Pedoman Teknis Hama dan Penyakit pada Tanaman Kelapa Sawit

1. PENDAHULUAN

Kelapa sawit tergolong tanaman bandel dan kuat. Walaupun begitu kelapa sawit tidak luput dari serangan hama dan penyakit, baik yang kurang maupun yang membahayakan. Sebagian besar hama yang menyerang kelapa sawit adalah golongan hama dan serangga. Tetapi ada beberapa jenis hewan golongan mamalia yang menyebabkan gangguan dengan kerugian yang tidak sedikit pada perkebunan kelapa sawit. Sedangkan penyakit yang ada pada kelapa sawit disebabkan oleh beberapa organisme antara lain jamur, bakteri dan virus.

Pengendalian hama dan penyakit tanaman pada hakikatnya adalah mengendalikan suatu kehidupan. Oleh karena itu, konsep pengendaliannya dimulai dari pengenalan dan pemahaman terhadap siklus hidup hama/penyakit tersebut. Pengetahuan terhadap bagian paling lemah dari seluruh mata rantai siklus hidup hama dan penyakit sangat berguna dalam pengendalian hama dan penyakit yang efektif. Bagian yang dinilai paling lemah dari siklus hidup hama dan penyakit merupakan titik kritis (crucial point) karena akan menjadi dasar acuan untuk pengambilan keputusan pengendaliannya.

Tindakan pemberantasan/pengendalian hama dan penyakit pada prinsipnya dapat dilakukan dengan beberapa cara sebagai berikut :

a. Secara fisik/mekanik

Beberapa usaha yang dapat dilakukan antara lain pengambilan/pengumpulan hama dan penyakit secara fisik/mekanis, pembongkaran dan pembakaran tanaman yang terserang, pembersihan kebun dan lain-lain.

b. Secara biologis

Dengan menggunakan binatang/organisme lain sebagai musuhnya, yaitu :

 Parasit : makhluk hidup/organisme yang hidupnya tergantung pada makhluk hidup/organisme lain, seperti hama, serangga, binatang perusak.

 Predator : makhluk hidup/organisme pemakan hama atau binatang lain.

c. Secara khemis

Usaha pemberantasan/pengendalian dengan menggunakan bahan kimia yang berupa pestisida, antara lain fungisida, bakterisida, insektisida dan lain-lain.

Pemilihan metode (fisik, biologis, kimia maupun terpadu) dan waktu pengendalian yang dianggap paling cocok harus dilatar belakangi oleh pemahaman siklus hidup hama dan penyakit yang dimaksud.

Pengelola kebun dituntut untuk dapat meramalkan berbagai kemungkinan ledakan hama dan penyakit yang potensial. Perkiraan tersebut dapat bertitik tolak dari kondisi alam, iklim serta jenis hama dan penyakit yang ada di areal tersebut yang dinilai dari situasi dan kondisi yang paling memungkinkan.

Paling utama untuk diperhatikan mengenai pengendalian hama dan penyakit di kebun adalah mendeteksi gejala serangan secara dini. Keuntungan deteksi secara dini adalah dapat segera diambil tindakan pengendalian sebelum terjadi serangan dalam skala besar. Dengan demikian pengendalian hama dan penyakit akan lebih mudah dilaksanakan dan resiko akibat serangan dapat ditekan serta biaya yang dikeluarkan lebih rendah.

2. JENIS-JENIS HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN KELAPA SAWIT

Secara umum hama yang sering dijumpai menyerang tanaman kelapa sawit antara lain adalah :

 Ulat api dan ulat kantong
 Tikus
 Kumbang tanduk (Oryctes rhinoceros L)
 Tirathaba
 Rayap
 Adoretus dan Apogonia

2.1. HAMA ULAT API DAN ULAT KANTONG

A. Hama Ulat Api

Disebut ulat api karena larva dewasa apabila terkena bagian kulit akan menimbulkan rasa panas seperti terkena api dan bagian kulit tersebut akan menjadi bengkak.

Berikut adalah beberapa jenis ulat api yang umum menyerang tanaman kelapa sawit dan dapat menyebabkan kerusakan yang nyata :

Setora nitens

Larva berwarna hijau kekuningan dengan satu jalur berwarna ungu lembayung sepanjang punggungnya dan menjelang dewasa larva berwarna kuning kemerahan. Larva menyerang dengan mengikis daging daun hingga tinggal lidi, akibatnya pelepah menjadi kering.

Thosea asigna

Larva berwarna hijau kekuningan dengan jalur abu-abu keputihan melintang sepanjang punggung dan melebar pada dua tempat. Larva menyerang dengan memakan daging daun bagian bawah sedangkan epidermis dan bagian atas ditinggalkan.

Darna trima

Larva berwarna coklat muda dengan bentuk tubuh makin kecil kebelakang, dibagian sayap mempunyai garis hitam dan kuning pada bagian tengah. Larva menyerang dengan memakan daging daun pada bagian bawah dan sering meninggalkan epidermis bagian atas sehingga daun bekas serangan-nya berlubang-lubang.

B. Hama Ulat Kantong

Jenis ulat yang menyerang adalah Mahasena corbetti, Metisa plana dan Cremastopsyche pendula. Larva dan imago dibungkus oleh potongan daun yang dipadu dengan benang-benang yang dikeluarkan dari larva. Kantong kepompong menggantung di bagian bawah daun. Kantong kepompong Mahasena lebih besar dari pada jenis lainnya dan berbentuk sangat kasar tak teratur. Larva menyerang daun sehingga menimbulkan banyak lubang.

C. Kerusakan

Hama ulat api dan ulat kantong disebut juga ulat pemakan daun kelapa sawit. Pada saat stadium larva instar muda (di bawah instar III) larva ulat api hanya memakan epidermis bawah anak daun, sehingga kerusakan yang ditimbulkan adanya strip-strip transparan berwarna putih kekuningan. Dengan meningkatnya umur larva (larva instar III ke atas), larva mulai makan dari tepi daun sehingga anak-anak daun bergerigi tak beraturan. Apabila serangan serius, maka anak-anak daun akan tinggal lidinya.

Kerusakan yang diakibatkan oleh serangan ulat kantong jenis Mahasena corbetti mirip dengan ulat api tetapi pelepah-pelepah daun yang terserang akan menunjukkan adanya kantong-kantong yang ditempeli potongan-potongan daun yang kering yang bergantungan yaitu sebagai tanda banyaknya kantong-kantong larva.

Sedangkan ulat kantong jenis Metisa plana dan Pteroma pendula hanya memakan epidermis atas anak-anak daun. Gejala yang muncul adalah adanya lubang-lubang transparan berwarna putih kekuningan sampai kecoklatan. Apabila populasi larva tinggi gejala yang dapat dilihat adalah ujung-ujung pelepah menunjukkan gejala seperti terbakar.

D. Kerugian

Akibat dari serangan yang serius oleh hama pemakan daun dapat menyebabkan penurunan produksi. Hal ini disebabkan karena meningkatnya jumlah bunga jantan sebagai akibat tanaman mengalami “stress” karena kehilangan daun.

Berikut adalah contoh penurunan produksi tanaman kelapa sawit akibat serangan ulat api Thosea asigna :

(%)
Defoliasi Penurunan Produksi
Tahun I a) Tahun II b)
Hampir 100 70 93
50 40 78
25 8 29
12 5 11
(sumber : desmier de Chenono,1992)
a). Serangan hanya sekali
b). Terjadi serangan ulang pada tahun yang sama.

Serangan pada daun atau tingkat kerusakan pada daun tergantung pada kemampuan konsumsi ulat atau larva. Tiap jenis serangga berbeda daya konsumsinya. Berikut beberapa jenis hama ulat pemakan daun kelapa sawit yang dibedakan berdasarkan kemampuannya mengkonsumsi daun:

Jenis Hama Daya Konsumsi pada Daun (cm2)
Thosea asigna Moore
Setora nitens Wlk
Thosea vitusta Wlk.
Ploneta diducta Snell
Birthamula chara
Darna trima Moore
Mahasena corbetti Tams Metisa Plana Wlk. 400
367
170
167
33
27
dari Thosea asigna
= Thosea vitusta

Luas permukaan satu pelepah daun kelapa sawit sekitar 3–4 m2. Kerusakan daun atau defoliasi yang ditimbulkan akan mengganggu asimilasi dan sekaligus produksi. Situasi ini akan baru pulih kembali setelah 2–3 tahun dari tingkat defoliasinya. Berdasarkan penjelasan tersebut maka oleh para ahli hama telah disusun pada populasi kritis yang dijadikan pedoman pemberantasan. Ulat yang terdapat pada daun contoh dihitung. Untuk Mahasena cobetti misalnya 4–8 ulat/pelepah, Thosea asigna, Setora nitens dan Metisa plana 5–10 ulat/pelepah, Thosea bisura, Thosea vetusta, Ploneta diducta 10–20 ulat/pelepah dan Darna trima 20–30 ulat/pelepah.

E. Biologi

Siklus hidup hama ulat pemakan daun kelapa sawit melalui empat stadia sebagai berikut :

Biologi Ulat Api

Telur :

Telur diletakkan di bawah permukaan anak daun ke arah tepi antara 1–50 per kelompok. Telur berwarna kuning transparan saat diletakkan dan menjadi kuning gelap saat akan menetas. Telur yang terserang parasit berwarna coklat kehitaman.

Larva :

Larva yang baru menetas biasanya memakan kulit telur dan bergerak lambat. Stadium larva muda tidak banyak makan daun. Larva instar I–III hanya memakan anak daun epidermis bawah sehingga muncul adanya strip-strip transparan. Sedangkan larva dewasa (di atas instar III) akan memakan daun dari arah tepi.

Kepompong :

Setelah ulat api dewasa ia akan berkepompong di tanah-tanah yang gembur, di bawah tumpukan pelepah yang dipruning atau di pangkal gulma (untuk jenis S. nitens, S. asigna) dan sebagian kepompong berada di ketiak-ketiak daun (D. trima).

Kepompong dilindungi oleh kokon berbentuk bulat lonjong berwarna coklat gelap yang terbuat dari air liur larva.

Kupu-kupu :

Kupu-kupu berwarna coklat dan dilapisi oleh sisik-sisik pada seluruh tubuhnya. Kupu-kupu yang keluar dari kepompong akan mulai aktif sore sampai malam hari untuk melakukan peletakan telur di daun.

Biologi Ulat Kantong

Telur :

Tidak seperti ulat api, telur ulat kantong berada di dalam kantong. Telur berukuran kecil berbentuk bulat dan berwarna putih saat diletakkan, dan kecoklatan saat akan menetas.

Larva :

Larva yang baru menetas berwarna putih kecoklatan dan masih telanjang. Dengan benang air liurnya larva akan keluar dari kantong dan bergantungan mencari sasaran, kadang-kadang larva tetap berkelompok membuat masing-masing kantong di sekitar kantong induknya. Kecuali jenis M. corbetti, larva ulat kantong hanya memakan epidermis atas anak daun. Apabila populasi tinggi, daun-daun yang termakan tidak menunjukkan gejala melidi, tetapi daun berwarna kecoklatan seperti terbakar, sedangkan larva M. corbetti memakan daun sampai tinggal lidinya.

Kepompong :

Kepompong ulat kantong tetap berada di dalam kantong berwarna kuning kecoklatan

Kupu-kupu :

Kupu-kupu ulat kantong betina tidak mempunyai sayap sempurna, sehingga tetap tinggal di dalam kantong, bertelur dan sampai mati. Sedangkan kupu-kupu jantan mempunyai sayap sempurna dan dapat terbang. Kupu-kupu jantan akan mendatangi kantong-kantong kupu-kupu betina untuk melakukan perkawinan.

Laju perkembangan populasi terutama didukung oleh kemampuan berkembang biak dan waktu yang dipergunakan dalam menyelesaikan siklus hidup. Makin tinggi daya berbiak serta semakin pendek siklus hidup maka semakin cepat pula laju pertambahan populasi. Hal ini berarti bahwa toleransi terhadap tingkat batas kritis populasi menjadi lebih rendah. Berikut data kemampuan bertelur dari beberapa jenis hama ulat pemakan daun kelapa sawit :

Spesies Hama Telur (butir)
Mahasena corbetti 2000 – 3000
Metisa plana 100 – 300
Sethotosea asigna 300 – 400
Setora nitens 250 – 300
Darna trima 90 – 300
Ploneta diducta 60 – 225

Pengetahuan tentang data siklus hidup untuk setiap jenis ulat sangat bermanfaat terhadap management kebun terutama untuk tujuan :

(i) Memperkirakan akan munculnya hama tersebut pada generasi berikutnya,
(ii) Memperkirakan ketersediaan waktu untuk pengendalian

2.1.1. Tingkat Populasi Kritis (TPK)

Tingkat populasi kritis diartikan sebagai tingkat populasi larva rata-rata per pelepah, dimana pada populasi di atas rata-rata tersebut tindakan pengendalian mungkin perlu dilakukan.

Sebagai informasi management kebun TPK hanya merupakan suatu panduan. Untuk mengambil keputusan apakah perlu atau tidaknya dilakukan pengendalian, beberapa faktor berikut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan yaitu :

a. Populasi rata-rata larva per pelepah
b. Distribusi
c. Tingkat aktivitas musuh alaminya.

Dengan mempertimbangkan ketiga faktor tersebut diatas maka tindakan pengendalian harus segera dilakukan, apabila : Populasi rata-rata per pelepah (larva sehat) di atas TPK; Distribusinya seragam (menyebar pada setiap titik sensus); dan Keberadaan musuh-musuh alami dalam keadaan rendah.

Akan tetapi walaupun populasi rata-rata di bawah TPK, distribusinya merata pada setiap titik-titik sensus dan kehadiran musuh-musuh alami rendah, kemungkinan juga diperlukan tindakan pengendalian.

Sebaliknya, apabila populasi rata-rata sedikit di bawah atau diatas TPK, penyebarannya tidak merata yaitu hanya terjadi di beberapa tempat (spot) dan kehadiran musuh alami sangat nyata, maka pengendalian secara spot perlu dilakukan, atau diperlukan pemantauan yang lebih intensif.

2.1.2. Pengamatan (Monitoring)

Latar belakang:

a. Kejadian ledakan hama ulat api dan ulat kantong tidak terjadi dengan tiba-tiba namun dapat diduga sebelumnya bila dilaksanakan sistem pengamatan yang baik. Dengan sistem pengamatan yang benar setiap perkembangan populasi hama dapat segera diketahui sehingga tindakan pengendalian dapat dilaksanakan lebih dini, lebih mudah serta jumlah serangan belum meluas.

b. Dengan tindakan pengamatan rutin akan membutuhkan biaya yang lebih besar untuk membayar upah tenaga kerja, namun bila dilihat besarnya kerugian yang ditimbulkan bila terjadi serangan hama secara besar-besaran, maka kegiatan pengamatan rutin penting untuk dilaksanakan.

Selain itu dengan adanya kegiatan pengamatan rutin dapat membantu pelaksanaan pengendalian hama secara terpadu dengan melihat dan menjaga populasi musuh alami hama kelapa sawit.

Prinsip Pengamatan :

a. Pada umumnya suatu sistem pengamatan hanya berlaku untuk satu atau lebih spesies hama yang mempunyai perilaku yang sama. Akan tetapi suatu sistem pengamatan dapat dimodifikasi untuk pemantauan perkembangan hama lainnya.

b. Untuk efisisensi maka kegiatan pemantauan dilakukan dengan model sistematis sampling.

c. Pemantauan dengan sistem sampling dapat mencakup fungsi-fungsi sebagai berikut:

 Mengetahui ada tidaknya hama dalam kawasan yang diamati.
 Menentukan jenis atau spesies hama yang menyerang tanaman dan berapa tingkat kepadatan populasinya.

 Mengetahui di bagian atau daerah mana serangan hama terjadi, kemudian dibuat peta serangan hama dimaksud. Peta serangan sebaiknya dapat menampilkan spot-spot tempat serangan.

Metode Pengamatan :

a. Tentukan jenis hama yang dominan pada kawasan yang diamati. Hal ini penting untuk menentukan pengambilan pelepah sampel yang sesuai

Perhatian :
1). Pelepah ke 9 s/d ke 24, bila jenis hama yang dominan adalah Setora nitens, Thosea asiogna, Sucica sp.
2). Pelepah ke 25 s/d ke 40 Jika jenis hama yang dominan adalah Darna trima, Thosea bisura, Thosea vitusta, Ploneta diducta,dan golongan ulat kantong.

b. Gantol/potong 1(satu) pelepah dari pohon sampel (PS) pada masing-masing titik sampel (TS) yang ditaksir paling banyak ulatnya.

c. Tentukan jenis hamanya dan hitung jumlah ulat atau larva, kemudian catat pada formulir sensus seperti tabel 2.

d. Kadang-kadang akan ditemukan dalam satu pelepah jumlah ulat atau larva yang banyak (> 50 ekor). Dalam keadaan ini maka penghitungannya ada 3 cara yaitu sebagai berikut :

Cara A :
Bila jumlah ulat/larva diperkirakan 50 ekor/pelepah, penghitungan langsung dilakukan satu pelepah.

Cara B :
Bila jumlah ulat/larva diperkirakan antara 50 – 100 ekor/pelepah, perhitungan hanya dilakukan pada satu sisi pelepah saja dan hasilnya C lalu dikalikan dua.

Cara C:
Bila jumlah ulat/larva diperkirakan lebih dari 100 ekor dalam satu pelepah, maka perhitungan hanya dilakukan pada anak daunnya dengan selang setiap 10 anak daun, dan hasil rata-rata perhitungannya lalu dikalikan 10

2.1.3. Analisa Data Pengamatan

Batas kritis dan klasifikasi kategori serangan dari hama ulat pemakan daun kelapa sawit dapat dilihat pada Bab III Tabel 2.

2.1.4. Evaluasi

 Kegiatan ini merupakan pengamatan keadaan lokasi serangan, stadia hama, pengamatan laboratorium sederhana untuk mencari gambaran yang lebih jelas tentang serangan hama yang terjadi. Pengamatan melibatkan orang dari R & D sehingga gambaran yang diperoleh menjadi lebih jelas

 Dari hasil pengamatan, dapat direkomendasikan tindakan-tindakan penanggulangan yang perlu diambil dan mencari alternatif musuh alami hama untuk menekan perkembangan yang lebih besar lagi
.

2.1.5. Tindakan Pengendalian

Tujuan utama tindakan pengendalian hama adalah bukan untuk membasmi hama, tetapi untuk menurunkan populasi hama sampai pada tingkat yang tidak merugikan. Tentang metode pengendalian, jenis pestisida yang digunakan, jangka waktu pengendalian dan lain sebagainya dirokemandasikan oleh Departemen Research & Development.

Hasil penengendalian yang efektif tergantung dari deteksi awal dan diikuti perlakuan yang tepat sesegera mungkin.

Teknik pengendalian hama daun kelapa sawit meliputi beberapa metode :

(i) Hand picking (pengutipan larva)
(ii) Penyemprotan insektisida selektif
(iii) Penyemprotan insektisida kontak
(iv) Injeksi batang
(v) Infus akar
(vi) Kutip kepompong
(vii) Konservasi dan eksploitasi musuh alami

Dari berbagai pengalaman menunjukkan bahwa pengendalian dengan hanya menggunakan salah satu tehnik diatas tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
Untuk mendapatkan hasil pengendalian yang baik perlu diterapkan sistem pengendalian dengan mengombinasikan beberapa tehnik pengendalian yang saat ini lebih dikenal dengan sistem pengendalian hama terpadu (PHT).

Tehnik pengendalian hama diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :

a. Hand picking/Pengutipan larva

Prosedur

Dalam melakukan pekerjaan pengutipan larva harus mengikuti persyaratan sebagai berikut :

(i) Hanya larva sehat yang dikutip dari pelepah daun, larva hasil pengutipan harus dimatikan.

(ii) Semua larva yang menunjukkan gejala tidak sehat, misalnya terparasit, dimakan predator atau terserang penyakit dibiarkan tidak dikutip.

(iii) Supaya pekerjaan pengutipan berjalan cepat, tidak harus semua pelepah diperiksa, akan tetapi hanya pada pelepah-pelepah daun yang menunjukkan bekas serangan baru.

(iv) Tenaga kerja pengutipan harus dilengkapi dengan galah ringan yang bagian ujung terdapat pengait. Alat tersebut membantu menarik pelepah daun yang lebih tinggi.

(v) Diperlukan supervisi yang baik oleh mandor atau Kepala Afdeling.

Keuntungan:

Sangat selektif dan ramah lingkungan, karena dalam pengutipan hanya ditujukan terhadap larva yang sehat, sedangkan larva yang terparasit dan berpenyakit ditinggalkan untuk perbanyakan secara alami.

Kekurangan:

(i) Pekerjaan lambat dan membutuhkan tenaga kerja yang banyak
(ii) Tidak sesuai untuk tingkat populasi yang tinggi dan areal terserang luas
(iii) Tidak efektif untuk larva yang berukuran kecil atau larva yang masih muda. Seperti Metisa plana, Pteroma pendula dan Darna trima
(iv) Tidak sesuai untuk tanaman yang sudah tua/tinggi (umur lima tahun ke atas).

b. Penyemprotan Insektisida Selektif

Isektisida selektif adalah semua jenis insektisida yang bersifat mematikan terhadap hama sasaran (ulat api/ulat kantong), akan tetapi relatif aman terhadap populasi musuh alami, serangga-serangga penyerbuk dan operator.
Contoh : – Bacillus thuringiensis (B.T) : (Dipel, Thuricide, Bactospiene, Delfin WDG, Condor, Foil dan Florbac)
– Insektisida Pengatur Tumbuh (IPT) : (Atabron, Alsystin dll.

Keuntungan:

(i) Efektif terhadap ulat api instar muda ( I – IV)
(ii) Aman terhadap musuh alami
(iii) Aman terhadap operator

Kekurangan:

(i) Kurang efektif terhadap ulat api dewasa (instar V keatas)
(ii) Karena merupakan racun perut, penyemprotan harus merata keseluruh pelepah
(iii) Bekerja lambat
(iv) Stok lama umumnya kurang efektif.

Cara kerja

Bahan aktif Bacillus thuringiensis merupakan kristal protein dari bakteri dan akan menjadi efektif bekerja apabila dimakan oleh larva. Kristal protein mengalami perpecahan menjadi unit-unit yang bersifat racun, hal tersebut hanya terjadi di dalam perut larva. Kristal-kristal protein di dalam perut kemudian mengalami hidrolisis oleh adanya reaksi kimia tertentu.

Aktivitas protein akan menyebabkan luka pada dinding perut sehingga terjadi pendarahan. Darah dari larva dikenal sebagai media yang baik bagi pertumbuhan bakteri sehingga spora bakteri mulai membelah diri secara cepat. Pada umumnya larva akan berhenti makan setelah 30 menit.

Gejala Larva Terinfeksi

Gejala yang dapat dilihat dari luar adalah perubahan perilaku larva, warna dan morfologi. Larva yang sakit akan segera berhenti makan, meninggalkan daerah tempat makan ke daerah permukaan daun yang terbuka. Sebelum mati biasanya larva menjadi lamban dan berwarna pucat, muntah dan mencret. Bangkai larva yang besar menjadi lunglai, tetapi tidak mencair sebagaimana halnya bila terinfeksi virus.

Efektifitas Bacillus thuringiensis

Insektisida biologi Bacillus thuringiensis hanya efektif terhadap larva-larva dari ordo Lepidoptera dan tidak mematikan terhadap stadium dewasa dari parasit/predator. Untuk mendapatkan efektifitas Bacillus thuringiensis yang optimal, faktor-faktor kritis di bawah ini harus diperhatikan :

(i) Ketepatan waktu
Waktu yang tepat untuk aplikasi Bacillus thuringiensis adalah : saat menjelang menetasnya telur atau pada saat larva masih muda sampai instar IV.

(ii) Cakupan semprotan
Agar larva dapat memperoleh kristal protein Bacillus thuringiensis yang mencukupi, maka penyemprotan pada kanopi tanaman harus merata.

(iii) Penyimpanan
Insektisida Bacillus thuringiensis merupakan insektisida biologi, maka dalam penyimpanan harus dihindarkan dari ruangan yang bersuhu ekstrim, misalnya suhu terlalu tinggi, karena keadaan tersebut akan menurunkan efektifitasnya.

Penyemprotan dan Peralatan

Insektisida Bacillus thuringiensis dapat diaplikasikan baik dalam volume semprot tinggi, rendah atau ultra rendah. Dalam penyemprotan juga dapat dicampur dengan fungisida atau pupuk daun atau surfaktan yang tidak bersifat basa, karena pH yang tinggi dapat menurunkan efektifitasnya. Berikut peralatan dan volume semprot yang dapat digunakan :

Kategori Volume semprot/Ha (lt) Alat

Sangat tinggi
Sedang
Rendah/ Sangat rendah
Ultra rendah

> 600
400 – 600
100 – 400

< 50
Engine Power Sprayer
Knapsack Sprayer
Mist Blower

Fogger

Dosis
Berikut beberapa jenis insektisida Bacillus thuringiensis serta kandungan bahan aktif dan dosis untuk ulat api

Nama Dagang Kandungan Bahan Aktif Dosis/Ha
Bactospiene WP
Condor 70 S
Delfin WDG
Dipel WP
Florbac FC
Thuricide HP B.t 16.000 I/u mg
B.t 32.000 I/u mg
B.t 56.000 I/u mg
B.t 16.000 I/u mg
B.t 7.500 I/u mg
B.t 16.000 I/u mg 500 gr
500 ml
300 gr
500 gr
500 gr
500 gr

c. Insektisida Kontak

Penggunaan insektisida kontak harus lebih berhati-hati, karena mempunyai spektrum lebar, dapat membunuh musuh-musuh alami hama seperti : predator, parasit, serangga penyerbuk dll.

Penggunaan insektisida kontak harus memenuhi syarat sebagai berikut :

(i) Populasi larva rata-rata per pelepah sangat tinggi
(ii) Instar larva dalam keadaan “Overlapping”
(iii) Serangan meliputi areal yang luas
(iv) Larva diatas instar IV

Keuntungan:

(i) Daya bunuh cepat dengan persentase kematian tinggi
(ii) Biaya bahan kimia per Ha relatif murah
(iii) Cakupan semprotan cepat, misal : dengan alat fogger
(iv) Sesuai untuk populasi yang tinggi dan “overlapping”

Kekurangan:

(i) Spektrum lebar (non selektif), sehingga mematikan musuh-musuh alami, seperti parasit, predator dan serangga penyerbuk
(ii) Berbahaya bagi operator

Dosis:

Berikut dosis insektisida kontak untuk ulat api dan ulat kantong

Jenis Hama Insektisida Konsentrasi Formulasi
Nama Dagang Dosis/ Ha EPS
(%) PKS
(%) MB
(%)
Ulat Api
S. asigna

S. nitens

D. trima

P. diductra
Decis
2,5 EC
Matador
25EC
Buldok
25 EC
Cymbush
50 EC
200 ml

200 ml

250 ml

500 ml
0.03

0.03

0.04

0.08
0.05

0.05

0.06

0.125
0.13

0.13

0.16

0.33
Ulat Kantong
M. corbetti

M. plana

P. pendulg
Dipterex
45 SP
Orthene
75 Sp
1000gr

650 gr
0.16

0.10
0.25

0.16
0.66

0.43
Catatan :
Volume semprot/Ha
EPS (Engine Power Sprayer) = 600 lt
PKS (Pneumatic Knapsack Sprayer) = 400 lt
MB (Mist Blower) = 150 lt

Alat Aplikasi Insektisida

Ada beberapa alat aplikasi insektisida selektif maupun kontak yang umumnya digunakan dilapangan yaitu :

 Engine Power Sprayer (EPS)
Alat semprot EPS merupakan alat penyemprotan insektisida dengan volume semprot sangat tinggi, yaitu : dapat mencapai lebih 600 lt/Ha. Dengan kemampuan kerja alat/hari adalah
3 – 5 Ha.

Keuntungan:
(i) Sesuai untuk insektisida kontak
(ii) Sesuai untuk tanaman menghasilkan yang berumur kurang dari 5 tahun
(iii) Sesuai untuk areal rata.

Kekurangan:
(i) Diperlukan banyak tenaga kerja, min . 7 Hk/alat
(ii) Tidak sesuai untuk areal bergelombang
(iii) Kurang efektif untuk insektisida Bacillus thuringiensis
(iv) Diperlukan air yang banyak

 Pneumatic Knapsack Sprayer
Sebagai contoh alat semprot type ini adalah Solo, RB 15, CP 15, Berthoud dll. Volume alat semprot jenis ini dapat mencapai 12.5 – 18 lt. Volume semprot/Ha dengan alat ini adalah 400 – 600 lt.

Keuntungan:
(i) Cocok untuk tanaman berumur kurang dari 3 tahun
(ii) Sesuai untuk penyemprotan sporadic
(iii) Alat bekerja sangat sederhana, sehingga tidak diperlukan tenaga kerja yang berpengalaman untuk mengoperasikannya

Kekurangan:
(i) Bekerja lambat
(ii) Diperlukan air yang banyak
(iii) Tidak cocok untuk tanaman menghasilkan

 Mist Blower (Pengabutan)
Volume semprot alat ini dapat mencapai 150 – 300 ltr/Ha, tergantung dari umur tanaman

Keuntungan:
(i) Cocok untuk tanaman berumur 4 tahun kebawah
(ii) Kemampuan kerja 1.5 – 2.0 ha/hari
(iii) Sesuai untuk insektisida Bacillus thuringiensis , IPT dan kontak

Kekurangan:
(i) Berbahaya terhadap pekerja/operator (insektisida kontak) sehingga diperlukan alat pengaman yang cukup
(ii) Tidak sesuai untuk areal yang berbukit.

 Fogger/Pengasapan
Jenis alat fogger meliputi
- Swingfog
- Pulsfog (K 10 sp, K 22 Standard, K 22 – O, K 22 – Bio)

Prinsip kerja alat ini adalah mengubah campuran air, solar dan insektisida kedalam bentuk asap.

Keuntungan:

(i) Cakupan luas ± 10 – 15 ha/hari kerja
(ii) Sangat efektif untuk insektisida kontak
(iii) Biaya/ha murah

Kekurangan:

(i) Hanya dapat diaplikasikan pada malam hari/dini hari
(ii) Diperlukan tenaga kerja yang terlatih
(iii) Tidak sesuai untuk areal yang bergelombang
(iv) Tidak sesuai untuk tanaman berumur dibawah 7 tahun

Komposisi penggunaan insektisida untuk alat di atas seperti diuraikan di bawah ini :

a. Type Swingfog, K 10 sp, K 22–Oleh dan K 22 standard

Tangki terdiri dua unit yaitu satu unit tangki bahan bakar (premium) dan satu unit (kapasitas 5 lt) berisi campuran air, solar, emulgator dan insektisida. Berikut komposisi campuran air, solar, emulgator dan insektisida :

Bahan Umur Tanaman
15 tahun
(lt)

Air
Solar
Insektisida
Emulgator

3 – 5
1.1 – 1.2
0.2 – 0.3
0.1
1.5
3.1 – 3.2
0.2 – 0.3
0.1
-
4.5 – 4.6
0.2 – 0.3
0.1
Jumlah 5.0 5.0 5.0

b. Type K 22–Bio

Alat aplikasi type ini terdiri dari 3 tangki yaitu tangki bahan bakar kapasitas 2.0 lt, tangki belakang berupa campuran solar, air dan emulgator dan tangki depan berupa campuran air, surfaktan dan insektisida, masing-masing tangki berkapasitas 5.0 lt. Alat ini sesuai untuk aplikasi insektisida B.t (formulasi cair) dan Virus.

Berikut komposisi campuran bahan yang digunakan pada type alat K22-Bio di atas dalam kedua tangki berdasarkan umur tanaman:

Bahan Umur Tanaman
15 tahun
Tgk.
depan
(lt) Tgk
blk (lt) Tgk
depan
(lt) Tgk. Blk (lt) Tgk.
depan
(lt) Tgk. Blk (lt)

Air

Solar

Insektisida

Emulgator

Surfactant

4.45– 4.75

-

0.2 – 0.5

-

0.05
3.5

1.4

-

0.1

-
1.0

3.4 – 3.7

0.2 – 0.5

0.1

-
1.5

3.4

-

0.1

-
1.0

3.4 – 3.7

0.2 – 0.5

0.1

-
-

5.0

-

-

-
Jumlah 5.0 5.0 5.0 5.0 5.0 5.0

d. Injeksi Batang

Pada saat tanaman sudah berumur diatas 7 tahun, kanopi sudah tinggi sehingga aplikasi insektisida dengan cara penyemprotan tidak bisa dilakukan. Penggunaan insektisida sistemik dengan cara injeksi batang akan memberikan hasil yang lebih efektif.

Keuntungan:

(i) Sangat efektif terhadap semua umur larva
(ii) Sangat selektif
(iii) Sesuai untuk tanaman tinggi (tua)
(iv) Pekerjaan cepat
(v) Sesuai untuk serangan spot

Kekurangan:

(i) Sangat mahal
(ii) Tidak sesuai untuk tanaman muda
(iii) Diperlukan operator yang berpengalaman

Prosedur :

(i) Dalam melakukan operasi menggunakan alat ini, tim terdiri dari 3 orang, yaitu 1 orang (laki-laki) sebagai operator alat, 1 orang (perempuan) sebagai aplikator insektisida dan 1 orang (perempuan) sebagai penutup lubang (dengan tanah) setelah aplikasi insektisida dan juga memberikan tanda cat berupa titik pada pangkal pelepah di atas lubang.
(ii) Lubang bor dibuat pada ketinggian ± 50 cm (tergantung dari umur tanaman), dengan kemiringan lubang 45o
(iii) Untuk tanaman yang berumur < 7 tahun, insektisida diaplikasikan dalam 2 lubang yang berseberangan.
(iv) Jenis insektisida dan dosis yang dianjurkan adalah sebagai berikut :

Nama Dagang Bahan Aktif Umur Tnm (tahun) Jumlah lubang/ pohon Dosis/ lubang (ml) Dosis/ pohon (ml)
Azodrin 150 WSC Monokrorofos 15 %
15

2

1

1
15

30

45
30

30

45
Azodrin 600 WSC Monokrorofos 60 %
15
2

1

1
7.5

10

15
15

10

15

e. Infus Akar

Infus akar merupakan teknik lain aplikasi insektisida sistemik selain injeksi batang, walaupun pekerjaan infus akar sangat sederhana, akan tetapi memerlukan ketelitian dalam pelaksanaannya. Teknik ini meliputi beberapa tahapan yaitu : mencari akar, memotong akar dan memasang plastik berisi insektisida. Untuk mendapatkan hasil yang baik ketiga tahapan tersebut harus dilakukan secara berhati-hati.

Keuntungan:

(i) Sangat selektif
(ii) Sangat efektif untuk tanaman muda
(iii) Sesuai untuk serangan seporadik
(iv) Sesuai untuk areal bergelombang

Kerugian:

(i) Sangat mahal
(ii) Bekerja lambat, 1 tim (2 orang) = 80 pohon/hari
(iii) Diperlukan tenaga kerja terlatih

Prosedur :

(i) Mencari akar
Pada saat menggali tanah untuk mencari akar harus dilakukan secara hati-hati. Akar yang digunakan adalah akar primer yang sehat yaitu berwarna cokelat gelap dan akar tersebut berada pada radius dari batang maximum 50 cm. Akar dipotong miring dengan sudut 30 – 40¬o.

(ii) Insektisida sistemik yang telah diukur dimasukkan ke dalam kantong plastik dan disarungkan ke ujung akar yang sudah dipotong. Ujung akar harus menyentuh dasar plastik supaya seluruh insektisida terserap. Pelastik kemudian diikat dengan karet secara hati-hati

(iii) Apabila akar tidak mengalami kerusakan, insektisida tersebut akan terserap habis dalam 1 hari, terutama pada cuaca panas. Apabila dalam 2 –3 hari tidak habis terserap, maka harus dipindahkan ke akar yang baru.

(iv) Jenis insektisida dan dosis yang dianjurkan adalah sebagai berikut :

Nama Dagang Bahan Aktif Umur Tnm. Jml Akar Dosis/pohon (ml)
Azodrin 150 WSC Monokrorofos 15 % Semua umur 1 30
Azodrin 600 WSC Monokrorofos 60 % Semua umur 1 10

f. Pengutipan Kepompong

(i) Pengutipan kepompong hanya dapat dijalankan apabila tingkat serangan rendah dan meliputi areal yang sempit. Kepompong yang dikutip adalah yang sehat, sedangkan yang sakit atau terparasit ditinggalkan di lapangan. Hasil pengutipan kepompong harus dikumpulkan di suatu tempat dan dibakar.

(ii) Pengutipan kepompong hanya terbatas pada daerah piringan dan terutama pada pangkal batang. Pada saat eksplosif kepompong dapat terletak di gawangan, di bawah tumpukan pelepah, pada bunga jantan dan tandan, sehingga pengutipan menjadi tidak efektif.

(iii) Ulat api jenis D. trima dan P. diducta kepompong sangat kecil dan diletakkan pada ketiak anak-anak daun. Begitu juga kepompong ulat kantong tetap berada di daun walaupun sudah kosong.

Keuntungan:

Sangat selektif dan aman terhadap lingkungan

Kekurangan:

(i) Tidak efektif saat terjadi eksplosif
(ii) Pekerjaan sangat lambat
(iii) Sulit membedakan kepompong yang sakit dan sehat tanpa membuka terlebih dahulu.

g. Konservasi dan Eksploitasi Musuh Alami

Tujuan
Konservasi dan eksploitasi musuh alami adalah bertujuan untuk menghindari populasi hama meningkat yang akan menyebabkan eksplosi hama tersebut dan akan mengembalikan keadaan ekosistem tersebut menjadi seimbang sehingga akhirnya perlakuan insektisida dapat dikurangi.

Di perkebunan kelapa sawit musuh-musuh alami yang cukup potensial dalam mengatur populasi hama ulat api dan ulat kantong dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu : Predator, Parasit dan Pathogen.

 Predator

Predator berupa serangga lain yang memakan langsung ulat api dan ulat kantong baik pada saat stadia telur, larva, kepompong dan kupu-kupu. Pada umumnya serangga predator mempunyai ukuran tubuh yang lebih besar dari makanannya dan dalam satu siklus hidupnya diperlukan banyak makanan.

Beberapa jenis predator yang potensial seperti :
- Eucanthecona furcellata (Pentatomide = Hemiptera)
- Sycanus spp (Reduviidae = Hemiptera)

Inang kedua/Alternatif
Predator pada umumnya bersifat polifag (makan lebih dari satu serangga), sehingga pada saat tidak terjadi serangan ulat api/ulat kantong, predator tetap dapat hidup dengan memanfaatkan makanan alternatif seperti :

- Ulat/larva serangga yang berada pada kacang-kacangan
- Larva Hymenoptera symphyla dan Neostrombeseros lucti yang berada pada pakis jenis Diaplazium asperum oleh sebab itu gulma-gulma kacangan dan pakis tertentu tetap dipertahankan untuk tujuan tersebut diatas.

 Parasit

Parasit hidup di dalam tubuh inangnya. Apabila parasit tersebut berasal dari kelas serangga disebut Parasitoid, akan tetapi apabila golongan lain cukup disebut Parasit. Parasit pada umumnya mempunyai ukuran yang lebih kecil dari inangnya dan mempunyai siklus yang relatif pendek. Parasit hanya menggunakan satu atau dua stadia inangnya untuk melangsungkan kehidupannya. Maka dikenal ada beberapa parasit berdasarkan stadium inangnya, seperti : parasit telur, parasit larva dan parasit kepompong.

Berikut beberapa contoh parasit dan inangnya pada ulat api dan ulat kantong :

Parasit Nama Parasitoid Inang
Telur Trichogrammatoidea S. nintens
S. asigna
Darna spp
Larva Apanteles spp. Darna trima
Parasa spp
Spinania spinator Setora nitens
S. asigna
Fornicia spp. S. asigna
Chalcocelis albigutary
Kepompong Chaetexorista javana S. asigna
Chlorocryptus purpuratus S. nitens

 Pathogen/Penyakit

Penyakit dapat berupa virus, bakteri dan jamur, untuk dapat berkembang secara baik diperlukan kelembaban lingkungan yang tinggi. Kelembaban yang tinggi ini dapat terjadi di musim hujan, oleh sebab itu sangat jarang terjadi eksplosi hama ulat api/ulat kantong terjadi di musim penghujan. Penyakit berupa bakteri sudah dibahas di depan (penyemprotan dengan menggunakan insektisida selektif), dalam hal berikut dibahas penyakit dari golongan virus dan jamur.

 Virus

Pada kondisi lingkungan yang sesuai untuk perkembangan virus, tingkat pathogenitas virus dapat mencapai hampir 100 % setelah 2–3 minggu penyemprotan virus.

Keefektifan virus pada ulat api ditentukan oleh beberapa faktor :

(i) Jenis Virus, antara jenis ulat api satu dengan lainnya mempunyai jenis virus yang berbeda. Sebagai contoh virus pada ulat api Setora nitens tidak akan efektif untuk ulat api Setothosea asigna

(ii) Identifikasi visual yang betul dari larva yang terinfeksi virus. Larva yang terinfeksi virus mempunyai gejala :

 larva yang terinfeksi menjadi kurang aktif dan berhenti makan
 warna larva menjadi kurang jelas/kabur
 susunan duri-duri pada permukaan atas tidak mengembang/membuka apabila larva diganggu
 larva mati
 tubuh larva menjadi lunak dan bagian bawah lembek
 mengeluarkan cairan tubuh dari bagian bawah
 larva jatuh ke tanah (instar V keatas) atau tetap lengket di daun (instar I – IV)

(iii) Lama Penyimpanan
Larva ulat api yang terinfeksi virus yang masih baru akan lebih efektif daripada yang telah disimpan, walaupun demikian virus yang telah disimpan pada suhu –30oC selama 6 tahun masih menunjukkan efektifitasnya.

(iv) Cuaca
Kondisi cuaca pada saat dilakukan aplikasi virus sangat menentukan keberhasilan/efektifitasnya. Cuaca yang paling baik untuk aplikasi virus adalah saat musim hujan dan waktu aplikasi pada pagi atau sore hari. Pada musim kemarau sebaiknya aplikasi virus dilakukan sepagi mungkin, sebagai catatan bahwa sinar ultra violet akan menyebabkan degradasi virus sehingga menjadi kurang/tidak efektif.

Perbanyakan Virus

Tujuan dari perbanyakan virus adalah untuk mendapat ulat api terinfeksi virus sebanyak-banyaknya, sehingga dapat disimpan sebagai stok untuk pengendalian selanjutnya.

Syarat-syarat untuk perbanyakan virus adalah :

Lokasi
Lokasi untuk perbanyakan adalah tingkat populasi tinggi- sangat tinggi dan larva sudah berada pada instar di atas IV

Alat
Alat aplikasi virus sangat tergantung dari umur tanaman, tanaman muda 20%) setelah rotasi ketiga, sensus terhadap Pohon Terserang Baru (PTB) harus dilakukan, yaitu pada tiga hari setelah rotasi pengumpanan ketiga untuk memastikan apakah pengumpanan rotasi berikutnya masih diperlukan.
(v) Apabila persentase pohon terserang baru sudah turun di bawah 5%, pengumpanan dapat dihentikan walaupun jumlah racun tikus yang hilang masih tinggi, yaitu diatas 20%. Akan tetapi, apabila persentase pohon terserang baru masih diatas 5%, satu rotasi pengumpanan tambahan (rotasi IV) harus dilakukan segera.
(vi) Tiga hari setelah rotasi pengumpanan IV, sensus terhadap PTB harus dilakukan untuk mengetahui apakah pengumpanan dapat dihentikan atau diperlukan pengumpanan tambahan (rotasi V).

Dalam keadaan normal, 3-4 hari rotasi pengumpanan sudah dapat memberikan pengendalian yang memuaskan. Akan tetapi untuk areal dengan populasi tikus yang tinggi diperlukan rotasi aplikasi racun tikus yang lebih banyak.

Pengumpanan yang terputus dan tidak lengkap, tidak efektif dan kemungkinan dapat menyebabkan resistensi karena tikus memakan racun pada dosis yang tidak mematikan.

2.2.5. Pengendalian Tikus

Rekomendasi pengendalian tikus terbagi kedalam 3 bagian, yaitu:
 Pembibitan : pemberian racun tikus
 Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) : pemberian racun tikus
 Tanaman Menghasilkan (TM) : pembiakan burung hantu dan aplikasi racun tikus.

 Pembibitan

Apabila banyak dijumpai aktivitas tikus:
Satu kampanye pengumpanan harus dilakukan sepanjang baris polybag sebelah luar (sampai tiga polybag ke arah dalam), yaitu dilakukan sebelum penanaman kecambah.

Apabila serangan terjadi setelah penanaman:
Aplikasi racun tikus dapat dilakukan terbatas pada lokasi serangan, yaitu sepanjang barisan polybag sebelah luar dan terbatas pada daerah terserang saja.
• Letakkan racun tikus pada barisan awal polybag di sepanjang perbatasan,
• Gantilah racun tikus yang hilang setiap 3-4 hari sampai tidak dijumpai serangan baru.

 Tanaman Belum Menghasilkan (kurang dari 30 bulan)

Aplikasi racun tikus untuk umur di bawah 30 bulan adalah berdasarkan ” deteksi dan aplikasi” yaitu dengan tahapan:
• Letakkan tiga butir racun tikus pada setiap pohon yang terserang baru, dan ditambah enam pohon yang ada di sekelilingnya, masing-masing tiga butir.
• Apabila dijumpai serangan yang menyebar, yaitu lebih dari empat pohon terserang baru per hektar, maka satu kampanye pengumpanan harus dilakukan terbatas untuk areal terserang.

 Tanaman Menghasilkan (lebih dari 30 bulan)

Pada tanaman menghasilkan, introduksi burung hantu (Tyto alba) sudah mulai dikembangkan, akan tetapi pada tahap awal populasi burung hantu belum mampu mengendalikan populasi tikus. Untuk membantu penekanan populasi tikus perlu dilakukan aplikasi racun tikus.

Ada dua sistem pengendalian tikus untuk tanaman menghasilkan, yaitu “response baiting” dan “routine baiting”, bergantung pada tingkat aktivitas tikus untuk setiap daerah :

 Response baiting

Pada areal dengan aktivitas tikus rendah – sedang, prioritas pengendalian harus dilakukan dengan sistem “response baiting”. Dalam sistem ini pengendalian berdasarkan hasil sensus.

Adapun prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut:

• Dilakukan sensus sesuai dengan pedoman teknis “sistem pemantauan hama”

• Apabila Pohon Terserang Baru (PTB) lebih dari 5%, kampanye pengumpanan dapat dimulai. Untuk tujuan efisiensi biaya pengendalian, ditekankan bahwa sebelum melakukan kampanye pengumpanan, manajemen kebun harus selalu melakukan pengecekan terhadap akurasi hasil sensus, yaitu dengan spot check.

• Kampanye pengumpanan harus dilakukan secara selektif dan terbatas pada blok-blok terserang.

 Routine baiting (pengumpulan rutin)

Pada awal dimana aktivitas tikus menjadi kronik atau persistent, pengumpanan tikus secara rutin dilakukan dengan interval waktu yang tetap (4-6 bulan) pada setiap tahun. Pengumpanan dengan teknik ini akan efektif untuk areal serangan yang luas. Teknik pengumpanan rutin akan memerlukan biaya yang mahal.

2.2.6. Formulir Pengumpanan Tikus

Adapun formulir untuk pengumpanan tikus adalah seperti pada lampiran 1.

2.3. HAMA KUMBANG TANDUK (Oryctes rhinoceros)

Hama kumbang tanduk Oryctes rhinoceros merupakan hama penting tanaman kelapa sawit pada areal peremajaan. Kumbang tanduk dapat menyerang sejak di bibitan, tanaman muda di lapangan dan bahkan tanaman dewasa > 7 tahun (terutama pada areal yang memanfaatkan janjang kosong sebagai mulsa).

2.3.1. Potensi Kerusakan

Pada tanaman muda dan di pembibitan kumbang tanduk menggerek bagian samping pangkal pelepah-pelepah terbawah, langsung mencapai titik tumbuh. Sedangkan untuk tanaman yang lebih tua, kumbang menggerek pangkal pelepah yang lebih muda (bagian atas) kemudian meneruskan gerekan ke arah bawah ke daerah jaringan muda. Akibat gerekan tersebut perkembangan pelepah terganggu dan bentuknya rusak, sehingga mengganggu kegiatan fotosintesis. Serangan yang berulang-ulang dapat menyebabkan kematian tanaman.

2.3.2 Deskripsi

a. Telur
Telur diletakkan secara tunggal oleh kumbang betina, telur berwarna putih lonjong dengan ukuran ± 2 mm.

b. Larva
Larva berbentuk silinder dan berukuran besar 10-12 cm berwarna putih dan mempunyai sepasang rahang (mandibula) yang kuat.

c. Pupa
Pupa dilindungi oleh kokon yang terbuat dari potongan-potongan media makannya, berwarna kuning kecoklatan dan berukuran
3,5 – 5 cm.

d. Kumbang
Oryctes dewasa mempunyai 2 pasang sayap dimana sayap depan keras dan berwarna coklat tua. Kumbang berukuran 3-5 cm, pada bagian ujung kepala kumbang terdapat tanduk (jantan lebih besar dari betina). Kumbang betina pada bagian bawah perut ke arah belakang dilindungi oleh rambut-rambut kasar.

2.3.3. Biologi

Kumbang tanduk betina meletakkan telur pada bahan-bahan organik seperti kayu-kayu melapuk, batang kelapa sawit yang membusuk dan janjangan kosong di lapangan, dengan masa inkubasi telur antara 10 s/d 18 hari (rata-rata 12,5 hari).

Setelah telur menetas, larva terbagi dalam 3 instar, berlangsung selama ± 102 hari (63-180 hari). Pre pupa dilindungi oleh serabut-serabut media tumbuhnya dan berlangsung selama 7,7 hari (6-12 hari), pupa berada pada tempat yang sama 22,4 hari (16-27 hari).

Setelah menjadi kumbang dewasa tetap beristirahat di dalam pelindung tersebut selama 19,7 hari (11-29 hari). Jumlah siklus hidupnya adalah 164,3 hari (106-266 hari) atau 5,5 bulan (3,5 – 8,9 bulan). Stadium kumbang yang merupakan masa makan (merusak), kawin dan peletakan telur, dapat berlangsung selama 6 bulan untuk jantan dan 9 bulan untuk betina.

2.3.4. Permasalahan

Tumbuh dan berkembangnya hama Oryctes serta kerusakan yang ditimbulkannya sangat ditentukan oleh dua faktor penting, yaitu:
a. Ada tidaknya sumber hama
b. Tersedianya media untuk berkembang biak

Hama kumbang tanduk menjadi masalah yang serius apabila kedua faktor tersebut di atas tersedia di lapangan. Berikut adalah contoh permasalahan dan penanganannya.

 Masalah I :

Penanaman areal baru bekas hutan atau replanting dimana tersedia banyak sumber media untuk peletakan telur Oryctes. Apabila di sekitar areal tersebut tidak terdapat sumber inokulum, yaitu Oryctes, maka areal tersebut tidak akan bermasalah dikemudian hari. Akan tetapi apabila areal di sekelilingnya banyak terdapat perkampungan dan banyak pohon kelapa yang terserang Oryctes,

maka kumbang dewasa akan berdatangan ke areal baru untuk meletakkan telur dan berkembang biak. Di kemudian hari areal baru tersebut akan bermasalah dengan Oryctes.

Apabila hal yang kedua tersebut bisa terdeteksi awal, maka penanaman kacangan penutup tanah adalah teknik pengendaliannya. Untuk mendeteksi awal ada tidaknya kumbang Oryctes di areal baru, pemasangan feromon dapat dilakukan.

 Masalah II : Serangan pada tanaman dewasa

Pada tanaman menghasilkan, janjangan kosong banyak digunakan sebagai mulsa. Apabila areal di sekitarnya banyak terdapat sumber inokulum, yaitu Oryctes, maka dikemudian hari hama Oryctes akan bermasalah pada kebun tersebut. Oleh karena itu pembuangan/penumpukan janjangan kosong pada tempat-tempat terbuka seperti tepi-tepi jalan harus dihindari. Demikian juga aplikasi jajangan kosong di gawangan harus dalam satu lapis, sehingga cepat busuk dan atau cepat tertutup oleh gulma-gulma yang ada di sekitarnya.

2.3.5. Sensus

a. Pelaksanaan sensus

Sensus dilakukan apabila terdeteksi adanya serangan Oryctes di lapangan. Petugas sensus harus mengamati setiap pohon adanya bekas serangan baru. Serangan baru ditunjukkan adanya gundukan bekas gerekan berwarna putih dan dijumpai adanya lubang gerekan. Pada saat sensus tersebut apabila dijumpai serangan baru, kumbang harus dicari dan dimatikan.

b. Frekuensi sensus

Frekuensi sensus adalah berdasarkan pada tingkat serangan sebagai berikut:

Tingkat serangan Frekuensi
> 2 pohon/Ha 1 bulan
3-5 pohon/Ha 2 minggu
> 6 pohon/Ha 1 minggu

2.3.6. Pengendalian

Berdasarkan uraian permasalahan di atas, ada dua hal penting yang berkaitan erat satu dengan yang lain, yaitu ada tidaknya sumber inokulum dan tersedianya media perkembangbiakannya. Kedua faktor tersebut dapat digunakan untuk tindakan pengendalian.

a. Pencegahan

Tindakan pencegahan terhadap kemungkinan serangan Oryctes dapat dilakukan dengan merusak media perkembangbiakannya:

 Menanam kacangan penutup tanah sebelum penanaman tanaman baru.
Kacangan yang digunakan sebaiknya yang mempunyai pertumbuhan cepat, sehingga dapat menutupi batang kayu atau batang kelapa sawit secara cepat, seperti: Mucuna bracteata dan M. conchinensis.

 Menghancurkan sumber inokulum
Untuk areal replanting, penghancuran batang kelapa sawit dapat dilakukan dengan menggunakan modifikasi Backhoe, dimana bucket diganti dengan pisau tajam. Tujuan penghancuran adalah memotong batang kelapa sawit menjadi kecil-kecil sehingga akan mempercepat proses pembusukan. Bagian tanaman yang dicincang tersebut disebar, sehingga tidak membentuk lapisan yang tebal.

Biasanya setelah dicincang, kemudian diikuti oleh penanaman kacangan, sehingga dalam waktu dekat dapat tertutup.

 Penyebaran janjangan kosong
Telah diketahui bahwa janjangan kosong digunakan sebagai mulsa, terutama untuk tanah-tanah mineral yang tandus.
Untuk menghindari pemanfaatan janjangan kosong sebagai media perkembangbiakan Oryctes, maka harus dihindari penumpukan janjangan kosong pada tempat-tempat terbuka, seperti di sekitar pabrik, di tepi-tepi jalan utama koleksi, dan lain-lain. Aplikasi janjangan di lapangan harus disebar dalam satu lapis sehingga dapat segera tertutup oleh gulma.

b. Penyembuhan

Tindakan penyembuhan dilakukan apabila serangan sudah terjadi di lapangan, yaitu dengan mengkombinasikan beberapa teknik pengendalian.

 Wingkling (mengutip dan membunuh kumbang)

Cara ini dilakukan dengan memeriksa setiap pohon dan apabila menunjukkan adanya serangan baru, maka kumbang yang sedang berada di dalam harus dikeluarkan dan dibunuh. Untuk mengeluarkan/membunuh kumbang dapat digunakan kawat dengan bagian ujung tajam dan berkait, yaitu untuk mencucuk dan mengait kumbang.

 Rotasi wingkling

Rotasi wingkling adalah berdasarkan tingkat serangan di lapangan:

Tingkat serangan Rotasi
≤ 2 pohon/Ha 1 bulan
3-5 pohon/Ha 2 minggu
> 6 pohon/Ha 1 minggu

 Aplikasi insektisida

Aplikasi insektisida dilakukan apabila dari hasil sensus menunjukkan tingkat serangan > 6 pohon/Ha.

Berikut nama dagang dan bahan aktif beberapa jenis Insektisida beserta teknik dan frrekuensi aplikasinya:

Nama Dagang Bahan Aktif Jumlah pohon Teknik Aplikasi Frekuensi Aplikasi
Insek-tisida Air
Decis 2.5 EC Deltametrin 3.5 ml 100 ml Penyemprotan daun tombak dan pangkal 2 minggu
Matador 2.5 EC L-sihalothrin 3.5 ml 100 ml Penyemprotan daun tombak dan pangkal 2 minggu
Cymbush 50 EC Cypermethrin 10 ml 100 ml Penyemprotan daun tombak dan pangkal 2 minggu
Curater 3 G Carbufuran 15 gr - Ditabur di sekitar pangkal daun tombak 2 minggu
Furadan 3 G Carbufuran 15 gr - Ditabur di sekitar pangkal daun tombak 2 minggu
Marshal 5 G Carbufuran 15 gr - Ditabur di sekitar pangkal daun tombak 1 bulan

 Pheromon
Pheromon atau nama kimianya Etil 4-metil oktanoat yang dihasilkan kumbang jantan untuk menarik kumbang betina telah berhasil disintesis dan tersedia di pasaran. Pheromon tersebut digantungkan pada bagian dalam ember plastik tertutup kapasitas 12-15 liter. Bagian dasar ember dibuat beberapa lubang dengan paku, sehingga air hujan yang tertampung dapat keluar. Tutup atas dibuat lubang bagian tengahnya dengan diameter 5 cm. Tutup dipasang terbalik dan diikat dengan kawat pada bibir ember. Seperempat isi ember ditaburkan serbuk gergaji sebagai tempat tinggal sementara kumbang yang tertangkap. Ember perangkap dipasang pada ketinggian 3-4 meter dengan menggunakan bambu atau penopang kayu yang lain.

Kepadatan Pherotrap

Kepadatan perangkap sangat ditentukan oleh populasi Oryctes di lapangan:

Tingkat serangan Kepadatan Pherotrap

05 – 10 pohon/Ha setiap 10 Ha
10 – 20 pohon/Ha setiap 5 Ha

Pengumpulan kumbang

Pengumpulan kumbang dari pherotrap sebaiknya dilakukan setiap minggu. Seluruh kumbang yang terkumpul kemudian dimatikan/dibakar.

 Pemanfaatan jamur Metarrhizium

Pemanfaatan Metarrhizium anisopliae merupakan jamur entomopatogen terhadap larva Oryctes. Jamur ini dapat dikembangbiakkan di media jagung dan ditaburkan pada media tumbuh Oryctes di lapangan.

Pemanfaatan jamur Metarrhizium ini lebih sesuai apabila terjadi serangan Oryctes dan diketahui secara pasti dimana tempat perkembangbiakannya, seperti di janjangan kosong.
Dosis aplikasi jamur Metarrhizium adalah ± 20 gr/m2 media tumbuh.

2.4. HAMA PENGGEREK TANDAN BUAH SAWIT

2.4.1. Kerusakan

Hama Tirathaba mundella dan Tirathaba rufivena dikenal sebagi hama penggerek tandan buah kelapa sawit. Hama ini juga dapat menyerang kelapa. Stadia dari hama ini yang merugikan adalah dalam bentuk ulat, sedangkan yang diserang adalah bunga dan buah, terutama yang masih muda. Apabila buah muda mendapat serangan dari hama ini maka buah akan terlambat tumbuh.
Selain itu juga dapat menyebabkan kematangan buah yang lebih cepat dari yang semestinya. Apabila bunga mendapat serangan akan mengakibatkan rontok.

Tanda-tanda terjadinya serangan ulat ini dapat dilihat dari terdapatnya gumpalan kotoran ulat bercampur dengan remah-remah sisa-sisa makanan yang terikat dengan air liur ulat, menempel pada buah.

Bila serangan hama cukup berat dapat menyebabkan lubang pada pangkal buah. Untuk serangan yang ringan dapat menyebabkan buah kering berwarna kecoklatan di bagian ujung akibat dari lapisan atas yang dimakan oleh ulat.

2.4.2. Deskripsi

a. Ngengat (imago)
Rentangan sayap dari ngengat hama Tirathaba panjang 25 mm. Sayap berwarna coklat kelabu dengan kilat keperakan dengan bentuk sempit panjang.

b. Ulat (larva)
Panjang tubuhnya mencapai 27 mm pada akhir masa pertumbuhan sebelum berubah menjadi kepompong. Warna tubuh berwarna coklat muda dan kepala coklat tua. Tubuh berbulu panjang mengkilat.

c. Kepompong (pupa)
Stadia pupa berlangsung dalam kepompong yang terbalut kotoran dan sisa-sisa makanannya.

2.4.3. Biologi

Telur hama ini biasanya diletakkan pada tandan bunga betina yang sudah mulai membuka seludangnya, meskipun dapat juga ditemui pada semua tingkat umur tandan buah. Tempat yang menjadi pilihannya adalah daerah yang lembab. Kelembaban dapat disebabkan terlambatnya buka piringan pada tanaman muda ataupun terlambatnya sanitasi dan kastrasi.

Telur akan menetas dalam waktu sekitar 4 hari, stadia ulat berlangsung antara 2 – 3 minggu sedangkan stadia pupa berlangsung sekitar 1,5 minggu. Jadi siklus hidup hama Tirathaba berlangsung kurang lebih 1 bulan. Berikut siklus biologi hama Tirathaba :

Stadia Uraian Waktu (hari)
Telur Diletakkan secara berkelompok 1 – 20 butir pada bunga jantan dan betina 4 – 5
Larva Larva muda berwarna putih kotor. Sedangkan larva dewasa berwarna coklat muda, hingga gelap, dengan panjang 40 mm dan diliputi oleh rambut – rambut panjang, larva terdiri dari 5 instar 16 – 21
Kepompong Kepompong terdapat di dalam tandan, berwarna coklat dan ditutupi oleh benang-benang sutera (kokon) dengan kotoran yang menempel dipermukaannya 9 – 12
Kupu-kupu Pada saat beristirahat sayap tersusun membentuk segitiga, sayap depan terdapat sedikit warna hijau, sayap belakang berwarna coklat muda kekuning-kuningan

2.4.4. Gejala Serangan

Kehadiran Tirathaba pada perkebunan kelapa sawit dapat dideteksi dengan gejala sebagai berikut :

(i) Dicirikan adanya bekas gerekan berbentuk cincin atau alur- alur pada permukaan atas buah.

(ii) Adanya campuran kotoran menutupi permukaan tandan buah.
Serangan Baru : Kotoran berwarna kemerahan (larva aktif)
Serangan Lama : Kotoran berwarna coklat gelap kehitaman (larva tidak aktif/ berkepompong).
Pohon yang dikatagorikan terserang apabila kotoran baru/segar ditemukan pada permukaan dari satu atau lebih tandan per pohon.

2.4.5. Pengendalian

 Tanaman Belum Menghasilkan

Dalam keadaan normal kebijaksanaan kastrasi dan sanitasi yang dilakukan tepat waktu dan konsisten akan berhasil mencegah meningkatnya populasi Tirathaba pada tanaman muda yang akan menjadi tanaman menghasilkan.

Apabila serangan Tirathaba mulai teramati pada saat melakukan rotasi kastrasi, tindakan yang dianjurkan adalah :

(i) Semua bunga/tandan yang dipotong dari semua pohon di daerah terserang harus dikumpulkan dan dikeluarkan dari lapangan tersebut. Lebih baik apabila dihancurkan dengan membakar di tepi jalan.
(ii) Semua bahan yang dipotong (bunga jantan dan betina) yang tertinggal di pinggiran atau gawangan harus disemprot dengan Regent 50 SC dengan dosis yang sudah ditentukan.

(iii) Untuk menekan peningkatan populasi Tirathaba pada tanaman muda, dua rotasi penyemprotan pencegahan
dianjurkan (untuk semua areal yang akan masuk periode menghasilkan).
Rotasi I : Dilakukan 2 – 3 bulan sebelum panen
Rotasi II : Dilakukan 2 – 3 minggu setelah penyemprotan
rotasi I

Penyemprotan hanya dibatasi pada pohon terserang saja yaitu dengan menyemprot secara merata semua bunga dan tandan (termasuk bunga jantan, buah yang tidak terserang dan tandan yang sudah busuk).

Penyemprotan dengan menggunakan Nozel Solid Cone volume rendah dengan insektisida sebagai berikut :

Pestisida Bahan aktif Dosis/ Aplikasi/ liter Air
Regent 50 SC
Rope 25 EC Fipronil
Fipronil 0.5 ml
1.0 ml
* Tambahkan 2.5 ml Teepal/ Lissapol (bahan pembasah) pada setiap liter air.

 Tanaman Menghasilkan

Sensus Hama
Sensus hama Tirathaba mengikuti pedoman teknis pemantauan hama daun, tikus dan Tirathaba.

Penyemprotan Kuratif
Pada tanaman menghasilkan tindakan penyemprotan kuratif harus dilakukan apabila tingkat serangan baru pada tanaman melebihi 5 %.Pestisida dan dosis yang digunakan seperti pada rekomendasi tanaman belum menghasilkan.

Teknik Penyemprotan

(i) Penyemprotan menggunakan alat knapsack sprayer dengan nozel Solid Cone volume rendah
(ii) Pada kondisi normal, yaitu serangan ringan penyemprotan harus dibatasi pada pohon dengan serangan baru. Pohon dengan bekas serangan lama atau pohon sehat tidak disemprot/dihindari
(iii) Pada serangan berat, perlu dilakukan penyemprotan semua pohon untuk daerah terserang saja
(iv) Penyemprotan pada seluruh bunga dan tandan (termasuk bunga jantan dan betina yang tidak terserang) pada pohon terserang.

Waktu dan Frekuensi Penyemprotan

(i) Karena siklus hidup yang pendek, sering terjadi generasi yang tumpang tindih sehingga diperlukan penyemprotan lebih dari satu rotasi (biasanya 2 rotasi)
(ii) Sensus harus segera dilakukan dalam selang waktu 2 minggu setelah penyemprotan rotasi I, dengan tujuan umtuk mengetahui apakah perlu dilakukan penyemprotan berikutnya.
Rotasi penyemprotan kedua hanya dilakukan apabila persentase serangan baru, masih melebihi 5 % untuk setiap hektar.

2.5. HAMA RAYAP

Rayap dari jenis Coptotermes curvignathus merupakan masalah hama yang serius, terutama pada perkebunan kelapa sawit di tanah gambut. Pengolahan lahan sebelum penanaman yang tidak sempurna dan kandungan bahan organik yang tersedia cukup banyak akan menyebabkan rayap berkembang secara cepat.

Pada tanaman muda, rayap akan menyerang mulai dari pangkal pelepah dan naik sampai daun tombak. Serangan rayap dapat terdeteksi dengan adanya alur-alur tanah berwarna hitam basah pada bagian pangkal pelepah sampai daun tombak. Apabila alur-alur tersebut dirusak, maka akan dijumpai rayap yang masih aktif. Selanjutnya rayap akan menyerang jaringan tanaman yang masih muda, yaitu bagian pangkal daun tombak, akibatnya daun muda akan mati. Serangan rayap pada jaringan muda dapat menyebabkan infeksi sekunder oleh jamur/bakteri, sehingga titik tumbuh busuk dan mati.

2.5.1. Potensi Kerusakan

Serangan rayap pada tanaman kelapa sawit dapat terjadi sejak penanaman sampai umur 11 tahun dengan tingkat serangan dapat mencapai 5% atau 7-8 pohon/Ha. Serangan yang tidak dilakukan pengendalian secara dini dapat menyebabkan kematian kelapa sawit. Tanaman muda umumnya lebih peka daripada tanaman tua. Selain dapat menyebabkan kematian pohon, serangan yang tidak dikendalikan dapat menyebar ke pohon-pohon sekelilingnya.

2.5.2. Habitat Rayap

Pada umunya rayap hidup di hutan, terutama di daerah rendahan dan daerah yang mempunyai curah hujan dengan distribusi merata. Sarang-sarang dapat dijumpai pada kayu-kayu mati yang berada di atas atau di bawah permukaan tanah. Sarang-sarang rayap tersebut saling berhubungan satu dengan yang lain hingga mencapai panjang 90 m pada kedalaman 30-60 cm di bawah tanah.

Rayap merupakan serangga sosial dan dalam kelompoknya dibagi kedalam 3 kasta, yaitu:

a. Rayap pekerja
Berwarna putih kekuningan dengan ukuran panjang 5 mm

b. Rayap prajurit
Berukuran lebih besar, yaitu panjang 6-8 mm dan mempunyai mandibula yang kuat. Apabila menggigit akan mengeluarkan cairan putih dari bagian kepala.

c. Rayap ratu
Panjang dapat mencapai 50 mm. Ratu mempunyai tugas untuk reproduksi anggota koloni.

Rayap dapat menyebar dengan perantaraan laron dan terutama terjadi pada awal musim penghujan. Laron tersebut akan berpasangan dan akan membentuk koloni baru di tepat lain.

2.5.3. Identifikasi

Rayap dari jenis Coptotermes curvignathus sangat mudah dibedakan dengan rayap dari jenis lainnya. Pada tanah gambut ataupun tanah mineral banyak dijumpai berbagai jenis rayap yang berasosiasi dengan kelapa sawit, tetapi tidak menyebabkan kerusakan/kematian, sehingga tidak perlu pengendalian.

Berikut beberapa hal yang membedakan rayap C. curvignathus dengan jenis lainnya serta gejala serangannya :

Kriteria C. curvignathus Rayap jenis lain

Status hama

Morfolog Rayap

Habitat

Pengendalian
Merusak jaringan hidup dan menyebabkan kematian kelapa sawit

Pekerja:
Berwarna kekuningan, panjang 5 mm.

Prajurit:
Ukuran 6-8 mm dengan mandibula yang kuat dan akan mengeluarkan cairan warna putih dari bagian kepala saat menggigit.

Hidup dengan membuat alur-alur dari tanah pada pangkal pelepah sampai daun tombak, alur-alur ini terlihat basah apabila rayap masih aktif.

Harus dikendalikan apabila pohon terserang jenis rayap ini.
Tidak berbahaya, hanya merusak melapukkan jaringan yang sudah mati.

Pekerja:
Ukuran lebih kecil dan berwarna coklat kekuningan

Prajurit:
Ukuran kurang dari 6 mm, tidak mengeluarkan cairan putih saat menggigit.

Membuat satu jalur atau lebih dan jalur tersebut terdiri dari bahan-bahan organik yang sudah lapuk. Alur-alur tersebut hanya terdapat pada pangkal pelepah yang sudah tua dan tidak sampai ke daun tombak.Walaupun rayap masih aktif, alur-alur tersebut tetap kering.

Tidak perlu dikendalikan pohon yang terdapat gejala serangan seperti point 3.

2.5.4. Sensus

a. Frekuensi sensus

Frekuensi sensus yang dianjurkan adalah sebagai berikut:

Keadaan areal Jumlah pohon Frekuensi sensus
Terserang/Ha

Bermasalah > 4 setiap bulan
Normal ≤ 4 setiap 3 bulan

c. Prosedur sensus

Untuk mempercepat pekerjaan sensus, petugas deteksi harus terpisah dengan tim aplikasi insektisida. Deteksi harus dilakukan sekurang-kurangnya satu hari sebelum aplikasi.

Setiap rotasi sensus/deteksi, seluruh pohon harus diamati, pekerja deteksi harus berjalan sepanjang pasar pikul, secara teliti memeriksa setiap pohon di kedua barisan pada pasar pikul tersebut.

Pohon yang diaplikasikan terserang rayap harus diberi tanda (x) dengan cat warna kuning pada batang. Pengecatan harus jelas dan ke arah pasar pikul sehingga dengan mudah dapat dilihat oleh tim aplikasi.

Untuk setiap barisan tanaman yang di dalamnya terdapat pohon terserang, pohon pertama pada baris tersebut harus diberi tanda panah (↑). Jumlah pohon terserang dalam barisan tersebut dituliskan di bawah tanda panah (↑). Dengan demikian petugas aplikasi hanya akan mengunjungi baris yang “bertanda” dan tidak setiap baris tanaman di seluruh areal, sehingga akan mempercepat pekerjaan aplikasi dan mengurangi biaya. Barisan yang bertanda juga akan memudahkan manajemen kebun untuk pengecekan.

d. Data sensus

Data hasil sensus diringkas dalam formulir C (lampiran 2)

2.5.5. Perlakuan

1. Rekomendasi insektisida

Berikut beberapa jenis insektisida yang direkomendasikan untuk pengendalian hama :

Nama Dagang Bahan Aktif Dosis Aplikasi
%
Bahan Aktif Formula
(ml/ltr) Cost/ltr larutan
(Rp)
Dursban
20 Ec

Lentrex
400 EC

Termiban 400 EC

Regent
50 EC

Rope 25 EC Chlorpyriphos

Chlorpyriphos

Chlorpyriphos

Fipronil

Fipronil 0.25

0.25

0.25

0.0125

0.0125 12.5

6.25

6.25

2.5

5.0 562.50

531.25

531.25

246.25

250.00

Tidak dapat ditekankan secara berlebihan bahwa untuk mendapatkan pengendalian yang efektif, dosis insektisida harus diaplikasikan mengikuti rekomendasi R&D.

2. Prosedur perlakuan

a. Tanaman berumur 24 bulan (TM 1 ke atas)

 Untuk pohon terserang dan rayap masih aktif, hancurkan seluruh tanah yang merupakan jalur-jalur rayap pada batang dan pangkal pelepah dan lain-lain, dan semprotlah secara merata dengan volume : 1-2 liter insektisida yang dianjurkan.

 Sebagai tambahan, siramkan ke tanah 3 liter larutan insektisida dengan radius 30 cm di sekeliling pangkal batang pohon terserang.

 Untuk tindakan pencegahan, 6 pohon yang berada di sekeliling pohon terserang harus disiramkan 3 liter larutan insektisida yaitu pada tanah di sekeliling pangkal batang dengan radius 30 cm.

 Seluruh pohon yang telah diaplikasikan harus diinspeksi 2 minggu kemudian untuk memastikan efektifitasnya. Aplikasi ulang harus dilakukan apabila tindakan pengendalian sebelumnya tidak/kurang efektif, yaitu ditandai adanya rayap yang masih aktif.

c. Pohon mati

 Seluruh pohon yang telah dipastikan mati oleh rayap harus dibongkar (termasuk pangkal batang) dan diletakkan pada gawangan.

 Apabila pohon yang mati masih dihuni oleh rayap, hancurkan seluruh tanah yang merupakan jalur-jalur rayap pada pangkal batang, pangkal pelepah dan lain-lain, dan semprot secara merata dengan volume 1-2 liter/pohon dengan insektisida yang telah direkomendasikan.

 Apabila lubang bekas galian masih dihuni oleh rayap yang masih aktif, semprot atau siram lubang tanam tersebut secara merata dengan 3 liter larutan insektisida. Penyemprotan/penyiraman tidak diperlukan apabila lubang galian tersebut tidak dijumpai rayap yang aktif.

 Apabila lubang bekas galian akan disisip, seluruh sisipan harus diperlakukan dengan insektisida sebagai tindakan pencegahan serangan selanjutnya (dosis insektisida dapat dilihat pada seksi “sisispan” di bawah).

d. Sisipan

Seluruh sisipan baru pada tanah gambut harus diaplikasi insektisida sebagai tindakan pencegahan serangan rayap:
 Taburkan 25 gr insektisida Marshal 5G di dalam lubang tanam, yaitu pada dasar lubang tanam.

 Setelah bibit ditanam, taburkan tambahan 25 gr Marshal 5G di sekitar pangkal batang bibit.

3. Prosedur pengecatan

Segera setelah pohon terserang telah diaplikasi, tim aplikasi harus menuliskan bulan/tahun aplikasi insektisida tepat di bawah tanda (X) yang telah dicatkan sebelumnya oleh tim deteksi.

Pohon yang berada di sekelilingnya yang telah dilakukan pencegahan sebelumnya harus diberi tanda titik (dot) untuk menunjukkan bahwa perlakuan sudah dilakukan. Akan tetapi, tidak perlu menuliskan tanggal treatment pada pohon pencegahan.Untuk tanaman menghasilkan., pengecatan dilakukan pada batang. Untuk tanaman muda/TBM dimana batang belum ada, pengecatan dapat dilakukan pada pangkal pelepah.

2.6. HAMA ADORETUS DAN APOGONIA

Adoretus dan Apogonia merupakan kumbang yang aktif makan pada malam hari. Pada umumnya kedua kumbang tersebut memakan daun kelapa sawit baik di pembibitan maupun setelah ditanam ke lapangan.

2.6.1. Potensi Kerusakan

Kedua jenis kumbang tersebut tidak menyebabkan kerusakan yang berarti. Kerusakan yang parah di pembibitan menyebabkan tanaman terhambat pertumbuhannya. Kumbang Adoretus biasanya memakan bagian tengah daun dari permukaan bawah dengan meninggalkan tulang-tulang daun. Bekas serangan tersebut yang membedakan dengan bekas serangan Apogonia, dimana kumbang Apogonia menyerang mulai dari tepi.

2.6.2. Deskripsi

 Adoretus spp
Kumbang berwarna coklat dan ditutupi oleh sisik-sisik berwarna keabu-abuan, panjang kumbang dapat mencapai 10-12 mm. Larva hidup pada bagian dari sisa-sisa tumbuhan yang mulai rusak.

 Apogonia spp
Kumbang berukuran lebih kecil, yaitu 8,5-10 mm. Berwarna hitam mengkilat. Larva hidup pada sisa-sisa tanaman yang sedang mengalami pembusukan di permukaan tanah. Dengan perkembangannya larva masuk ke dalam tanah dan memakan perakaran.

2.6.3. Biologi

Siklus perkembangan Adoretus sp dan Apogonia sp berlangsung 3,5 bulan. Telur diletakan beberapa cm di bawah permukaan tanah, satu kumbang betina dapat menghasilkan 60 telur, kemudian setelah menetas larva memakan akar rumput-rumputan dan gulma lainnya di atas permukaan tanah. Kumbang menyerang /memakan tanaman pada malam hari (sekitar pukul 18.00 dan 21.00) sedangkan kalau siang hari bersembunyi dalam tanah.

2.6.4. Pengamatan

Pengamatan rutin untuk memantau hama ini tidak perlu dilaksanakan. Namun bila ada serangan yang telah melampaui tingkat populasi kritis langsung dilaksanakan tindakan pengendalian.

Di pembibitan tingkat populasi kritis bila ditemukan 5 – 10 ekor kumbang Adoretus sp dan Apogonia sp per bibit. Untuk bibit yang telah berumur 14 bulan ke atas serangan kumbang ini dapat diabaikan.

Untuk tanaman di lapangan tingkat populasi kritis adalah 5 – 10 ekor per tanaman untuk kumbang Adoretus sp dan 10 – 20 ekor untuk kumbang Apogonia sp. Namun untuk tanaman yang telah berumur satu tahun ke atas serangan dapat diabaikan.

2.6.5. Pengendalian

Pengendalian dilakukan apabila dijumpai adanya serangan baru di pembibitan. Insektisida yang dapat digunakan untuk pengendalian kedua jenis kumbang tersebut adalah:

Nama Dagang Bahan aktif Dosis Frekuensi

Thiodan 35 EC Endosulfan 1,5 ml/ltr air 1 minggu
Regent 50 SC Fipronil 0,5 ml/ltr air 1 minggu
Dursban 20 EC Chlorphyryphos 2,5 ml/ltr air 1 minggu

Penyemprotan sebaiknya dilakukan pada sore hari setelah penyiraman selesai

2.7. HAMA BABI HUTAN

2.7.1. Kerusakan

Gejala serangan dan kerusakan yang timbul :

a. Terjadi pada tanaman yang baru ditanam sampai umur 2 tahun dan akan mengakibatkan tanaman mati
b. Pada tanaman menghasilkan babi secara berkelompok atau sendiri-sendiri akan memakan buah-buah kelapa sawit yang telah jatuh (memberondol).

2.7.2. Deskripsi

Babi hutan merupakan hama bagi tanaman kelapa sawit muda, sering dijumpai hidup dalam satu kelompok besar. Babi hutan akan merusak tanah sewaktu mencari serangga dan cacing, termasuk bibit juga akan dimakan pula.

Babi memakan umbut tanaman muda dan buah kelapa sawit. Terutama pada areal bukaan baru eks hutan atau areal dekat hutan. Babi hutan mampu mencabut bibit yang baru ditanam dan menimbulkan kerugian yang sangat besar. Pada areal pengembangan di Sumatra, Kalimantan Timur dan Sulawesi sangat tinggi populasinya, pada beberapa lokasi perlu disulam beberapa kali dan peyulaman sampai 40 % atau lebih.

2.7.3. Biologi

Babi hutan akan banyak dijumpai di daerah pengembangan yang berbatasan dengan hutan, semak belukar, hutan sekunder, hutan payau primer dan lain-lain.

Ada dua jenis babi hutan yaitu, Sus scrofa L berwarna hitam, yang hidup secara berkelompok 5 – 50 ekor. Babi jantan hidup menyendiri dan bergabung hanya pada musim kawin dengan betinanya. Mencari makan menjelang pagi sampai jam 07.00 WIB dan menjelang sore sampai jam 21.00 WIB. Hewan ini membuat sarang pada belukar.

Jenis babi hutan yang ke dua adalah Sus barbatus muller atau disebut babi janggut, karena yang jantan memiliki janggut di tengah moncongnya dan memiliki ukuran badan lebih besar dan berwarna abu-abu kemerahan. Hewan ini suka berpindah-pindah dalam kelompok besar pada interval atau periode tertentu.

2.7.4. Pengendalian

Pengendalian dapat dilakukan dengan mengusir, membuat pembatas-pembatas, misalnya dengan membuat pagar individu, pagar kawat berduri, menggunakan seng bekas, kawat ayam atau memagar blok berkeliling. Perburuan dengan anjing, pemakaian umpan racun, pemasangan perangkap dan lain-lain namun masih belum banyak memberi hasil. Upaya yang disebutkan di atas adalah mahal. Menanam bibit yang lebih tua (15 bulan) ternyata dapat mengurangi serangan, karena pangkalnya sudah keras dan berduri.

3. SISTIM PEMANTAUAN HAMA

3.1. Latar Belakang

Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman tahunan dan berpotensi produksi sampai 25 – 30 tahun. Bagian tanaman berupa daun, buah dan batang merupakan bahan makanan/media tumbuh yang sangat baik bagi hama dan penyakit.

Ketersediaan bahan makanan yang melimpah sepanjang waktu dengan kualitas yang baik dan di sisi lain siklus hidup hama yang relatif pendek dapat memacu suatu hama berkembang secara cepat. Perkembangan populasi hama yang relatif cepat tersebut, dapat mengganggu aktifitas tanaman yang berakibat pada penurunan produksi, kehilangan bahan tanam, penambahan biaya untuk sisipan/perawatan, penundaan pemanenan dan tambahan biaya untuk pengendalian.

Semua serangan hama pada areal yang luas, selalu berawal dari areal yang sempit. Kebijaksanaan adalah harus dilakukannya pendektesian dan pengendalian serangan pada areal yang sempit sebelum hama tersebut menyebar.

Untuk mengetahui secara dini status hama dan penyakit di lapangan yang meliputi : jenis hama/penyakit, stadia, distribusi, luas dan status musuh alami, maka diperlukan deteksi secara rutin dan berkesinambungan.

3.2. Sistim Sensus Titik Tetap

Sistim ini meliputi deteksi dan penghitungan pada baris/titik sensus yang dibuat secara permanen/tetap dan tersusun dalam bentuk jaring-jaring pengamatan yang meliputi seluruh kebun dan bermanfaat untuk memantau hama utama kelapa sawit, yaitu : hama daun, contoh ulat api dan ulat kantong, hama Tikus, hama Tirathaba

3.3. Skema

a. Sistim ini terdiri dari pengecatan baris sensus secara permanen pada setiap 10 baris tanaman dan pengecatan permanen titik sensus pada setiap 10 pohon didalam baris sensus tersebut. System ini dikenal sebagai system 10 x 10. Pengecatan permanen berdasarkan pada setiap blok.
b. Baris sensus permanen akan berguna untuk pemantauan hama Tikus dan Tirathaba, sedangkan titik sensus tetap bermanfaat untuk pemantauan hama daun.
c. Setiap Titik Sensus (TS) akan terdiri dari 3 pohon yaitu pohon kesepuluh ditambah 2 pohon disekitarnya, untuk lebih jelasnya dapat dilihat seperti pada Gambar 1 (Lampiran 1).
d. Pengecatan baris sensus dan titik sensus pada seluruh kebun harus mengikuti standar pemberian nomor dan warna sebagai berikut :

 Pada pohon pertama dan terakhir setiap Baris Sensus (BS) harus ditandai/dicat, yang akan menyediakan jalur masuk petugas sensus dari semua arah.

Pengecatan harus dilakukan pada pangkal pelepah yang telah di-pruning rapi dengan cat dasar berwarna “kuning” dan tulisan berwarna “biru”.

Pengecatan nomer baris sensus ditunjukkan sebagai berikut :

Pangkal pelepah Dasar cat warna kuning

Nomor Blok (biru) Nomor baris sensus (biru)

Baris sensus/tanaman berikutnya harus dicat sebagai berikut : A/20, A/30, A/40 dan seterusnya.

 Setiap titik sensus yaitu pada setiap 10 tanaman sepanjang baris sensus harus diberi nomor pada pangkal pelepah yang telah di-pruning rapi. Pemberian nomor adalah sebagai berikut :

Dasar (kuning) Pangkal pelepah
Cat

Nomor Baris sensus Nomor titik sensus
(biru) (biru)

Pengecatan titik sensus berikutnya disepanjang jalur sensus adalah : 10/20, 10/30, 10/40, 10/50 dan seterusnya.

 Untuk pengecatan titik dan baris sensus harus menggunakan cat berkualitas baik, apabila dianggap perlu pengecatan kembali dilakukan setiap tahun.

3.4. Tim Sensus

a. Setiap divisi di kebun harus memiliki petugas sensus sendiri sehingga sensus dapat dijalankan diseluruh divisi secara berkesinambungan.
b. Setiap tim sensus harus terdiri dari dua pekerja dan mampu mencakup areal seluas 40–50 ha/hari atau dalam satu divisi seluas 1000 Ha dapat selesai dalam 3 minggu. Akan tetapi apabila terjadi eksplosi (ledakan)
hama, dimana hasil sensus diperlukan untuk mengambil keputusan tindakan pengendalian, jumlah tim sensus harus ditambah, sehingga sensus dapat diselesaikan dalam 3 – 5 hari.
c. Setiap tim sensus harus dilengkapi dengan galah dan pengait, untuk mengait dan menarik pelepah yang lebih tinggi. Sedangkan untuk tanaman tua (umur ≥ 7 tahun), perlu dilakukan pemotongan pelepah untuk penghitungan hama.
d. Tim sensus harus dilatih untuk mengenali :
 Identifikasi gejala kerusakan oleh hama daun ( ulat api dan ulat kantong), Tikus dan Tirathaba.

 Identifikasi jenis ulat api dan ulat kantong
 Identifikasi berbagai stadia dalam siklus hidup hama, seperti telur, larva, kepompong dan dewasa.
 Terbiasa/mengenal musuh-musuh alami hama.

3.5. Prosedur Penghitungan

a. Deteksi serangan hama daun, Tikus dan Tirathaba harus dilakukan secara berkesinambungan dalam setiap rotasi.
b. Tim sensus harus berjalan di setiap baris sensus. Setiap pohon dalam baris sensus diamati ada tidaknya serangan baru Tikus dan Tirathaba.
c. Tim sensus harus mencatat hasil hitungannya dalam formulir A1 (Lampiran 2).
d. Setelah sampai pada pohon ke 10 (titik sensus bercat), tim sensus harus menghitung hama daun. Setiap titik terdiri dari 3 pohon, yaitu pohon ke 10 dan 1 pohon di kanan dan di kirinya. Setiap pohon hanya diambil 1 pelepah untuk pengamatan. Untuk memilih pelepah pengamatan, dipilih pelepah dengan populasi paling tinggi. Apabila tidak ada, maka dipilih pelepah pada No. 9 – 45.
e. Dalam melakukan penghitungan ulat api/ulat kantong, tim sensus harus memisahkan tingkat stadia hama dan tingkat pengendalian musuh alami, sebagai berikut :

Ulat Api Ulat Kantong
1. Telur
2. Larva Instar muda (I-IV)
3. Larva Instar dewasa (V-VIII)
4. Kepompong 1. Larva
2. Kepompong

f. Dalam menghitung ulat kantong, perlu dilakukan penekanan kantong untuk mengetahui apakah larva masih hidup atau kantong sudah kosong, sebab kantong yang sudah kosong sering masih melekat pada daun. Tim sensus hanya menghitung ulat yang masih hidup.

g. Untuk kasus serangan berat dan meliputi areal yang luas dan supaya pekerjaan sensus cepat selesai, sistim menghitung berikut diajukan :
 Kurang dari 20 larva/pelepah : Dihitung langsung
 Antara 20 – 50 larva/pelepah : Diperkirakan dan dicatat T (tinggi)
dalam formulir sensus.
 Lebih dari 50 larva/pelepah : Diperkirakan dan dicatat ST (sangat
Tinggi) dalam formulir sensus
h. Tim sensus di lapangan mencatat hasil sensusnya kedalam formulir B1 (Lampiran 4).
i. Management kebun harus melakukan spot check secara teratur untuk memastikan akurasinya.
j. Setelah setiap rotasi sensus selesai, Management kebun harus meringkas dan memindahkan data dari formulir A1 ke A2 dan dari formulir B1 ke B2

3.6. Frekuensi Sensus

Sensus hama dan penyakit yang dianjurkan dalam edaran ini adalah wajib dijalankan dan harus dilakukan terlepas dari hal apakah kebun ada masalah hama atau tidak. Frekuensi sensus yang dianjurkan adalah :
a. Situasi normal,frekuensi sensus setiap bulan
b. Situasi terjadi serangan, pada areal terserang frekuensi sensus setiap 2 minggu sampai kondisi normal kembali

4. PENYAKIT TANAMAN KELAPA SAWIT

Penyakit penting dalam perkebunan kelapa sawit dapat digolongkan menjadi:
a. Penyakit di pembibitan
b. Penyakit crown disease
c. Penyakit busuk pangkal (Ganoderma)
d. Penyakit busuk tandan buah ( Marasmius)
e. Penyakit busuk pucuk (spear rot)

Adapun gejala penyakit, penyebab penyakit dan teknik pengendaliannya diuraikan sebagai berikut:

4.1. Penyakit di Pembibitan

Penyakit-penyakit penting pada pembibitan kelapa sawit adalah penyakit yang menyerang daun. Manajemen pembibitan yang baik pada umumnya telah mampu menekan penyakit itu sendiri, seperti pemilihan tanah top soil yang baik, pemupukan yang tepat waktu dan dosis, penyiraman yang cukup, pengendalian gulma dan jarak tanam yang sesuai dengan umur tanaman.

Seperti diketahui, masa pembibitan hanya berlangsung antara 10-18 bulan, yaitu waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan masa produksi kelapa sawit yang relatif panjang, yaitu 25-30 tahun. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka perawatan di pembibitan harus mendapat perhatian yang serius.

Adapun penyakit-penyakit penting di pembibitan adalah sebagai berikut:

a. Penyakit Anthracnose (Early Leaf Disease)

Penyakit ini menyerang pada tanaman yang relatif muda di pre nursery yang disebabkan oleh sekurang-kurangnya 3 jenis jamur yaitu Botryodiplodia, Glomerella dan Melanoconium.

 Gejala penyakit

Botryodiplodia dan Melanconium, pada awalnya kedua jenis penyakit ini menyerang ujung-ujung anak daun dengan gejala awal bintik kecil berwarna terang dan akan lebih jelas apabila

diterawangkan sinar matahari. Bintik tersebut berubah warna menjadi coklat gelap dan melebar dan dikelilingi warna kekuningan. Serangan melebar sampai seluruh pucuk daun berubah warna menjadi coklat.

Glomerella, gejala awalnya berbeda dengan kedua penyakit terdahulu. Mula-mula terdapat perubahan warna di antara tulang-tulang daun dari hijau menjadi bintik kuning kecoklatan. Bintik tersebut melebar dan memanjang sejajar dengan tulang daun. Warna berubah menjadi coklat/hitam gelap dan dikelilingi warna kuning pucat. Jaringan tengah menjadi mati dan hancur.

 Penyebab penyakit

Penyebab penyakit Anthracnose adalah jamur dari jenis B. palmarum dan B. theobromae, Melanconium elaeidis dan Glomerella cingulata.

 Pencegahan

Tindakan pencegahan adalah yang sangat penting di pembibitan, yaitu dengan cara:

a. Mengurangi penyiraman berlebihan
b. Memperkecil butiran penyiraman
c. Pengaturan jarak tanam

 Penyemprotan

Apabila ada bibit yang mati harus dikeluarkan dari pembibitan. Penyemprotan dapat dilakukan dengan menggunakan fungsida sebagai berikut:

Nama Dagang Bahan aktif Konsentrasi Frekuensi
(FP)*

Benlate Benomil 2.0 gr/ltr air 1 minggu
Dithane M-45 80 WP Mankozeb 2.0 gr/ltr air 1 minggu
Derosal 60 WP Karbendazim 2.0 gr/ltr air 1 minggu

* FP : Formulasi Produk

b. Penyakit Bintik Daun (leaf spot disease)

Penyakit ini menyerang bibit pada umur kurang lebih beberapa bulan setelah pindah tanam ke main nursery. Kelompok penyakit yang menyebabkan gejala tersebut di atas adalah Curvularia.

 Gejala penyakit

Curvularia, pertama kali menyerang daun yang belum membuka atau dua daun di bawahnya yang baru membuka. Gejala awal ditunjukkan oleh bulatan kecil yang tembus pandang berwarna kuning dan dapat dilihat dari permukaan daun atas dan bawah. Bintik tersebut melebar dan berubah warna menjadi coklat cerah. Luka tersebut berubah bentuk dari bulat ke lonjong, dengan ukuran tidak lebih dari 7-8 mm.

 Penyebab penyakit

Penyebab penyakit LSD adalah jamur dari jenis Curvularia eragrotidis dan C. fallax.

 Pengendalian

Seperti diketahui, daun yang lebih muda lebih peka terhadap serangan dan menyebabkan pertumbuhan terhambat, maka supervisi di pembibitan harus lebih hati-hati.

Bibit-bibit yang terserang berat harus dikeluarkan dari pembibitan dan dihancurkan. Fungisida, dosis dan rotasi aplikasi diuraikan di bawah ini:

Nama Dagang Bahan aktif Konsentrasi Frekuensi
(FP)*

Benlate Benomil 2.0 gr/ltr air 1 minggu
Dithane M-45 80 WP Mankozeb 2.0 gr/ltr air 1 minggu

*FP : Formulasi Produk

c. Penyakit Corcospora

Di beberapa negara, penyakit di pembibitan yang disebabkan oleh Corcospora adalah sangat penting. Penyakit Corcospora terutama menyerang di main nursery yang sudah dewasa > 7 tahun, walaupun sudah terdeteksi sejak di pre nursery.

 Gejala penyakit

Menyerang pada daun termuda yang telah membuka penuh, dengan ditandai oleh bintik coklat kecil. Kemudian melebar dan agak cekung berwarna coklat gelap.

 Penyebab penyakit

Penyebab penyakit Corcospora adalah jamur dari species C. elaeidis.

 Pengendalian

Manajemen pembibitan yang baik biasanya telah mampu menekan serangan penyakit ini. Apabila terjadi serangan, tindakan yang segera dilakukan adalah memperbaiki/meningkatkan teknik pembibitan.

Bibit yang tidak tumbuh dengan baik sebaiknya dikeluarkan dan dimusnahkan.

 Penyemprotan

Penyemprotan fungisida apabila terjadi serangan adalah sebagai berikut:

Nama Dagang Bahan aktif Konsentrasi Frekuensi
(FP)*

Benlate Benomil 2.0 gr/ltr air 1 minggu
Derosal 60 WP Karbendazim 2.0 gr/ltr air 1 minggu

*FP : Formulasi Produk

d. Penyakit Busuk Daun (Corticium)

Penyakit busuk daun dapat menyerang di pembibitan pre nursery maupun di main nursery.

 Gejala penyakit
Gejala serangan sangat bervariasi, bergantung pada umur daun dan waktu mulai menyerang. Pada mulanya menyerang daun yang paling muda, terutama daun yang belum membuka. Serangan pada anak daun yang belum pecah (pinnating) gejala awal ditunjukkan adanya luka pada pangkal pucuk (daun tombak). Mula-mula berwarna hijau pudar yang dikelilingi warna kecoklatan. Luka tersebut melebar menjadi coklat gelap dan mengering. Luka tersebut menjadi jelas setelah daun tombak membuka.

 Penyebab penyakit
Penyebab penyakit adalah dari jamur species Corticium salani (Thanatephorus cucumeris)

 Pengendalian
Semua bibit yang terserang berat hama dikeluarkan dari pembibitan dan dihancurkan. Apabila serangan ringan dan terbatas pada bagian pucuk/tepi daun dapat digunting dan daun yang terinfeksi dibuang.

 Pencegahan

Perlakuan fungisida dapat dilakukan untuk pencegahan penyebaran

Nama Dagang Bahan akti Konsentrasi Frekuensi
(FP)*

Benlate Benomil 2.0 gr/ltr air 1 minggu
Dithane M-45 80 WP Mankozeb 2.0 gr/ltr air 1 minggu

*FP : Formulasi Produk

4.2. Penyakit Crown Disease (C.D)

Crown disease biasanya muncul pada tanaman berumur 2-3 tahun setelah penanaman di lapangan. Gejala tersebut berlangsung 1-2 tahun dan kadang setelah tanaman dewasa dapat sembuh.

Penyakit ini jarang menimbulkan kematian tanaman, akan tetapi menghambat pertumbuhan dan menurunkan produksi.

 Gejala Penyakit
Gejala awal hanya dapat dilihat apabila jaringan tanaman pelepah yang belum membuka yang kelihatannya sehat dipisahkan, jaringan yang terserang menunjukkan warna coklat kemerahan. Luka tersebut meluas sampai beberapa anak daun rusak. Pada saat daun tombak membuka, menunjukkan pelepah yang membengkok pada bagian terserang. Pada saat tersebut pembusukan jaringan sudah berhenti, akan tetapi pembengkokan pelepah tetap bertahan.

 Penyebab Penyakit
Secara tepat belum diketahui penyebab penyakitnya. Kepekaan beberapa persilangan (progeny) terhadap penyakit CD dikendalikan oleh gen.
Dalam program pengawinsilangan induk betina/jantan yang menunjukkan gejala CD tidak digunakan.
Pemberian pupuk N yang berlebihan juga dapat memperparah gejala penyakit.

 Pengendalian
Pengendalian terbaik adalah mengeluarkan bahan induk yang menunjukkan indikasi CD dari program pemuliaan. Menghindari pemberian pupuk N pada pohon yang menunjukkan gejala CD.

4.3. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Ganoderma)

Penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan jamur ganoderma telah dikenal menyerang kelapa sawit sejak tahun 1928. penyakit ini menyebabkan kematian tanaman sehingga kepadatan pohon/Ha berkurang dan penurunan produksi.

 Kerusakan

Pada umumnya penyakit busuk pangkal batang (BPB) menyerang tanaman berumur lebih dari 10 tahun, akan tetapi kadang-kadang menyerang tanaman yang lebih muda kurang dari 5 tahun.

Pada keadaan tertentu serangan penyakit BPB dapat menyebabkan kematian lebih dari 80% tanaman kelapa sawit yang ditanam bekas kelapa dan dapat menurunkan produksi sampai 50%. Penurunan produksi disebabkan karena menurunnya jumlah pohon/Ha dan berkurangnya jumlah dan berat tandan .
Pada saat serangan rendah, dampak secara ekonomis belum dapat dilihat, hal ini disebabkan karena adanya “kompensasi hasil” pada tanaman di sekitar pohon mati sebagai akibat berkurangnya kompetisi sinar matahari, kelembaban dan zat-zat makanan.

 Gejala serangan

Gejala BPB mula-mula menyerang akar, kemudian ke pangkal batang. Kerusakan pada pangkal batang yaitu ditunjukkan adanya pembusukan. Akibat kerusakan tersebut menyebabkan gangguan transportasi air dan zat makanan dari tanah ke bagian tajuk tanaman.

Gejala dari luar yang dapat dilihat pada tajuk tanaman adalah ditunjukkan perubahan warna daun menjadi pucat karena kurang air dan zat makanan. Gejala tersebut ditunjukkan apabila separuh dari jaringan pangkal batang sudah terinfeksi jamur.

Gejala lain yang dapat dilihat pada tajuk tanaman adalah munculnya banyak daun muda yang tidak membuka (lebih dari 3). Akan tetapi gejala ini juga dapat muncul pada tanaman yang mengalami kekeringan panjang, tanaman yang tumbuh pada tanah yang sangat asam atau areal yang tergenang oleh air laut. Gejala selanjutnya pelepah menggantung dan mati.

Gejala terakhir yang dapat dilihat pada pangkal batang adalah munculnya badan buah. Badan buah mula-mula berukuran kecil dan berwarna putih dan lambat laun membesar dan melebar dengan warna permukaan atas coklat kemerahan dan permukaan bawah putih keabu-abuan.

 Penyebab penyakit
Penyakit busuk pangkal batang atau lebih dikenal Basal Stem Rot disebabkan oleh jamur Ganoderma. Dari identifikasi beberapa spesies ganoderma telah ditemukan yaitu G. boninense, G. pseudoferreum, G. applanatum, G. chalceum, G. miniatocinctum dan G. tornatum.

 Pengendalian
Sekali tanaman menunjukkan gejala serangan pada daun, tidak ada harapan untuk mempertahankan tanaman tersebut. Dengan mempertimbangkan hal tersebut, maka pengendalian penyakit dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

a. Pengendalian sebelum tanam
Teknik pengendalian ini dilakukan dengan membersihkan sumber penyakit yang ada, terutama apabila areal penanaman baru tersebut berasal dari bekas tanaman kelapa sawit.
Pembersihan sumber infeksi dapat dilakukan dengan:
(i) Membongkar seluruh tanaman yang ada.
Kemudian seluruh jaringan tanaman dihancurkan, termasuk masa akan di dalam tanah sehingga proses pembusukan lebih cepat.
(ii) Pengolahan tanah
Dapat dilakukan dengan membajak sehingga sisa-sisa penyakit dalam tanah dapat mati.

(iii) Penanaman kacangan
Dengan harapan penutupan tanah dapat meningkatkan kelembaban tanah sehingga memacu proses pembusukan dan meningkatnya mikroorganisme antagonis.

b. Pengendalian setelah tanam

(i) Pohon terserang
Dikatakan sebagai pohon terserang apabila menunjukkan gejala:

 Lebih dari 3 daun muda tidak membuka
 Beberpa pelepah daun menggantung
 Dijumpai badan buah pangkal batang.

Apabila pohon belum menunjukkan ketiga hal tersebut belum dipastikan terserang.

(ii) Sensus Pohon
Sensus dilakukan dengan mengamati setiap pohon di lapangan ada tidaknya ketiga gejala tersebut, dengan frekuensi sebagai berikut:

Kriteria Frekuensi
Sudah dijumpai di kebun yang bersangkutan setiap tahun
1-3 pohon/Ha setiap 6 bulan
> 3 pohon/Ha setiap 4 bulan

(iii) Pengecatan pohon terserang

Untuk memudahkan pencarian pohon terserang bagi pekerja/tim bongkar pokok, maka pengecatan pohon terserang harus dilakukan sebagai berikut:

 Pohon terserang harus diberi tanda cat (X)
 Warna merah pada ketinggian 1,5 meter. Pengecatan ke arah pasar rintis/pasar pikul.

 Pohon di tepi jalan yang di dalamnya terdapat pohon terserang Ganoderma dituliskan tanda GD (Ganoderma), nomor jalur pohon dan nomor pohon dalam jalur tersebut. Sebagai contoh G.D 10/5, berarti pada jalur pohon 10 dan pohon kelima dalam jalur tersebut terdapat pohon terserang Ganoderma. Apabila dalam jalur yang sama terdapat beberapa pohon terserang, maka nomor pohon dapat dituliskan di bawahnya.
 Apabila pohon terserang sudah dibongkar maka tanda di tepi jalan tersebut harus dihapuskan.

(iv) Peracunan pohon

Pohon yang telah diberi tanda terserang ganoderma dan akan dibongkar harus terlebih dahulu diaplikasikan herbisida untuk membunuh pohon.

Aplikasi herbisida menggunakan chainsaw pada ketinggian ± 1 meter dari tanah. Pilihlah bagian batang yang masih sehat/belum terdapat badan buah.
Adapun jenis herbisida dan dosisnya adalah sebagai berikut:

Nama Dagang Bahan aktif Dosis/pohon
Umur tanaman
15 tahun

Round up Glyphosate 50 ml 100 ml
Kleen up
Eagle
Smart

Touchdown Sulfosate 50 ml 100 ml

(v) Pembongkaran pohon
Setelah 3-4 minggu dari peracunan pohon, pada umumnya seluruh pelepah sudah mengering, sehingga pembongkaran pohon dapat segera dilakukan:

 Pohon ditumbang dan seluruh pelepah yang kering dicincang
 Bekas pelepah batang harus dikorek dengan ukuran 100x100x100 cm3.
 Akar-akar bekas pembongkaran diletakkan/dikumpulkan di tempat terbuka sehingga cepat kering.

4.4. Penyakit Busuk Tandan Buah (BTB)

Penyakit BTB pada umumnya menyerang tanaman berumur 3 sampai 9 tahun. Serangan terjadi karena pada umur tersebut jumlah tandan yang berbentuk cukup tinggi dan penyerbukan tidak sempurna. Pendapat lain juga menyatakan munculnya penyakit karena musim hujan yang panjang dengan kelembaban yang tinggi. Selain itu juga dapat disebabkan pada areal dengan kerapatan tanaman yang tinggi.

 Kerusakan
Pada awalnya jamur Marasmius hanya menyerang tandan-tandan buah yang busuk karena penyerbukan yang tidak sempurna dan buah-buah tersebut tidak dipanen. Karena kondisi lingkungan sesuai, penyakit menyebar ke tandan-tandan muda di atasnya. Miselium masuk ke dalam mesokarp dan akan menyebabkan busuk basah dengan warna mesokarp menjadi coklat cerah dan berbeda jelas dengan jaringan yang masih sehat. Pembusukan dapat meningkatkan asam lemak bebas. Apabila tandan buah terserang tidak dipanen, marasmius akan menyebar dan menginfeksi seluruh tandan buah.

 Gejala serangan

Pada saat serangan awal, miselium berwarna putih dapat dilihat pada permukaan tandan. Perkembangan miselium semakin cepat terutama pada
bagian tandan yang berhimpitan dengan pangkal pelepah karena kelembaban yang tinggi. Hal ini dapat dilihat jelas apabila pelepah tersebut dipotong.
Benang-benang miselium atau badan buah pada umumnya mudah dilihat pada pangkal pelepah, yang menunjukkan adanya serangan marasmius pada pohon yang bersangkutan. Badan buah berbentuk payung kipas dapat dilihat pada tandan buah yang terinfeksi dan tidak dipanen.

 Penyebab penyakit

Penyakit busuk tandan buah disebabkan oleh jamur Marasmius palmivorus. Pada umumnya penyakit BTB bersifat saprofit dan karena kondisi tertentu sifat tersebut berubah menjadi penyakit.

 Pengendalian

Seperti disampaikan di atas bahwa Marasmius pada awalnya bersifat Saprofit. Tindakan pengendalian yang tepat adalah sanitasi yaitu dengan melakukan tindakan sebagai berikut:
(i) Memotong seluruh buah-buah busuk
(ii) Tandan buah, bunga jantan yang terinfeksi dipotong
(iii) Mengumpulkan seluruh tandan/bunga pada point (i) dan (ii) di piringan agar cepat kering.

4.5. Penyakit Busuk Pucuk (spear/bud rot)

Penyakit busuk pucuk (BP) terutama terjadi pada tanaman muda di lapangan sampai umur 5 tahun.

 Kerusakan
Akibat serangan penyakit BP dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman kerdil bahkan mati. Kerusakan pada daun pucuk/daun tombak dapat turun ke pangkal pelepah daun dan menuju titik tumbuh. Kerusakan pada titik tumbuh akibat kontaminasi dengan jamur dan bakteri dapat menyebabkan pembusukan dan kematian tanaman.

 Gejala serangan
Gejala awal adalah ditunjukkan adanya pembusukan pada pangkal daun tombak, saat tersebut daun tombak dengan mudah dapat dicabut. Pada stadium tersebut, jaringan yang terserang menunjukkan gejala busuk basah dan berwarna coklat gelap.

Daun tombak akan jatuh dan menggantung diantara pelepah yang sehat. Pembusukan menyebar ke jaringan titik tumbuh dan mengeluarkan bau busuk yang kuat. Apabila pembusukan berhenti maka pertumbuhan daun pucuk yang baru tidak normal dengan pelepah dan anak-anak daun yang sangat pendek.

 Penyebab penyakit

Penyebab utama penyakit adalah serangga yang menyerang daun tombak seperti Oryctes. Infeksi serangga tersebut diikuti oleh beberapa jenis jamur atau bakteri pembusuk.

Hasil isolasi dari bagian tanaman yang terinfeksi dijumpai beberapa jenis jamur seperti Botryodiplodia, Phomopsis dan Phytopthora dan dari bakteri pseudomonas, Erwinia spp.

 Pengendalian
Apabila pohon telah menunjukkan gejala daun tombak mati, maka tindakan yang diambil adalah:
(i) Mencabut daun tombak yang mati
(ii) Menyiramkan larutan fungisida, insektisida dan bakterisida pada bekas pangkal daun tombak.
(iii) Campuran fungisida, insektisida dan bakterisida yang digunakan adalah sebagai berikut:

Nama dagang Bahan aktif Dosis/liter air

Bakterisida Streptomycin 2.0 gram
Benlate Benomil 2.0 gram
Regent Fipronil 2.5 ml

5. PENYAKIT – PENYAKIT LAINNYA

5.1. PENYAKIT BLAS (BLAST DESEASE)

5.1.1. Kerusakan

Di Indonesia dan Malaysia arti ekonomi dari penyakit blas makin meningkat sehubungan dengan dipakainya polybag dalam pembibitan. Penyakit ini menimbulkan banyak kerugian di Afrika Barat.

5.1.2. Gejala Serangan

Daun bibit menjadi buram, tidak mengkilat seperti biasanya, sedikit lemas, warnanya berubah dari hijau agak kecoklatan menjadi kuning cerah, dengan bercak-bercak jaringan mati (nekrotik) yang berwarna keunguan. Sedikit demi sedikit daun menjadi coklat dan rapuh, seperti habis terjilat api (blasted by fire).

Gejala mulai tampak pada daun tua, meskipun kadang-kadang pada waktu bersamaan pupus juga membusuk.

Gejala utama terdapat pada akar. Akar sakit terasa lunak jika dipegang. Kalau dibelah akan kelihatan bahwa jaringan antar berkas pembuluh pusat dan hipodermis akar hancur, sehingga stele berada lepas di dalam tabung hipodermis. Jika bibit dicabut, sisa hipodermis tertinggal dalam tanah.

5.1.3. Penyebab Penyakit

Blas disebabkan oleh gabungan dua macam jamur yang umum terdapat dalam tanah, yaitu Pythium dan Rhizoctonia. Species dari jamur-jamur yang terdapat di pembibitan kelapa sawit di Indonesia belum diketahui dengan pasti.

Pythium mengadakan infeksi melalui ujung-ujung akar. Rizoctonia jaringan yang utuh, masuk melalui ujung akar yang sudah diinfeksi oleh Pythium, lalu menghancurkan jaringan kulit akar.

Umur bibit mempengaruhi ketahanan terhadap penyakit blas. Pada umumnya bibit mempunyai ketahanan yang rendah pada umur 6 – 8 bulan. Bibit yang kekurangan unsur hara akan lebih rentan terhadap penyakit ini. Penyakit blas sering timbul di lapangan pada bibit yang dipindah selama masa kering.

5.1.4. Pengendalian

Pada dasarnya harus diupayakan agar tanah dalam polybag di pembibitan tidak menjadi kering dan panas. Pembibitan dibuat di tempat yang memiliki air yang cukup. Bibit disiram dengan irigasi curah, yang airnya dapat mencapai seluruh bibit. Penyiraman yang cukup, akan menghindarkan kekeringan dan meningkatnya suhu tanah.

Mengusahakan agar bibit di pembibitan tumbuh dengan baik, agar lebih tahan terhadap penyakit blas. Jika memungkinkan, diusahakan saat musim kering tiba bibit sudah melewati masa rentannya (6 – 8 bulan). Jangan memindahkan bibit ke lapang jika keadaan sangat kering, kecuali terdapat cukup air untuk menyiramnya.

5.2. PENYAKIT TAJUK (CROWN DESEASE)

5.2.1. Kerusakan

Penyakit tajuk sering dijumpai di kebun yang belum menghasilkan dan merupakan penyakit paling menyolok. Pada umumnya penyakit hanya terdapat di kebun yang berumur 1 – 3 tahun setelah penanaman di lapangan. Sesudah itu penyakit sembuh dengan sendirinya dan bekas tanaman sakit berkembang seperti tanaman biasa. Meskipun demikian tanaman agak terlambat pertumbuhannya jika dibanding dengan tanaman yang tumbuh normal.

5.2.2. Gejala Serangan

Tanaman muda yang sakit mempunyai banyak daun yang membengkok ke bawah dan di tengah pelepahnya. Pada bengkokan ini tidak terdapat anak daun, anak daunnya kecil atau robek-robek. Gejala ini mulai nampak pada janur. Anak-anak daun yang masih melipat tampak busuk pada sudut dan tengahnya.

Untuk sementara tanaman terhambat pertumbuhannya, tetapi kelak akan sembuh dengan sendirinya. Meskipun demikian terkadang tanaman yang sudah sembuh menjadi sakit kembali, yang nantinya akan sembuh lagi untuk seterusnya.

5.2.3. Penyebab Penyakit

Penyakit ini sudah mulai diteliti mulai 70 tahun yang lalu, namun hingga kini belum diketahui penyebabnya. Dari jaringan yang busuk dapat dipisahkan bermacam-macam jamur, khususnya Fusarium oxysporum Schl. Dan F. solani (Mart) Sacc, namun ketika diinfeksikan ke tanaman yang sehat ternyata penyakit tajuk tidak menular.

Dari penelitian Dokersloot dan de Berchoux dan Gascon, disimpulkan bahwa kerentanan terhadap penyakit tajuk terutama diturunkan oleh bahan tanaman asal Deli, meskipun bahan tanaman asal Afrika tidak sama sekali bebas dari penyakit. Kerentanan ditentukan oleh satu gen resesif. Meski demikian masalahnya menjadi sulit karena gen inhibitor yang mempersulit upaya untuk mengetahui adanya gen rentan pada suatu keturunan.

5.2.4. Pengendalian

Akibat belum diketahuinya dengan pasti penyebab penyakit tajuk, pada umumnya cenderung untuk membiarkan penyakit tersebut sembuh dengan sendirinya. Untuk mengurangi penyakit tajuk, ada yang berpendapat agar bahan tanaman asal Deli sebaiknya tidak digunakan.

Sehubungan adanya jamur pada bagian yang membusuk pada tanaman yang sakit tajuk, maka pengendaliannya dapat digunakan fungisida. Namun hal ini masih diragukan bahwa jamurlah penyebab. Sebelum diobati, janur dipotong sedalam mungkin (sedekat dengan titik tumbuh). Bagian yang terbuka disemprot dengan fungisida sampai basah benar.

Pada pemotongan tadi hanya janur yang belum membuka yang dibuang. Daun-daun sakit yang lebih tua tidak perlu dipotong, karena perkembangan jamur akan terhenti jika janur membuka. Bahkan pemotongan ini menyebabkan tanaman muda yang sakit akan kehilangan banyak jaringan yang dapat mengadakan asimilasi yang sangat diperlukan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.