Pemupukan Kelapa Sawit

1. PENDAHULUAN

1.1. SASARAN PEMUPUKAN

Untuk pertumbuhan tanaman yang sehat dan berproduksi tinggi, tanaman kelapa sawit membutuhkan unsur hara yang seimbang dan cukup tersedia di dalam tanah. Mempertahankan kesuburan tanah pada tingkat yang memuaskan dan pada waktu yang sama juga menghasilkan tanaman yang menguntungkan baik dari segi kejaguran maupun produksinya adalah merupakan sasaran utama pemupukan.

Biaya pemupukan tanaman kelapa sawit berkisar antara 40-60 % dari biaya pemeliharaan tanaman secara keseluruhan atau 15-20 % dari biaya produksi dan merupakan eksploitasi yang besar bagi perusahaan. Agar sasaran pemupukan dapat tercapai dan efisiensi pemupukan dapat ditingkatkan maka manajemen pemupukan kelapa sawit perlu dibina dan dimantapkan serta terus menerus disempurnakan sehingga biaya pemupukan yang sudah begitu besar tidak menjadi sia-sia.

1.2. STRATEGI DAN KEBIJAKAN PEMUPUKAN

A. Rencana Kerja

Rencana kerja yang terarah dan pelaksanaan pemupukan sesuai rekomendasi serta pengawasan yang baik merupakan faktor utama bagi tercapainya efektivitas dan efisiensi maksimal.

Dari rekomendasi pemupukan, dibuatkan daftar keperluan pupuk menurut jenis pupuk, LSU/Blok/Afdeling/Rayon dan waktu pemupukan. Disesuaikan dengan kepentingan proses pengadaan pupuk oleh bagian pembelian, maka daftar dimaksud disajikan pula menurut keperluan bulanan, triwulan, semester dan setahun.

Administrasi pemupukan yang rapi dan akurat perlu diperhatikan supaya kemajuan kerja dapat dimonitor dengan baik. Untuk itu, perlu dibuat peta blok pemupukan. Hasil pemupukan yang baik dan sempurna hanya dapat tercapai dengan organisasi dan administrasi pemupukan yang dilaksanakan dengan baik dan sempurna.

Jadwal pemupukan perlu diatur sebaik-baiknya untuk menghindari keterlambatan pelaksanaan sehubungan dengan musim.

Jumlah persediaan pupuk di dalam gudang kebun harus mencukupi. Persyaratan gudang harus cukup baik, terhindar dari pengaruh hujan, pencurian dan beralaskan kayu. Arus pengaturan masuk dan keluar pupuk harus didasarkan atas asas FIFO (First In First Out).

B. Rekomendasi Pemupukan

Tujuan pemupukan menurut masa pertumbuhan kelapa sawit adalah :

Pemupukan pada masa pembibitan dan TBM adalah untuk membangun kerangka vegetatif tanaman yang kokoh dan jagur serta menunjang sasaran produksi pada masa TM.

Pemupukan pada masa TM adalah untuk mencapai status hara tanah dan tanaman yang optimal untuk mencapai produktivitas yang optimal sekaligus mempertahankan status hara tanah dan tanaman secara berkesinambungan.

Faktor-faktor yang digunakan sebagai dasar dalam penentuan rekomendasi pemupukan adalah :

Penilaian hasil analisa daun
Penilaian keadaan dan analisa tanah
Penilaian pertumbuhan tanaman dan lingkungan
Keadaan produksi tandan per pokok dan potensinya
Penilaian pelaksanaan pemupukan sebelumnya.

2. MANFAAT PUPUK BAGI TANAMAN

Manfaat pupuk bagi tanaman adalah menyediakan unsur hara yang kurang atau tidak tersedia di tanah untuk mendukung pertumbuhan tanaman. Secara terinci manfaat pupuk dapat dibagi dalam dua macam :

2.1. MANFAAT PUPUK TERHADAP SIFAT FISIKA TANAH

Manfaat utama dari pemberian pupuk kedalam tanah yang berkaitan dengan sifat-sifat fisika tanah yaitu :

Memperbaiki struktur tanah dari padat menjadi gembur. Kondisi gembur akan menyediakan ruang pada tanah untuk udara dan air. Udara dalam tanah diperlukan untuk mendukung pertumbuhan bakteri aerob yang berada di akar, sedangkan air di dalam tanah menjadi persediaan bagi tanaman.

Memudahkan dalam pengolahan tanah sehingga akan mengurangi biaya pengolahan.

Mengikat butiran-butiran tanah yang lepas (pada tanah pasir) menjadi lebih padat dan tidak cepat hancur.

Mengurangi erosi pada permukaan tanah karena pupuk berfungsi sebagai pengikat butiran-butiran tanah.

2.2. MANFAAT PUPUK TERHADAP SIFAT KIMIA TANAH

Ada beberapa manfaat pemberian pupuk yang berkaitan dengan sifat-sifat kimia tanah yaitu :

Menyediakan unsur hara yang diperlukan bagi tanaman.

Mengganti kehilangan unsur hara seperti N, P dan K yang diakibatkan oleh penguapan, aliran air permukaan (run off) atau diserap oleh tanaman.

Membantu penyerapan unsur hara.

Memperbaiki keasaman tanah.

Menambah aktivitas mikroorganisme tanah.

3. JENIS, BENTUK DAN WARNA PUPUK

Pupuk dapat dibedakan berdasarkan cara aplikasi di lapangan, komponen utama penyusun pupuk, bentuk pupuk, dan warna pupuk.

3.1. JENIS PUPUK BERDASARKAN CARA APLIKASI DI LAPANGAN

Berdasarkan cara pemberiannya (aplikasi di lapangan), pupuk digolongkan menjadi dua jenis, yaitu : pupuk akar dan pupuk daun. Pupuk akar adalah pupuk yang diberikan pada tanaman melalui akar atau tanah. Sedangkan Pupuk daun adalah pupuk yang diberikan pada tanaman melalui daun dengan cara disemprotkan.

Antara pupuk akar dan pupuk daun masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti yang tercantum dibawah ini :

Pupuk Akar Pupuk Daun

Kelebihan pemakaian pupuk akar :

(a) Relatif lebih aman.

Kekurangan pemakaian pupuk akar :

(a) Efisiensi relatif rendah karena sebagian unsur hara yang diberikan akan hilang tercuci lewat air hujan.
(b) Volume cukup besar sehingga memerlukan tempat yang besar dan tenaga yang banyak.

Kelebihan pemakaian pupuk daun :

(a) Efisiensi cukup tinggi. Pupuk cepat diserap oleh tanaman melalui stomata.
(b) Volume cukup kecil sehingga tidak memerlukan tempat yang besar.

Kekurangan pemakaian pupuk daun :

(a) Relatif kurang aman karena aplikasi harus tepat (toleransi kecil atau selang antar dosis relatif sempit). Pemberian berlebihan menyebabkan efek daun seperti terbakar.

3.2. JENIS PUPUK BERDASARKAN KOMPONEN UTAMA PENYUSUN PUPUK

Berdasarkan komponen utama penyusun pupuk, pupuk dapat digolongkan menjadi dua jenis, yaitu : pupuk organik dan pupuk anorganik. Pupuk organik adalah pupuk yang berasal dari tanaman dan mahluk hidup lain yang telah mengalami proses pembusukan (dekomposisi) oleh mikroorganisme pengurai sehingga warna, rupa, tekstur dan kadar airnya tidak serupa dengan bahan aslinya. Sedangkan Pupuk anorganik adalah pupuk yang dibuat dari bahan mineral atau senyawa kimia melalui proses industri.

Kelebihan pupuk organik yang tidak terdapat pada pupuk anorganik/kimia, yaitu :

a. Mampu memperbaiki struktur tanah dan tidak merusak lingkungan.

b. Pertumbuhan perakaran tanaman lebih baik sebagai dampak positif dari struktur tanah yang menjadi baik.

c. Meningkatkan daya serap dan daya pegang tanah terhadap air karena sifat bahan organik dapat menyerap air dua kali lebih besar dari bobotnya.

d. Memperbaiki kehidupan organisme tanah karena bahan organik merupakan bahan makanan bagi organisme dalam tanah.

Berdasarkan cara (proses) pembentukannya, pupuk organik terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu :

A. Pupuk Organik Alami

Pupuk organik alami adalah pupuk yang langsung diambil dari alam, seperti dari kotoran hewan, sisa tumbuhan, limbah pabrik, limbah rumah tangga dan lain-lain tanpa sentuhan teknologi. Contoh pupuk organik alami adalah pupuk kandang, kompos, pupuk hijau, humus dan pupuk burung.

Pupuk Kandang

Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari campuran antara kotoran hewan dengan sisa makanan yang mengalami pembusukan hingga tidak berbentuk seperti asalnya.

Sebagian besar kotoran hewan dapat dipergunakan untuk pupuk setelah mengalami pembusukan yang cukup sehingga warna, rupa, tekstur dan kadar airnya tidak serupa dengan bahan aslinya.

Jenis kotoran hewan yang umum digunakan sebagai pupuk kandang adalah kotoran sapi, kerbau, kambing, kelinci dan ayam. Kotoran hewan yang akan dijadikan pupuk kandang dikumpulkan dalam silo dan diperam selama 3 bulan supaya mengalami dekomposisi. Pupuk yang sudah matang ditandai dengan tidak berbau, dingin, berwarna gelap dan kadar air rendah. Pupuk kandang yang baik mengandung kadar air 30-40%, bahan organik 60-70%, N = 1,5-2%, P2O5 = 0,5-1% dan K2O = 0,5-1%.

Pupuk kandang memiliki kelebihan dan kekurangan, seperti yang tercantum dibawah ini :

Kelebihan Kekurangan

1. Aman digunakan dalam jumlah besar
2. Membantu menetralkan pH tanah
3. Membantu menetralkan racun akibat adanya logam berat dalam tanah
4. Memperbaiki struktur tanah menjadi lebih gembur
5. Mempertinggi porositas tanah dan secara langsung dapat meningkatkan keterse-diaan air tanah
6. Membantu penyerapan hara dari pupuk kimia yang ditambahkan
7. Membantu mempertahankan suhu tanah sehingga fluktuasinya tidak tinggi

1. Harus diberikan dalam jumlah besar
2. Kadar hara relatif sedikit dibandingkan pupuk kimia dalam berat yang sama
3. Dapat menurunkan kualitas air bila ber-dekatan dengan sumber air

Di lapangan pupuk kandang difungsikan sebagai pupuk dasar. Sebagai pupuk dasar pupuk kandang diaplikasikan secara merata ke seluruh lahan dan diaduk 1-2 minggu sebelum penanaman. Pada tanaman tahunan, pupuk kandang diberikan ke dalam lubang tanam sebelum bibit ditanam.

Kompos

Kompos merupakan salah satu jenis pupuk organik alami yang banyak dikenal oleh pekebun.

1. Bahan dan Proses Pembentukan

Istilah kompos lazim digunakan untuk pupuk organik yang berasal dari daun atau bagian tanaman lainnya. Setelah dilapukkan, daun atau bagian tanaman lain akan menjadi bahan yang berbeda dengan asalnya dan sebagai penyedia unsur hara bagi tanaman. Selain sisa tanaman, untuk membuat kompos dapat juga digunakan sampah kota atau sampah rumah tangga. Secara alamiah, bagian atas tanaman yang disebut serasah merupakan kompos hasil pelapukan sisa tanaman.

Kompos yang baik adalah kompos yang sudah mengalami pelapukan yang cukup dengan dicirikan warna sudah berbeda dengan warna bahan pembentuknya, tidak berbau, kadar air rendah dan mempunyai suhu ruang.

Pengomposan juga dimaksudkan untuk menurunkan kadar karbon terhadap nitrogen atau sering disebut C/N ratio. Kompos yang bahan dasarnya masih mentah atau kadar C/N-nya masih tinggi tidak baik bagi tanaman dan tanah. Sisa tanaman atau sisa rumah tangga yang belum dikomposkan bila diberikan langsung ke dalam tanah akan terjadi proses pengomposan dalam tanah. Oleh karena di dalam tanah kandungan air dan udara cukup tersedia maka proses pengomposan berlangsung cepat dan mengakibatkan kadar CO2 tanah juga meningkat cepat. Kondisi ini sangat tidak mengungtungkan bagi tanah dan tanaman di atasnya. Kalau proses ini terjadi pada tanah–tanah yang ringan maka dapat menyebabkan daya ikat tanah terhadap air menurun, struktur tanah berubah kasar dan seperti berserat. Secara uji kimiawi ukuran untuk kadar C/N ratio kompos yang sudah matang berkisar antara 10-30.

2. Jenis dan Jumlah Unsur Hara dalam Kompos

Kandungan kompos didominasi oleh bahan organik yang dapat mencapai 18% bahkan ada suatu produk yang mencapai 59%. Unsur-unsur lain seperti Nitrogen, Fosfor, Kalium, Kalsium dan Magnesium berada dalam jumlah relatif sedikit sekali, yaitu dibawah 2%. Besarnya presentase dari unsur-unsur tersebut tergantung dari bahan dasar yang dikomposkan, cara pengomposannya dan cara penyimpanannya.

Dengan kandungan hara kompos yang relatif kecil itu maka para produsen kompos terpaksa harus memperkaya produknya dengan menambahkan unsur-unsur hara lain dari pupuk kimia. Tidak semua pupuk kimia dapat dimasukkan kedalam kompos, tetapi dipilih jenis pupuk yang cocok atau dibutuhkan kompos tersebut. Berikut ini persyaratan pupuk kimia yang dapat ditambahkan dalam kompos

a. Tidak bereaksi negatif terhadap kompos
b. Relatif lambat terlarut dalam kondisi masam.
c. Bentuk kimianya stabil selama dalam kemasan
d. Tidak higroskopis (menyerap air)

Pupuk kimia dengan persyaratan diatas relatif mahal dibandingkan dengan pupuk kimia biasa sehingga harga komposnyapun juga akan lebih mahal dari kompos biasa.

3. Aplikasi dan Dosis Kompos

Pemakaiannya antara 20.000-30.000 kg/ha. Dosis yang lebih tepat tergantung dari jenis tanah dan tanaman yang dibudidayakan.

Humus

Pupuk hijau merupakan salah satu jeins pupuk organik alami yang penerapannya sudah dilakukan pekebun sejak dulu.

1. Proses Pembentukan dan Kegunaan

Pupuk hijau adalah pupuk yang berasal dari tanaman atau bagian tanaman tertentu yang masih segar yang dibenamkan ke dalam tanah untuk menambah bahan organik tanah dan unsur hara, khususnya nitrogen (N). Tanaman yang digunakan sebagai pupuk hijau mempunyai kemampuan mengikat N bebas di udara karena akarnya terdapat bakteri pengikat N dan mengubahnya menjadi bentuk yang dapat diserap tanaman. Jenis bakteri yang palling dikenal adalah Rhizobium legumisorium. Bakteri ini banyak ditemukan pada akar tanaman dari famili Leguminose atau polong-polongan dan disebut bakteri bintil akar.

Tanah biasanya sudah mengandung bakteri tersebut, tetapi sebagian besar dalam kondisi dorman (istirahat). Bila terdapat tanaman polong-polongan maka bakteri akan bersimbiosis dengan perakaran sehingga masa dorman bakteri berakhir.

Banyaknya N yang dapat diberikan ke dalam tanah tergantung dari beberapa faktor, seperti struktur tanah (remah atau padat), drainase (cepat atau lambat), perkolasi atau tingkat penyaringan (cepat atau lambat) dan jenis tanaman yang akan dibudidayakan. Selain itu, jenis pupuk yang ditambahkan dan kandungan bahan organik tanah ikut mempengaruhi tingkat penambahan N ke tanah.

Pada tanah yang kaya akan bahan organik mengandung N dalam jumlah yang banyak sehingga pemberian N lewat pupuk hijau tidak terlalu berpengaruh. Sebaliknya, pada tanah yang miskin akan bahan organik maka penambahan N lewat pupuk hijau akan menambah kesuburan tanah.

Berikut ini beberapa keuntungan penambahan N lewat pupuk hijau

a. Memperkaya tanah dengan bahan organik
b. Memberikan suasana yang kondusif bagi perkembangan mikroorganisme tanah
c. Mengembalikan unsur hara yang tercuci
d. Menambah unsur N ke dalam tanah

2. Tanaman Penghasil Pupuk Hijau

Tidak semua jenis tanaman dapat digunakan untuk pupuk hijau. Tanaman yang digunakan untuk pupuk hijau harus memenuhi beberapa persyaratan berikut

a. Tumbuh dengan pesat dan berdaun lebat
b. Pada akarnya memiliki bintil akar yang ditumbuhi bakteri pengikat N udara (Rhizobium)
c. Perakaran dangkal
d. Batang dan daun lunak, mudah busuk dan toleran terhadap pemangkasan
e. Tahan terhadap kekeringan

Pada umumnya tanaman untuk pupuk hijau berbentuk perdu. Namun, adapula yang berupa tanaman penutup tanah berbentuk semak dan menjalar di atas permukaan tanah dan berupa pohon besar dengan tinggi lebih dari 5 m yang berfungsi sebagai pohon pelindung. Apabila digolongkan berdasarkan fungsinya terdapat 3 kelompok jenis tanaman penghasil pupuk hijau.

a. Kelompok tanaman pupuk hijau sebagai pupuk tanaman

Tanaman pupuk hijau yang dapat digunakan langsung sebagai pupuk biasanya berupa tanaman sukulen (berbatang lunak), bertajuk rimbun dan cepat pertumbuhannya. Jenis tanaman sukulen akan cepat mengalami pembusukan dalam tanah sehingga akan cepat terurai menjadi senyawa anorganik yang dapat diserap tanaman. Pemberian secara langsung dapat memperbaiki struktur tanah dan bila disebar di permukaan tanah dapat berfungsi sebagai mulsa. Selain dengan dicacah, aplikasi pupuk hijau dapat dilakukan dengan pembenaman ke dalam tanah setelah dahan dan ranting yang agak besar dibuang.

Beberapa jenis tanaman yang langsung berfungsi sebagai pupuk hijau yaitu jenis tanaman Orok-orok seperti Crotalaria juncea, Crotalaria usaramoensis dan Clotalaria anagyroides, jenis tanaman Tefrosia yaitu Tephrosia vogeli, Tephrosia candida, Tephrosia noctiflora dan Tephrosia maxima serta Susukan (Desmodium gyroides).

b. Kelompok tanaman pupuk hijau sebagai penutup tanah

Sebagian besar tanaman pupuk hijau sebagai penutup tanah termasuk dalam famili Leguminosae (kacang-kacangan). Jenis-jenis tanaman pupuk hijau yang berfungsi sebagai penutup tanah diantaranya Centrosema pubescens, Vigna hosei, Centrocema plumieri (Kacang katropong, Sunda), Mimosa invisa (Putri malu), Vigna sinensis (Kacang panjang) dan Calopogonium mucunoides (Kacang asu, Jawa).

c. Kelompok tanaman pupuk hijau sebagai tanaman pelindung

Jenis-jenis pohon besar atau pelindung yang termasuk sebagai tanaman pupuk hijau yaitu Acacia decurrens (Akasia), Albizzzia sp (Sengon laut), Erythrina lithosperma (Dadap duri), Glyridia sp (Ki hujan), Leucaena glauca (Lamtoro) dan Sesbania grandiflora (Turi). Selain sebagai pupuk hijau tanaman tersebut di atas juga berguna untuk penutup tanah dan pencegah erosi.

3. Aplikasi

Penggunaan pupuk hijau, terutama untuk jenis yang berfungsi sebagai pupuk langsung dan penutup tanah, sebaiknya dilakukan dengan menebarkan benih sekitar 3-4 bulan sebelum penanaman tanaman semusim. Penggunaan pupuk hijau oleh tanaman budidaya akan optimum bila tanaman tersebut sudah pada fase pembungaan. Pada saat itu, bahan organik yang dihasilkan pupuk hijau sudah cukup banyak dan bakteri di perakaran dapat mengikat N dalam jumlah yang cukup banyak.

Aplikasi tanaman pupuk hijau yang berfungsi sebagai pupuk langsung dan penutup tanah dapat dilakukan dengan dibenamkan langusng ke dalam tanah. Sementara aplikasi tanaman pupuk hijau yang berbentuk pohon dilakukan dengan dicacah dahulu baru dibenamkan ke dalam tanah. Apliaksi pupuk hijau dapat juga ditebarkan sebagai mulsa kurang lebih 15 cm dari batang tanaman. Dengan cara ini pupuk hijau berfungsi juga sebagai penutup tanah untuk mencegah erosi dan menjaga kelembaban serta suhu tanah.

Pupuk Burung

Pupuk burung merupakan pupuk yang berasal dari kotoran unggas liar, seperti kelelawar dan bukan berasal dari ungggas piaraan.

Pupuk yang berasal dari kotoran kelelawar cukup bagus untuk pertumbuhan tanaman karena mengandung unsur-unsur hara dan mineral-mineral. Unsur-unsur hara yang terkandung dalam kotoran kelelawar diantaranya N = 18,0-30,0%, P = 5,0-12,0%, K = 1,5-2,5%, Ca = 7,5-11,0%, Mg = 0,5-1,0% dan S = 2,0-3,5%.

Pupuk burung yang juga dikenal dengan nama pupuk guano berasal dari pelapukan batuan dan kotoran burung yang ada di dalam gua. Jenis pupuk ini termasuk langka sehingga sulit ditemukan di pasaran. Andaikata dapat ditemukan pun biasanya bukan berupa pupuk guano yang asli atau murni, tetapi telah dicampur bahan lain. Di pasaran jenis pupuk ini biasanya dijumpai dalam kemasan 1 kg dengan kemasan bertuliskan pupuk walet, pupuk kelelawar dan sebagainya.

Harga pupuk burung yang asli sangat mahal dan dapat mencapai 5-7 kali harga pupuk Urea. Melihat harganya yang mahal maka penggunaannya sangat terbatas. Dosis pemupukan antara 10-30 g/tanaman dengan cara ditaburkan lalu disiram.

B. Pupuk Organik Buatan

Pupuk organik buatan adalah pupuk organik alami yang dibuat dengan sentuhan teknologi sehingga bentuk, ukuran dan kemasan yang praktis, mudah didistribusikan dan diaplikasikan, serta kandungan unsur hara yang lebih lengkap dan terukur.

C. Jenis-Jenis Pupuk Organik

Ada banyak jenis pupuk organik yang sudah diproduksi dan beredar dipasar, yaitu :

 SNN Kristal
 Pokon Organik Mineral
 Kompos Organik Green World
 Green World Bio-D7 Peat Pellet
 TOP (Blood and Bone)
 Organic Soil Treatment
 Bio Fertilizer Pro
 Bio Lemi (Kompos BMF)
 Super Natural Nutrition
 Effective Microorganisms 4 (EM4)
 Orgasol
 Biopro
 Mitra Flora
 Green Asri
 MSA (Mukti Sari Asri)

3.3. JENIS PUPUK BERDASARKAN BENTUKNYA

Berdasarkan bentuknya pupuk dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu pupuk padat dan pupuk cair. Pupuk padat dapat dibedakan lagi menjadi pupuk berbentuk serbuk, butiran, tablet dan kapsul. Sedangkan pupuk cair dibedakan dari kekentalan dan konsentrasinya.

3.4. JENIS PUPUK BERDASARKAN WARNANYA

Kandungan unsur-unsur yang ada didalam pupuk akan menghasilkan warna pupuk yang berlainan, contohnya :

Warna hitam : pupuk organik (mengandung humus tinggi)
Warna abu-abu : pupuk TSP, SP-36 & RP (dari batuan phosfat)
Warna putih bersih : pupuk Urea, ZA, Borat dan lain-lain.
Warna agak merah : pupuk MOP, NPK 15-15-6-4

Secara ringkas penggolongan pupuk sebagai berikut :

PENGGOLONGAN PUPUK BERDASARKAN :
Cara Aplikasi Komponen Utama Bentuk Warna
a. Pupuk akar
b. Pupuk daun a. Pupuk Organik
b. Pupuk Anorganik a. Pupuk Padat
– Serbuk
– Butiran
– Tablet
– Kapsul
b. Pupuk Cair
– Kekentalan
– Konsentrasi
a. Berwarna
– Hitam
– Abu-abu
– Merah
b. Tidak Berwarna

4. SIFAT PUPUK

Sifat pupuk yang perlu diperhatikan adalah jumlah kandungan hara, kelarutan dalam air (air tanah), higroskopisitas dan kemasamannya. Apabila diketahui sifat pupuknya maka pada jenis tanah tertentu kita dapat merekomendasikan pupuk yang akan digunakan (pupuk yang sesuai) dan dapat menghindari pengaruh negatif yang ditimbulkan akibat aplikasi pupuk yang salah (misalnya kehilangan unsur hara, menggumpal/membatu dan lain-lain).

Pupuk-pupuk Nitrogen seperti Amonium Sulphat dan Urea tidak dianjurkan untuk dicampur dengan pupuk alkalin seperti Rock Phosphate (RP), TSP dan Abu Janjang. Hal tersebut dilakukan untuk mengurangi dampak penguapan Nitrogen. Begitu juga dalam aplikasi di lapangan tidak boleh bersama-sama. Selang waktu aplikasi antara pupuk alkalin dan Nitrogen tidak boleh kurang dari 4 minggu.

Untuk menghindari sifat antagonis antara pupuk K dan Mg, serta K dan B, pupuk MOP tidak boleh dicampur dengan Kieserit/Dolomite atau Boron. Pupuk-pupuk tersebut tidak boleh diaplikasi secara bersama-sama. Selang waktu aplikasi antara pupuk MOP dan Kieserite atau antara MOP dan Dolomite atau antara MOP dan HGFB tidak boleh kurang dari 4 minggu. Selang waktu antara dua rotasi pemupukan masing-masing jenis pupuk (contoh Urea atau MOP) tidak boleh kurang dari 2 bulan.

Urea dan RP cenderung menurunkan/mengurangi penyerapan Cu oleh tanaman. Jadi, pupuk Copper Sulphate (Cu) tidak boleh diaplikasikan segera setelah aplikasi Urea atau RP. Selang waktu aplikasi antara kedua pupuk tersebut tidak boleh kurang dari 4 minggu.

Beberapa sifat umum pupuk yang perlu diketahui adalah sebagai berikut :

Sumber Hara Jenis Pupuk Keterangan/Sifat Pupuk
Nitrogen (N) Urea (46% N) Untuk TBM dan TM semua kebun; sifat larut dalam air, menarik air dari udara pada kelembaban nisbi 73% (suhu 300C) dan mudah menguap (volatil)
ZA (21% N) Dapat menggantikan Urea; sifat larut dalam air, menarik air dari udara pada kelembaban nisbi 80-82% (suhu 250C) dan relatif lambat menguap
Phosfor (P) TSP (45% P2O5) Untuk tanah mineral dan gambut; sifat kelarutan dalam air rendah, tidak higroskopis
Fosfat alam (minimum 28% P2O5) Untuk tanah gambut (dapat diganti dengan TSP); sifat sama dengan TSP

Sumber Hara Jenis Pupuk Keterangan/Sifat Pupuk
Kalium (K) MOP (60% K2O) Untuk TBM dan TM semua kebun; sifat larut dalam air dan kurang higroskopis
Magnesium (Mg) Kieserit (27% MgO) Untuk memperbaiki status Mg tanaman yang rendah atau defisiensi Mg (bekerja cepat); sifat agak sukar larut dalam air dan sulit dipecahkan bila menggumpal
Dolomit (18-22% MgO) Untuk mempertahankan status Mg tanaman yang sudah cukup tinggi (bekerja lambat); sifat sukar larut dalam air
Kapur dan sumber Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) Kapur pertanian (55-56% CaO) Untuk tanah masam, terutama gambut
Dolomit Terutama untuk gambut
Boron (B) HGFB-48 (high grade fertilizer borate 48% B2O3) Secara rutin dipakai pada TBM untuk TM hanya untuk kasus tertentu (defisiensi)
Tembaga/Copper (Cu) Terusi (CuSO4.5H2O = 25% Cu) Khusus untuk tanah gambut dan tanah mineral tertentu
Seng/Zinc (Zn) ZnSO4.H2O (35% Zn) atau ZnSO4.7H2O (23% Zn) Khusus untuk tanah gambut tertentu. Kualitas teknis (pupuk)

5. PERANAN DAN GEJALA KEKURANGAN UNSUR HARA

Keberhasilan dalam pemupukan tanaman ditentukan oleh 4 komponen utama yang saling terkait, yaitu :

a. Pupuk : telah dijelaskan diatas.

b. Tanah : beberapa hal yang berkaitan dengan tanah sehubungan dengan penggunaan pupuk dan kesuburan tanaman adalah :

1. Struktur tanah

Tanaman menghendaki tanah dengan struktur gembur atau remah. Tanah yang gembur akan menyediakan ruangan pori yang cukup untuk menyimpan air dan udara. Air dan udara dalam tanah diperlukan untuk menciptakan temperatur dan kelembaban yang ideal bagi kehidupan mikroorganisme tanah yang membantu proses dekomposisi mineral dan bahan organik untuk bahan makanan tanaman diatasnya.

2. pH tanah

Kemasaman (pH) berhubungan erat dengan pergerakan unsur-unsur hara dalam tanah. Pada kondisi keasaman yang ekstrem, terlalu rendah atau terlalu tinggi, unsur hara tidak dapat diserap oleh akar tanaman. Bahkan beberapa diantaranya berubah menjadi unsur beracun.

c. Kandungan hara tanah : Jumlah dan jenis unsur hara dalam tanah yang diperlukan tanaman untuk tumbuh dengan normal. Ada macam 16 unsur hara yang disebut hara esensial, yaitu :

1. Unsur dari udara : Karbon (C), Hidrogen (H) dan Oksigen (O2).

2. Unsur dari tanah : Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang atau Sulfur (S), Klor (Cl), Besi atau Ferrum (Fe), Mangan (Mn), Tembaga atau Cuprum (Cu), Seng atau Zincum (Zn), Boron (Bo) dan Molibdenum (Mo).

Unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah banyak disebut unsur makro yaitu N, P, K, S, Ca dan Mg. Sedangkan unsur hara yang diperlukan dalam jumlah sedikit dinamakan unsur mikro yaitu Cl, Fe, Mn, Cu, Zn, Bo dan Mo. Pupuk-pupuk mikro seperti HGFB, CuSO4, ZnSO4 dan MnSO4 harus diaplikasikan secara hati-hati. Aplikasi yang berlebihan akan menyebabkan keracunan tanaman.

Sementara unsur esensial yang berasal dari udara yaitu C, H dan O berperan mengikat unsur-unsur esensial tanah lain sehingga membentuk senyawa yang dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Contoh unsur P tidak dapat diserap tanaman sebelum membentuk senyawa bersama O2 membentuk P2O5.

Pada tanaman berumur 8-10 tahun, pada setiap tahunnya diperlukan unsur hara untuk pertumbuhan dan produksi (25 ton TBS/Ha/tahun) sebanyak ± 192,5 kg unsur N, 26,0 kg unsur P, 251,4 kg unsur K dan 61,3 kg unsur Mg. Jadi untuk mempertahankan produksi yang tinggi, unsur hara yang diserap oleh tanaman harus diganti dalam bentuk pupuk anorganik dan/atau organik (misalnya janjang kosong dan POME (Palm Oil Mill Efluent)).

d. Tanaman : Pemupukan menjadi tepat, efektif dan efisien jika karakter tanaman yang berkaitan dengan penyerapan unsur hara sudah diketahui.

Bagian tanaman terbagi atas bahan padat dan cair. Bahan-bahan penyusun tanaman tersebut didominasi oleh unsur hara (60 jenis unsur hara) yang sebagian besar diambil dari unsur hara dalam tanah.

5.1. NITROGEN (N)

A. Peranan Nitrogen

Nitrogen (N) diserap dalam bentuk NO3 – dan ion NH4+. Nitrogen berperan sebagai salah satu komponen pembentukan klorofil (zat hijau daun), pembentukan lemak, asam nukleat, enzim, protein (asam amino) dan persenyawaan lainnya, memacu pertumbuhan tanaman terutama pada fase vegetatif.

B. Gejala Defisiensi Nitrogen (Yellow Frond)

Pada tanaman di pembibitan yang masih muda sekali, daun menunjukkan warna hijau pucat. Warna pucat diikuti dengan warna kekuningan dan jaringan daun sangat kekurangan N sehingga menunjukkan gejala nekrosis.

Pelepah daun yang sangat kekurangan N akan menghasilkan anak daun yang berwarna kuning. Tulang anak daun dan helaian anak daun mengecil serta bergulung ke dalam.

Pada tanaman di lapangan, mula-mula daun berwarna hijau pucat dan berangsur-angsur kuning. Pada tingkatan yang lebih lanjut warna berubah menjadi coklat atau merah lembayung dan akhirnya jaringan mati mulai dari pinggir anak daun. Gejala lainnya, terutama pada tanaman yang lebih muda ialah anak daun dari pelepah yang muncul belakangan menjadi lebih sempit sehingga tanaman nampak tegak dan kaku serta luas permukaan daun berangsur menurun.

C. Penyebab Defisiensi Nitrogen

Gejala defisiensi N umumnya terjadi jika :

Tanaman kelapa sawit menderita kompetisi yang berat dari gulma seperti Alang-alang (Imperata cylindrica) dan Mikania (Mikania micrantha).

Tanah dengan drainase jelek dan akar berada dalam kondisi anaerobik dan tanah-tanah yang berasal dari bahan induk berwarna pucat, dari batuan asam atau batuan sedimen.

Barisan tanaman yang sering dibabat secara rutin.

Hara N yang tersedia dalam tanah sangat rendah.

Tanaman menderita gangguan sebagai akibat proses pemindahan.

Sifat fisik tanah, misalnya kandungan liat tinggi, tergenang air sebelumnya, lapisan tanah dangkal, berbukit dan tanaman tumbuh pada tanah yang berbatu-batu.

Antagonisme (saling tolak atau saling tarik dengan unsur hara lainnya).

Kultur teknis, yaitu peremajaan yang sudah sering dilakukan akan menurunkan persediaan unsur hara Nitrogen di dalam tanah.

Pemupukan N yang tidak mencukupi.

Tersedianya hambatan mineralisasi N yang disebabkan rendahnya pH tanah yang menghambat aktivitas mikroba tanah.

Proses pembentukan daun terhambat pada tanaman kelapa sawit yang mengalami gejala defisiensi N, sehingga memperlambat perkembangan indeks luas daun yang optimum.

D. Pencegahan Defisiensi Nitrogen

Beberapa jenis tanah akan dapat menyediakan N yang cukup untuk tanaman yang sedang tumbuh dan tanaman berproduksi. Selama periode tanaman belum menghasilkan tindakan pencegahan sebaiknya dilaksanakan dengan melakukan kombinasi antara pemindahan yang dilakukan secara hati-hati, pemupukan N, dan pembangunan penutup tanah leguminosa yang tumbuh cepat. Pada tanaman menghasilkan pemupukan N diperlukan untuk mempertahankan N daun sekitar 2,5-2,8 %. Perbaikan sistem drainase tanah harus juga dilakukan pada tanah-tanah yang selalu jenuh air dan pada tanah-tanah dengan permukaan air yang tinggi.

E. Perlakuan Pada Tanaman Defisiensi Nitrogen

Tanaman yang baru dipindah mungkin menunjukkan sedikit gejala defisiensi N tetapi tidak memerlukan perlakukan khusus. Untuk tanaman berumur 2-3 tahun cukup dilakukan pemupukan dengan dosis 0.25-0.75 kg N/pkk/thn (± 0.5-1.5 kg urea/pkk/thn). Untuk tanaman berumur 5-10 tahun perlu dipupuk dengan dosis 1.0-1.5 kg N/pkk/thn (± 2-3 kg/urea/pkk/thn). Dosis pupuk selamanya harus disesuaikan dengan hasil analisa daun dan hasil inspeksi tajuk tanaman. Kelebihan N dapat memungkinkan terjadinya gejala white stripe dan defisiensi B. Meledaknya ulat pemakan daun kelapa sawit diduga ada kaitannya dengan pemupukan N yang berlebihan. Pemupukan N terutama Urea cenderung hilang melalui proses volatilisasi, karena itu penaburan Urea pada saat tanah kering tidak dianjurkan.

5.2. PHOSPHOR (P)

A. Peranan Phosphor

Phosphor diserap dalam bentuk H2PO4- , HPO42- dan PO42-. Peranan Phosphor dapat merangsang pertumbuhan dan perkembangan akar, pembentukan asam nukleat (DNA dan RNA), sebagai bahan dasar protein (ATP dan ADP), membantu asimilasi dan respirasi, merangsang pembelahan sel, mempercepat proses pembungaan dan pembuahan serta pemasakan biji dan buah, dapat mengurangi aborsi bunga.

B. Gejala Defisiensi Phosphor

Gejala defisiensi P pada tanaman kelapa sawit sebenarnya tidak mudah terlihat, tetapi batang tanaman dapat menunjukkan bentuk piramid, kerdil, dan pelepah yang pendek, perkembangan akar terhambat, gejala pada daun sangat beragam beberapa tanaman menunjukkan warna hijau tua mengkilap yang tidak normal. Pematangan buah terlambat serta perkembangan bentuk dan warna buah buruk. Tanaman kelapa sawit yang berada pada ekosistem yang kekurangan P ditunjukan oleh tanda-tanda berikut :

Ukuran daun kacangan (seperti Pueraria phaseoloides) kecil, abnormal dan sulit berkembang. Hara P sangat tinggi untuk menunjang proses fiksasi N2 secara biologis pada tanaman penutup tanah leguminosa.

Daun Alang-alang (Imperata cylindrica) berwarna keungu-unguan, munculnya suksesi Melastoma malabahtricum, dan Dicranopteris linearis.

C. Penyebab Defisiensi Phosphor

Umumnya defisiensi P terjadi jika :

Kadar P tersedia di dalam tanah sangat rendah (< 15 mg P/kg, Bray II).

Tanaman kelapa sawit ditanam pada lahan yang lapisan atas tanahnya sudah tererosi (kerap kali terjadi di puncak-puncak bukit).

Dosis P yang diberikan tidak mencukupi untuk menunjang produktivitas tanaman yang tinggi.

Terikatnya P oleh senyawa kimia lainnya, sehingga hanya 1 % saja yang tersedia untuk tanaman padahal ketersediaan di alam cukup melimpah.

Keasaman tanah (pH). Tanah dengan pH rendah, P akan bereaksi dengan ion Besi dan Aluminium dan membentuk Besi Phosphat dan Aluminium Phosphat yang sukar larut dalam air sehingga tidak dapat digunakan oleh tanaman. Sedangkan pada pH tanah yang tinggi (basa) P akan bereaksi dengan Kalium dan membentuk Kalium Phosphat yang sukar larut dalam air.

Aerasi. Ketersediaan oksigen di dalam tanah diperlukan untuk meningkatkan pasokan P lewat proses perombakan bahan organik oleh mikroorganisme tanah. Pada tanah yang padat atau tergenang air, penyerapan P dan unsur lainnya akan terganggu.

Suhu atau temperatur. Secara langsung temperatur dapat meningkatkan atau menurunkan ketersediaan P. Pada temperatur relatif hangat ketersediaan P akan meningkat karena proses perombakan bahan organik juga meningkat. Ketersediaan P menipis di daerah yang bersuhu rendah.

Bahan organik. Sebagian P yang mudah larut diambil oleh mikroorganisme tanah untuk pertumbuhannya. Phosphor ini akhirnya diubah menjadi humus, karena itu untuk menyediakan cukup P, kondisi tanah yang menguntungkan untuk perkembangan mikroorganisme perlu diperhatikan.

Unsur hara lain (Fe, Al, Mn dan Ca). Tercukupinya jumlah unsur hara lain dapat meningkatkan penyerapan P. Amonium yang berasal dari Nitrogen dapat meningkatkan penyerapan P. Kekurangan hara mikro dapat menghambat respon tanaman terhadap pemupukan P.

D. Pencegahan Defisiensi Phosphor

Pengambilan contoh daun secara rutin dan penganalisaannya di laboratorium diperlukan untuk dapat mengetahui rendahnya kadar P daun ( 20 : 1).

Pembangunan tanggul-tanggul erosi akan mengurangi kehilangan pupuk P yang ditabur di atas tanah. Jika pupuk P diberikan dalam jumlah yang cukup, maka perkembangan akar akan meningkat dan akan memperbaiki serapan unsur N, Mg dan K.

Aplikasi P pada tanaman belum menghasilkan (TBM) lebih dianjurkan menggunakan superphosphat sedangkan untuk tanaman dewasa menggunakan rock phosphat. Pemupukan P untuk tanaman kelapa sawit berumur 6 tahun keatas diberikan di luar piringan dimana kandungan bahan organiknya lebih tinggi. Untuk tanaman yang mempunyai nilai kemasaman (pH) kurang dari 4, pemberiannya tetap dilakukan di dalam piringan.

E. Perlakuan Pada Tanaman Defisiensi Phosphor

Pada tanah-tanah bereaksi masam, pupuk fosfat alam dengan dosis umum dapat digunakan untuk keperluan tanaman, tetapi jika dijumpai gejala defisiensi pada tanaman penutup tanah dan gulma lainnya maka diperlukan pemupukan P dengan dosis yang lebih tinggi lagi yakni 0.5-0.175 kg P2O5 per tanaman (kira-kira 1-2 kg TSP atau SP-36).

5.3. KALIUM (K)

A. Peranan Kalium

Kalium (K) diserap oleh tanaman dalam bentuk ion K+. Kalium sangat berperan dalam metabolisme, diantaranya translokasi (pemindahan) gula pada pembentukan pati dan protein, juga membantu proses membuka dan menutup stomata (mulut daun).

Peranan lainnya adalah memperluas pertumbuhan akar, memperkuat tubuh tanaman (daun, bunga dan buah) tidak gampang rontok, memperbaiki ukuran dan kualitas buah pada masa generatif, mengatur tata air tanaman, membantu pembentukan protein dan kerbohidrat, memperkuat jaringan tanaman dan membentuk antibodi tanaman terhadap penyakit serta kekeringan.

B. Gejala Defisiensi K

Defisiensi K ada dua macam, yaitu Confluent Orange Spotting (COS) dan Mid Crown Yellowing (MCY).

B.1. Confluent Orange Spotting (COS)

Umumnya Confluent Orange Spotting (COS) dijumpai pada anak daun, pelepah daun yang lebih tua, karena K dapat berpindah dari daun tua ke daun muda. Bercak-bercak berukuran kecil yang biasanya dimulai dari bentuk segi dan berwarna hijau pucat mula-mula timbul pada helaian daun dan berubah menjadi warna orange yang cerah. Bercak-bercak tersebut kadang-kadang mengalami nekrosis dan mungkin menjadi tempat invasi patogen sekunder sebelum daun mengering.

COS dapat dibedakan dari bercak berwarna orange yang disebabkan sifat genetis tanaman dan bercak yang disebabkan algae yang tumbuh di daun dengan cara pemeriksaan daun dengan mempergunakan cahaya matahari yang kuat. Bercak yang disebabkan COS dapat meneruskan cahaya.

B.2. Mid Crown Yellowing (MCY)

Gejala awal dari Mid Crown Yellowing (MCY) adalah berkembangnya gejala klorosis dengan warna coklat kekuningan yang tidak cerah dan coklat kekuningan yang pucat pada pelepah muda yang terletak dibagian atas tajuk. Pelunturan warna dari pelepah dan posisinya pada tajuk merupakan petunjuk adanya kelainan. Bercak kecil yang menderita klorosis berkembang keluar yang dimulai dari bercak awal dan menutupi keseluruhan daun. Selanjutnya berbentuk pita yang jelas di sekitar pinggiran helaian daun yang berwarna kuning.

Ukuran pelepah daun dapat mengecil dan bercak hitam mungkin timbul pada pelepah yang lebih tua tetapi yang sudah menderita MCY. Bercak hitam tersebut mungkin disebabkan invasi mikroorganisme yang tidak dapat menembus jaringan daun yang masih sehat. MCY kerap kali terjadi secara simultan dengan Confluent Orange Spotting (COS) jika defisiensi K terjadi lebih berat.

C. Penyebab Defisiensi Kalium

C.1. Penyebab Defisiensi K (Confluent Orange Spotting)

Umumnya Confluent Orange Spotting terjadi jika :

Kadar K tertukarkan (exchangeable) di dalam tanah sangat rendah (< 0,15 cmol/kg).

Kelapa sawit ditanam pada tanah gambut, tanah berpasir dengan bahan induk granit, dan pada tanah-tanah bereaksi masam dengan kapasitas tukar kation (KTK) rendah.

Pemupukan K yang tidak cukup untuk menunjang produktivitas tanaman yang tinggi atau tanaman kelapa sawit yang ditanam pada tanah dengan kandungan K yang rendah.

C.2. Penyebab Defisiensi K (Mid Crown Yellowing)

Umumnya Mid Crown Yellowing (MCY) terjadi jika :

Kadar Kalium tertukarkan (exchangeable) di dalam tanah sangat rendah (< 0,15 cmol/kg).

Tanaman kelapa sawit ditanam pada tanah yang sangat masam dan berpasir atau pada lahan gambut yang lapisan bawahnya tanah berpasir.

Tanaman menderita kekeringan untuk suatu periode tertentu.

Pemupukan yang tidak cukup untuk menunjang produktivitas tanaman yang tinggi atau tanaman kelapa sawit ditanam pada tanah dengan kandungan K yang rendah.

C.3. Antagonisme Unsur Hara

Unsur Kalium merupakan hara yang bersifat antagonis dengan unsur Kalsium dan Magnesium. Unsur Kalium ketersediaannya dipengaruhi oleh pengikatan koloid tanah karena makin kuat terikat koloid tanah makin susah tersedia untuk tanaman.

D. Pencegahan Defisiensi Kalium

Respon tanaman kelapa sawit terhadap pemupukan K sangat nyata terutama pada tanaman yang mengalami defisiensi K. Gejala COS terjadi disebabkan rendahnya K di daun, oleh karena itu analisis daun secara rutin merupakan cara deteksi yang paling penting. Gejala COS maupun MCY dapat timbul jika K daun < 1,0 % tetapi gejala COS yang lebih berat dapat terjadi jika K daun < 0,75 % dan gejala MCY yang lebih berat terjadi jika K daun 1 bulan. Pada pembibitan awal (Pre Nursery) digunakan pupuk 15-15-6-4 dalam konsentrasi 0,15 – 0,30 % dengan pemberian sekali seminggu dan diberikan dalam bentuk cair. Pada pembibitan utama (Main Nursery) unsur hara Kalium diberikan dalam pemberian pupuk majemuk yaitu 15-15-6-4 dan 12-12-17-2 masing-masing sesuai umur bibit.

Pada tanaman belum menghasilkan rekomendasi didasarkan jenis tanah dan ada tidaknya vegetasi penutup tanah leguminosa.

Pada tanaman menghasilkan pemupukan memiliki standar tertentu akan tetapi mengikuti rekomendasi pemupukan yang ditetapkan untuk masing-masing kebun.

E. Perlakuan Pada Tanaman Defisiensi Kalium

Tanaman kelapa sawit yang menderita COS maupun MCY yang berat memerlukan pemupukan koreksi sebanyak 3-4 kg KCl/pkk/tahun. Enam bulan setelah pemupukan KCl harus diikuti dengan penganalisaan daun dan inspeksi tajuk tanaman untuk mengetahui apakah gejala defisiensi K sudah hilang dan apakah K daun sudah meningkat.

Pada tanah-tanah berpasir harus juga diberikan perlakuan sebanyak 35 ton janjang kosong/ha/tahun sebagai mulsa. Jika pupuk K cukup diberikan maka gejala defisiensi pada daun yang baru tumbuh tidak akan dijumpai. Aplikasi dengan dosis lebih tinggi mungkin diperlukan pada tanah gambut dan areal replanting jika pada tahun-tahun sebelumnya pupuk K hanya diberikan dengan dosis rendah.

5.4. MAGNESIUM (Mg)

A. Peranan Magnesium

Magnesium (Mg) diserap dalam bentuk Mg 2+. Peranan Mg adalah membantu pembentukan klorofil daun dan senyawa lain seperti karbohidrat, lemak dan minyak, berperan penting dalam regulator (pengaturan) dalam penyerapan unsur Fosfat dan Kalium pada tanaman dan aktivator berbagai jenis enzim tanaman.

B. Gejala Defisiensi Mg (Orange Frond)

Umumnya Orange Frond dijumpai pada daun-daun pelepah tua karena Mg dapat bergerak dari daun tua ke daun muda. Gejala awal adalah timbulnya warna hijau kekuningan yang berubah menjadi warna pucat kekuningan dibagian ujung lembaran daun yang berumur lebih tua, terutama yang langsung terkena cahaya matahari. Pada kondisi yang semakin berat, warna daun berubah menjadi coklat kekuningan sampai kuning cerah dan akhirnya mengering.

Bagian-bagian daun yang menunjukkan gejala klorosis pada tahap berikutnya mungkin akan diinvasi oleh jamur sekunder (misalnya Pestalotiopsis gracillis) yang menimbulkan warna ungu pada pinggiran dan ujung lembaran daun. Sifat yang khas dari kekurangan Mg adalah adanya pengaruh dari perlindungan. Anak daun yang terlindung dari sinar matahari warnanya tetap hijau walaupun kekurangan Mg. Faktor curah hujan berpengaruh pada munculnya gejala kekurangan Mg. Pada tahun dengan curah hujan relatif rendah gejala defisiensi Mg kurang tampak dan pada tahun dengan curah hujan tinggi gejala kekurangan Mg terlihat jelas.

C. Penyebab Defisiensi Magnesium

Umumnya Orange Frond terjadi jika :

Kadar Mg tertukarkan (exchangeable) dalam tanah sangat rendah (< 0,2 cmol/kg)

Sifat antagonisme diantara unsur hara dimana ketersediaan unsur hara Magnesium dengan Kalium.

Pemberian unsur hara lain yang terlalu berat, terutama Nitrogen dan Kalium.

Minimalnya tindakan pengawetan tanah mengingat unsur hara Mg mudah tercuci.

Tanaman kelapa sawit ditanam pada tanah bertekstur ringan (pasir) dan bersifat masam yang lapisan tanah atasnya sudah tererosi. Pada tanah yang berat (liat) umumnya kandungan Magnesium cukup tinggi.

Pemupukan Mg tidak mencukupi untuk mendukung produktivitas tanaman yang tinggi atau tanaman tumbuh pada tanah dengan kandungan Mg yang sangat rendah.

Bahan induk tanah, tanah dengan bahan granit dan kwarsa mengandung unsur Magnesium yang rendah.

D. Pencegahan Defisiensi Magnesium

Pengambilan contoh daun secara rutin dan analisa di laboratorium diperlukan untuk mengetahui rendahnya kadar Mg daun (< 0,18%) dan ketidakseimbangan antara Mg dan K. Ketidakseimbangan tersebut terjadi juga untuk tanaman kelapa sawit yang tumbuh pada tanah dengan kadar Ca tertukarkan tinggi (misal tanah-tanah vulkanis).

E. Perlakuan Pada Tanaman Defisiensi Mg

Respon tanaman kelapa sawit terhadap pemupukan Mg untuk peningkatan produksi dapat diperoleh jika kadar Mg tertukarkan dalam tanah rendah atau jika pemupukan dengan K dan/atau Ca dalam konsentrasi tinggi telah menimbulkan defisiensi Mg. Untuk tanaman kelapa sawit dengan produktivitas tinggi, pemupukan standar dengan dosis 0,5-1,0 kg Kieserit/pokok/tahun biasanya cukup memadai.

Pada tanah-tanah bereaksi masam, Dolomit dapat digunakan untuk keperluan pupuk Mg secara rutin. Akan tetapi jika defisiensi Mg dijumpai sangat nyata maka pemupukan dengan dosis 2-3 kg Kieserit/pokok/tahun mungkin diperlukan. Respon tanaman terhadap pupuk Mg dapat ditingkatkan jika kepada tanamannya juga diberikan janjang kosong terutama jika tanah lapisan atas sudah tererosi.

5.5. TEMBAGA (CUPRUM = Cu)

A. Peranan Tembaga

Tembaga (Cu) diserap tanaman dalam bentuk ion Cu3+ . Peranan Tembaga (Cu) bersama-sama dengan Besi bagi tanaman adalah sebagai pendorong proses pembentukan klorofil daun dan sebagai komponen dalam pembentukan enzim tanaman yang berperan dalam proses perombakan karbohidrat dan metabolisme Nitrogen. Cu juga sebagai aktifator enzim dalam proses penyimpanan cadangan makanan

B. Gejala Defisiensi Tembaga (Peat Yellows)

Kelainan Peat Yellows banyak dijumpai pada tanah gambut sebagai akibat dari defisiensi dan ketidakseimbangan hara Cu. Selain itu terjadi juga pada tanah-tanah berpasir.

Gejala awal ditandai dengan adanya perubahan warna hijau pucat ke kuning keputihan pada lembaran anak daun yang telah menunjukkan garis-garis klorosis pada daun muda yang sudah terbuka penuh. Garis-garis klorosis berkembang dari pinggiran daun kira-kira 5-8 cm. Tulang daun pada lembaran daun terlihat sangat kontras terhadap garis-garis klorosis yang disebabkan oleh pembentukan klorofil yang lebih banyak pada jaringan daun yang lebih dekat ke tulang daun (mid rib). Pada tahap berikutnya bintik-bintik kuning kadang-kadang berkembang di dalam garis-garis klorosis dan menghasilkan warna kuning. Pelepah daun yang terkena gejala ini memendek, warna daun berubah menjadi orange pucat dan daun akhirnya akan kering dan mati.

Pada tanaman di pembibitan yang mengalami defisiensi Cu terlihat sangat kerdil. Gejala awal adalah terjadinya klorosis pada daun muda yang sudah terbuka dan warna anak daun yang menderita defisiensi Cu berubah menjadi kuning yang dimulai dari ujung daun dan diikuti dengan gejala nekrosis dan akhirnya kering.

C. Penyebab Defisiensi Tembaga

Umumnya defisiensi Cu terjadi jika :

Kadar K tanah rendah (< 0,15 cmol/kg).

Kadar Cu tanah rendah (< 5 mg/g) sedang kadar Cu daun < 3 μg/g (daun yang sehat berkadar Cu antara 5-8 μg/g).

Pemupukan Mg diberikan dalam dosis yang cukup tinggi.

Pelepasan N yang cukup tinggi sebagai hasil mineralisasi bahan organik pada tanah gambut karena membaiknya sistem drainase.

Pemupukan N dengan dosis yang cukup tinggi.

Pemupukan P yang cukup tinggi tanpa pemberian K yang mencukupi.

Seiring dengan meningkatnya pH tanah ketersediaan Cu akan menurun. Jika pH tanah dibawah 4,5 jumlah Cu terlarut sangat banyak, sehingga menjadi racun.

Pada tanah yang berpasir, berkapur dan gambut sering terjadi kekurangan Cu (karena Cu terikat sangat kuat).

D. Pencegahan Defisiensi Tembaga

Analisa tanah dan klasifikasi tanah mungkin dapat membantu melengkapi indikasi terjadinya defisiensi Cu dengan mengetahui kadar Cu dalam tanah dan mengetahui jenis tanahnya. Selain itu, perlu dilakukan analisis daun secara rutin dan inspeksi lapangan untuk mengetahui terjadinya defisiensi Cu. Pemupukan N dan P yang berlebihan akan memperberat terjadinya defisiensi Cu. Sebaliknya KCl dapat memperbaiki serapan Cu.

E. Perlakuan Pada Tanaman Defisiensi Tembaga

Bibitan kelapa sawit yang menderita gejala defisiensi Cu akan efektif jika disemprot dengan cairan 200 μg Cu/ml yang dibuat dengan cara melarutkan bahan 100 g CuSO4 dalam 200 liter air.

Pada tanah mineral, defesiensi Cu dapat dikoreksi dengan penambahan 40 g CuSO4/tanaman. Akan tetapi pada tanah gambut, penerapan Cu melalui akar dinilai tidak efisien karena Cu dalam bentuk CuSO4 akan segera mengalami proses immobilisasi dalam tanah. Salah satu cara yang mungkin dapat dilaksanakan adalah pemupukan dengan 20-25 g CuSO4/pokok yang dimasukkan ke dalam bola-bola tanah lumpur (mud balls) yang dapat dengan mudah dibuat dan murah. Cu di dalam mud balls akan dilepas ke dalam tanah secara pelan-pelan (slow release) selama bertahun-tahun.

Cara lain adalah dengan cara menanam tongkat Cu di dalam tanah di dekat tanaman kelapa sawit yang baru ditanam, misalnya pada tanah gambut yang sangat masam.

5.6. BORON (B)

A. Peranan Boron

Boron diserap tanaman dalam bentuk BO32-. Boron (B) berperan dalam proses fisiologi tanaman, membantu sintesis protein, mengatur kebutuhan air didalam tanaman, membentuk serat dan biji, merangsang proses penuaan tanaman sehingga jumlah bunga dan hasil panen meningkat, membawa karbohidrat ke seluruh jaringan tanaman, mempercepat penyerapan unsur Kalium, berperan pada pertumbuhan tanaman khususnya di bagian yang masih aktif (mengalami deferensiasi) pembentukan sel, dan meningkatkan kualitas produksi.

B. Gejala Defiiensi Boron

Gejala awal defisiensi Bo adalah memendekkan ukuran daun muda yang menunjukkan kondisi khas, yaitu flat top (rata bagian atas). Daun-daun yang menderita defisiensi Bo warnanya hijau gelap, rapuh, dan berbentuk aneh atau keriput. Selain itu menunjukkan gejala yang disebut sebagai hooked leaf, fish bone leaf dan blind leaf yang mudah diidentifikasi di lapangan.

C. Penyebab Defisiensi Boron

Defisiensi Bo pada umumnya terjadi jika :

Tanaman kelapa sawit dipupuk dengan N, K, dan Ca dalam dosis yang berlebihan.

Kadar Bo tersedia dalam tanah sangat rendah (misalnya yang terjadi pada tanah-tanah berpasir dan tanah-tanah gambut).

Keasaman (pH) tanah 7,5.

Peningkatan pengambilan Bo dalam tandan sawit disebabkan perbaikan penyerbukan oleh Elaedobius kamerunikus, yang tidak diimbangi dengan pemupukan Bo.

Dosis Bo yang tidak mencukupi untuk mendukung peningkatan produktivitas yang tinggi atau tanaman kelapa sawit yang tumbuh pada tanah dengan kadar Bo yang rendah.

D. Pencegahan Defisiensi Boron

Kadar Bo daun optimum adalah 12-25 μg/g. Akan tetapi tanaman yang dipupuk dengan Bo dalam jumlah yang mencukupi kadang-kadang berkadar Bo dalam daun di luar selang angka tersebut. Sodium Borate (Na2B4O7.10H2O) merupakan pupuk Bo yang sangat umum dipakai dan pemupukan dengan dosis 100-200 gr Sodium Borate/pokok/tahun diperlukan sebagai anjuran umum.

E. Perlakuan Pada Tanaman Defisiensi Boron

Tanaman kelapa sawit yang menderita defisiensi Bo yang berat perlu dipupuk dengan 200 g Sodium Borate/pokok/tahun. Pupuk Bo ditabur di piringan pokok tetapi harus dekat ke bagian pangkal batang. Pemupukan Bo di ketiak daun kurang dianjurkan karena penyebaran Bo dalam jaringan tanaman tidak merata, bahkan mungkin akan menimbulkan keracunan Bo bagi tanaman.

5.7. SENG (ZINCUM = Zn)

A. Peranan Seng

Seng (Zn) diserap dalam bentuk Zn2+ dan berperan sebagai katalisator dalam pembentukan protein, mengatur pembentukan asam indoleasetik (asam yang berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh tanaman) dan berperan aktif dalam transformasi karbohidrat.

B. Gejala Defiiensi Seng

Gejala awal defisiensi Zn diantaranya ruas pada bagian pucuk lebih pendek sehingga membentuk gejala roset (saling bertumpuk pada satu titik tumbuh), pembentukan bakal buah terhambat atau tanaman sama sekali tidak dapat berbuah, pembentukan warna kuning diantara tulang daun pada daun muda kemudian diikuti kematian jaringan di antara tulang daun dan ukuran daun menjadi lebih kecil, sempit dan melebar.

C. Penyebab Defisiensi Seng

Defisiensi Zn pada umumnya terjadi jika :

Pada tanah yang mengandung kadar Phospat tinggi.

Daerah yang bersuhu rendah misalnya pegunungan.

Keasaman (pH) tanah 6 –9 ketersediaan Zn semakin menurun dan pada pH 9 Zn tidak dapat lagi diserap oleh tanaman.

D. Perlakuan Pada Tanaman Defisiensi Seng

Pemberian pupuk lewat tanah sebaiknya dilakukan saat tanaman masih muda, sebelum gejala kekurangan Zn terlihat.

5.8. BESI (FERRUM = Fe)

A. Peranan Besi

Besi (Fe) diserap dalam bentuk Fe2+ dan berperan sebagai aktivator dalam proses biokimia di dalam tanaman, seperti fotosintesis dan respirasi. Selain itu Fe berperan dalam pembentukan beberapa enzim tanaman.

B. Gejala Defisiensi Besi

Dapat terlihat lebih awal pada daun muda, karena unsur ini tidak dapat ditranslokasikan ke organ lain. Gejala awal yang muncul adalah warna kuning diantara tulang daun, tetapi tulang daunnya tetap berwarna hijau. Gejala lanjutannya berupa warna daun menjadi putih, pertumbuhan terhenti, daun gugur dan bagian pucuknya mulai mati.

C. Penyebab Defisiensi Besi

Defisiensi Fe pada umumnya terjadi jika :

Kekurangan Fe di dalam tanah disebabkan oleh kadar Ca, P atau Mn di dalam tanah yang terlalu tinggi akibat pemupukan.

Ketersediaan Fe akan turun seiring dengan meningkatnya pH tanah.

Dalam kondisi normal, Fe tidak mudah tercuci dari zona perakaran, tetapi pada tanah dengan aerasi buruk penyerapan Fe terhambat.

5.9. MANGAN (Mn)

A. Peranan Mangan

Mangan (Mn) diserap dalamn bentuk ion Mn2+. Mangan berfungsi sebagai aktivator berbagai enzim yang berperan dalam proses perombakan karbohidrat dan metabilisme Nitrogen. Mangan bersama Besi membantu terbentuknya sel-sel klorofil. Terkadang juga berperan dalam sintesis berbagai vitamin.

B. Gejala Defiiensi Mangan

Gejala kekurangan Mn hampir sama dengan gejala kekurangan Fe. Daun muda akan berwarna kuning, tetapi tulang daunnya masih berwarna hijau.

C. Penyebab Defisiensi Mangan

Defisiensi Mn pada umumnya terjadi jika :

Ketersediaan Mn di dalam tanah akan menurun seiring dengan meningkatnya pH tanah. pH tanah di atas 6,5 maka Mangan tidak dapat diserap oleh tanaman.

Jika pH tanah dibawah 4,5 jumlah Mn yang terlarut sangat banyak dan akan berakibat meracuni tanaman.

Tanah dengan aerasi yang buruk juga akan memicu berkurangnya kandungan Mn.

5.10. MOLIBDENUM (Mo)

A. Peranan Molibdenum

Molibdenum (Mo) diserap dalam bentuk ion MoO42-. Molibdenum berfungsi dalam penyerapan N, pengikatan (fiksasi) N, asimilasi N, dan secara tidak langsung berperan dalam produksi asam amino dan protein. Unsur Mn juga berfungsi sebagai aktivator beberapa jenis enzim.

B. Gejala Defisiensi Molibdenum

Gejala kekurangan Mo hampir mirip dengan gejala kekurangan Nitrogen, yaitu ditandai dengan munculnya warna kuning di antara tulang daun. Gejala lainnya adalah daun menggulung, keriput dan mengering.

C. Penyebab Defisiensi Mo

Defisiensi Mo pada umumnya terjadi jika :

Pada tanah berpasir dan tanah ber-pH rendah sangat mungkin mengalami kekurangan Mo karena terjadi pencucian.

Tidak seperti unsur hara mikro yang lain, ketersediaan Mo justru meningkat seiring dengan peningkatan pH.

D. Perlakuan Pada Tanaman Defisiensi Mo

Program pengapuran yang tepat dapat mengoreksi kekurangan unsur Mo dalam tanah.

5.11. KHLOR (Cl)

A. Peranan Khlor

Khlor (Cl) diserap dalam bentuk ion Cl-, dan berperan dalam pengaturan tekanan osmosis di dalam sel tanaman. Unsur Cl juga berperan dalam proses fotosintesis.

B. Gejala Defisiensi Khlor

Kekurangan unsur Cl sangat jarang dijumpai karena ketersediaan di alam sangat melimpah. Dari hasil percobaan kekurangan unsur Cl akan menekan pertumbuhan akar, daun layu dan berwarna kuning serta muncul bercak-bercak kuning dipermukaan.

C. Penyebab Defisiensi Khlor

Defisiensi Cl pada umumnya terjadi jika :

Kebutuhan Cl relatif sedikit dibandingkan unsur lainnya.

6. PERSIAPAN SEBELUM APLIKASI DI LAPANGAN

6.1. PERSIAPAN PUPUK

a. Jenis dan jumlah pupuk yang diperlukan harus tersedia di kebun pada waktunya. Untuk itu permintaan pupuk dari kebun ke Departemen Logistik harus dilakukan minimal 3 bulan sebelum aplikasi pemupukan dilakukan.

b. Untuk memastikan bahwa pupuk yang diterima adalah pupuk berkualitas baik sesuai dengan spesifikasi dalam transaksi pembelian, maka perlu dilakukan pengambilan contoh pupuk dan dikirim ke laboratorium untuk dianalisis oleh Departemen Riset (R & D). Sebelum hasil analisis diterima dengan spesifikasi yang diharapkan maka pupuk yang telah berada di kebun tersebut belum bisa diaplikasikan.

c. Stok pupuk lama dan pupuk yang karung goninya rusak harus digunakan lebih dahulu (prinsip FIFO : first in first out).

d. Pupuk yang membatu/menggumpal harus dikeluarkan dari karungnya dan dihancurkan untuk kemudian diuntil dengan disertai label jenis pupuk dan ditimbang beratnya.

e. Karena sistem aplikasi pupuk dilakukan dengan teknik untilan, maka stok pupuk yang keluar dari gudang sentral sudah harus berupa untilan yang jenis dan berat pupuknya disesuaikan dengan rencana areal yang akan dipupuk dan kemampuan penabur pupuk.

6.2. PERSIAPAN DAN ORGANISASI PENGUNTILAN

A. Alat-alat yang Perlu Dipersiapkan dalam Penguntilan

Takaran besar untuk memasukkan pupuk ke eks goni pupuk. Besarnya takaran ini adalah kelipatan dari dosis pupuk per pokok dan mudah memasukkannya ke dalam goni.

Takaran besar tersebut dibuat dari papan tipis dan diberi label yang jelas yang mencantumkan jenis pupuk, dosis per pokok dan berat total per untilan. Takaran disusun yang rapi di gudang pupuk untuk memudahkan pengontrolan kebenaran dan ketelitiannya.

Lembaran eks karung pupuk yang telah dijarum/dijahit satu sama lain untuk dipakai sebagai alas. Usahakan agar dapat menampung berpuluh-puluh goni pupuk, dengan ukuran minimal 5 x 5 m2 dan dibuat rangkap dua.

Alat untuk meratakan pupuk di dalam takaran besar.

Alat pemecah pupuk yang menggumpal. Dapat digunakan pemukul yang dibuat dari broti/kayu bulat dengan alas papan yang tebal.

Sebuah timbangan untuk mengontrol secara random apakah berat per until sesuai dengan yang telah ditentukan.

Takaran pupuk berbentuk kubus sesuai dengan dosis per pokok yang telah ditentukan di buku program pemupukan. Jenis dan dosis harus tertulis pada setiap takaran. Takaran tersebut dibuat dari tripleks untuk dosis > 1 kg. Sedangkan dosis 10 tahun : 1 kali aplikasi/tahun.

c. Untuk pemupukan TM agar selalu diusahakan untuk memupuk menjelang akhir musim hujan untuk aplikasi pertama dan pada awal musim hujan untuk aplikasi kedua. Aplikasi pupuk sudah harus selesai di bulan September pada setiap tahun berjalan.

d. Pada prinsipnya pemupukan dengan Urea, TSP, MOP dan Kieserit diusahakan agar dapat sekaligus diselesaikan per blok/kompleks. Jangan melakukan sistem pemupukan seluruh afdeling/kebun dengan satu jenis pupuk saja sampai selesai kemudian disusul dengan jenis pupuk yang kedua, ketiga dan seterusnya. Hal demikian bukan saja bisa mengurangi efisiensi pupuk tetapi juga mempersulit waktu pengambilan sampel daun LSU oleh Riset (R & D). Dalam hal ini tidak perlu dikhawatirkan akan adanya antagonisme hara tanah, selama dosis dan cara aplikasi pupuk sudah tepat.

e. Apabila pada saat pelaksanaan pemupukan terjadi periode hujan yang lebat maka agar dipilih pemupukan TSP, RP atau Dolomit yang praktis tidak tercuci (tidak terjadi leaching).

f. Aplikasi pupuk saat musim hujan dengan curah hujan lebih dari 300 mm/bulan harus dihindari. Pupuk jenis Urea tidak dianjurkan untuk ditaburkan pada bulan kering (curah hujan kurang dari 60 mm/bulan). Hal ini bertujuan untuk menghindari terjadinya kehilangan yang berlebihan akibat penguapan Amonia.

g. Pupuk harus dipesan lebih awal sehingga aplikasi pupuk dapat mengikuti jadual yang telah direkomendasikan oleh R & D.

h. Pada TBM dan TM umur 1-5 tahun, Kapur Pertanian dan Dolomit dapat diberikan setiap waktu namun harus diperhatikan bahwa selang waktu pemberiannya dengan pupuk Urea ± 2 bulan. Pemberian Kapur Pertanian dan Dolomit tidak mempengaruhi jadwal pengambilan sampel daun LSU untuk penyusunan rekomendasi pemupukan karena kelarutannya yang sangat rendah.

Pada TM umur ≥ 6 tahun, Kapur Pertanian, Dolomit atau Abu Janjang dapat diberikan setiap waktu, karena pupuk-pupuk tersebut disebar diluar piringan. Jadi aplikasinya tidak tergantung dari waktu aplikasi pupuk Urea yang disebar di dalam piringan.

8. APLIKASI PEMUPUKAN SECARA UMUM

Dalam aplikasi pupuk di lapangan, hal penting yang perlu diperhatikan adalah jenis tanaman yang akan dipupuk dan jenis pupuk yang akan digunakan. Secara garis besar aplikasi pemupukan dapat dibedakan berdasarkan aplikasi pupuk padat dan aplikasi pupuk cair.

8.1. JENIS TANAMAN YANG AKAN DIPUPUK

A. Tanaman yang Akan Dipupuk

Nilai ekonomis tanaman dan luas areal tanam. Tanaman dengan nilai ekonomis yang tinggi atau memiliki skala penanaman yang sangat luas dapat dipertimbangkan cara penempatan pupuk dengan alat mekanis atau fertigasi (pupuk dilarutkan ke dalam air dan disiramkan pada tanaman melalui irigasi). Cara ini memiliki akurasi yang cukup tinggi.

Umur tanaman. Untuk tanaman yang ditanam dari biji, pupuk tertentu dapat ditempatkan bersama pada saat penanaman biji. Tanaman di dalam wadah persemaian dapat dipupuk dengan cara menyemprotkan pupuk daun. Pupuk untuk tanaman di lapangan yang masih kecil dapat diberikan dengan cara menugal. Pada tanaman yang sudah besar, pupuk dapat diberikan dengan cara larikan atau tabur (broadcast).

Tipe perakaran. Tanaman memiliki dua tipe perakaran, yakni akar tunggang dan akar serabut. Tanaman yang berakar tunggang, sebaiknya pupuk ditempatkan bawah buji agar dapat digunakan langsung oleh tanaman. Sedangkan untuk tanaman berakar serabut, pupuk dapat diberikan dengan cara disebar. Dalam penempatan pupuk dipertimbangkan juga jenis perakaran yang luas atau terbatas. Jika perakaran tanaman terbatas, pupuk ditempatkan lebih dekat dengan tanaman.

Jarak tanam dan karakter tajuk. Tanaman dalam barisan yang rapat, dapat dipupuk dengan cara larikan pada satu sisi atau kedua sisi dari baris tanaman. Tanaman yang ditanam berjauhan seperti kelapa sawit dapat dipupuk dengan cara membuat lingkaran sekeliling pohon. Pada tanaman penutup tanah (LCC), diberikan pupuk daun yang bersifat slow release. Meskipun demikian pupuk fast release dapat diberikan tetapi harus diikuti dengan penyiraman, agar pupuk tidak membakar daun.

B. Jenis Pupuk yang Akan Digunakan

Pupuk Phosphor (P) bersifat tidak mobil (mudah berpindah), akibatnya pupuk P tetap berada di tempat semula selama musim tanam sehingga harus diberikan sekaligus dan harus diberikan dekat dengan area perakaran.

Pupuk Kalium (K) dan Nitrogen (N) cenderung mudah bergerak (mobil) dari tempat asal penebarannya. Pola pergerakannya vertikal ke bawah bersama sama air. Oleh karena itu, tidak disarankan memberikan pupuk Nitrogen secara sekaligus karena kemungkinan terjadinya penguapan atau pencucian sangat besar. Karena sifatnya yang mobil (mudah bergerak), pupuk Kalium dan Nitrogen dapat ditebar di atas permukaan tanah atau di dalam larikan.

Perhatikan juga sifat pupuk yang lain, misalnya pupuk dengan indeks garam yang tinggi tidak boleh ditempatkan terlalu dekat dengan akar atau benih karena dapat merusak tanaman. Pupuk dengan butiran yang sangat halus seperti kapur umumnya ditebar di atas permukaan tanah. Jika ingin menggunakan peralatan mekanis untuk penebaran pupuk, perhatikan ukuran butiran dan kekerasan butiran pupuk.

C. Dosis Pupuk

Penempatan pupuk tidak disarankan dengan dosis sangat tinggi di dalam larikan atau di dalam tugalan karena dapat merusak tanaman. Pupuk tersebut sebaiknya ditebar agar tidak terjadi penumpukan di satu tempat.

D. Faktor Lain

Faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan cara penempatan pupuk adalah iklim, jenis tanah dan ketersediaan air.

8.2. JENIS PUPUK YANG AKAN DIGUNAKAN

A. Aplikasi Pupuk Padat

Pada prinsipnya aplikasi pupuk padat organik dan anorganik (kimia) dilakukan dengan cara yang sama. Aplikasi pupuk padat dapat dilakukan dengan 3 cara, yaitu :

A.1. Ditebarkan Langsung ke Permukaan Tanah

Kerugian dari cara pemupukan ditebar langsung di permukaan tanah adalah :

 Efisiensi dan efektivitas pemupukan rendah (sebagian pupuk tidak mencapai sasaran di daerah perakaran tanaman).
 Pengawasan terhadap pelaksanaan pemupukan harus lebih ketat.
 Mempercepat pertumbuhan gulma dan rumput yang dapat menjadi pesaing bagi tanaman yang diusahakan.

Keuntungan dari cara pemupukan ditebar langsung di permukaan tanah adalah :

 Pelaksanaan pemupukan lebih cepat selesai sehingga tidak memerlukan waktu dan biaya tenaga kerja yang tinggi.

A.2. Diberikan ke Dalam Larikan atau Barisan Antar Tanaman

Aplikasi pemupukan dilakukan dengan memberikan pupuk di dalam parit kecil atau larikan diantara barisan tanaman kemudian pupuk ditutup dengan tanah.

Kerugian dari cara pemupukan ditebar ke dalam larikan atau barisan antar tanaman adalah :

 Memerlukan tambahan waktu, biaya dan tenaga.
 Perkembangan akar harus mencapai ke tempat pupuk ditaburkan sehingga pupuk dapat diserap dengan baik.

Keuntungan dari cara pemupukan ditebar ke dalam larikan atau barisan antar tanaman adalah :

 Dapat menekan kehilangan pupuk yang bersifat mudah hilang karena evapotranspirasi atau erosi.
 Efisiensi dan efektivitas penggunaan pemupukan dapat tercapai.

A.3. Ditempatkan Dalam Lubang

Aplikasi pemupukan dilakukan dengan menempatkan pupuk ke dalam lubang yang dibuat melingkari tanaman kemudian pupuk ditutup dengan tanah.

Kerugian dari cara pemupukan ditempatkan dalam lubang adalah :

 Memerlukan tambahan waktu, biaya dan tenaga untuk pembuatan lubang yang melingkari tanaman.
 Perkembangan akar harus mencapai ke tempat pupuk ditaburkan sehingga pupuk dapat diserap dengan baik.

Keuntungan dari cara pemupukan ditempatkan dalam lubang adalah :

 Dapat menekan kehilangan pupuk yang bersifat mudah hilang karena evapotranspirasi atau erosi. Cara pemupukan ini sangat cocok diterapkan pada tanaman tahunan seperti kelapa sawit, coklat, kopi, karet dan lain-lain.
 Efisiensi dan efektivitas penggunaan pemupukan dapat tercapai.

A.4. Dicampurkan Merata dengan Tanah Pada Lahan Olah

Cara pemupukan dicampur merata dengan tanah biasanya dilakukan pada lahan penanaman sayuran pada bedengan atau tanaman hortikultura yang ditanam dengan jarak tanam yang rapat.

Pupuk dicampur dengan tanah 1-2 minggu sebelum tanam.

A.5. Dibenamkan Dalam Lubang Dekat Perakaran

Pemupukan dengan cara dibenamkan dalam lubang dekat perakaran cocok diterapkan pada tanaman tahunan.

Kerugian dari cara pemupukan dibenamkan dalam lubang dekat perakaran adalah :

 Memerlukan tambahan waktu, biaya dan tenaga untuk pembuatan lubang.
 Perkembangan akar harus mencapai ke tempat pupuk ditaburkan sehingga pupuk dapat diserap dengan baik.

Keuntungan dari cara pemupukan dibenamkan dalam lubang dekat perakaran adalah :

 Dapat menekan kehilangan pupuk yang bersifat mudah hilang karena evapotranspirasi atau erosi.
 Efisiensi dan efektivitas penggunaan pemupukan dapat tercapai.

A.6. Ditanam di Larikan di Sebelah Lubang Tanam

Pemupukan dengan cara ditanam di larikan di sebelah lubang tanam cocok diterapkan pada tanaman semusim.

Pupuk berada didekat tanaman sehingga lebih efisien diserap tanaman. Pemupukan dapat dilakukan bersamaan saat tanam atau setelah penanaman.

A.7. Dikocor di Dekat Batang Tanaman (Fertigasi)

Pemupukan dengan cara dikocor di dekat batang tanaman sangat cocok diterapkan pada tanaman semusim. Pupuk dicampur dengan air kemudian dikocorkan di dekat batang tanaman.

Kerugian dari cara pemupukan dikocor di dekat batang tanaman adalah :

 Pembuatan larutan pupuk harus tepat konsentrasinya. Konsentrasi larutan yang tinggi apabila mengenai daun tanaman dapat menyebabkan efek terbakar.
 Memerlukan tambahan waktu, biaya dan tenaga untuk pembuatan larutan pupuk.
 Frekuensi pemupukan lebih sering sehingga memerlukan tenaga yang intensif.

Keuntungan dari cara pemupukan dikocor di dekat batang tanaman adalah :

 Pupuk dapat langsung diserap oleh tanaman sehingga efisiensi dan efektivitas penggunaan pemupukan dapat tercapai.

A.8. Dicampurkan dengan Tanah Penutup Lubang Tanam

Pemupukan dengan cara pupuk dicampurkan dengan tanah penutup lubang tanam dilakukan untuk pemupukan dasar, misalnya bibit sawit sebelum ditanam biasanya lubang tanam diberi pupuk dasar TSP atau Rock Phosphate.

Jenis pupuk yang dipakai dapat berupa pupuk organik atau anorganik (kimia).

8.3. APLIKASI PUPUK CAIR

Pupuk dalam bentuk cairan sebagian besar berupa pupuk organik. Aplikasinya dilakukan dengan cara disemprotkan ke daun atau disiramkan langsung ke per-akaran tanaman. Hal yang perlu diperhatikan dalam aplikasi pupuk cair adalah :

Beberapa jenis pupuk organik cair dapat langsung disemprotkan ke daun tanpa penambahan air, tetapi jenis pupuk lainnya harus dilarutkan dalam air terlebih dahulu dengan dosis tertentu. Pada saat pengenceran pupuk cair, dapat juga ditambahkan bahan perekat, hormon, insektisida atau bahan pembantu lain.

Aplikasi pupuk cair dengan cara disemprotkan ke daun sebaiknya tidak dilakukan pada kondisi terik matahari atau kelembaban rendah untuk menghindari pengupan yang berlebihan.

Selain itu, aplikasi pupuk cair jangan dilakukan pada saat hujan untuk mengindari tercucinya pupuk di permukaan daun.

9. APLIKASI PUPUK ANORGANIK DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

9.1. ORGANISASI PEMUPUKAN

a. Untuk menghindari adanya kekeliruan dalam aplikasi pupuk di lapangan, maka di tiap Afdeling setiap harinya hanya dibenarkan menabur satu jenis pupuk saja.

b. Kebutuhan tenaga kerja harus tepat dan sesuai dengan luas areal yang akan dipupuk. Norma prestasi penabur adalah 2,0-3,5 Ha/HK atau 400-500 kg/HK dan tergantung dari dosis pupuk per pokok, topografi tanah dan keterampilan penabur (profesionalisme).

c. Tenaga kerja harus terlatih dan terdiri dari satu mandoran tenaga wanita yang tetap untuk setiap Afdeling. Diusahakan tidak terjadi penggantian tenaga penabur.

d. Afdeling harus menyediakan takaran yang tepat dan seragam antara penabur satu dengan yang lainnya, begitu juga dengan jumlah takaran harus sesuai dengan jumlah penabur.

9.2. PENGECERAN UNTILAN PUPUK KE DALAM BARISAN TANAMAN

a. Pengeceran untilan pupuk ke dalam barisan tanaman dilakukan oleh tenaga ecer (tukang langsir). Jumlah tenaga disesuaikan dengan jumlah pupuk dan topografi tanahnya.

b. Pengeceran dilakukan sesuai dengan rencana pada peta detail dan dimulai dari batas/rintis tengah blok atau batas alam seperti sungai, parit dan lain-lain, menuju ke collection road.

9.3. CARA MENABUR PUPUK DI LAPANGAN

a. Pastikan bahwa takaran yang dibawa sesuai dengan dosis yang akan digunakan dan sesuai dengan jumlah penabur. Asisten Afdeling agar mengecek kembali kebenaran takaran yang akan digunakan.

b. Penaburan pupuk pada masing-masing pokok harus dimulai dari batas/rintis tengah blok menuju collection road sesuai arah barisan tanaman.

c. Pada TBM dan TM umur s/d 5 tahun, semua pupuk disebar didalam piringan secara melingkar dan merata. Tidak dibenarkan menabur pupuk terputus-putus (1/2 atau 1/3 lebar piringan).

d. Jarak penaburan pupuk dari pokok tergantung dari jenis pupuk yang akan ditabur dan umur tanaman.

e. Pada TM umur lebih dari 6 tahun, pupuk Urea disebar merata secara melingkar mulai dari radius 1,0 m dari batang sampai batas luar piringan. Pupuk-pupuk lainnya (TSP, MOP, Kiserit, Dolomit, Abu Janjang) disebar diluar piringan mulai dari batas lingkaran hingga 1,5 m ke arah luar (3,5 m dari batang).

f. Untuk tanah miring hanya ditabur ½ lingkaran. Demikian juga untuk tanaman yang sangat dekat dengan parit (untuk mencegah run off).

g. Mandor, Mandor I dan Asisten Afdeling agar membiasakan mengerti penaburan yang tepat dari masing-masing dosis, sehingga secara visual sudah dapat mengetahui ada tidaknya penyimpangan penaburan pupuk di piringan.

h. Untuk mendapatkan hasil pemupukan yang baik, supervisi yang ketat merupakan keharusan. Mandor yang bertanggung jawab di dalam pemupukan harus selalu berada di lokasi dimana pemupukan dilakukan. Asisten Afdeling harus selalu melakukan pengecekan dan memastikan bahwa pupuk telah ditaburkan sesuai dengan dosis yang tepat pada tempat yang telah ditentukan.

9.4. PENGUMPULAN GONI EKS PUPUK

a. Goni eks pupuk dikumpulkan oleh tim pengecer dan disusun di penampungan untilan dan digulung setiap 10 (sepuluh) lembar untuk memudahkan pengontrolan kembali jumlah untilan yang dibawa ke lapangan dan sekaligus pengecekan apakah seluruh pupuk sudah ditabur dan tidak ada yang hilang.

b. Goni eks pupuk yang terkumpul dibawa kembali oleh karyawan/pekerja di bawah pegawasan mandor dan dikembalikan ke Kantor Afdeling untuk diterima oleh Krani Afdeling/petugas kantor Afdeling dengan administrasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

9.5. ADMINISTRASI

a. Karyawan yang ditugaskan dari Afdeling untuk pekerjaan penguntilan di Gudang Sentral membawa buku pemupukan dari Afdeling.

b. Bagi petugas yang akan mengangkut untilan diwajibkan membawa Bon Permintaan Barang asli dari Afdeling sebagai tanda bahwa pupuk akan diambil.

c. Realisasi aplikasi pemupukan sesuai dengan program dicatat di Buku Kegiatan Mandor dan Buku Rekomendasi Pemupukan dimana dituliskan bulan aplikasi. Monitoring pelaksanaan aplikasi pemupukan dilakukan pada Buku Rekomendasi Pemupukan ini.

9.6. MONITORING RENCANA DAN REALISASI PEMUPUKAN

Untuk mencapai 3 tepat di dalam aplikasi pemupukan, yaitu tepat cara, tepat waktu dan tepat dosis, maka berikut disampaikan prosedur pengisian buku rencana dan realisasi pemupukan.

1. Pemilihan jenis pupuk yang akan ditaburkan harus disesuaikan dengan bulan rekomendasi.

2. Pada blok–blok yang sudah ditentukan akan dilakukan pemupukan, dihitung kebutuhan jumlah pupuknya, selanjutnya dibuat permintaan ke gudang sejumlah pupuk yang akan ditabur keesokan harinya. Permintaan tersebut dituangkan ke dalam bentuk buku bon permintaan barang.

Saat pengebonan sudah dilakukan maka pada kotak kolom (dosis dan jumlah pupuk) dibuat garis vertikal di sebelah kiri kotak dengan pensil warna merah (lihat contoh 1)

3. Apabila pupuk sudah dimuat ke gudang Afdeling dan sudah dilakukan penguntilan, maka dibuat garis horisontal/mendatar pada kotak kolom (dosis dan jumlah pupuk) menyambung dengan garis yang sudah dibuat pada keterangan no. 2 dengan pensil warna merah (lihat contoh 2)

4. Apabila pemupukan pada blok tersebut sudah selesai dikerjakan maka pada kotak kolom (dosis dan jumlah pupuk) dibuat garis penuh membentuk kotak dengan pensil warna merah dan pada kolom realisasi pemupukan ditulis tanggal/bulan dengan pensil warna biru (lihat contoh 3). Jumlah pupuk yang sudah diaplikasi harus ditulis pada kolom realisasi.

Misal : Afdeling I, Blok B-21

Dosis Jlh Pupuk Dosis Jlh Pupuk Bln Dosis Jlh Pupuk
1,00 1203
1,00 1203
Mar 1,00 1203
14/3 1,00 1203

Catatan : 14/3 artinya dikerjakan pada tanggal 14 maret

10. APLIKASI PUPUK ORGANIK DI PERKEBUNAN KELAPA SAWIT

10.1. JANJANG KOSONG

A. Sifat dan Nilai Janjang Kosong

a. Janjang kosong (JJK) adalah sisa buah tandan sawit yang diolah di pabrik kelapa sawit (PKS). Produksi JJK sekitar 23 % TBS (tandan buah segar).

b. Janjang kosong adalah bahan organik yang mengandung sejumlah hara terutama Kalium (K). Volume 1 (satu) ton janjang kosong segar mengandung hara yang setara dengan sekitar 5 kg Urea, 1 kg TSP, 16 kg MOP, dan 4 kg Kieserit. Janjang kosong melapuk relatif lambat (8 bulan), hara N dan P yang terkandung didalamnya bersifat slow-release (lambat tersedia bagi tanaman).

c. Pada tanah berpasir janjang kosong bermanfaat sebagai bahan mulching. Disini aplikasi janjang kosong secara rutin dapat menaikkan produksi TBS, terutama di daerah dengan iklim yang mempunyai beberapa bulan kering. Efek kenaikan produksi terutama disebabkan karena bertambahnya daya menyimpan air dari tanah yang di-mulching dengan janjang kosong.

d. Pada daerah lereng, janjang kosong bermanfaat untuk mencegah dan mengurangi erosi.

B. Areal Aplikasi Janjang Kosong

a. Prioritas aplikasi janjang kosong adalah pada tanaman menghasilkan (TM) dan pada tanaman belum menghasilkan (TBM) di daerah lereng dan tanah berpasir.

b. Departemen Riset setiap tahun merekomendasikan blok-blok mana yang akan diberikan janjang kosong dalam suatu program pemupukan kebun yang menyeluruh. Sebaiknya pemberian janjang kosong dalam blok yang sama dilakukan beberapa tahun berturut-turut.

c. Blok-blok yang akan diaplikasi janjang kosong harus disurvei lebih dahulu kelayakannya. Persyaratannya adalah sebagai berikut :

TBM dan TM yang terletak dalam radius 6 km dari PKS.

Tanah mineral, sebaiknya bertekstur ringan (berpasir).

Bukan daerah rendahan, drainase harus baik.

Sarana jalan dan jembatan berfungsi baik.

Sebaiknya tidak ada parit yang mengelilingi blok, supaya traktor dapat masuk ke dalam blok dari beberapa tempat.

Di dalam areal tidak banyak batang-batang melintang.

C. Dosis Aplikasi Janjang Kosong

a. Janjang kosong yang diaplikasi adalah janjang kosong segar yang diangkut langsung dari PPKS dan segera diecer (diaplikasi). Janjang kosong yang sudah lama menumpuk di lapangan sebelum diecer (lebih dari 1 minggu) akan kehilangan banyak hara terutama Kalium (hilang tercuci), jadi manfaatnya sebagai bahan pupuk akan jauh berkurang.

b. Berikut ini adalah program pemupukan JJK pada tanaman kelapa sawit :

Umur Tanaman Kg/Pokok/Tahun Aplikasi JJK Aplikasi Urea dan TSP
JJK Suplemen Urea Suplemen TSP Cara Waktu
TBM tahun pertama 200 0,25 + 0,50 0,30 + 0,20 piringan segera setelah tanam di atas JJK
TBM tahun kedua 225 0,50 + 0,50 0,75 + 0 piringan 1 tahun setelah aplikasi pertama di atas JJK
TBM tahun ketiga 275 0,75 + 0,75 1 + 0 piringan atau gawangan mati 1 tahun setelah aplikasi kedua di atas JJK
TM tahun keempat dan seterusnya 275 0,75 + 0,75 1 + 0 gawangan mati setiap tahun (sepanjang tahun berjalan) TSP di atas JJK Urea di piringan

D. Metode Aplikasi Janjang Kosong

a. Aplikasi satu kali per tahun (lihat tabel diatas). Janjang kosong diberikan secara manual. Aplikasi janjang kosong di TBM diletakan di piringan sedangkan di TM diletakan di gawangan mati (antara pokok), masing-masing satu lapis. Aplikasi ini tidak mengganggu kelancaran pekerjaan rutin kebun seperti pemeliharaan piringan, panen dan angkut buah maupun brondolan. Aplikasi janjang kosong di TBM bahkan bisa mengurangi biaya pengendalian gulma di piringan.

b. Janjang kosong diangkut dari PKS ke blok aplikasi dengan dump truck atau traktor dan trailer, lalu ditumpuk di barisan pokok kedua dari jalan, masing-masing tumpukan jumlahnya sekitar 15 ton. Ingat peletakan janjang kosong bukan di tepi jalan yang dapat menutupi badan jalan.

c. Dari setiap tumpukan, janjang kosong diecer ke setiap pokok di dalam blok oleh karyawan dengan menggunakan kereta sorong (angkong). Selanjutnya janjang kosong diratakan satu lapis di areal pemberian.

d. Organisasi pekerjaan di atas harus diatur seefisien mungkin, terutama sekali organisasi transport janjang kosong ke lapangan karena biayanya amat mahal.

E. Kebutuhan Kendaraan Pengangkut Janjang Kosong

Kendaraan yang dibutuhkan dalam pengangkutan janjang kosong adalah dump truck atau farm tractor dengan beberapa trailer kapasitas 4 ton. Jumlah dump truck atau farm tractor dan trailer yang diperlukan harus diteliti secara seksama agar semua janjang kosong produksi hari itu dapat diaplikasikan ke lapangan pada hari itu juga atau besok harinya.

F. Biaya Pengangkutan Janjang Kosong

a. Ongkos muat dan transport dari PKS ke blok aplikasi diestimasi tidak melebihi Rp 40 per kg janjang kosong (Januari 2004). Ini merupakan komponen biaya terbesar dalam pelaksanaan aplikasi.

b. Ongkos ecer dan aplikasi janjang kosong diestimasi tidak melebihi 8,5 HK/Ha (pada kondisi lapangan yang sulit) untuk aplikasi 37,5 ton JJK/Ha (275 kg JJK/pokok).

G. Kesimpulan

Analisa ekonomi menunjukkan bahwa aplikasi janjang kosong pada TBM dan TM sebagai pengganti pupuk buatan adalah menguntungkan.

Persyaratan yang harus dipenuhi untuk menjamin suksesnya aplikasi adalah sebagai berikut :

a. Tersedia blok aplikasi yang memenuhi persyaratan di dalam radius 6 km dari PKS.

b. Tersedia organisasi yang betul-betul efektif dan efisien untuk mengatur transport janjang kosong dari PKS ke lapangan. Harus dilakukan penelitian secara seksama berapa dump truck atau farm tractor dan trailer yang diperlukan untuk mengangkut janjang kosong secara efisien. Demikian pula di PKS harus disediakan peralatan yang efisien untuk mengisi janjang kosong ke dalam trailer (sebaiknya dibuat hopper untuk menampung janjang kosong yang diproduksi di malam hari). Operasional kendaraan-kendaraan ini sebaiknya dikelola kebun.

c. Tersedia tenaga kerja dan mandor/pengawas yang khusus ditugaskan untuk aplikasi limbah pabrik di lapangan.

d. Kelancaran kerja harus dijamin secara berkesinambungan sehingga semua janjang kosong dari PKS selalu bersih terangkut setiap hari untuk aplikasi ke lapangan.

10.2. ABU JANJANG

A. Sifat dan Nilai Abu Janjang

a. Abu janjang adalah hasil pengabuan secara perlahan-lahan dari janjangan kosong di dalam incinerator. Produksi abu janjang adalah sekitar 0,5 % dari TBS.

b. Abu janjang mempunyai kandungan hara Kalium (K) yang tinggi dan dapat dipakai sebagai pengganti pupuk MOP. Satu kg abu janjang setara dengan 0,6 kg MOP.

c. Abu janjang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut :

Sangat alkalis (pH = 12).
Sangat higroskopis (mudah menyerap uap air dari udara).
Mengiritasi tangan karyawan (menyebabkan gatal-gatal dan memperparah luka).
Hara yang terkandung di dalamnya amat mudah larut di dalam air.

d. Adanya sifat-sifat tersebut di atas, maka abu janjang harus cepat diaplikasikan (tidak boleh disimpan lama). Penyimpanan harus baik (sebaiknya dalam kantong plastik, tidak langsung dalam karung goni) dan selalu diperlakukan dengan hati-hati.

e. Abu janjang dengan kadar air lebih dari 10 % tidak dianjurkan untuk diaplikasikan. Aplikasi abu janjang dalam setahun tidak boleh lebih dari satu kali.

f. Abu janjang pada dasarnya adalah pupuk K dan sekaligus sebagai bahan pengapuran. Sasaran aplikasi lapangan terutama pada areal gambut dan tanah masam.

g. Tujuan aplikasi abu janjang adalah :

Sebagai pengganti pupuk MOP.
Sebagai bahan pengapuran untuk menaikkan pH tanah.

B. Areal Aplikasi Abu Janjang

a. Prioritas aplikasi abu janjang adalah pada areal gambut/tanah masam.

b. Departemen Riset (R & D) setiap tahun akan merekomendasikan blok-blok mana yang akan diberikan abu janjang sebagai pengganti pupuk MOP.

c. Persyaratan areal aplikasi adalah :

Tanah gambut dan tanah masam acid-sulphate : diberikan tiap tahun.
Di daerah dengan tanah masam bukan acid-sulphate (pH tanah 4-5), abu janjang hanya diberikan sekali saja dalam 5 tahun. Kalau diberikan terlalu sering maka ada resiko kenaikan pH tanah yang terlalu tinggi (> 5,5).

d. Pada tanah mineral, abu janjang hanya diberikan pada TM. Pada tanah gambut, selain pada TM abu janjang juga diberikan pada TBM tahun ke-2 dan ke-3.

C. Dosis dan Waktu Aplikasi Abu Janjang

a. Abu janjang dapat dipakai sebagai pengganti MOP dengan dosis aplikasi 5 kg abu janjang untuk setiap 3 kg MOP (dibagi dalam 2 kali aplikasi per tahun).

b. Pada TM, abu janjang dapat diberikan setiap waktu sepanjang tahun dengan memperhatikan cara aplikasinya dan jadwal waktu pengambilan sampel daun (minimal 2-3 bulan sebelum pengambilan contoh daun). Khusus untuk TBM harus diperhatikan bahwa jarak waktu antara pemupukan Urea dan abu janjang minimal 4-6 minggu.

D. Persiapan Aplikasi Abu Janjang

a. Abu janjang bersifat amat alkalis dan mengiritasi kulit (caustic), karena itu harus dicegah abu janjang mengenai kulit karyawan. Jika kulit terkena abu janjang maka harus segera dibasuh dengan air yang banyak.

b. Karyawan penabur abu janjang harus diperlengkapi dengan :

Sarung tangan dari karet yang panjang
Pakaian kemeja kerja lengan panjang

c. Karena abu janjang amat higroskopis (menyerap uap air dari udara), maka ukuran takaran harus dikalibrasi dengan berat abu janjang kering. Takaran ukuran 3,3 liter misalnya akan memuat abu janjang 2 kg.

E. Cara Aplikasi Abu Janjang

a. TBM di Tanah Gambut

Abu janjang disebar merata di daerah piringan. Waktu aplikasi harus mempunyai selang waktu minimal 4-6 minggu dengan saat aplikasi pupuk Urea.

b. TM di Tanah Mineral atau Gambut

Abu janjang disebar merata di luar piringan, dalam lingkaran mengelilingi pokok dimulai dari batas piringan ke arah luar (2,0-3,5 meter dari pokok). Dalam hal ini karyawan penabur berjalan mengelilingi batas luar piringan dan menabur abu ke arah luar. Dengan memakai cara ini maka aplikasi abu dapat dilakukan setiap waktu tanpa bergantung dari waktu aplikasi pupuk Urea (yang ditabur di dalam piringan).

10.3. DECANTER SOLID

A. Sifat dan Nilai Decanter Solid

a. Decanter solid (DS) adalah limbah padat yang dihasilkan dari pengolahan TBS di PPKS yang memakai sistem decanter.

b. Untuk pemanfaatannya sebagai bahan pengganti pupuk, decater solid basah biasanya dikeringkan dahulu. Untuk itu diperlukan dryer (ongkos investasi dan operasinya cukup besar). Decanter solid kering yang dihasilkan dapat mempunyai kadar air yang bervariasi, tergantung proses pengeringannya. Kadar air tidak boleh lebih dari 15%, kalau lebih maka bahan cepat berjamur dan tidak dapat disimpan lama.

c. Produksi decanter solid basah adalah ± 5,7 % dari TBS. Sedangkan produksi decanter solid kering adalah ± 2 % dari TBS. Baik DS basah maupun DS kering dapat dimanfaatkan sebagai bahan pengganti pupuk pada TM.

d. Decanter solid adalah bahan organik yang mengandung sejumlah hara terutama Nitrogen (N). Kandungan dapat amat bervariasi, namun secara rata-rata 1 ton decanter solid basah (setara dengan 0,35 ton decanter solid kering) mengandung  17 kg Urea, 3 kg TSP, 8 kg MOP, dan 5 kg Kieserit.

e. Pemanfataan decanter solid sebagai bahan pupuk di lapangan akan mengurangi jumlah pemakaian pupuk pabrik. Di lapangan, decanter solid memerlukan waktu sekitar 6 minggu untuk melapuk.

f. Decanter solid terutama yang masih basah harus segera diaplikasi ke lapangan dalam waktu 1 minggu (tidak dapat disimpan lama).

B. Areal Aplikasi Decanter Solid

a. Departemen Riset (R & D) setiap tahun akan merekomendasikan blok-blok mana yang akan diberikan decanter solid dalam suatu program pemupukan kebun yang menyeluruh. Sebaiknya pemberian decanter solid dalam blok yang sama dilakukan 2 tahun berturut-turut.

b. Aplikasi decanter solid biasanya dilakukan diatas janjang kosong (aplikasi janjang kosong). Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan cross check, mudah melapukkan JJK dan agar solid tidak mencair di piringan.

c. Areal aplikasi harus disurvei dahulu. Persyaratan areal aplikasi sebagai berikut :

TM yang terletak dalam radius 6 km dari PKS.
Tanah mineral, sebaiknya yang bertekstur ringan (berpasir).
Bukan daerah rendahan, drainase harus baik.
Blok dapat dimasuki oleh traktor dari beberapa tempat.
Sarana jalan dan jembatan berfungsi baik.

C. Dosis Aplikasi Decanter Solid

a. Ada dua kemungkinan aplikasi, yaitu aplikasi decanter solid kering atau decanter solid basah.

b. Untuk decanter solid kering (kadar air 15 %), dosis 70 kg/pokok/tahun (9,5 ton/ha/tahun).

c. Untuk decanter solid basah, dosis 200 kg/pokok/tahun (27,2 ton/ha/tahun).

d. Jumlah dosis di atas diberikan atas dasar volume. Decanter solid kering supaya dikarungkan di PKS dalam kemasan 35 kg sehingga dosis aplikasi menjadi 2 karung decanter solid kering/pokok/tahun. Untuk decanter solid basah harus dilakukan kalibrasi penakar yang sesuai, misalnya satu kereta sorong/angkong dapat mengangkut 50 kg DS basah sehingga dosis aplikasi menjadi 4 kali isi kereta sorong DS basah/pokok/tahun. Selain daripada itu juga diperlukan suplemen pupuk pabrik sesuai dengan program pemupukan sebagai berikut :

Program Pemupukan Solid Pada Tanaman Kelapa Sawit Menghasilkan

Jenis Solid Kg/pokok/tahun Aplikasi Solid Aplikasi TSP dan MOP (disebar merata)
Solid TSP MOP Cara Waktu
Solid basah 200 0,5 0,75 + 0,75 gawangan mati Setiap waktu di tahun berjalan di atas solid (gawangan mati)
Solid kering 70 0,5 0,75 + 0,75 gawangan mati Setiap waktu di tahun berjalan di atas solid (gawangan mati)

Keterangan :

Pupuk MOP diberikan dalam dua kali aplikasi (dua semester)
Pupuk TSP satu kali aplikasi
Pupuk Urea dan Kieserit tidak diberikan sama sekali

D. Metode Aplikasi Decanter Solid

a. Seluruh dosis decanter solid diberikan sekaligus untuk 1 tahun (pemberian setiap waktu). Decanter solid kering atau basah diberikan di gawangan mati (barisan pokok) sebagai lapisan tipis.

b. Decanter solid diangkut dari PKS ke blok aplikasi dengan dump truck atau farm tractor dan trailer. Decanter solid kering diangkut dalam karung-karung (berat ± 35 kg/karung), sedangkan decanter solid basah dimuatkan langsung ke dalam trailer.

c. Decanter solid kemudian ditumpuk-tumpukan di sepanjang barisan kedua dari jalan untuk selanjutnya diecer manual ke tiap pokok di dalam blok.

d. Decanter solid dapat diecer ke setiap pokok atau daerah gawangan mati dengan menggunakan kereta sorong.

E. Kebutuhan Kendaraan Pengangkut Decanter Solid

Pengangkutan decanter solid diperlukan sarana transportasi berupa dump truck atau farm tractor dengan trailer, yang pemakaiannya dapat digabungkan dengan keperluan aplikasi janjang kosong. Harus diteliti secara seksama berapa jumlah dumpt truck atau farm tractor dan trailer yang dibutuhkan hingga seluruh produksi decanter solid hari itu dapat seluruhnya diaplikasikan ke lapangan pada hari itu juga atau keesokan harinya.

F. Biaya Pengangkutan Decanter Solid

a. Ongkos muat dan transport dari PKS ke blok aplikasi diestimasikan tidak melebihi Rp 40 per kg decanter solid basah (untuk decanter solid kering lebih rendah) per Januari 2004.

b. Ongkos ecer dan aplikasi decanter solid.
Untuk aplikasi decanter solid kering diestimasi tidak melebihi 4,5 HK/ha.
Untuk aplikasi decanter solid basah diestimasi tidak melebihi 8,5 HK/ha.

G. Kesimpulan

a. Analisa ekonomi menunjukkan bahwa aplikasi decanter solid terutama DS basah, pada TM sebagai pengganti pupuk kimia adalah menguntungkan.

b. Untuk kondisi topografi yang rata atau landai di mana bisa dipakai kereta sorong/angkong untuk mengecer decanter solid, maka paling menguntungkan jika diaplikasi decanter solid basah. Decanter solid basah tidak perlu dikeringkan dulu di dalam pabrik.

c. Di PKS sebaiknya dipasang hopper untuk menyimpan decanter solid basah dan mengisi decanter solid langsung ke trailer.

d. Diperlukan organisasi yang efektif dan efisien dalam pengangkutan decanter solid ke lapangan untuk segera diecer dan diaplikasikan.

10.4. POME (PALM OIL MILL EFFLUENT)

a. POME (Palm Oil Mill Effluent) yang biasa disebut Effluent merupakan limbah cair yang dihasilkan dari pengolahan TBS di PKS.

b. Dari beberapa penelitian, Effluent dapat menggantikan pupuk buatan untuk tanaman kelapa sawit TM dengan hasil yang meningkat 14% dari tanaman yang dipupuk dengan pupuk buatan dosis normal.

c. Effluent mentah memiliki BOD (Biological Oxygen Demand)  25.000 ppm, sedangkan yang sudah diperlakukan (treatment) memiliki BOD sebesar 1.000-2.000 ppm (sesuai untuk aplikasi).

d. Satu ton Effluent (BOD  1.000 ppm) mengandung sekitar 0,5 kg N (1,1 kg Urea), 0,1 kg P (0,22 kg TSP), 1,2 kg K (2 kg MOP), dan 0,3 kg Mg (1,1 kg Kieserite).

e. Pemberian Effluent dengan cara membuat flat beds di sepanjang gawangan mati (selang-seling dengan jalan panen/pasar pikul) dengan ukuran (2,0 x 1,5 x 0,25) m. Effluent dialirkan melalui pipa PVC dalam kolam limbah dengan bantuan pompa. Pengaliran antar flat beds secara gravitasi.

f. Perlu terus dimonitor tentang keseragaman jumlah Effluent yang diberikan setiap pokok sesuai dengan dosis rekomendasi yang diberikan.

g. Pengamatan terhadap kemungkinan timbulnya gejala kekurangan hara tertentu juga diperlukan, terutama karena ketidakseimbangan kandungan hara yang ada pada Effluent tersebut.

11. ANALISIS TANAH DAN DAUN UNTUK REKOMENDASI PEMUPUKAN

11.1. ANALISIS TANAH

Analisis tanah dapat memberikan informasi penting mengenai keragaman sifat-sifat tanah di suatu perkebunan dan dapat memberikan indikasi adanya perubahan-perubahan persediaan hara di dalam tanah selama satu siklus tanaman.

A. Pengambilan Sampel Tanah untuk Penentuan dan Membatasi Jenis Tanah

A.1. Alat-alat yang diperlukan

 Bor tanah (tipe belgia), bor tusuk dan bor gambut digunakan untuk menjajaki dan membatasi jenis tanah sehingga nantinya dapat ditentukan pembuatan penampang (profil) tanah. Pengamatannya didasarkan pada tekstur dan warna tanah.

 Cangkul, garpu dan skop untuk menggali lubang penampang tanah.

 Sekop lurus untuk membuat sisi penampang (profil) tanah tegak lurus.

 Meteran untuk mengukur panjang, lebar dan dalam penampang (profil).

A.2. Pemilihan Tempat

 Keadaan penampang harus masih bersifat alami artinya solum dibawah lapisan atas belum dirusak oleh tenaga mekanis luar.

 Penampang tidak boleh dibuat di tempat bekas timbunan, bekas tanah galian, bekas bangunan/jalan dan lain-lain.

 Untuk memilih tempat pembuatan penampang dilakukan dengan cara sebagai berikut :

 Menjelajah wilayah untuk mengenal bentuk wilayah, sambil mengadakan pemboran untuk mengenal warna tanah, tekstur tanah, keadaan batu diatas dan didalam tanah. Pemboran tanah dilakukan dengan cara di-cross 500 m antara barisan dan 100 m antar titik bor.

 Dari hasil pemboran dapat dibuat batas jenis tanah sementara.

 Penampang tanah dibuat pada setiap jenis tanah. Jumlah penampang yang dibuat disesuaikan dengan luasan jenis tanah dan faktor-faktor pembentuk tanah lainnya. Misalnya di dalam Tanah Podsolik Merah Kuning ada areal berbukit dengan areal datar, maka penampang tanah harus dibuat pada kedua kondisi topografi tersebut.

A.3. Cara Membuat Penampang

 Ukuran lubang penampang (panjang x lebar x dalam) adalah 1,5 m x 1,0 m x 1,5 m. Tetapi pada tanah-tanah berat/dangkal ukuran lubang dapat diperkecil.

 Penampang pemeriksaan dipilih di sisi lubang penampang yang mendapat sinar matahari. Di tempat miring penampang pemeriksaan dipilih di dinding teratas.

 Tanah galian tidak boleh ditimbun di atas sisi penampang pemeriksaan.

A.4. Pengamatan Penampang Tanah

Sebelum dimulai pengamatan penampang perlu diperhatikan hal-hal berikut :

 Penampang pemeriksaan harus bersih dan terang.

 Semua alat-alat dan bahan harus bersih.

 Jika lubang penampang berair maka air harus dibuang dahulu.

 Jangan dilakukan pengamatan pada waktu hujan dan waktu cahaya matahari sudah lemah.

 Jika keadaan tanah sangat kering maka penampang harus dibuat lembab dengan cara menyemprotkan air di permukaan penampang.

Berturut-turut pengamatan penampang dilakukan sebagai berikut :

 Dengan pisau lapang dibuat tusukan-tusukan/cukilan-cukilan sambil meremas gumpalan tanah (dengan tangan kiri) untuk mengetahui konsistensi dan tekstur tanah.

 Sambil memperhatikan perbedaan warna dan tekstur dapat ditarik batas-batas lapisan pada tahap ke-1. Jika warna dan tekstur sama maka perbedaan struktur, konsistensi dan kandungan bahan kasar digunakan untuk menarik batas lapisan pada tahap ke-2.

 Tiap lapisan/horison ditentukan dalam dan tebalnya dan diberi nomor.

 Tiap batas lapisan/horison ditentukan bentuk dan topografinya.

 Tiap lapisan/horison berturut-turut dari atas ke bawah ditentukan warna, tekstur, struktur, konsistensi dan karatannya.

 Kemudian seluruh penampang diamati keadaan perakaran, padas, kandungan CaCO3, bahan organik.

A.5. Pencatatan Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan dicatat pada daftar isian penampang tanah yang telah disediakan.

B. Pengambilan Sampel Tanah untuk Penentuan Kesuburan Tanah

B.1. Alat-alat yang diperlukan

 Cangkul untuk menggali tanah.

 Pisau lapangan untuk mencongkel sampel tanah

 Buku Munsell Soil Color Chart untuk menetapkan warna tanah

 pH teskit untuk menentukan keasaman tanah

 Kantong plastik bening ukuran 2 kg

 Meteran untuk mengukur kedalaman lapisan tanah.

 Kertas label untuk mencatat identitas sampel tanah.

 Ring sample (termasuk peti/kotaknya) untuk mengambil contoh tanah

 Gergaji kecil untuk membuat peres permukaan tanah dalam ring sample

 Alat tulis

B.2. Cara Pengambilan Sampel Tanah

 Sampel tanah diambil untuk setiap jenis tanah. Jumlah sampel yang diambil tergantung dari keragaman kondisi lapangan, luas areal dan tingkat pengamatan yang dikehendaki.

 Sampel tanah untuk penentuan status hara diambil pada kedalaman 0-20 cm dan 20-50 cm, masing-masing sebanyak  2 kg. Sampel tanah dimasukan kedalam kantong plastik yang sudah diberi label kemudian diikat rapat.

 Sampel tanah untuk penentuan sifat fisik tanah (permeabilitas dan kadar air) diambil menggunakan ring dari besi ( 3 inch, tinggi 5 cm) dan kedua ujungnya diberi penutup. Sampel tanah diambil pada kedalaman 0-20 cm dan 20-50 cm dengan cara memasukan ring besi ke dalam tanah perlahan-lahan agar tanah yang masuk ke dalam ring tidak koyak. Tanah yang masuk kedalam ring besi dipereskan permukaannya dengan ring lalu ditutup pada kedua ujungnya dan dimasukan dalam peti/kotak.

 Sampel tanah dalam plastik dan ring besi segera dibawa ke laboratorium untuk dianalisis.

11.2. ANALISIS DAUN

Analisis daun sangat tepat dilaksanakan pada tanaman kelapa sawit karena tanaman kelapa sawit memproduksi daun dan TBS sepanjang tahun secara teratur.

Pengambilan sampel daun bertujuan untuk mengetahui status kandungan unsur hara di daun tersebut yang nantinya akan digunakan sebagai bahan pertimbangan kebutuhan pupuk dalam penyusunan rekomendasi pemupukan.

Untuk mendapatkan hasil analisa yang representatif, pengambilan contoh daun harus dilakukan oleh tenaga kerja yang terlatih dan jujur, untuk itu tim yang akan melakukan pengambilan contoh daun harus sudah berpengalaman dan mempunyai kejujuran yang tinggi.

A. Pengambilan Sampel Daun

Ada dua sistem pengambilan sampel daun yang sering digunakan di perkebunan kelapa sawit, yaitu :

Sistem Acak Tersebar
Sistem Sentral

Sistem acak tersebar pada umumnya banyak digunakan karena sampel daun yang diperoleh merupakan rata-rata di dalam hamparan, dengan kata lain sistem acak tersebar lebih representatif. Sedangkan sistem sentral dalam satu blok (luas 25-30 hektar) hanya diambil satu sampel saja sehingga tidak mencerminkan performance tanaman dalam blok tersebut.

B. Penentu Leaf Sampling Unit (LSU)

Leaf sampling unit (LSU) merupakan suatu hamparan tertentu dimana satu kelompok contoh daun diambil dan hamparan tersebut nantinya menjadi satu kesatuan pemupukan.

Dalam penentuan satu LSU harus mempertimbangkan beberapa faktor yang mempunyai keseragaman, antara lain :

Umur Tanaman
Jenis Tanah
Tindakan Kultur Teknis
Variasi Topografi dan Drainase

C. Penentuan Pohon Sampel

Untuk areal LSU seluas 20 hektar maka intensitasnya adalah 1% tetapi apabila luasnya 1% (seperti disajikan pada tabel di bawah ini).

Luas (Ha) Jumlah Pohon Jumlah Contoh % Pohon Contoh Cara Penentuan Pohon Contoh
5 715 28 4,0 Setiap 5 pohon dalam 1 baris dan selang 5 baris
10 1.430 29 2,0 Setiap 5 pohon dalam 1 baris dan selang 10 baris
15 2.135 30 1,4 Setiap 5 pohon dalam 1 baris dan selang 10 baris
>15 – – 1,0 Setiap 10 pohon dalam 1 baris dan selang 10 baris

Penentuan awal baris sampel adalah 1-2 baris dari batas LSU, batas tersebut dapat berupa jalan, parit atau tanaman. Penentuan baris juga dapat disesuaikan dengan keadaan yang simetris dan representatif.

D. Syarat-Syarat Pemilihan Pohon Sampel

Pohon sampel yang akan digunakan sebagai pengambilan daun harus memenuhi syarat sebagai berikut :

Pohon tidak terletak di tepi jalan, sungai atau parit dan bangunan. Apabila hal tersebut terjadi maka pohon sampel harus digeser 2 pohon ke arah dalam pada barisan yang sama.
Bukan pohon sisipan.
Tidak terletak di dekat areal terbuka, misalnya dekat pohon mati/kosong.
Pohon harus sehat (tidak terserang penyakit atau pohon abnormal).

E. Penandaan Pohon Sampel

Pohon sampel yang telah dipilih harus dicat secara permanen. Cat yang digunakan berwarna terang (misalnya warna merah) dan berkualitas baik sehingga dapat bertahan lebih dari 1 tahun. Pengecatan pohon sampel pada pangkal pelepah yang telah di-prunning rapat.

Setiap pohon sampel harus diberi nomor. Penomoran terdiri dari 2 angka contohnya 2/12, 2/22, 2/32 artinya nomor depan menunjukan barisan tanaman sedangkan nomor belakang adalah nomor pohon dalam barisan tersebut.

F. Penandaan Nomor Pelepah

Pelepah yang diambil sebagai sampel adalah pelepah nomor 17. Adapun untuk menentukan letak/posisi pelepah ke-17 sebagai berikut :

1. Tentukan pelepah pertama (pelepah nomor 1), yaitu pelepah termuda yang anak-anak daunnya (lamina) telah terbuka sempurna tetapi daun rudimenter (seperti duri pada pangkal pelepah) belum terbentuk.

2. Tentukan arah spiral daun. Pada umumnya tanaman kelapa sawit memiliki dua jenis spiral yaitu spiral kanan dan spiral kiri.

3. Tentukan pelepah nomor 9, yaitu pelepah yang terletak dalam spiral yang sama dengan pelepah pertama. Posisi pelepah nomor 9 terletak sedikit agak ke kiri di bawah pelepah pertama (spiral kanan) atau sedikit agak ke kanan dari pelepah pertama (spiral kiri).

4. Tentukan pelepah nomor17 yaitu terletak sedikit agak ke kiri di bawah pelepah nomor 9 (spiral kanan) atau sedikit agak ke kanan di bawah pelepah nomor 9 (spiral kiri).

G. Prosedur Pengambilan Sampel Daun

1. Pelepah sampel yang akan diambil daunnya dipotong (apabila sudah tinggi) atau ditarik dengan pengait (TM 1-3).

2. Helai daun yang diambil terletak pada titik 3/5 dari pangkal pelepah atau 2/5 dari ujung pelepah. Helai daun yang diambil untuk sampel adalah masing-masing 4 anak daun di sisi kanan dan kiri pelepah.

3. Selanjutnya helaian daun tersebut dipotong dan yang dijadikan sampel adalah 1/3 anak daun yang berada di tengah.

4. Helaian daun dikumpulkan bersama dengan helaian daun dari LSU yang sama. Setelah terkumpul semua dari satu LSU, helaian daun tersebut satu per satu dibersihkan dengan kain lap yang sedikit basah/lembab oleh air destilasi (aquadest). Jangan lupa label harus selalu bersama sampel (tidak boleh tercampur dengan LSU yang lain).

5. Lidi (midrib) dibuang dan helaian daun tanpa lidi dipotong-potong kecil ukuran 1-2 cm. Ambil sekitar 200-250 gram berat basah sebagai sampel.

6. Daun sampel seberat tersebut dimasukan ke dalam kantung kain kasa. Selanjutnya dimasukan kedalam oven (label harus ikut serta).

7. Sampel daun dikering oven pada suhu 65oC selama 24 jam atau menggunakan microwave suhu 100oC selama 8 menit dengan sekali pembalikan.

8. Sampel yang sudah kering ditandai dengan daun mudah dihancurkan dengan remasan tangan. Setelah didinginkan sampel daun dimasukan ke dalam kantong plastik (ukuran 1 kg) lengkap dengan labelnya.

9. Contoh label LSU adalah sebagai berikut :

MAKIN GROUP

Nama PT. : …………………………………
Nama Kebun : …………………………………
Afdeling : …………………………………
Blok/LSU : …………………………………
Luas Areal (Ha) : …………………………………
Tahun Tanam : …………………………………
Nomor Pelepah : …………………………………
Tanggal Pengambilan Sampel : …………………………………

10. Selanjutnya sampel daun segera dikirim ke laboratorium untuk dianalisis kadar haranya.

H. Waktu Pengambilan Sampel Daun

1. Waktu yang cocok/sesuai untuk pengambilan sampel daun adalah jam 06.00 pagi sampai jam 12.00 siang.

2. Pengambilan sampel daun tidak dilakukan (dihentikan) pada saat hujan lebat dan dilanjutkan 2 jam kemudian setelah berhenti hujan.

3. Pengambilan sampel daun dilakukan pada bulan yang sama setiap tahunnya.

Perihal puputwawan
About me? I don't have more story or something to description about me..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 30 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: