan faktor-faktor kebutuhan hidup.
 Mempunyai toleransi yang besar terhadap suasana lingkungan yang ekstrim.
 Mempunyai daya berkembang-biak yang besar baik secara generatif, vegetatif atau kedua-duanya.
 Alat perkembang-biakannya mudah tersebar melalui angin, air maupun binatang.
 Biji mempunyai sifat dormansi yang memungkinkannya untuk bertahan hidup dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

3. STATUS DAN PENGGOLONGAN GULMA

3.1. PENGGOLONGAN GULMA BERDASARKAN STATUSNYA

Status gulma dimaksudkan sebagai istilah rumusan yang menunjukkan potensi suatu jenis gulma dalam menimbulkan kerugian/gangguan atau memberikan keuntungan dalam pengusahaan tanaman.

Status suatu jenis gulma tertentu ditentukan efek yang ditimbulkannya dalam persaingan unsur hara, air dan cahaya, mendorong timbulnya gangguan hama dan penyakit tanaman serta efeknya dalam mengganggu kegiatan eksploitasi dan manajemen tanaman. Jadi status gulma memberikan petunjuk tentang kadar disukai atau tidaknya suatu jenis gulma yang tumbuh di tempat tumbuhnya.

3.2. PENGGOLONGAN GULMA BERDASARKAN STATUSNYA

Secara umum status gulma dapat digolongkan menjadi 5 (lima) golongan yaitu :

Golongan A : Pada umumnya bermanfaat.
Golongan B : Pada umumnya kurang merugikan tetapi perlu pengendalian.
Golongan C : Merugikan, bergantung pada keadaan perlu pengendalian.
Golongan D : Merugikan perlu pengendalian atau pemberantasan.
Golongan E : Merugikan perlu pemberantasan.

Gol Nama Botani Nama lokal/Populer Keterangan
A 1. Colopogonium caeruleum CC Selain dari yang sengaja ditanam, sering tumbuh sporadic dibiarkan tumbuh menutup gawangan.

Bila membelit tanaman perlu pengendalian.
2. Colopogonium mucunoides CM
3. Centrosema pubescens CP
4. Pueraria phaseoloides PP
5. Pueraria javanica PJ
6. Mucuna bracteata MB
7. Mucuna cochinchinensis MC
B 1. Ageratum conyzoides L Wedusan
2. Cyrtococcum spp Rumput Kretekan
3. Digitaria spp Genjoran
4. Erechtites valerianifolia Sintrong
5. Phyllanthus niruri L Meniran

Gol Nama Botani Nama lokal/Populer Keterangan
C 1. Axonopus compressus Rumput Pait
2. Borreria latifolia Kentangan
3. Cyclosorus aridus Pakis Kadal
4. Cynodon dactylon Grintingan
5. Cyperus rotundus Teki
6. Echinochloa colonum Rumput Bebek
7. Eleusine indica Rumput Belulang
8. Nephrolepis bisserata Paku Harupat
9. Ottochloa nodosa Rumput Sarang Buaya
10 Paspalum conjugatum Rumput Pait
11 Paspalum commersonii Rumput Gegenjuran
12 Soporobolus spp Suket Sadan
D 1. Brachiaria mutica Suket Kalanjana Bergantung pada periode pertumbuhan atau umur tanaman kelapa sawit, perlu pengendalian atau pembe-rantasan.
2. Chromolaena odorata Kirinyuh
3. Gleichenia linearis Pakis Kawat
4. Lantana camara Temblekan
5. Melastoma offine Senduduk
6. Scleria sumatrensis Kerisan
7. Stachytarpheta indica Jarong Lalaki
8. Trema spp Anggrung
9. Colocasia spp Keladi
10 Grewia eriocarpa Deluak
E 1. Imperata cylindrica Lalang Di dalam areal perlu diberan-tas tuntas, tidak ada toleransi.
2. Mikania spp Sembung Rambat
3. Mimosa pudica Kucingan

4. KARAKTERSITIK GULMA

Dikenal berbagai sistem klasifikasi gulma yang menggambarkan karakteristiknya, seperti kalsifikasi berdasarkan karekteristik reproduksi, bentuk kehidupan, botani dan lain–lain.

Menurut klasifikasi gulma dibedakan menjadi : rumput, teki dan daun lebar. Berdasarkan bentuk masa pertumbuhan terdiri atas : gulma berkayu, gulma air, gulma merambat termasuk epiphytes dan parasit. Ditinjau dari siklus hidupnya dikenal : gulma semusim, dua musim dan tahunan. Beberapa jenis gulma mungkin termasuk kombinasi dari karakteristik–karakteristik tersebut.

4.1. RUMPUT (GRASSES)

Rumput mempunyai batang bulat atau pipih dan berongga. Kesamaannya dengan teki karena bentuk daunnya sama–sama sempit, tetapi dari sudut pengendalian terutama responnya terhadap herbisida berbeda.

Berdasarkan bentuk masa pertumbuhan dibedakan rumput semusim (annual) dan tahunan (perennial). Rumput semusim biasanya tumbuh melimpah tetapi kurang menimbulkan masalah dibandingkan dengan rumput tahunan. Beberapa spesies rumput semusim mungkin menjadi masalah karena mempunyai habitus yang mirip tanaman, misalnya Echinochloa crusgalli dan Echinochloa colona yang mirip tanaman padi pada stadium awal pertumbuhan. Gulma tahunan yang penting adalah Imperata cylidrica, Saccharum spontaneum, Panicum repens, Paspalum conjugatum (pahitan) dan sebagainya.

Ditinjau dari sudut pengendalian, herbisida yang mampu mengendalikan rumput maupun daun lebar misalnya terbutryne, nitrofen dan glyphosate mampu mengendalikan rumput dan daun lebar sebaik mengendalikan teki.

4.2. TEKI (SEDGES)

Teki mempunyai batang berbentuk segi tiga, kadang–kadang bulat dan tidak berongga, daun berasal dari nodia dan warna ungu tua. Gulma ini mempunyai sistem rhizoma dan umbi sangat luas. Sifat yang menonjol adalah cepatnya membentuk umbi baru yang dapat bersifat dorman pada lingkungan tertentu.

Diketahui ada teki semusim seperti Cyperus difformis, Cyperus iria, dan teki tahunan seperti Cyperus esculentus, Cyperus imbricatus, Cyperus rotundus, dan Cyperus cirpus grossus. Ada juga species seperti Fimbrystylis littoralis yang digolongkan sebagai teki semusim maupun tahunan. Species teki yang sangat sulit dikendalikan adalah Scirpus maritimus dan Cyperus rotundus. Glyphosate dan alakhlor adalah salah satu dari sedikit herbisida yang dapat mengendalikan Cyperus rotundus.

4.3. GULMA DAUN LEBAR (BROAD LEAVED WEEDDS)

Daun–daun gulma berdaun lebar dibentuk pada meristem apikal dan sangat sensitif terhadap khemikelia.

Pada permukaan daun (terutama permukaan bawah) terdapat stomata yang memungkinkan cairan masuk. Gulma ini mempunyai tunas–tunas pada nodus atau titik memencarnya daun. Tunas–tunas tersebut juga sensitif terhadap herbisida. Meristem apikal dari gulma berdaun lebar adalah bagian batang yang terbentuk sebagai bagian terbuka yang sensitif terhadap perlakuan kimia.

Herbisida yang pertama ditemukan adalah 2,4 D yang merupakan pengendali gulma berdaun lebar. Begitu juga herbisida–herbisida phenoxy yang lain seperti MCPA; MCPB; 2,4–T; 2,4 DB dan sebagainya. Herbisida lain yang bisa digunakan untuk gulma daun lebar antara lain ioxynil; picloram; 2,3,6-TBA; semetryne; thiobencarb dan sebagainya.

4.4. GULMA SEMUSIM, DUA MUSIM DAN TAHUNAN (ANNUAL, BIENNIAL, DAN PERENNIAL WEEDS).

Gulma semusim (annual) menyelesaikan siklus hidupnya dalam satu tahun atau satu musim. Ada gulma daun lebar semusim, teki semusim dan rumput semusim. Sebagai contoh adalah Ageratum conyzoides, Cyperus iria, Echinochloa colonum, Leptochloa chinensis dan Rottboellia exaltata.

Gulma biennial memerlukan dua musim pertumbuhan untuk menyelesaikan siklus hidupnya, biasanya berbentuk roset pada tahun pertama dan pada tahun kedua menghasilkan bunga, memproduksi biji lalu mati. Jenis gulma ini kurang umum dan kurang penting dibanding gulma annual. Dari 567 weed flora (8,7% dari total flora) terdapat 407 species adalah annual, 121 perennial dan hanya 39 species biennial. Beberapa contoh gulma biennial : Daucus carota, Sonchus arvensis, Senecio vulgaris dan Cirsium arvense.

Gulma perennial hidup lebih dari dua tahun dan mungkin dalam kenyataannya hampir tidak terbatas. Beberapa species gulma perennial secara alami berkembang biak dengan biji, tetapi dapat sangat reproduktif dengan potongan batang, umbi, rhizoma, stolon dan daun. Sebagian besar sangat sulit dikendalikan terutama yang mampu berkembang biak secara vegetatif maupun generatif. Stadium bibit mungkin dapat dikendalikan dengan suatu perlakuan, tetapi pada stadium selanjutnya tidak mungkin cukup satu tindakan. Banyak biji dari gulma ini yang mampu dorman beberapa tahun dan tetap viabel. Gulma perennial yang sangat populer dan penting adalah Imperata Cylindrica, Mikania chordata, dan Cyperus rotundus.

Beberapa herbisida utama untuk gulma annual adalah sodium chlorate, propachlor, butachlor dan trifluralin. Sedangkan herbisida yang efektif untuk perennial adalah terbacyl dan herbisida yang efektif untuk annual maupun perennial misalnya profloralin, paraquat dan glyphosate.

4.5. GULMA BERKAYU (WOODY WEEDS)

Golongan gulma berkayu mencakup tumbuh-tumbuhan yang batangnya membentuk cabang-cabang sekunder. Gulma berkayu menjadi masalah di perkebunan, kehutanan, saluran pengairan dan padang pengembalaan.

Sistem perbanyakan, produksi biji dan penyebaran efisien, sehingga menjadi masalah penting. Beberapa contoh adalah Melastoma spp., Lantana spp., Acasia spp. dan Cromolaena odorata. Dalam beberapa kasus gulma ini dapat dikendalikan secara manual dan pembakaran, tetapi lebih efektif dengan bahan kimia (orborisida) seperti 2,4,5-T; picloram dan sodium arsenate. Sedangkan secara mekanis menggunakan Buldozer, Brush-ester dan sebagainya.

4.6. GULMA AIR (AQUATIC WEEDS)

Tumbuhan air adalah tumbuhan yang beradaptasi terhadap keadaan air kontinyu atau paling tidak toleran terhadap kondisi tanah berair untuk periode waktu hidupnya.

Gulma air diklasifikasikan menjadi gulma marginal (tepian), emergent (gabungan antara tenggelam dan terapung), submerged (melayang), anchored with floating leaves (tenggelam), free floating (mengapung) dan plankton/algae.

Contohnya berturut–turut adalah Mikania spp., Typha spp., Hydrilla verticillata, Nymphaea spp., Pistia stratiotes, dan Microcystis spp.

Gulma air dapat dikendalikan secara manual, mekanis, biologi dan herbisida seperti Achrolein, Ametryn, Bromacil.

4.7. GULMA MERAMBAT (CLIMBERS)

Tumbuhan merambat yang berstatus sebagai gulma bisa sangat agresif dan perlu pengendalian. Gulma merambat dapat menimbulkan masalah mekanis seperti Mikania chordata di pertanaman karet dan kelapa sawit atau semi parasit seperti Coscuta campestris dan Cassytha filiformis. Karakternya yang melilit dan memanjat dapat menyebabkan penutupan areal yang luas dengan cepat.

Salah satu dari sejumlah herbisida untuk mengendalikan Coscuta spp. adalah Chloropham, sedangkan Mikania spp dapat dikendalikan dengan 2,4-D Amine; 2,3-D Na dan ioxynil.

4.8. GULMA EFIFIT DAN PARASIT

Perambat kadang-kadang juga efifit atau hemiparasit. Beberapa species gulma parasit adalah Viscum album, Dendrophthoe petandra, Arcenthobium oxycentri, Loranthus elasticus, Loranthus longiflorus, Loranthus puheerulenthus, Macrosolen cochinentis, dan Scurula spp. Species-species ini mungkin menjadi parasit pada tanaman atau pepohonan, yang mengakibatkan pepohonan tersebut kehilangan daun karena cabang-cabangnya telah dimatikan oleh parasit tersebut. Beberapa jenis semak parasit yang lain adalah Vaccinium ludicum dan Rhododendron javanicum.

Beberapa species kumbang “scolytid“ merupakan serangga penting yang mengendalikan penyebaran beberapa species Dendrophthoe dan Scurula dengan perusakan deposit biji–bijinya yang dibawa burung. Metode yang dianggap efektif dalam masalah ini adalah memotong secara teratur tumbuhan efifit dan parasit tersebut.

5. PENGENDALIAN GULMA

Pengertian dari pengendalian gulma (control) harus dibedakan dengan pemberantasan (eradication). Pengendalian gulma (weed control) dapat didefinisikan sebagai proses membatasi infestasi gulma sedemikian rupa sehingga tanaman dapat dibudidayakan secara produktif dan efisien.

Dalam pengendalian gulma tidak ada keharusan untuk membunuh seluruh gulma, melainkan cukup menekan pertumbuhan dan atau mengurangi populasinya sampai pada tingkat dimana penurunan produksi yang terjadi tidak berarti atau keuntungan yang diperoleh dari penekanan gulma sedapat mungkin seimbang dengan usaha ataupun biaya yang dikeluarkan. Dengan kata lain pengendalian bertujuan hanya menekan populasi gulma sampai tingkat populasi yang tidak merugikan secara ekonomik atau tidak melampaui ambang ekonomik (economic threshold), sehingga sama sekali tidak bertujuan menekan populasi gulma sampai nol.

Sedangkan pemberantasan merupakan usaha mematikan seluruh gulma yang ada baik yang sedang tumbuh maupun alat-alat reproduksinya, sehingga populasi gulma sedapat mungkin ditekan sampai nol. Pemberantasan gulma mungkin baik bila dilakukan pada areal yang sempit dan tidak miring, sebab pada areal yang luas cara ini merupakan sesuatu yang mahal dan pada tanah miring kemungkinan besar menimbulkan erosi. Eradikasi pada umumnya hanya dilakukan terhadap gulma-gulma yang sangat merugikan dan pada tempat-tempat tertentu.

Pengendalian gulma pada prinsipnya merupakan usaha meningkatkan daya saing tanaman pokok dan melemahkan daya saing gulma. Keunggulan tanaman pokok harus menjadi sedemikian rupa sehingga gulma tidak mampu mengembangkan pertumbuhannya secara berdampingan atau pada waktu bersamaan dengan tanaman pokok.

Pelaksanaan pengendalian gulma hendaknya didasari dengan pengetahuan yang cukup mengenai gulma yang bersangkutan. Apakah gulma tersebut bersiklus hidup annual, biennial ataupun perennial, bagaimana berkembang biaknya, bagaimana sistem penyebarannya, bagaimana dapat beradaptasi dengan lingkungan dan dimana saja distribusinya, bagaimana bereaksi terhadap perubahan lingkungan dan bagaimana tanggapannya terhadap perlakuan-perlakuan tertentu termasuk penggunaan zat–zat kimia berupa herbisida.

Pengendalian gulma harus memperhatikan teknik pelaksanannya di lapangan (faktor teknis), biaya yang diperlukan (faktor ekonomis) dan kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkannya.

Terdapat beberapa metode/cara pengendalian gulma yang dapat dipraktekkan di lapangan. Sebelum melakukan tindakan pengendalian gulma sangat penting mengetahui cara-cara pengendalian guna memilih cara yang paling tepat untuk suatu jenis tanaman budidaya dan gulma yang tumbuh disuatu daerah.

Teknik pengendalian yang tersedia adalah :

1. Pengendalian dengan upaya preventif (pembuatan peraturan/perundangan, karantina, sanitasi dan peniadaan sumber invasi).

2. Pengendalian secara mekanis/fisik (pengerjaan tanah, penyiangan, pencabutan, pembabatan, penggenangan dan pembakaran).

3. Pengendalian secara kultur–teknis (penggunaan jenis unggul terhadap gulma, pemilihan saat tanam, cara tanam-perapatan jarak tanam/heavy seeding, tanaman sela, rotasi tanaman dan penggunaan mulsa).

4. Pengendalian secara hayati (pengadaan musuh alami, manipulasi musuh alami dan pengolahan musuh alami yang ada disuatu daerah).

5. Pengendalian secara kimiawi (herbisida dengan berbagai formulasi, surfaktan, alat aflikasi dsb).

6. Pengendalian dengan upaya memamfaatkannya (untuk berbagai keperluan seperti sayur, bumbu, bahan obat, penyegar, bahan kertas/karton, biogas pupuk, bahan kerajinan dan makanan ternak).

5.1. PENGENDALIAN SECARA PREVENTIF

Tindakan paling dini dalam upaya menghindari kerugian akibat invasi gulma adalah pencegahan (preventif). Pencegahan dimaksud untuk mengurangi pertumbuhan gulma agar usaha pengendalian sedapat mungkin dikurangi atau ditiadakan.

Pencegahan sebenarnya merupakan langkah yang paling tepat karena kerugian yang sesungguhnya pada tanaman budidaya belum terjadi. Pencegahan biasanya lebih murah, namun demikian tidak selalu lebih mudah. Pengetahuan tentang cara-cara penyebaran gulma sangat penting jika hendak melakukan dengan tepat.

A. Peniadaan Sumber Invasi dan Sanitasi

Beberapa tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk meniadakan sumber invasi adalah :

1) Menggunakan biji tanaman yang bersih dan tidak tercampur biji lain terutama biji-biji gulma.
2) Menghindari penggunaan pupuk kandang yang belum matang.
3) Membersihkan tanah-tanah yang berasal dari tempat lain, tubuh dan kaki ternak dari biji-biji gulma.
4) Mencegah pengangkutan tanaman beserta tanahnya dari tempat-tempat lain, karena pada bongkahan tanah tersebut kemungkinan mengandung biji-biji gulma.
5) Pembersihan gulma dipinggir-pinggir sungai dan saluran air.
6) Menyaring air pengairan agar tidak membawa biji-biji gulma ke petak-petak pertanaman yang diairi.

B. Karantina Tumbuhan

Karantina tumbuhan bertujuan mencegah masuknya organisme pengganggu tumbuhan lewat perantaraan lalu-lintas/perdagangan. Karantina tumbuhan merupakan cara pengendalian tidak langsung dan relatif paling murah.

5.2. PENGENDALIAN MEKANIS

Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian mekanis hanya mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik. Dalam praktek dilakukan secara tradisional dengan tangan, dengan alat sederhana sampai penggunaan alat berat yang lebih modern.

Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih peralatan untuk digunakan dalam pengendalian gulma adalah sistem perakaran, umur tanaman, kedalaman dan penyebaran sistem perakaran, umur dan luas infestasi, tipe tanah, topografi, serta kondisi cuaca/iklim.

A. Pengolahan Tanah (Land Preparation)

Pengolahan tanah dengan alat-alat seperti cangkul, bajak, garu, traktor dan sebagainya, pada umumnya berfungsi untuk mengendalikan gulma.

Pengolahan tanah pada prinsipnya melepaskan ikatan antara gulma dengan media tempat tumbuhnya. Efektivitas pengolahan tanah dalam pengendalian gulma tergantung beberapa faktor seperti siklus hidup gulma dan tanamannya, dalam dan penyebaran perakaran, lama dan luasnya infestasi, macam tanaman yang dibudidayakan, jenis tanah, topografi dan iklim.

B. Penyiangan (Weeding)

Penyiangan yang tepat biasanya dilakukan pada saat pertumbuhan aktif dari gulma. Penundaan sampai gulma berbunga mungkin tak hanya gagal membongkar akar gulma secara maksimum, tetapi juga gagal mencegah tumbuhnya biji-biji gulma yang viabel sehingga memberi kesempatan untuk perkembangbiakan dan penyebarannya.

Penyiangan sesudah gulma dewasa akan banyak membongkar akar tanaman dan menimbulkan kerusakan fisik. Sedang penyiangan yang terlalu sering akan menimbulkan kerusakan akar tanaman pokok

C. Pencabutan (Hand Pulling)

Pencabutan dengan tangan ditujukan untuk gulma annual dan biennial. Pelaksanaan pencabutan gulma terbaik adalah pada saat sebelum pembentukan biji, sedang pencabutan pada saat gulma sudah dewasa mengakibatkan kemungkinan adanya bagian bawah gulma yang tidak tercabut sehingga tumbuh kembali.

D. Pembabatan (Mowing)

Pembabatan pada umumnya hanya efektif untuk mengendalikan gulma-gulma yang bersifat setahun (annual) dan kurang efektif untuk gulma tahunan (perennial). Efektivitas cara ini sangat ditentukan oleh saat dan interval pembabatan. Pembabatan sebaiknya dilakukan pada saat daun gulma sedang tumbuh lebat, menjelang berbunga dan sebelum membentuk biji.

E. Pembakaran (Burning)

Pembakaran merupakan salah satu cara mengendalikan gulma. Suhu kritis yang menyebabkan kematian (Termodeash Point) pada sel adalah 45–55º C, tetapi biji yang kering lebih tahan daripada tumbuhan yang hidup.

Sebenarnya yang dimaksud dengan pembakaran adalah penggunaan api untuk pengendalian gulma dengan alat pembakar (burner) seperti alat untuk mengelas, flame cultivator atau weed burner yang menggunakan bahan bakar butane dan propone. Atau pembakaran dengan memberikan panas dalam bentuk uap (sceaming), terutama dalam usaha mematikan biji gulma pada tempat-tempat tertentu seperti pembuatan bedengan.

F. Penggenangan

Bila tersedia air, penggenangan dapat mengurangi pertumbuhan gulma. Cara ini biasa digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma darat (terrestrial). Penggenangan efektif untuk mengendalikan gulma tahunan. Caranya dengan membuat galangan pembatas dengan tinggi genangan 15-25 cm selama 3–8 minggu. Sebagian besar gulma tidak berkecambah pada kondisi anaerob.

5.3. PENGENDALIAN KULTUR TEKNIS

Pengendalian kultur teknis merupakan cara pengendalian gulma dengan menggunakan praktek-praktek budidaya, antara lain :

1) Penanaman jenis tanaman yang cocok dengan kondisi tanah.
2) Penanaman rapat agar tajuk tanaman segera menutup ruang kosong.
3) Pemupukan yang tepat untuk mempercepat pertumbuhan tanaman sehingga mempertinggi daya saing tanaman terhadap gulma.
4) Pengaturaan waktu tanam dengan membiarkan gulma tumbuh terlebih dahulu kemudian dikendalikan dengan praktek budidaya tertentu.
5) Penggunaan tanaman pesaing (competitive crops) yang tumbuh cepat dan berkanopi lebar sehingga memberi naungan dengan cepat pada daerah di bawahnya.
6) Modifikasi lingkungan yang melibatkan pertumbuhan tanaman menjadi baik dan pertumbuhan gulma tertekan.

A. Rotasi Tanaman (Crop Rotation)

Rotasi tanaman atau pergiliran tanaman sebenarnya bertujuan memanfaatkan tanah, air, sinar matahari dan waktu secara optimum sehingga diperoleh hasil yang memadai. Dengan pergiliran tanaman maka pada umumnya permukaan tanah akan selalu tertutup oleh naungan daun tanaman, sehingga gulma tertekan.

B. Sistem Bertanam (Croping System)

Perubahan cara bertanam dari monokultur ke polikultur (intercropping atau multiple croping) dapat mempengaruhi species gulma yang tumbuh sehingga menimbulkan perbedaan interaksi dalam kompetisi.

Cara penanaman tumpang sari, tumpang gilir, tanaman sela atau lainnya ternyata dapat menekan pertumbuhan gulma, karena gulma tidak sempat tumbuh dan berkembang biak akibat sinar matahari serta tempat tumbuhnya selalu terganggu.

C. Pengaturan Jarak Tanam (Crop Density)

Peningkatan kepadatan tanaman meningkatkan efek naungan terhadap gulma sehingga mengurangi pertumbuhan dan reproduksinya. Meskipun demikian pada jarak tanam yang sempit mungkin tanaman budidaya memberikan hasil relatif kurang. Oleh sebab itu sebaiknya penanaman dilakukan pada jarak tanam yang optimal.

D. Pemulsaan (Mulching)

Mulsa akan mempengaruhi cahaya yang akan sampai ke permukaan tanah dan menyebabkan kecambah-kecambah gulma serta berbagai jenis gulma dewasa mati. Disamping mempertahankan kelembaban tanah, mulsa akan mempengaruhi temperatur tanah.

E. Tanaman Penutup Tanah (Legum Cover Crop-LCC)

Sering disebut tanaman pelengkap (smother crops) atau tanaman pesaing (competitive crops). Sebagai tanaman penutup tanah biasa digunakan tanaman kacang-kacangan (leguminosae) karena selain dapat tumbuh secara cepat sehingga cepat menutup tanah tetapi dapat juga digunakan sebagai pupuk hijau.

Sifat penting yang diperlukan bagi tanaman penutup tanah adalah harus dapat tumbuh dan berkembang cepat sehingga mampu menekan gulma. Jenis-jenis leguminosae yang biasa digunakan adalah Calopogonium muconoides (CM), Calopogonium caerelum (CC), Centrosoma pubescens (CP) dan Pueraria javanica (PJ).

Selain pertumbuhan cepat sifat lainnya yang dikehendaki adalah tidak menyaingi tanaman pokok. Apabila pertumbuhannya terlalu rapat maka harus dilakukan pengendalian dengan cara pembabatan atau dibongkar untuk diganti dengan penutup tanah yang lainnya.

Penggunaan tanaman penutup tanah untuk mencegah pertumbuhan gulma-gulma berbahaya (noxious) terutama golongan rumput merupakan cara kultur teknis yang dipandang paling berhasil diperkebunan.

5.4. PENGENDALIAN HAYATI

Pengendalian hayati (biological control) adalah penggunaan biota untuk melawan biota. Pengendalian hayati dalam arti luas mencakup setiap usaha pengendalian organisme pengganggu dengan tindakan yang didasarkan ilmu hayat (biologi). Berdasarkan hal ini maka penggunaan Legum Cover Crops (LCC) kadang-kadang juga dimasukkan sebagai pengendalian hayati.

Pengendalian hayati pada gulma adalah suatu cara pengendalian dengan menggunakan musuh-musuh alami baik hama (insekta), penyakit (patogen), jamur dan sebagainya guna menekan pertumbuhan gulma. Hal ini biasa ditujukan terhadap suatu species gulma asing yang telah menyebar secara luas di suatu daerah. Pemberantasan gulma secara total bukanlah tujuan pengendalian hayati karena dapat memusnahkan agen-agen hayati yang lain.

A. Pengendalian Alami dan Hayati

Berdasarkan campur tangan yang terjadi maka dibedakan antara pengendalian alami dan pengendalian hayati. Perbedaan utama terletak pada ada atau tidaknya campur tangan manusia dalam ekosistem. Dalam pengendalian alami disamping musuh alami sebagai pengendali hayati masih ada iklim dan habitat sebagai faktor pengendali non hayati. Sedang pada pengendalian hayati ada campur tangan manusia yang mengelola gulma dengan memanipulasi musuh alaminya.

Pengendalian hayati merupakan metode yang paling layak dan sekaligus paling sulit dipraktekkan karena memerlukan derajat ketelitian tinggi dan serangkaian test dalam jangka waktu panjang (bertahun-tahun) sebelum suatu organ pengendali hayati dilepas untuk pengendalian suatu species gulma. Dasar pengendalian hayati adalah kenyataan bahwa di alam ada musuh-musuh alami yang mampu menekan beberapa species gulma.

B. Musuh–musuh Alami Gulma

Ada beberapa syarat utama yang dibutuhkan agar suatu makhluk dapat digunakan sebagai pengendali alami :

1. Makhluk tersebut tidak merusak tanaman budidaya atau jenis tanaman pertanian lainnya, meskipun tanaman inangnya tidak ada.

2. Siklus hidupnya menyerupai tumbuhan inangnya, misalnya populasi makhluk ini akan meningkat jika populasi gulmanya juga meningkat.

3. Harus mampu mematikan gulma atau paling tidak mencegah gulma membentuk biji/berkembang biak.

4. Mampu berkembang biak dan menyebar ke daerah-daerah lain yang ditumbuhi inangnya.

5. Mempunyai adaptasi baik terhadap gulma inang dan lingkungan yang ditumbuhinya.

5.5. PENGENDALIAN KIMIA

Pengendalian gulma dengan menggunakan senyawa kimia tanpa mengganggu tanaman pokok dikenal dengan nama “Herbisida“.

Kelebihan dan keuntungan penggunaan herbisida dalam pengendalian gulma antara lain:

 Herbisida dapat mengendalikan gulma yang tumbuh bersama tanaman budidaya yang sulit disaingi.
 Herbisida pre-emergence mampu mengendalikan gulma sejak awal.
 Pemakaian herbisida dapat mengurangi kerusakan akar dibandingkan pengerjaan tanah waktu menyiangi secara mekanis.
 Erosi dapat dikurangi dengan membiarkan gulma (rumput) tumbuh secara terbatas dengan pemakaian herbisida.
 Banyak gulma yang bersifat pohon lebih mudah dibasmi dengan herbisida.
 Lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak belukar.
 Dapat menaikkan hasil panen tanaman dibandingkan dengan perlakuan penyiangan biasa.

Disamping kelebihan dan keuntungan, herbisida mempunyai keurangan-kekurangan yang dapat merugikan, antara lain dapat menimbulkan :

 Efek samping
 Species gulma yang resisten
 Polusi
 Residu dapat meracuni tanaman.

Penggunaan herbisida yang berhasil sangat tergantung akan kemampuannya untuk membasmi beberapa jenis gulma dan tidak membasmi jenis-jenis lainnya (tanaman budidaya). Cara kerja yang selektif ini merupakan faktor yang paling penting bagi keberhasilan suatu herbisida.

Ada 4 (empat) faktor yang mempengaruhi keberhasilannya atau selektifitas herbisida, yaitu :

Faktor Tanaman :

 Umur dan kecepatan pertumbuhan.
 Struktur luar seperti bentuk daun ( ukuran dan permukaan ), kedalaman akar, lokasi titik tumbuh, dll
 Struktur dalam seperti translokasi dan permeabilitas membran / jaringan
 Proses-proses biokimia seperti pengaktifan enzim, herbisida, dll

Faktor Herbisidanya :

 Struktur
 Konsentrasi
 Formulasi (cair atau granular)

Faktor Lingkungan :

 Temperatur,
 Cahaya,
 Hujan,
 Faktor-faktor tanah

Cara Pemakaian/Aplikasi :

 Tipe herbisida (digunakan ke tanah, ke tanaman),
 Volume penyemprotan,
 Ukuran butiran semprotan,
 Waktu penyemprotan.

6. BAKU PENGENDALIAN GULMA DI PERKEBUNAN

Untuk kebutuhan praktek pengelolaan gulma di perkebunan diperlukan adanya suatu baku penyiangan yang dianggap normal untuk dijadikan sebagai pedoman umum. Di dalam baku penyiangan normal digambarkan tingkat ambang pengendalian gulma. Tingkat ambang pengendalian gulma adalah tingkat pertumbuhan gulma paling maksimal yang masih dapat dibolehkan sebelum menimbulkan efek penekanan pertumbuhan/produksi dan menimbulkan gangguan fisik yang berarti.

Uraian tentang norma-norma kelas penyiangan di perkebunan sebagai berikut :

Kelas Penyiangan Uraian
P0 Dalam kelas ini, secara normatif hanya tanaman kelapa sawit yang diperkenankan tumbuh dan kacang-kacangan (leguminosae). Namun menjelang setiap rotasi penyiangan dapat diperbolehkan tumbuh gulma golongan A, B, dan C dengan persentase penutupan 5-25% dan tinggi 5-10 cm bergantung pada umur tanaman kelapa sawit. Gulma yang masih dapat dibolehkan tumbuh selain kacang-kacangan adalah : rumput lunak seperti Ageratum, Cyrtococcum, Paspalum, Ottochloa dan lain-lain. Gulma yang tidak boleh tumbuh adalah golongan D dan E, yaitu Eupatorium, Lantana, Melastoma, Colocasia (keladi) dan gulma berduri. Kelas penyiangan P0 terdapat di piringan pohon umur 0-1 tahun.
P1 Secara normatif dalam kelas P1 hanya penutup tanah kacang-kacangan yang diperkenankan tumbuh. Namun menjelang setiap rotasi penyiangan, gulma golongan B dan C diperbolehkan tumbuh dengan persentase penutupan maksimum 25% dan tinggi maksimum 30 cm. Jenis gulma yang diperbolehkan tumbuh adalah rumput lunak berdaun lebar maupun berdaun pita dari golongan B dan C. Gulma yang tidak dapat ditoleransi tumbuh adalah golongan D dan E seperti gulma berdaun pita tangguh Brachiaria mutica, Imperata cylindrical; gulma alelopati Mikania; gulma berkayu Eupatorium, Lantana dan lain-lain. Kelas penyiangan P1 terdapat dalam gawangan tanaman TBM.
P2 Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan, gulma lunak berdaun pita maupun berdaun lebar diperbolehkan tumbuh dengan penutupan 25-50% dan tinggi 20 cm bergantung pada umur tanaman. Gulma yang tidak diperbolehkan tumbuh adalah gulma berkayu seperti Eupatorium, Lantana; gulma berbahaya seperti Imperata cylindrical, Mikania serta gulma berduri (golongan D dan E). Kelas penyiangan P2 terdapat pada jalur Tanaman Menghasilkan (TM).
P3 Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan, gulma lunak rumput-rumputan dan gulma berdaun lebar dari golongan A, B dan C diperbolehkan tumbuh menutup tanah 100%, tetapi tingginya dikendalikan maksimum 30 cm. Pengendalian dapat dilakukan dengan membabat. Gulma golongan D dan E tidak diperbolehkan tumbuh sehingga perlu diberantas dengan interval tertentu. Kelas penyiangan P3 terdapat pada gawangan TM sampai berumur 15-20 tahun.
P4 Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan dan gulma umum rumput-rumputan, berdaun lebar dan gulma berkayu terkecuali gulma golongan E seperti lalang (Imperata cylidrica), Mikania, diperbolehkan tumbuh asalkan tumbuhnya tidak melebihi 30 cm. Kelas penyiangan P4 terdapat pada gawangan Tanaman Menghasilkan (TM ) berumur lebih dari 15-20 tahun.
P5 Kelas penyiangan dimana kacang-kacangan, gulma lunak rumput-rumputan, gulma berdaun lebar dan gulma perdu berkayu diperkenan tumbuh kecuali gulma golongan E seperti lalang (Imperata cylindrical), Mikania dan lain-lain. Kelas penyiangan P5 terdapat pada areal tanaman menjelang diremajakan.

7. PENGENDALIAN LALANG

7.1.PENDAHULUAN

Lalang (Imperata cylindrica) termasuk salah satu dari sepuluh gulma penting yang paling merugikan. Saat ini dikenal enam varietas lalang, salah satu diantaranya tumbuh baik di Asia Tenggara.

Lalang merupakan gulma yang mempunyai tingkat kebutuhan unsur hara yang rendah sehingga mampu tumbuh pada tanah yang tidak subur, tanah berpasir dan rawa. Di Indonesia, gulma lalang masih dapat tumbuh di areal dengan ketinggian mencapai 2.600 m di atas permukaan laut.

Perkembangbiakannya dilahan yang terbuka (tanpa naungan) sangat cepat melalui biji maupun akar rimpang. Dalam waktu 75 hari setelah menyebar, sebatang akar rimpang mampu menghasilkan lebih dari 3 kg bobot kering dan satu tajuk bunga mampu menghasilkan 500–600 biji. Populasi lalang pada lahan yang tidak diolah dapat mencapai 3–5 juta pupus per hektar dengan biomasa daun 7–18 ton dan rimpang 3–11 ton per hektar. Suatu areal disebut Sheet Lalang jika populasi lalang diareal tersebut berkisar 40-100%.

Kerugian yang ditimbulkan oleh lalang disamping menjadi pesaing bagi tanaman utama dalam serapan hara, air dan kompetisi ruang, juga menghasilkan zat alelopati yang bersifat racun. Kandungan bahan organik, N dan P dibawah lalang lebih rendah jika dibandingkan pada lahan yang didominasi populasi putihan (Eupatorium palescens) maupun sengganen (Melastoma malabatricum). Pertumbuhan tanaman kacangan yang terhambat oleh populasi lalang juga dapat menjadi indikator bahwa lahan tersebut mempunyai kandungan unsur P yang rendah.

7.2. CARA PENGENDALIAN

Pengertian pengendalian lalang adalah upaya mengendalikan bagian–bagian yang dapat menyebabkan pertumbuhan lalang, baik pertumbuhan vegetatif (akar rimpang) maupun generatif (biji). Beberapa cara yang sering dilakukan dalam pengendalian lalang adalah perebahan, mekanis kultur teknis dan kimiawi.

A. Perebahan

Perebahan merupakan salah satu tehnik pengendalian lalang yang sesuai diterapkan untuk lahan perkebunan, dengan kelebihan sebagai berikut :

 Daun dan batang yang telah rebah akan kering dan mati tanpa merangsang pertumbuhan tunas pada rimpang, sekaligus menjadi mulsa yang menghambat pertumbuhan gulma lainnya.

 Relatif mudah dilakukan serta dapat mengurangi resiko kebakaran (lalang yang telah rebah relatif sulit terbakar).

Perebahan sebaiknya dilakukan sewaktu lalang telah berkembang penuh dan padat. Lalang yang daunnya telah kering lebih mudah direbahkan, biasanya dimusim kemarau. Rotasi dilakukan sesuai dengan perkembangan lalang. Untuk lahan dengan tanaman kelapa sawit yang masih muda dan tajuknya belum menutup memerlukan rotasi yang lebih pendek dibandingkan dengan lahan yang tajuk sawitnya telah menutup.

Teknik perebahan yang biasa dilakukan adalah :

(a) Perebahan menggunakan papan

Alat yang dipakai dapat terbuat dari papan yang ringan dan kuat dengan bagian dasar rata atau cekung, panjang 1,5 m, lebar 25 cm dan tebal 5 cm. Pada kedua ujung papan diikatkan tali sebagai pegangan.

Penggunaannya adalah dengan cara memegang tali dan menginjakkan kaki pada papan di atas lalang. Angkat kembali papan tersebut dan lakukan secara berulang dari bagian pangkal sampai ujung lalang sehingga gulma tersebut rebah secara sempurna. Alat ini sesuai untuk sheet lalang yang masih banyak tunggulnya. Keperluan tenaga kerja adalah 15–20 HK/ha.

(b) Perebahan menggunakan potongan kayu atau drum

Sepotong kayu atau batang kelapa yang cukup berat dengan panjang 2 m dapat digunakan untuk merebahkan lalang dengan cara mendorongnya diatas lalang secara berulang–ulang sampai lalang rebah sempurna. Cara ini sesuai untuk lahan yang relatif bebas tunggul dengan sedikit populasi tanaman utama.

Cara yang lain adalah menggunakan drum minyak kapasitas 200 lt yang diisi dengan air. Drum digulingkan diatas lalang menggunakan tangan atau dimodifikasi sedemikian rupa sehingga dapat ditarik hewan. Untuk meningkatkan efektifitasnya, dapat dipasang pelat–pelat logam kecil pada permukaan drum. Cara ini memerlukan tenaga kerja 2–3 HK/Ha jika dilakukan secara manual dan 1,0–1,5 HK/Ha jika menggunakan tenaga hewan.

B. Cara Mekanis

Pengertian cara mekanis adalah pengendalian lalang menggunakan tenaga mesin (misalnya jenis wheel tractor), pengolahan tanah menggunakan bajak atau cangkul secara manual dan penebasan.

(a) Pembajakan/Pencangkulan secara Manual

Pengendalian lalang dengan pembajakan atau pencangkulan dapat dilakukan bersamaan dengan pengolahan tanah. Kegiatan ini efektif jika lalang masih dalam tahap awal pertumbuhan. Jika tinggi lalang telah mencapai 75 cm atau lebih, sebaiknya lalang ditebas atau dibakar terlebih dahulu. Tanah diolah sampai kedalaman 20–25 cm dan dibalik agar rimpang lalang kering terkena panas matahari selama 1 minggu. Pengolahan tanah ini sebaiknya dilakukan beberapa kali hingga rimpang benar–benar mati dan tidak tumbuh menjadi lalang baru.

(b) Penggunaan traktor

Tahapan pelaksanaannya adalah sebagai berikut :

 Pembajakan pertama (1st ploughing) pada jalur–jalur yang searah dengan kedalaman pembajakan sekitar 30 cm atau sampai ke kedalaman perakaran lalang.

 Pembajakan kedua (2nd ploughing), dilaksanakan 2 minggu setelah pembajakan pertama dengan arah memotong jalur pembajakan pertama. Kedalaman pembajakan sama dengan kedalaman pembajakan pertama.

 Penggaruan pertama (1st harrowing), dilaksanakan 2 minggu setelah pembajakan kedua.

 Penggaruan kedua (2nd harrowing), dilaksanakan 2 minggu setelah penggaruan pertama.

 Penggaruan ketiga (3rd harrowing), dilaksanakan 2 minggu setelah penggaruan kedua. Arah penggaruan sebaiknya saling memotong dengan kedalaman 30 cm atau sampai ke kedalaman perakaran, agar akar rimpang terpotong–potong halus sehingga tidak memungkinkan lagi bagi pertumbuhan vegetatif lalang. Perburuan lalang (wiping) dilakukan sebulan sekali.

Kebutuhan hari kerja traktor (HT) didasarkan pada perhitungan berikut:

Keterangan :

S = Kecepatan traktor
W = Lebar implement
E = Efisiensi (50%)
1 HT = 10 jam

Dengan rumus diatas, maka kebutuhan hari kerja traktor per hektar untuk setiap tahap adalah sebagai berikut :

Tahapan Kebutuhan HT per ha
Pembajakan pertama 0,26 HT
Pembajakan kedua 0,24 HT
Penggaruan pertama 0,14 HT
Penggaruan kedua 0,14 HT
Penggaruan ketiga 0,14 HT

Keuntungan penggunaan traktor dalam pengendalian lalang adalah:

 Waktu yang diperlukan lebih singkat.

 Kebutuhan tenaga kerja lebih sedikit dibandingkan kebutuhan tenaga kerja pada cara manual maupun cara kimiawi.

 Dapat dilakukan pada areal yang sulit air dan dalam waktu yang sama dapat dilakukan pengolahan tanah.

Sedangkan kelemahannya adalah :

 Biayanya yang cukup mahal.

 Hanya dapat digunakan pada lahan yang datar sampai dengan kemiringan 8 – 9 %.

 Memerlukan waktu yang tepat terutama harus memperhatikan curah hujan. Cara ini lebih efektif dilakukan pada musim kemarau, karena pada musim hujan banyak rimpang lalang yang tidak kering dan mati sehingga lalang tersebut mampu tumbuh kembali.

(c) Penebasan dan Mulsa

Penebasan dapat mengurangi persaingan lalang dengan tanaman pokok, tetapi hanya sementara sehingga harus sering diulangi terutama pada musim hujan. Pemberian mulsa dengan daun lalang dipangkal gulma tersebut dianjurkan untuk menekan pertumbuhan kembali.

C. Pengendalian secara Kultur Teknis

Tanaman penutup tanah jenis Leguminosae (kacangan) yang tumbuh secara cepat, dapat menaungi dan menghambat pertumbuhan lalang. Beberapa spesies yang sering ditanam sebagai tanaman penutup tanah adalah Pueraria javanica (PJ), Centrosema pubescens (CP), Calopogonium mucunoides (CM), Psophocarpus palustris (PP) dan Calopogonium caeruleum (CC).

Peranan kacangan penutup tanah dalam rehabilitasi lalang adalah :

 Menghambat pertumbuhan dan perkembangbiakan lalang.
 Menutupi permukaan tanah secara cepat sehingga dapat mengurangi erosi tanah.
 Mengikat Nitrogen dari udara sehingga meningkatkan cadangan N dalam tanah.
 Menghasilkan jumlah mulsa dan meningkatkan kandungan bahan organik tanah.

D. Cara Kimiawi

Maksud dari cara kimiawi adalah pengendalian lalang dengan penyemprotan menggunakan bahan–bahan kimiawi yang disebut herbisida. Cara ini lebih banyak digunakan, karena dapat dilakukan di areal yang datar maupun bergelombang dengan biaya yang relatif murah.

Penyemprotan harus merata pada seluruh areal dengan memperhatikan volume semprot, herbisida yang diperlukan, luas lahan dan cuaca. Penyemprotan lebih efektif pada musim kemarau.

Jika umur lalang sudah tua, sebagian besar daunnya kering dan banyak yang rebah, maka sebelum penyemprotan harus dilakukan pembabatan atau pembakaran. Aplikasi herbisida dilakukan setelah lalang mencapai tinggi 50 cm, yaitu 2–3 minggu sebelum berbunga atau sampai masa pertumbuhan vegetatifnya habis.

Berdasarkan cara kerjanya, herbisida dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu herbisida kontak dan sistemik. Herbisida kontak (misalnya dengan bahan aktif paraquat) mematikan lalang secara cepat sehingga sangat bermanfaat jika penanaman tanaman utama harus segera dilakukan. Namun demikian, lalang akan tumbuh kembali sekitar 2 minggu sehingga herbisida kontak kurang efektif untuk mengendalikan lalang dalam waktu yang lama.

Herbisida sistemik (dengan bahan aktif glyfosat, sulfosat atau imazapir) menyebar dari daun lalang ke rimpang sehingga mematikan tunas–tunas yang ada dan menghambat pertumbuhan kembali. Lalang akan muncul kembali dari rimpang yang tidak terjangkau oleh herbisida karena tertutup oleh daun lalang atau vegetasi lainnya.

Apabila ketersediaan herbisida atau tenaga terbatas, prioritas pengendalian adalah mengisolasi perluasan lalang dan menuntaskan sesuai kemampuan. Jangan mengendalikan keseluruhan tanpa follow up-nya.

(a) Pengendalian Lalang Sheet

Pada pertumbuhan lalang yang meluas (sheet), metode pengendalian yang efektif adalah dengan cara kimia (penyemprotan herbisida).

Aplikasi dengan menggunakan Medium Volume (MV = 450-600 lt/Ha) didasarkan atas tebalnya pertumbuhan lalang dan kecepatan angin dikawasan yang akan disemprot.

(b) Pengendalian Lalang Sporadis (Spot) dan Lalang Kontrol (Wiping)

Pertumbuhan lalang yang sporadis (terpencar-pencar) akan lebih efektif jika diberantas dengan metode spot spraying. Sedangkan pada kebun yang sudah normal kondisi lalangnya (lalang kontrol) diberantas dengan cara Wiping (diusap dengan kain yang dibalutkan di jari tangan). Untuk Spot spraying, dikonversikan kebutuhan herbisida dan air sesuai dengan anjuran. Misalnya 15% dari total areal, maka herbisida yang dibutuhkan 15/100 x 4 atau 6 lt Round Up.

Wiping merupakan kelanjutan dari spot spraying, pada lalang yang belum mati secara tuntas, atau tumbuh baru beberapa helai daun. Pekerjaan wiping dilakukan secara beregu dengan sistem giring sehingga tidak ada lalang yang tertinggal. Rotasi wiping 2 bulan sekali makin lama makin jarang.

Tehnik Wiping lalang dilakukan dengan menggunakan kain katun yang berukuran 3 x 12 cm dibalutkan pada tiga jari tangan (tidak dibenarkan menggunakan kaos kaki atau sarung tangan). Contoh herbisida yang dipakai adalah Eagle 480 AS atau Round Up (1,0–1,3 %) + Surfaktan (0,5%) atau Assault 250 AS (0,5–0,7%) + Surfaktan (0,5%).

Cara Wiping Lalang

Sebelum di-“wiping” rumpun lalang dibersihkan dari sampah-sampah disekitar pangkalnya dengan menggunakan arit kecil (guris). Kemudian celupkan kain ke dalam larutan herbisida dan peras sedikit agar tidak menetes.

Penyapuan (wiping) dimulai dari batang bawah sampai ke ujung daun secara merata dan basah, dan dilakukan per helai daun lalang. Hindarkan batang/daun lalang pecah, putus atau tercabut sewaktu wiping atau pembersihan sampah.

Untuk menghindari terjadinya lalang yang ketinggalan tidak di-wiping atau terjadi pengulangan wiping, maka sebaiknya ujung lalang yang telah di wiping dapat diputuskan sedikit  1 cm dan dibuat simpul ikatan.

8. PENGENDALIAN GULMA DI PIRINGAN

Pengendalian gulma di piringan dapat dilakukan dua cara, yaitu cara manual dan cara kimiawi.

Tujuan pengendalian gulma di piringan adalah :

 Mendukung pertumbuhan tanaman kelapa sawit dengan cara membuang gulma pesaing dalam penyerapan unsur hara, air dan cahaya matahari secara manual.
 Mempermudah pekerja lainnya misalnya panen, pemupukan dan pengawasan.
 Untuk menyediakan piringan yang bersih sehingga pengumpulan berondolan dapat dilakukan secara efisien.

Penyiangan gulma di piringan yang dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan parang babat. Pekerja tidak diijinkan memotong bagian tanaman kelapa sawit selama pengendalian gulma di piringan. Gulma dibabat kandas pada permukaan tanah lalu dibuang dari piringan. Tanaman penutup tanah disingkirkan dari dalam piringan sehingga pelepah tidak terganggu oleh tanaman LCC. Tanaman yang tumbuh pada batang dan tajuk tanaman kelapa sawit dibersihkan dan LCC jangan sampai membelit tanaman kelapa sawit.

Interval waktu yang optimum antar rotasi juga tergantung dari jenis dan keadaan pertumbuhan gulma, tanah, dan keadaan terain di lapangan. Oleh karena itu di daerah–daerah tertentu penambahan atau pengurangan dari rotasi penyiangan dapat dipertimbangkan setelah dikonsultasikan dengan atasan yang bersangkutan.

Pada Tanaman Belum Menghasilkan umur 1 tahun (TBM-1) dan TBM-2 tidak dibenarkan menggunakan herbisida apabila tidak sangat terpaksa, sedangkan pada TBM 3 tahun penggunaan herbisida harus benar–benar diawasi agar tidak mengenai bagian tanaman yang masih muda.

Frekuensi aplikasi atau rotasi per tahun dapat disesuaikan dengan jenis dan kerapatan gulma.

Penyemprotan piringan pada TM lebih dianjurkan dari pada penyiangan dengan cangkul atau dibabat karena alasan–alasan sebagai berikut :

 Penyemprotan akan menghasilkan mulsa dari gulma yang mati. Ini selanjutnya akan berguna untuk konservasi air dan hara.
 Penyemprotan tidak menimbulkan gangguan pada tanah.
 Penyemprotan membutuhkan tenaga kerja yang lebih sedikit.
 Penyemprotan lebih murah dan mempunyai efek yang lebih lama.

Penyemprotan dapat dilakukan bilamana tanaman tidak lagi terlalu peka terhadap kerusakan yang disebabkan karena percikan larutan semprot yang terbawa angin. Tingkatan pertumbuhan ini umumnya tercapai dalam jangka waktu 24–30 bulan sejak ditanam di lapangan.

Pengendalian gulma secara kimiawi seringkali berakibat suksesi atau perubahan jenis gulma yang dominan. Hal ini nampak pada perkebunan–perkebunan dimana hanya dijumpai 2 atau 3 jenis gulma tertentu yang dominan tumbuh disekitar tanaman kelapa sawit. Jenis gulma yang dominan terdapat disekitar piringan dan jalan panen adalah Ageratum spp, Peperonia spp dan Paspalum spp.

Sebelun dilakukan penyemprotan, keadaan lapangan harus diperiksa lebih dahulu. Herbisida dan peralatanannya dipilih sesuai dengan jenis gulma yang dijumpai. Mandor/pengawas bertanggung jawab untuk memastikan bahwa alat semprot dikalibrasi dengan baik dan bahan kimia dicampur berdasarkan anjuran.

Dalam pengendalian gulma secara kimiawi, gunakan herbisida secara bertanggung jawab. Jangan berusaha menciptakan kondisi bebas gulma dengan cara melakukan penyemprotan secara berlebihan. Jangan membuang sisa campuran, bahan kimia, tempat bahan kimia di lapangan.

Pedomani petunjuk penanganan limbah tersebut pada label maupun pedoman kebijakan penanganan, penyimpanan, dan pembuangan bahan tersebut. Jangan membiarkan areal bukan sasaran, saluran air atau tanaman pertanian tercemar herbisida. Penyemprotan harus ekstra hati-hati pada saat penyemprotan herbisida pada tanaman muda untuk menghindari tetesan atau cipratan herbisida ke tandan buah atau daun-daun bagian bawah.

9. PENGENDALIAN GULMA DI GAWANGAN

Pengendalian gulma di gawangan dapat dilakukan secara manual maupun secara kimiawi.

Tujuan pengendalian gulma di gawangan secara manual, antara lain :

 Mengendalikan atau membuang gulma yang tidak bisa dikendalikan dengan penyemprotan herbisida tanpa menyebabkan kerusakan pada tanaman kelapa sawit muda.

 Meningkatkan efektifitas aplikasi herbisida dengan cara membabat gulma sebagai persiapan untuk menyemprotan (beri waktu 2–3 minggu agar gulma tumbuh kembali).

 Menjaga dan memelihara kesuburan tanah melalui pemeliharaan kacangan penutup tanah (LCC) yang dapat menurunkan erosi, mengikat N2 dari udara dan menambah serasah untuk meningkatkan bahan organik tanah.

 Mendorong pertumbuhan tanaman kelapa sawit secara optimal melalui pengurangan pengaruh kompetisi gulma dalam pemakaian hara, air, dan cahaya.

 Memelihara lingkungan yang baik bagi perkembangan serangga yang menguntungkan (misalnya predator serangga hama).

 Mencegah berkembangnya gulma kayu-kayuan.

Sedangkan tujuan mengendalian gulma di gawangan secara kimiawi, antara lain :

 Memberantas gulma keras seperti lalang (Imperata cylindrica), Melastoma (Melastoma malabathricum), Dicranopteris lineris dan lain-lain.

 Mengendalikan rumput-rumputan, gulma perambat dan gulma kayuan yang tidak dapat dicabut dengan tangan.

Pengendalian gulma di gawangan pada TBM tahun pertama bersifat total, selain LCC harus dibasmi. Pada tahun 2 dan 3, penyiangan gawangan dilakukan secara selektif. Rumput lapangan, pakis sayur yang tidak tumbuh berlebihan dapat ditolerir.

Dongkel anak kayu adalah mencabut anak–anak kayu, tunas tunggul kayu dan gulma berkayu lainnya sampai ke akarnya.

Pada TBM 1 dan TBM–2 tahun tidak dibenarkan menggunakan herbisida, sedangkan pada TBM 3 tahun penggunaan herbisida benar–benar diawasi agar tidak mengenai bagian tanaman yang masih muda.

Penyiangan gawangan pada TM, harus dilakukan secara selektif atas dasar pengamatan di lapangan. Jika pertumbuhan gulma setempat cukup banyak dan dari jenis gulma lunak (misalnya : Nephrolepis spp), maka jenis–jenis gulma lunak tersebut dapat dipertahankan namun secara berkala dibabat..

Faktor–faktor pertimbangan terpenting adalah :

 Sifat pertumbuhan dari jenis gulma tersebut tidak terlalu berlebihan sehingga dapat menyaingi tanaman sawit.

 Pengendalian gulma di gawangan harus tepat waktu sehingga tidak terjadi dominasi jenis gulma yang kurang baik.

 Pengendalian gulma di gawangan/penyiangan harus dilakukan dengan gangguan tanah seminimum mungkin.

Beberapa contoh gulma yang menguntungkan dan yang merugikan :

GULMA
Menguntungkan Merugikan Nama Indonesia
Ageratum conyzoides Asystasia coromanndeliana Pengorak
Ageratum mexicanum Brachiaria mutica Rumput malela
Antogonon leptopus Clidemia hirta Senduduk bulu
Cassia cobanensis Eupatorium odoratum Pokok kapal terbang
Cleome rutidosperma Gleichenia linearis Paku resam, Bengawan
Clidemia hirta Imperata cylindrical Lalang
Crotolaria usaramoensis Ischaemum muticum Rumput kampalus
Erechthites hieracifolia Lantanan camara Bunga pagar, bunga tahi ayam
Euphorbia heterophylla Melastoma malabathricum Senduduk
Euphorbia hirta Mikania cordata Sembung rambat
Ipomea crassicaulis Mimosa pudica, M. invisa Daun sekujut, putri malu
Nephrolepis bisserata Ottochloa nodosa Rumput rawa, rumput kawatan
Sida actua Seleria spp Kesayang gajah , kerisan
Stenochlaena palustris Paku merah
Tetracera scandens Rumput api

10. PENGENDALIAN GULMA DI JALAN PIKUL DAN TPH

Jalan pikul/jalan panen dan TPH merupakan salah satu sarana yang terpenting dari produksi dan perawatan. TPH adalah sebagai tempat pengumpulan hasil panen sebelum diangkut ke PKS. Tujuan pengendalian gulma pada jalan panen/jalan pikul untuk memelihara jalan panen dan menyediakan akses yang lancar bagi kegiatan pemeliharaan, aplikasi pupuk dan pengawasan.

Supaya berfungsi sebagaimana mestinya, maka sarana tersebut mutlak memerlukan pemeliharaan yang berkesinambungan. Pemberantasan gulma pada jalan panen/jalan pikul dengan lebar 1,0-1,5 m sebagai berikut :

Umur Tanaman Sasaran Pengendalian Metode Pengendalian Rotasi Per Tahun Keterangan

 1 Tahun Jalan pikul (1:8) & Jalan kontrol Manual 6 kali Lebar = 1,0–1,5 m
2 Tahun Jalan pikul (1:4) & Jalan kontrol Kimia 4 kali Lebar = 1,0–1,5 m
3 Tahun Jalan pikul (1:2) & Jalan kontrol Kimia 4 kali Lebar = 1,0–1,5 m
TPH (1,4 TPH/Ha) Manual 1 Kali 4 x 7 m
4 – 5 Tahun Jalan pikul (1:2) & Jalan kontrol Kimia 4 kali Lebar = 1,0–1,5 m
TPH Kimia 4 kali 4 x 7 m
 6 Tahun Jalan rintis (1:2) & Jalan kontrol Kimia 3 kali Lebar = 1,0–1,5 m
TPH Kimia 3 kali 4 x 7 m

Jika LCC sangat rapat, pembuatan jalan panen dapat dilakukan dengan tenaga kerja secara manual. Kebun sebaiknya diperiksa sebelum pemilihan herbisida dan peralatannya.

Tanaman perambat disemprot sebelum gulma tersebut menutupi jalan panen. Secara umum herbisida tidak diaplikasikan dekat dengan tanaman muda berumur 4 9.2×9.2 136 2.5 18.84 2,562 1 600 600 2 56 3,218 1 : 3

12.1. LUAS RINTIS ATAU STRIP (M2/HA TANAMAN)

Rumus :

Luas Rintis atau Strip (m2/ha) = Lebar Rintis atau Strip (m) x 10.000 m2
Jarak antara Dua Strip atau Rintis (m)

12.2. LUAS PIRINGAN (M2/HA TANAMAN)

Rumus :

Luas Piringan (m2/ha) = 3,14 x R x Jumlah Tanaman per Hektar

Dimana R = jari-jari lingkaran piringan dari batang pohon.

12.3. LUAS TPH (M2/HA TANAMAN)

Rumus :

Luas 1 TPH = 4 m x 7 m = 28 m2
Setiap 3 jalan pikul terdapat 1 TPH.
Setiap 1 ha tanaman terdapat 1,4 buah TPH = 39 m2.

13. PEMILIHAN JENIS HERBISIDA

Jenis-jenis herbisida yang umum digunakan di perkebunan kelapa sawit adalah sebagai berikut :

JENIS HERBISIDA Sifat Gulma Sasaran
Bahan Aktif Nama Dagang Bahan Aktif Keterangan
Paraquat + Diuron Paracol 200g/l+200g/l Kontak Gulma berdaun lebar dan berdaun sempit, sangat beracun menjadi non aktif bila kontak dengan partikel tanah dan dapat dicampur dengan herbisida lain.
Paraquat Gramoxon
Herbatop 200 AS 200g/l
200g/l Kontak
Kontak Gulma berdaun lebar dan berdaun sempit, keterangan sama dengan di atas.
Glyphosate Eagle 480 AS
Round Up 360g/l
360g/l Sistemik
Sistemik Lalang, gulma berdaun lebar dan sempit, kurang efektif bila air permukaan tanah tinggi dan daya racun terganngu bila turun hujan.
Glufosinat Amonium Basta 200 AS 200g/l Sistemik Gulma berdaun lebar dan berdaun sempit.
Diuron Karmex 80 WP 80 % Sistemik Pra tumbuh gulma berdaun sempit. Formulasi bentuk WP akar sukar larut dalam air.
Fluroxypyr Starane 200 EC 200g/l Sistemik Gulma berdaun lebar dan dapat dicampur dengan herbisida lain.
Dicamba Banvel 480 AC 386g/l Sistemik Gulma berdaun lebar dapat menyebabkan parthenocarpy.
Metsulfuron Methyl Ally 20 WDG 20 % Sistemik Kacangan, keladi liar, pakis, pisang liar dan anak kayu.
Imazapyr Assault250 AS
Assault 100AS 250g/l
100g/l Sistemik
Sistemik Lalang, gulma berdaun lebar, dan berdaun sempit.
Glyphosate + Dicamba Wallop 180g/l+90g/l Sistemik Gulma berdaun lebar dan berdaun sempit.
2,4–D DMA–6
Hedanol 818 L
Fernimine 720
Shellamine 720g/l
720g/l
720g/l
720g/l Sistemik
Sistemik
Sistemik
Sistemik Gulma berdaun lebar. Sangat beracun bagi manusia dan tidak boleh digunakan di pembibitan atau TBM.

13.1. DOSIS HERBISIDA

Dosis adalah jumlah herbisida dalam satuan liter per kg yang digunakan untuk mengendalikan gulma tiap satuan luas tertentu atau tiap tanaman yang dilakukan dalam satu kali aplikasi atau lebih. Satuan dosis adalah l/ha atau kg/ha.

Konsentrasi adalah banyaknya herbisida yang digunakan dalam satu liter atau dalam tangki alat semprot. Satuan konsentrasi adalah persen.

Agar gulma yang ada disuatu luas tertentu dapat dikendalikan dan dosis yang diaplikasikan merata diseluruh gulma target, maka herbisida perlu dilarutkan dalam air dengan konsentrasi tertentu tergantung volume semprot dan alat semprotnya. Dosis yang tepat berarti harus menggunakan dosis dan konsentrasi yang dianjurkan.

Misalnya glifosat dengan dosis 2 lt/ha blanket efektif untuk mengendalikan gulma rumput (grasses) di piringan, agar merata disemprotkan maka 2 lt glifosat perlu dilarutkan dalam air dengan konsentrasi sebagai berikut :

Alat Semprot Volume Air Konsentrasi
Solo (Polijet Biru) 500 lt/ha 0,4%
Solo (VLV 200) 200 lt/ha 1,0%
Mikron Herbi 50 lt/ha 4,0%

Dosis herbisida/ha yang digunakan untuk pengendalian gulma sangat tergantung dari jenis gulma sasaran. Untuk praktisnya di lapangan, dosis tersebut harus dikonversi menjadi konsentrasi dan volume larutan semprot. Terlebih dahulu harus dilakukan kaliberasi alat semprot, nozel, kecepatan jalan untuk mengetahui kebutuhan volume semprot per ha. Selanjutnya konsentrasi larutan semprot dihitung dengan memakai data dosis per hektar dan kebutuhan volume larutan semprot per hektar.

13.2. KALIBRASI VOLUME SEMPROT

Ada 5 kategori volume semprot yang umum digunakan untuk pengendalian gulma dengan herbisida, yaitu antara lain :

Kategori Volume Semprot Volume Semprot
(l/ha Blanket)
High Volume (HV)
Medium Volume (MV)
Low Volume (LV)
Very Low Volume (VLV)
Ultra Low Volume (ULV)  600
400 – 600
200 – 400
50 – 200
 50

Aplikasi dengan HV atau MV lebih tepat bila menggunakan herbisida kontak dan sangat sesuai digunakan pada gulma yang tebal serta gulma yang resisten. Aplikasi dengan LV atau VLV sangat sesuai bila memakai herbisida sistemik serta untuk aplikasi pada kawasan yang berbukit dimana transportasi air sulit.

Faktor-faktor yang perlu diperhatikan bila menggunakan LV atau VLV adalah :

 Saringan halus mutlak diperlukan untuk mencegah terjadinya penyumbatan nozel akibat penggunaan air yang kurang bersih

 Pelaksanaan aplikasi harus hati-hati agar tidak merusak tanaman akibat kabut semprotan (spray drift).

 Kaliberasi serta pengarahan teknis yang benar mutlak dilakukan, karena kesalahan yang kecil dalam penyenprotan dapat berakibat fatal.

A. Tujuan Kaliberasi

Penting sekali untuk melakukan kaliberasi yang tepat pada setiap jenis alat semprot, nozel serta kecepatan jalan sebelum memulai penyemprotan atau pada waktu-waktu tertentu, sehingga penyemprotan bahan kimia dapat dilakukan dengan jumlah yang tepat ke arah sasaran dan penggunaan herbisida menjadi efisien dan efektif.

B. Prosedur Kaliberasi

 Ukur lebar semprotan rata-rata (m) (= A)
 Ukur jarak jalan (m) oleh operator selama 10 detik (= B)
 Ukur output semprot atau flow rate (lt/menit) pada tekanan pompa optimim (1 kg/cm2) (= C).
 Hitung kebutuhan volume semprot (lt/ha blanket) dengan rumus :

D = 10.000 x C
(6 x B) x A

Atau

Liter/Ha = 10.000 x liter per menit output
(6 x jarak jalan per 10 detik) x lebar semprot (meter)

Contoh perhitungan :

A = Lebar semprotan rata-rata adalah 1,5 m
B = Jarak jalan rata-rata adalah 8,0 m per 10 detik
C = Out put semprotan rata-rata adalah 1,6 lt/menit
D = Berapakah volume semprot (lt/ha) ?

10.000 x 1,6
Volume semprot = ———————— = 222 lt/ha
(6 x 8,0) x 1,5

Selanjutnya kebutuhan bahan herbisida untuk satu tangki alat semprot (Solo atau CP-15) yang berisi 15 lt, dapat dihitung bila dosis herbisida telah ditentukan.

Contoh perhitungan :

Pemakaian herbisida Eagle IPA 480 AS untuk penyemprotan lalang sheet membutuhkan dosis 6,0 lt/ha blanket, sedangkan volume semprot 222 lt/ha blanket. Berapakah Eagle IPA 480 AS yang dibutuhkan dalam volume 15 lt (volume isi tangki alat semprot) ?

15 lt x 6,0 lt
Kebutuhan Eagle IPA 480 AS = —————– = 405 ml
222 lt

14. TEKNIS PENYEMPROTAN

14.1. PEMILIHAN JENIS NOZEL

Jenis nozel yang umum digunakan di perkebunan terdiri dari beberapa jenis sebagai berikut :

A. Nozel Bentuk Kipas (“Fan Flat Spray Nozzel”)

1) Nozel Polijet dari plastik produksi ICI dengan spesifikasi :

Spesifikasi Warna Nozel Polijet
Merah Biru Hijau Kuning
Lebar Semprotan 2,0 m 1,5 m 1,0 m 0,5 m
Output Semprotan (kg/m2) 2475 m/mt 1630 m/mt 900 m/mt 680 m/mt
Spray drift + + + + + + -
Digunakan untuk penyemprotan Piringan (TM), gawangan (terutama dengan gulma yang tebal dan tinggi) Spot spraying, strip di bibitan

2) Nozel VLV (Very Low Volume) yang terbuat dari kuningan dengan spesifikasi sebagai berikut :

Spesifikasi Ukuran nozel VLV
VLV 200 VLV 100 VLV 50
Lebar semprot 1,2 m 1,2 m 1,2 m
Output semprotan (1 kg/m2) 900-915 ml/mt 450-650 ml/mt 200-230 ml/mt
Digunakan untuk penyemprotan Lalang sheet, piringan, gawangan, strip atau untuk areal berbukit Spot spraying

B. Nozel Atomizer (ULV)

Nozel atomizer adalah nozel yang hanya digunakan untuk alat semprot Mikron Herbi, Birky, serta untuk penyemprotan melalui pesawat udara.

C. Nozel Bentuk Kerucut (“Cone Nozzel”)

Ada 2 jenis nozel kerucut, yaitu : Nozel Kerucut Kosong (Hallow Cone) dan Nozel Kerucut Penuh (FullCone)

Nozel kerucut lebih tepat digunakan untuk penyemprotan secara pilih-pilih (spot spraying) misalnya untuk pengendalian anak kayu, gulma di rendahan, lalang yang tumbuhnya sporadis dan lain-lain.

14.2. CARA PENYEMPROTAN

A. Kecepatan jalan

Dalam pelaksanaan di lapangan kecepatan jalan sangat dipengaruhi oleh bentuk topografi areal, penghalang seperti parit dan batang melintang, kerapatan gulma dan volume semprot yang dibutuhkan. Umumnya seorang penyemprot dapat menempuh jarak antara 0,5 – 0,8 m/detik, oleh sebab itu penyemprot harus dilatih berjalan dengan kecepatan yang sesuai agar diperoleh hasil pengendalian yang baik.

B. Posisi ketinggian nozel

Untuk mendapatkan ketinggian nozel yang konstan yaitu  45 cm dari permukaan gulma sasaran (agar didapatkan lebar semprotan yang optimal), maka dapat dilakukan dengan cara menggantungkan seutas tali yang panjangnya  45 cm pada ujung tangkai nozel.

C. Tekanan pompa semprot

Tekanan pompa semprot “knapsack sprayer” (Solo atau CP-15) yang umum digunakan untuk penyemprotan herbisida adalah 1 kg/cm2. Jika tekanan pompa kurang atau berlebih, maka akan dihasilkan pancaran semprot yang kurang sempurna.

Pelaksanaan penyemprotan

Pada Piringan Pada strip/jalan panen

A b c d

Keterangan :

Gambar a. Posisi penyemprot dengan tangan kanan terhadap pohon
Gambar b. Posisi penyemprot dengan tangan kidal terhadap pohon
Gambar c. Posisi penyemprot dengan tangan kanan terhadap pohon
Gambar d. Posisi penyemprot dengan tangan kidal terhadap pohon

15. PENGORGANISASIAN UNIT SEMPROT

15.1. DASAR PENGGUNAAN UNIT SEMPROT

Alat unit semprot terdiri dari perlengkapan utama sebagai berikut :

 1 unit kendaraan roda empat (truk atau wheel tractor)
 1 unit tangki untuk membawa larutan (jika menggunakan wheel tractor)
 1 unit trailer tambahan untuk membawa alat semprot dan tukang semprot (khusus wheel tractor)
 20–25 unit alat semprot (CP-15 atau MHS = Micron Herbi Sprayer)

Satu unit semprot cukup untuk kebun seluas 4.000–5.000 Ha pada kondisi normal. Dasar perhitungannya sebagai berikut :

Rotasi semprot piringan 3–4 kali setahun
Hari kerja semprot diasumsikan 20 hari/bulan (5 hari hujan dan 5 hari libur)
Output semprot dengan MHS = 4–5 Ha/HK, dan CP-15 = 3–4 Ha/HK
Jumlah alat semprot per unit semprot = 20–25 unit

Misalnya untuk kebun seluas 5.000 Ha

Program setahun = 3 x 5.000 ha = 15.000 Ha
Program per bulan = 15.000 : 12 = 1.250 Ha
Program per hari = 1.250 : 20 = 62.5 Ha

Kemampuan unit semprot/hari

Alat MHS = 20 x 4 Ha = 80 Ha/hari
Alat CP-15 = 20 x 3 Ha = 60 Ha/hari

15.2. KEUNTUNGAN PENGGUNAAN UNIT SEMPROT

A. Penghematan Tenaga Supervisi

 Penggunaan 1 unit semprot untuk areal 5.000 Ha (10 afdeling) hanya memerlukan 3 orang supervisi (mandor sopir dan tukang air yang merangkap mekanik alat semprot)

 Tanpa semprot unit minimum 10 orang (5 orang mandor dan 5 orang tukang air).

B. Pengawasan Efisien

 Pengontrolan dapat lebih ketat dilakukan karena penyemprotan hanya dilakukan dalam periode yang relatif pendek (tidak satu bulan penuh). Untuk kebun 5.000 Ha (10 afdeling) tiap afdeling hanya memerlukan 4 hari untuk menyelesaikan program bulanannya.

 Pengorganisasian dan persiapan alat kerja dapat dilakukan lebih baik karena alat-alat kerja tersentralisir diunit semprot (satu tempat saja).

 Kepala kebun dan/atau Askep dapat mengontrol lebih baik karena pekerjaan semprot tidak menyebar dibeberapa afdeling.

 Resiko pencurian herbisida diminimumkan, karena pencampuran langsung dilakukan di gudang yang disaksikan langsung oleh asisten/askep setiap paginya.

C. Mobilitas Unit Semprot Sangat Tinggi

 Mobilitas yang tinggi akan meningkatkan output semprot.

 Bila hari hujan, pekerja dapat segera dialihkan ke pekerjaan lain yang tidak terpengaruh hujan (misalnya BTP) karena ada alat kerja (cados) yang selalu dibawa dalam kendaraan. Mobilisasi karyawan ke blok pekerjaan BTP tersebut dapat dilakukan dengan cepat.

D. Kualitas Pencampuran Racun Lebih Baik

 Mutu air terjamin karena pengisian air dilakukan di traksi/sumur (pada sore hari) dan dapat dikontrol oleh asisten.

 Pencampuran racunlebih merata karena dilakukan dalam tangki.

E.Pengorganisasian Kerja Lebih Mudah

 Pengorganisasian kerja lebih mudahkarena tangki sumber air (larutan) dapat bergerak, sehingga penyemprot tidak terlalu jauh untuk bolak balik mengisi larutan.

 Pengancakan kerja dapat lebih efektif dan efisien.

15.3. PENGORGANISASIAN KERJA

A. Persiapan Alat

 Tiap unit semprot maksimal terdiri dari 20–25 orang (sebaiknya wanita) yang tidak boleh diganti-ganti. Hal ini perlu untuk pengembangan profesinalisme mereka sebagai tukang semprot, karena pekerjaan ini merupakan pekerjaan halus yang membutuhkan ketrampilan khusus.

 Tenaga kerja yang dipersiapkan tersebut harus ditambah lagi 5 orang untuk cadangan mereka yang sakit, haid dan mangkir.

 Tangki/alat semprot harus disediakan sejumlah 30 unit dan diberi nomor urut sesuai nomor tukang semprot. Tidak dibenarkan untuk memakai tangki yang bukan miliknya (ganti-ganti tangki).

 Kebersihan air sangat menentukan “life–time” alat semprot dan biaya perawatannya. Setiap kali memasukkan larutan/air mutlak harus disaring.

 Pengisian air ke dalam tangki dikendaraan harus disaring dengan kain.
 Selang tempat keluarnya larutan harus dibungkus dengan saringan yang terbuat dari kain (bahan kaos).
 Setiap corong untuk memasukkan larutan ke dalam tangki/alat semprot harus ada saringannya (buat dari kain).

 Setiap unit semprot harus menyediakan air bersih dan sabun untuk cuci tangan sebelum pekerja istirahat.

 Perlu ditekankan bahwa “preventif maintenance” alat semprot sangat menentukan keberhasilan program pengendalian gulma. Harus disadari bahwa pos biaya pengendalian gulma dengan penyemprotan merupakan pos biaya yang terbesar setelah biaya pemupukan.

B. Pelaksanaan

 Pengisian tangki air dilakukan oleh sopir dan tukang air pada sore hari. Sumber air dapat menggunakan air yang ada di traksi atau sumur yang bersih airnya.

 Sebelum membuat bon permintaan herbisida, asisten wajib melihat kondisi/kerapatan gulma di blok yang akan disemprot dan menentukan berapa dosis/ha dan konsentrasinya.

 Pencampuran racun dilakukan pada pagi hari sebelum pukul 06.00 di gudang sentral. Pencampuran hebisida harus disaksikan oleh asisten dan/atau askep. Bon permintaan herbisida sudah harus dibuat 1 hari sebelumnya dan petugas gudang harus hadir sebelum pukul 06.00. Kendaraan unit semprot sudah stand-by di gudang sebelum pukul 06.00.

 Pengadukan larutan harus merata. Gunakan pengaduk dari kayu (seperti dayung).

 Pencampuran harus sudah selesai dilakukan pada pukul 06.00 dan kendaraan segera menjemput karyawan semprot di afdeling.

PERHATIAN : Pada prinsipnya herbisida kontak tidak dicampur dengan herbisida sistemik kecuali untuk kasus-kasus tertentu dan bila ada petunjuk khusus.

 Unit semprot siap beroperasi pada pukul 06.30.

 Setiap karyawan diwajibkan membawa alat kerja cados untuk pekerjaan BTP sebagai cadangan apabila hari hujan. Mandor bertanggung jawab atas keberadaan alat-alat tersebut.

 Siapkan ember yang berisi air bersih untuk membersihkan/membilas pipa dan nozel yang kena biji-bijian rumput. Ember diletakkan diatas tanah dan setiap tukang semprot sebelum menurunkan tangkinya (untuk mengisi larutan), diwajibkan mencelup ujung pipa/nozelnya (“extention lance”) ke dalam air diember tersebut untuk membilas/membuang biji-biji rumput yang melekat.

PERHATIAN : Usahakan sedikit mungkin membongkar pasang alat semprot.

 Areal yang disemprot adalah piringan, jalan pikul, jalan/rintis tengah, rintis piringan dan TPH.

 Setiap afdeling harus kosisten dalam pemakaian jumlah hari yang telah dijatahkan. Bila dalam hari yang telah ditentukan itu ada hari hujan, maka penggantinya diambil dari 5 hari yang telah dicadangkan sebagai hari hujan (program semprot setiap bulan dibuat hanya 20 hari kerja).

 Pengancakan kerja untuk alat semprot yang hanya dapat mengcover ½ jalan pikul, dilakukan dari rintis tengah terlebih dahulu. Setelah sampai di collection road (CR), tangki diisi lagi dengan larutan dan penyemprotan dilanjutkan pada blok sebelahnya.

 Untuk alat semprot yang dapat mengcover 1 jalan pikul, pengancakan dilakukan dari CR sampai CR selanjutnya. Kendaraan harus berpindah ke CR selanjutnya segera setelah selesai pengancakan.

 Setiap selesai pekerjaan semprot, mandor wajib melaporkan pemakaian herbisida, luas yang disemprot dan output per HK kepada krani afdeling. Buku kegiatan mandor harus diparaf oleh Asisten Afdeling yang bersangkutan setiap harinya dan diketahui oleh askep setiap selesai program di rayonnya.

16. ALAT-ALAT SEMPROT

Untuk aplikasi pestisida digunakan alat-alat semprot yang jenis dan fungsinya berkembang sejalan dengan kemajuan teknologi perlindungan tanaman. Penggunaan alat-alat semprot berbagai type dapat efektif jika tiap komponen yang mempengaruhi kwalitas semprotan dapat dikuasai dan dioptimalkan.

16.1. ALAT SEMPROT PUNGGUNG (KNAPSACK SPRAYER)

Berdasarkan cara kerjanya maka alat semprot punggung dapat dibedakan menjadi :

A. Alat Semprot Punggung Otomatis

Alat semprot punggung otomatis dioperasikan dengan tekanan tinggi hingga 5 kg/cm2 dan sebelum dipakai menyemprot harus dipompa terlebih dahulu. Pada umumnya alat semprot punggung otomatis terbuat logam dengan isi tangki 14 liter. Jenis alat ini kurang disukai karena sebelum penyemprotan harus dipompa terlebih dahulu sehingga memerlukan waktu tambahan, akibatnya output kerja berkurang.

B. Alat Semprot Punggung Semi-Otomatis

Alat semprot punggung semi otomatis umum dipergunakan pada kebun-kebun yang memerlukan pengelolaan unit semprot didalam perawatan tanaman, pengendaliah hama dan penyakit dan lain-lain. Terdapat beberapa tipe alat semprot punggung semi-otomatis, antara lain :

Sprayer gendong “Solo”

Spesifikasi

Spesifikasi Type 425 Type 475
Sistem pompa Torak Membran
Untuk aplikasi Insektisida, Fungisida Herbisida
Tekanan maksimum 6 kg/cm2 2 kg/cm2
Volume semprot 0,7–1,2 lt/menit 0,8–2,0 lt/menit
Kapasitas tangki 15 lt 15 lt
Berat kosong 4,3 kg 4,3 kg

Penyemprotan

 Pompalah sewajarnya dengan tekanan tangan penuh, jangan setengah-setengah.

 Pertahankan tekanan pompa didalam tangki agar pola semburan (lebar dan ukuran butiran) stabil dengan cara memompa secara teratur dan konstan.

 Jika tekanan yang dihasilkan turun cepat sekali, maka berhentilah menyemprot. Pompa terus sehingga tabung udara terisi kembali dan mulailah menyemprot lagi.

Perawatan alat.

 Setelah penyemprotan selesai, alat semprot segera dicuci dengan air bersih.

 Isi 1/3 bagian tangki dengan air lalu goncang-goncangkan, pompa dan semprotkan beberapa detik, kemudian air didalam tangki dibuang.

 Lakukan hal serupa diatas sebanyak 2–3 kali. Bila alat akan disimpan lama maka isi tangki alat tersebut dengan air 1/3 bagian tangki dan disimpan ditempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung.

 Pada setiap periode tertentu lumasi dengan minyak silinder dibagian-bagian yang bergerak.

Sprayer Gendong “CP 15”

Spesifikasi

Spesifikasi Type CP 15
Sistem pompa Hidraulik dengan pengatur tekanan
Untuk aplikasi Segala jenis pestisida
Tekanan maksimum Posisi “L” = 1,5 kg/cm2
Posisi “H” = 3,0 kg/cm2
Kapasitas tangki 15 lt

Alat semprot CP-15 merupakan modifikasi sprayer gendong biasa yang dilengkapi dengan pengatur tekanan (L dan H) sehingga didapatkan tekanan yang konstan, dan merupakan alat sprayer yang paling ideal dalam pemakaian nozel jenis VLV (Very Low Volume) seperti VLV 200, 100 dan 50.

Penyemprotan.

 Spesifikasi alat dengan nozel VLV sangat memerlukan air bersih. Saringan pada alat tersebut terdiri dari 3 (tiga) bagian penting yaitu dibagian mulut/corong tangki, bagian pegangan/stick dan dibagian nozel yang harus selalu terpasang.

 Tangki diisi larutan sampai batas 15 liter atau volume yang diinginkan.

 Bila akan melakukan penyemprotan herbisida, maka tombol pengatur tekanan terlebih dahulu digeser keposisi “L” (low pressure).

 Bila akan melakukan penyemprotan insektisida atau fungisida, maka tombol pengatur tekanan terlebih dahulu digeser keposisi “H” (high pressure).

 Sebelum penyemprotan dimulai, lakukan pemompaan tangki sebanyak 8 kali atau lebih (sampai terasa berat). Bila tekanan berlebih akan terbuang dengan sendirinya oleh kerja alat pengatur tekanan.

 Mulailah menyemprot sekaligus dengan memompa sekali setiap 2-3 langkah, agar tekanan di dalam tangki tidak berkurang.

Perawatan Alat.

 Setelah penyemprotan selesai, alat semprot segera dicuci dengan air bersih.

 Isi 1/3 bagian tangki dengan air lalu goncang-goncangkan, pompa dan semprotkan beberapa detik, kemudian air didalam tangki dibuang.

 Lakukan hal serupa diatas sebanyak 2–3 kali. Bila alat akan disimpan lama maka isi tangki alat tersebut dengan air 1/3 bagian tangki dan disimpan ditempat yang tidak terkena cahaya matahari langsung.

 Pada setiap periode tertentu lumasi dengan minyak silinder dibagian-bagian yang bergerak.

16.2. ALAT SEMPROT CDA (CONTROLLED DROPLET APLICATION)

Di pasaran, alat semprot CDA dikenal dengan nama “Micron Herbi” dan umum dipergunakan di perkebunan.

Alat semprot CDA digunakan untuk sistem aplikasi cairan dengan volume rendah (Ultra Low Volume) dengan kisaran antara 20–40 lt/ha blanket. Semprotannya menghasilkan butiran halus yang terkendali dengan ukuran yang seragam ( 250 mikron) dan konsentrasi herbisida yang tinggi. Alat semprot CDA cukup ringan dan mudah pemakaiannya sehingga output karyawan penyemprot tinggi.

Pada saat ini hanya ada beberapa jenis herbisida yang bisa digunakan dengan CDA (=Mikron Herbi) antara lain glyphosate. Herbisida seperti paraquat (Gramoxone) terlalu berbahaya untuk disemprotkan dengan alat semprot CDA. Kerugian lainnya adalah alat semprot peka terhadap kerusakan sehingga harus secara teratur dikaliberasi dan harus dibersihkan secara seksama setelah selesai menyemprot.

a. Spesifikasi

1. Mikron Herbi Konvensional

Secara garis besar alat ini terdiri dari 3 bagian, yaitu :

 Bagian kepala (head) yang terdiri dari :
 Atomizer yang berbentuk seperti cakram.
 Motor penggerak (6 Volt atau 12 Volt).
 Nozel (warna merah kuning dan biru).

 Tangkai (pegangan).

 Tangki larutan.

2. Mikron Herbi Modifikasi Jenis Punggung

Alat dengan modifikasi dipunggung cenderung digemari untuk dipakai di perkebunan-perkebunan. Alat modifikasi ini terdiri dari bagian-bagian sebagai berikut :

 Bagian kepala (head).

 Bagian tangkai (pegangan), terdiri dari pipa aluminium/plastik PVC/ kayu yang dapat distel panjangnya sesuai dengan kebutuhan.

 Tangki larutan kapasitas 5 lt, bekas jerigen herbisida Round Up/Eagle dan dilengkapi frame punggung dengan sabuk penyandang.

 Battery basah 6 volt/12volt disesuaikan dengan kebutuhan voltase dinamo penggerak dibagian kepala.

b. Prinsip Kerja

Larutan pestisida mengalir ke luar dari tangki larutan melalui selang plastik menuju nozel dengan gaya gravitasi. Tetesan larutan yang keluar dari nozel ditampung oleh cakram atomizer yang berputar dengan tenaga motor listrik (battery). Larutan dipercikkan dan menyebar dengan gaya sentrifugal. Makin cepat cakram atomizer berputar, maka makin jauh jangkauan percikan (sampai mencapai jarak konstan 1,2 m) dan makin halus butiran yang dihasilkan ( 250 mikron). Sesuai dengan prinsip kerja alat tersebut, maka untuk kebun kelapa sawit dianjurkan dipakai pada tanaman usia > 4 tahun.

c. Cara Menggunakan Mikron Herbi Sprayer

Cara memasang/melepas bagian-bagiannya

Memasang/mengeluarkan battery

 Tarik tangkai alumunium keluar dari tabung yang panjang setelah terlebih dahulu melepas penjepit dibagian kepala.

 Putar tuas kontak kearah “OFF” dan lewatkan sedikit sehingga tuas mudah dicabut dan tutup tabung mudah dibuka.

 Masukkan 8 battery HP 2 (untuk motor 12 volt) atau 4 battery HP 2 (untuk motor 6 volt) secara seri seperti ditunjukkan oleh gambar didalam tabung.

 Pasang kembali tutup tabung sambil ditekan sedikit serta putar tuas ke posisi “OFF”.

Memeriksa bagian kepala (head)

 Buka tutup atomizer, kemudian check dengan tangan apakah atomizer berputar dengan lancar.

 Hidupkan mesin dengan memutar tuas ke posisi “ON”. Hal ini bertujuan untuk mengetahui putaran atomizer apakah konstan dan tidak baling.

 Setelah itu matikan mesin dengan memutar tuas ke posisi “OFF”.

Memasang tangki larutan

 Kendorkan gelang pengunci dengan memutarnya berlawanan arah jarum jam sampai ujung segel tangki menonjol keluar.

 Pastikan bahwa selang udara melewati saringan.

 Letakkan tangki diatas tanah dengan mulutnya menghadap keatas, kemudian ujung segel tangki dimasukkan ke dalam mulut tangki dan putar pelan-pelan agar tangki tepat diposisinya. Putar gelang penguncinya searah jarum jam.

 Jika ingin membuka tangki, caranya kebalikan dari prosedur diatas.

Cara menyemprot

 Sebelum penyemprotan dimulai, alat Mikron Herbi harus dipanggul/ dipegang dengan posisi bagian kepala lebih tinggi dari tangki larutan. Hal ini untuk mencegah mengalirnya larutan ke bagian kepala agar motor tidak cepat rusak. Kemudian hidupkan mesin dengan memutar tuas ke posisi “ON”.

 Bila mesin sudah berputar maka turunkan bagian kepala sampai  25 cm dari tajuk gulma.

 Tunggu sebentar sampai larutan dari tangki mengalir memenuhi selang plastik hingga ke bagian nozel dan udara didalam selang tidak ada. Jika turunnya larutan tidak lancar, ulangi lagi dengan mengangkat bagian kepala lebih tinggi dari tangki, kemudian secara mendadak bagian kepala diturunkan.

 Mulailah berjalan untuk melakukan penyemprotan pada sasaran yang diinginkan.

 Bila ingin menghentikan semprotan untuk sementara, maka mesin tidak perlu dimatikan tetapi cukup mengangkat bagian kepala ke posisi lebih tinggi dari tangki larutan.

 Sewaktu menyemprot posisi tangkai membentuk sudut  40o, sedangkan posisi kepala atomizer sedikit miring agar semprotan tidak mengenai kaki.

Cara mematikan mesin

 Angkat bagian kepala sehingga posisinya lebih tinggi dari tangki larutan. Setelah seluruh larutan mengalir kembali ke dalam tangki, barulah mesin dimatikan dengan cara memutar tuas ke posisi “OFF “.

 Jangan mematikan mesin sewaktu larutan masih mengalir ke bagian kepala (posisi kepala lebih rendah dari tangkli larutan) karena hal ini dapat merusak motor akibat korosi. Jika terlanjur terjadi kesalahan, jangan buru-buru mengangkat bagian kepala tetapi hidupkan kembali mesinnya baru boleh mengangkat bagian kepala dan setelah larutan turun ke tangki, mesin dapat dimatikan.

Perawatan alat

Setelah selesai digunakan, alat Mikron Herbi harus segera dibersihkan sebelum larutan yang melekat pada alat mengering. Caranya adalah :

 Lepaskan tangki dan bersihkan dengan minyak lampu.

 Isi tangki dengan minyak lampu dan pasang kembali ke prayernya lalu semprotkan sampai habis isinya. Hal ini bertujuan agar selang, nozel, dan atomizer tercuci bersih.

 Bersihkan alat tersebut dengan kain bersih agar kotoran-kotoran yang melekat di bagian kepala dan tangkai alumunium hilang.

 Jika celah atomizer macet, gosoklah dengan sikat gigi yang terlebih dahulu dicelupkan ke dalam minyak lampu.

 Jangan membenamkan atomizer ke dalam air serta menghidupkan mesinnya dengan maksud mencuci, karena hal ini akan merusak motor.

 Jika alat alat ini akan disimpan dalam jangka waktu lama, maka keluarkan baterainya dan gosok dengan minyak lampu ke seluruh bagian alat lalu simpan di tempat kering dan terlindung dari sinar matahari langsung.

Pemeriksaan dan pergantian beberapa suku cadang

 Nozel
Lepaskan selang dari nozel, kemudian buka kedua sekrup dan cabut nozel tersebut untuk diganti dengan nozel yang diinginkan.

 Atomizer
Cabutlah atomizer dengan hati-hati menurut arah tegak lurus bidang cakram atomizer dan ganti dengan yang baru. Jangan mencabut pada posisi miring karena dapat membengkokkan bagian porosnya.

 Motor

 Lepaskan bagian kepala dengan cara membuka skrup besar (berkuping) diujung tangkai, lalu lepaskan kabel berwarna hitam disekrupnya.
 Cabut cakram atomizer, bagian poros dan ringnya secara hati-hati dan jangan sampai hilang.
 Buka 4 sekrup yang mengikat rumah motor pada plat dasarnya. Balikkan posisi kepala sewaktu akan mencabut plat dasar tersebut agar motor dan per kecil didalam rumah motor tidak berjatuhan. Kemudian ganti dengan motor yang baru.
 Bila ingin memasang kembali caranya kebalikan dari prosedur diatas.

16.3. ALAT SEMPROT BERMESIN

Alat semprot bermesin sering disebut “Power Sprayer“, digerakkan oleh tenaga mesin dan bekerja dengan tekanan tinggi (21 kg/cm2) dalam pemakaian normal. Alat ini biasanya dilengkapi dengan 2 buah selang dan tangkai semprotan. Selang standar panjangnya 50 m, tetapi dapat disambung untuk menjangkau sasaran yang disemprot hingga ± 100 m. Lebar semprotan dapat mencapai 7–9 m dengan cara mengayun-ayunkan tangkai semprotan.

16.4. BOOM SPRAYER DENGAN FARM TRAKTOR

Alat “Boom Sprayer” umumnya digunakan untuk aplikasi penyemprotan lalang sheet yang luas dengan topografi datar sampai bergelombang. Daerah liputan semprot dapat mencapai 25 ha/hari. Kecepatan jelajah traktor berkisar antara 6–12 km/jam (100–200 m/menit ). Panjang “Boom Sprayer“ adalah 6–12 m dan jarak antar nozel pada boom adalah 50–75 cm, sehingga jumlah nozel mencapai 12–24 buah. Bentuk pola semburan semprotan bermacam-macam tergantung dari nozel yang dipakai. Nozel dapat diganti sesuai dengan keperluannya.

17. PREVENTIF MAINTENANCE ALAT-ALAT SEMPROT

Untuk menjaga kesinambungan pekerjaan semprot dan menjaga biaya penyemprotan yang minimal, maka preventif maintenance alat-alat semprot adalah sangat penting. Hampir dibanyak perusahaan, bahwa perhatian terhadap preventif maintenance alat-alat semprot sangat minim sehingga beban biaya tangki semprot terhadap biaya total pemberantasan gulma sangat tinggi.

Preventif Maintenance yang perlu ditekankan ada 2 (dua) hal, yaitu :

1) Cara memakai, yaitu dari mulai membawa dari penyimpanan, transport, pemakaiannya sampai pengembalian ke penyimpanan semula.

Sewaktu menyimpan, membawa dan sedang mengisi larutan, tangki tempat nozel harus dalam keadaan terikat dengan tangki sprayer. Hal ini untuk menjaga nozel dari kerusakan dan kotoran (tanah, pasir, terinjak dan lain lain).

Apabila nozel rusak, maka ada 3 (tiga) kerugian/kelemahan :

 Biaya nozel.
 Perubahan/resparasi yang berulang-ulang terhadap tangkai semprot, sehingga mempercepat keausan spare-part.
 Tertundanya penyelesaian pekerjaan.

2) Kualitas air.

Salah satu penyebab utama kerusakan tangki sprayer dan borosnya pemakaian nozel adalah karena kualitas air tidak bagus (bercampur tanah, pasir dan benda-benda lain). Jadi jangan sekali-kali menggunakan air yang kotor/keruh (berwarna coklat) untuk penyemprotan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.