MANAJEMEN PANEN KELAPA SAWIT DI KEBUN MESUJI PT. SAMPOERNA AGRO Tbk. SUMATRA SELATAN

I. PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pendidikan tinggi di Indonesia diarahkan untuk mendidik mahasiswa menjadi tenaga ahli dan terampil dalam dunia kerja. Tak terkecuali Fakultas Pertanian yang kini juga dituntut untuk dapat mencetak tenaga kerja pertanian, perkebunan maupun industri. Melalui praktek dan pengalaman kerja lapangan, ketrampilan mahasiswa khususnya dalam bidang pertanian akan semakin terasah. Kerja lapangan merupakan salah satu bentuk dari praktek lapangan yang memberikan pengalaman kerja, menambah pengetahuan serta pengalaman bagi mahasiwa untuk memecahkan masalah di lapangan.
Dari komoditas perkebunan yang penting di Indonesia seperti kelapa sawit, kelapa, kopi, kakao, teh, dan tebu, komoditas seperti kelapa sawit, karet dan kakao merupakan komoditas perkebunan penting dan mengalami pertumbuhan diatas 5% per tahun. Pertumbuhan yang pesat dari ketiga komoditas tersebut pada umumnya berkaitan dengan tingkat keuntungan pengusaha komoditas yang relatif lebih baik serta kebijakan pemerintah untuk mendorong perluasan lahan komoditas tersebut (Rezamela, 2007) .
Di Indonesia minyak sawit mempunyai peranan penting sebagai komoditas ekspor non migas, sehingga perkembangan perkebunan kelapa sawit mendapat prioritas utama. Perkembangan areal tanaman yang pesat tidak hanya membantu peningkatan ekspor non migas pada saat ini dan di masa mendatang diharapkan menjadi andalan utama penghasil devisa (Anonim,1997). Setyamidjadja (1991) menyatakan bahwa dalam perekonomian Indonesia minyak kelapa sawit mempunyai peran cukup strategis. Pertama, minyak sawit merupakan bahan baku utama minyak goreng yang merupakan satu dari sembilan bahan pokok kebutuhan masyarakat, sehingga pasokannya harus kontinyu dan harganya harus terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Kedua, kelapa sawit merupakan salah satu komoditas pertanian andalan ekspor non migas yang memiliki prospek cerah sebagai sumber perolehan devisa maupun pajak. Ketiga, dalam proses produksi maupun proses pengolahannya dapat memberikan kesempatan kerja sekaligus kesejahteraan masyarakat.

Pemanfaatan hasil kelapa sawit bukan hanya minyak sawit dan minyak inti sawit, tetapi juga menjadi bahan mentah industri pangan, dan bahan mentah industri kimia yang disebut oleo-kimia yaitu bahan kimia yang terbuat dari bahan lemak atau minyak nabati, sejajar dengan petro-kimia yang merupakan bahan kimia dari minyak bumi (Mangoensoekarjo, 2005).
Tanaman kelapa sawit di Indonesia diusahakan di beberapa daerah diantaranya adalah D.I. Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Kalimantan, Sulawesi, dan Irian Jaya. Pada tahun 1987-1990 Indonesia merupakan negara produsen minyak sawit no. 2 di Dunia setelah Malaysia (Anonim,1997).
Menurut Hadi (2004), Minyak kelapa sawit akan menjadi komoditas andalan Indonesia dan merupakan sumber devisa negara yang tidak akan pernah kalah bersaing di pasar bebas karena kelapa sawit memiliki karakter khas yang hanya dapat dikembangkan di daerah beriklim tropis, sehingga tidak semua negara dapat mengembangkannya.
Dalam budidaya pertanian, panen merupakan kegiatan puncak yang ditunggu-tunggu karena dari panen itulah petani atau perusahaan memperoleh keuntungan. Pada perkebunan kelapa sawit milik rakyat, panen merupakan tahap akhir pengelolaan perkebunan, karena TBS langsung dijual ke pabrik atau kebun inti disekitarnya (Hadi, 2004). Manajemen pemanenan mencakup berbagai aspek yang harus diperhatikan untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Manajemen pemanenan dilakukan mulai dari peramalan produksi hingga pelaksanaan panen dan pengangkutan buah.
Tujuan akhir dari pemanenan adalah memperoleh Tandan Buah Segar (TBS) yang berkualitas baik dengan CPO dan PKO tinggi serta memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh badan internasional. Kegiatan panen harus diperhatikan dan pelaksanaanya harus dilakukan dengan baik untuk memperoleh kualitas maupun kuantitas kelapa sawit yang maksimal.
Berdasarkan alasan pentingnya kegiatan pemenenan yang tersebut di atas, penulis tertarik untuk mempelajari manajemen pemanenan kelapa sawit di kebun mesuji PT Sampoerna Agro Tbk. sebagai topik dalam kerja lapangan ini.

B. TUJUAN
Mengetahui dan mempelajari manajemen budidaya tanaman kelapa sawit di PT. Sampoerna Agro Tbk., khususnya manajemen panen kelapa sawit yang meliputi : perencanaan panen, organisasi panen, pelaksanaan panen, pengawasan panen hingga pengangkutan buah ke pabrik pengolahan Kelapa Sawit ( PKS ).

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Asal-usul dan Klasifikasi
Berdasarkan referensi yang ada, kelapa sawit diperkirakan berasal dari Nigeria, Afrika Barat (Risza, 1994). Berdasarkan klasifikasi botaninya dalam dunia tumbuh-tumbuhan, tanaman kelapa sawit dapat diklasifikasikan secara lengkap sebagai berikut :
Devisi : Tracheophita
Kelas : Angiospermeae
Subkelas : Monocotyledoneae
Ordo : Cocoideae
Famili : Palmae
Subfamili : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq
Varietas kelapa sawit cukup banyak dan dapat diklasifikasikan atas tipe buah, bentuk luar, tebal cangkang, warna buah dan lain-lain. Berdasarkan tebal tipisnya cangkang, tanaman kelapa sawit memiliki varietas, yaitu :
• Dura yaitu buahnya bercangkang tebal, daging buahnya tipis,
jumlah tandannya banyak dan jumlah buahnya banyak.
• Pisifera yaitu buahnya bercangkang tipis, daging buahnya tebal,
jumlah tandannya sedikit dan jumlah buahnya sedikit.
• Tenera yaitu merupakan hasil persilangan dari Dura dan Pisifera yang memiliki ciri buahnya bercangkang tipis, daging buahnya tebal, jumlah tandannya banyak dan jumlah buahnya banyak.

B. Morfologi Tanaman Kelapa Sawit
Tanaman kelapa sawit tumbuh tegak lurus dan dapat mencapai ketinggian 15-20 m. Tanaman ini berumah satu atau monoecious dimana bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu pohon. Bungan jantan dan bunga betina terdapat masing-masing pada tandan bunganya dan terletak terpisah yang keluar dari ketiak pelepah daunnya. Sesuai dengan sifatnya sebagai tanaman monokotil, akar tanaman kelapa sawit merupakan akar serabut, terdiri atas akar primer yang tumbuh 45° vertikal dari batang, akar sekunder yang tumbuh horizontal dari akar primer, akar tersier dan kwarter yang tumbuh dari akar sekunder dan berada dekat dengan permukaan tanah. Akar primer ini tumbuh kebawah hanya mencapai kedalaman 1,5 m saja. Akar sekunder dapat tumbuh menyamping sampai lebih dari 6 m (Hadi, 2004).
Batang tanaman kelapa sawit tumbuh tegak lurus (phototropi) dibungkus oleh pangkal pelepah daun (frond base). Batang berbentuk silindris berdiameter 45-60 cm untuk tanaman dewasa. Bagian bawah umumnya lebih besar (gemuk) disebut bongkol batang atau bowl. Daun (folium) pertama yang keluar pada stadia bibit adalah berbentuk lanceolate, kemudian muncul bifurcate dan menyusul bentuk pinnate. Pangkal pelepah daun atau petiole adalah bagian daun yang mendukung atau tempat duduknya helaian daun (leaf let) dan terdiri atas rachis (basis folii), tangkai daun atau petiolus dan duri (spine), helai anak daun (lamina), ujung daun (apex folii), lidi (nervatio), tepi daun (margo folii) dan daging daun (intervenium). Daun kelapa sawit memiliki rumus daun 1/8 (dalam satu lingkaran atau spiral batang memuat daun berjumlah delapan helai). Produksi pelepah daun pada tanaman se1ama setahun dapat mencapai 20-30 kemudian akan berkurang sesuai umur menjadi 18-25 atau kurang. Tanaman kelapa sawit memiliki bunga jantan dan bunga betina di tandan yang berbeda dalam satu pohon. Tandan bunga betina dibungkus oleh seludang bunga yang akan pecah 15-30 hari sebelum anthesis. Satu tandan bunga betina memiliki 100-200 spikelet dan tiap spikeletnya memiliki 15-20 bunga betina. Tandan bunga jantan juga dibungkus oleh seludang bunga yang pecah 15-30 hari sebelum anthesis. Tiap tandan bunga jantan memiliki 100-250 spikelet yang panjangnya 10-20 cm dan diameter 1-1,5 cm. Tiap spikelet berisi 500-1500 bunga kecil yang akan menghasilkan tepung sari (Mangoensoekarjo, 2005).
Buah pada tanaman kelapa sawit dibedakan menjadi buah dalam dan buah luar. Buah dalam adalah buah yang terletak di bagian dalam tandan, ukurannya lebih kecil dan bentuknya kurang sempurna dan terjepit oleh buah luar. Buah luar adalah buah yang terletak lebih keluar dari buah dalam, memiliki ukuran buah lebih besar dan bentuknya lebih sempurna daripada buah dalam (Lubis, 1992).
C. Syarat Tumbuh Tanaman Kelapa Sawit
a. Iklim
Faktor faktor iklim yang terpenting adalah curah hujan, suhu udara, kelembaban udara dan radiasi matahari. Faktor-faktor ini sepintas lalu tampak berbeda jelas satu sama lain, tetapi pada kenyataannya berkaitan erat dan saling mempengaruhi. Curah hujan yang tinggi menurunkan radiasi matahari karena cuaca banyak berawan. Pada gilirannya, cuaca berawan cenderung menurunkan suhu. Disamping ini faktor-faktor lain seperti tinggi tempat dari permukaan air laut (elevasi) dan jarak dari khatulistiwa (latitude) dinyatakan dalam derajad LU atau derajad LS ( Mangoensoekarjo, 2005). Hartley (1968) dalam Mangoensoekarjo (2005) menyusun syarat-syarat iklim dapat dikatakan optimal sebagai berikut :
• Curah hujan sekitar 2000 mm/tahun yang terbagi rerata sepanjang daun
• Rata rata suhu maksimum antara 29-32 dan rata-rata suhu minimum antara 22-24
• Penyinaran yang konstan dengan masa penyinaran (fotoperiodisitas) sekurang-kurangnya 5jam/hari untuk seluruh bulan dalam setahun dan beberapa bulan diantaranya
• Dengan fotoperiodisme sampai 7 jam/hari.
b. Tanah
Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah seperti podsolik, latosol, hidromorfik kelabu (HK), regosol, andosol, organosol dan alluvial. Sifat fisik tanah yang baik untuk kelapa sawit adalah: memiliki solum setebal 80 cm ; tekstur ringan, dikehendaki memiliki pasir 20-60%, debu 10-40%, dan liat 20-50% ; perkembangan struktur baik, konsistensi gembur sampai agak teguh dan permeabilitas sedang ; pH tanah sekitar 5-5,5 ; kandungan unsur hara dalam tanah tinggi (Lubis, 1992).

D. Manajemen Budidaya Tanaman Kelapa Sawit
Dalam manajemen budidaya tanaman kelapa sawit dilakukan pembukaan lahan secara mekanis dengan menggunakan traktor. Mula-mula, tunggul-tunggul kayu ditumbangkan dengan buldoser dan ditepikan. Penempatan tunggul pada tepi jurang berfungsi untuk menghalangi terbuangnya lapisan top soil oleh aliran permukaan (run off) kedalam jurang ketika terjadi hujan. Pada lahan yang berupa padang ilalang, dilakukan pembersihan lahan dengan menggunakan herbisida. Penyemprotan herbisida dilakukan pada musim kemarau. Herbisida yang dipakai adalah herbisida yang bersifat sistemik (Sastrosayono,2003).
Pembibitan kelapa sawit dilakukan dengan sistem dua tahap (double stage system), yaitu melalui pembibitan awal (pre-nursery) dan pembibitan utama (main nursery). Menurut Sastrosayono (2003), lokasi pembibitan harus mempunyai syarat-syarat sebagai berikut:
• Dekat dengan sumber air, tetapi tidak kebanjiran.
• Letaknya tidak jauh dari lokasi penanaman untuk menekan biaya pengangkutan bibit.
• Areal datar dan memiliki instalasi air yang baik.
• Dekat kantor dan pemukiman, memudahkan pengawasannya.
• Keamanan terjamin dan bebas dari gangguan binatang pengganggu.
Penanaman kelapa sawit pada awal musim hujan merupakan waktu yang paling tepat karena lengas tanah sangat berperan dalam menjaga pertumbuhan bibit tanaman yang baru dipindahkan. Penanaman yang dilakukan pada musim kemarau akan menyebabkan pertumbuhan yang lambat hingga dapat menyebabkan kematian. Disamping itu, penanaman pada musim kemarau juga akan memerlukan biaya yang lebih tinggi untuk penyediaan air. Minimum 10 hari setelah penanaman diharapkan turun hujan secara berturut-turut. Di Indonesia, saat terbaik untuk melakukan penanaman adalah pada bulan Oktober atau November (Fauzi et al.,2002).
Lubang tanam dibuat tepat dilokasi yang sudah dipasang ajir. Pembuatan lubang dilakukan dua-tiga bulan sebelum kelapa sawit ditanam. Tujuannya agar semua gas beracun hasil metabolisme mikroba dapat bersirkulasi dengan udara bebas, dan tergantikan oleh oksigen. Selain itu organisme pengganggu tanaman seperti jamur dan bakteri penyebab penyakit tanaman akan mati terkena panas matahari. Top soil dan sub soil dipisahkan, lubang tanaman berukuran 40x40x40 cm (Sastrosayono,2003).
Perawatan tanaman merupakan salah satu tindakan yang sangat penting dan menentukan masa produktif tanaman. Perawatan bukan hanya ditunjukkan terhadap tanaman semata, tetapi juga pada media tumbuh (tanah). Perawatan tanaman dengan baik, tetapi mengabaikan perawatan tanah tidak akan banyak memberikan manfaat. Perawatan tanaman kelapa sawit meliputi penyulaman, penanaman tanaman sela, pemberantasan gulma, pemangkasan, pemupukan, kastrasi dan penyerbukan buatan (Syamsulbahri, 1996).
Tanaman kelapa sawit yang tumbuh di areal perkebunan secara umum di kategorikan dalam dua kelompok umur, yaitu kategori tanaman belum menghasilkan (TBM) yaitu kelompok umur dimana tanaman baru ditanam hingga dipanen untuk pertama kalinya dan kategori tanaman menghasilkan (TM) meliputi kelompok umur dimana tanaman mulai dipanen untuk pertama kali hingga secara ekonomis tanaman tidak mampu berproduksi lagi (Hadi, 2004).
E. Manajemen Pemanenan
Kelapa sawit adalah salah satu jenis tanaman yang masa panennya berlangsung sepanjang tahun, yang berarti bahwa masa panen berlangsung terus menerus sepanjang usia produktifnya. Meskipun demikian produktivitasnya berfluktuasi dalam setahun, artinya ada bulan-bulan yang produktivasnya rendah dan ada bulan-bulan dimana produktivitasnya tinggi. Sebagai akibatnya, terdapat periode yang produktivitasnya meningkat dan mencapai puncaknya, kemudian turun lagi. Kelapa sawit tiap pohon hanya menghasilkan sekitar 8-10 tandan setahun dengan jumlah panen tiap bulan tidak sama. Dikenal apa yang disebut bulan panen puncak dan bulan panen rendah. Panen bulan puncak sekitar 1,5 kali dari penen rata-rata dan 3-4 kali panen bulan rendah. Semester pertama menghasilkan 40-45% dan semester kedua 55-60%. Sehingga selama 6 bulan berada dibawah rata-rata dan selama 6 bulan di atas rata-rata. Konsekuensi dari adanya fluktuasi ini adalah pabrik kelapa sawit harus dirancang lebih kurang sesuai dengan produktivitas puncak, yang berarti bahwa pada bulan-bulan yang produktivitasnya rendah sebagian dari kapasitas pabrik akan menganggur ( Mangoensoekarjo, 2005).
Tanaman kelapa sawit beralih dari tanaman belum menghasilkan (TBM) ke tanaman menghasilkan (TM) setelah berumur 3 tahun. Berat rata-rata tandan pada umur tersebut sudah melampaui 3 kg. Buah kelapa sawit tersebut matang panen apabila buahnya telah lepas dan jatuh secara alami dari tandannya Panen merupakan kegiatan pengambilan hasil dengan cara memotong dan mengumpulkan tandan buah yang sudah matang. Selanjutnya menyusun tandan buah ke tempat pengumpulan hasil (TPH) (Risza, 1994).
Panen dan pengolahan hasil merupakan rangkaian terakhir dari kegiatan budidaya kelapa sawit. Kegiatan ini memerlukan teknik tersendiri untuk mendapatkan hasil yang berkualitas. Hasil panen utama dari tanaman kelapa sawit adalah buah kelapa sawit, sedangkan hasil pengolahan buah adalah minyak sawit. Proses pemanenan pada tanaman kelapa sawit meliputi pekerjaan memotong tandan buah masak, memungut brondolan, dan mengangkutnya dari pohon ke tempat pengumpulan hasil (TPH) serta ke pabrik. Pelaksanaan pemanenan tidak secara sembarang, perlu memperhatikan beberapa kriteria tertentu sebab tujuan panen kelapa sawit adalah untuk mendapatkan rendemen minyak yang tinggi dengan kualitas minyak yang baik. Kriteria panen yang perlu diperhatikan adalah matang panen, cara panen, alat panen, rotasi dan sistem panen, serta mutu panen (Fauzi, et. al., 2002).
Buah kelapa sawit menjadi matang sekitar 6 bulan setelah terjadinya polinasi (penyerbukan) dan fertilisasi (penyerbukan). Kematangan buah adalah aspek yang pengaruhnya sangat menonjol terhadap kuantitas dan kualitas minyak. Buah yang tepat matang diartikan sebagai buah yang kondisinya memberikan kuantitas dan kualitas minyak maksimal. Hasil pengamatan menunjukan bahwa seminggu sebelum titik tepat matang, kandungan minyak dalam mesokarp baru mencapai sekitar 73% dari potensinya. Artinya sisa 27% dari proses konversi terjadi hanya dalam waktu satu minggu terakhir dari proses pematangan, sehingga dapat dikatakan bahwa kondisi buah matang bersifat kritis karena menyangkut jangka waktu yang relatif pendek ( Mangoensoekarjo, 2005).
Sistem jaringan jalan di perkebunan merupakan salah satu faktor penting untuk mengumpulkan dan mengangkut hasil kelapa sawit ke pabrik. Selain itu, jaringan jalan yang baik bisa menjamin kelancaran pengangkutan pupuk dan bahan lainnya. Banyak pekerjaan di suatu areal atau blok tidak dapat dilaksanakan dengan lancar karena prasarana jalan atau jembatan tidak memadai, sehingga kegiatan operasional terhambat. Pengangkutan buah dari kebun ke pabrik harus dilakukan secepat mungkin. Buah kelapa sawit yang dipotong hari ini harus diolah langsung agar kandungan asam lemak bebas (FFA) tidak tinggi. Pada panen puncak, ketika hujan turun setiap hari, sarana dan prasarana transportasi harus diperhatikan karena biasanya pengangkutan hasil panen akan berlangsung selama 24 jam. Jenis alat transportasi biasanya tergantung dari skala usaha, sarana dan prasarana jalan yang tersedia. Untuk perkebunan dalam skala besar, keberadaan truk berukuran besar atau lori sangat dibutuhkan. Untuk perkebunan rakyat, mobil pick up yang dilengkapi dengan gerobak mungkin sudah cukup. Seluruh alat transportasi tersebut digunakan untuk mengangkut buah hasil panen ke pabrik. Di pabrik, buah hasil panen dipindahkan ke keranjang baja yang berlubang. Isi maksimum keranjang baja sekitar 2,2 ton (Sastrosayono, 2003).

III. PELAKSANAAN KERJA LAPANGAN
Pelaksanaan kerja lapangan ini dilaksanakan mulai tanggal 15 Juli sampai dengan 15 Agustus 2008 (1 bulan) bertempat di Kebun Mesuji PT. Aek Tarum yang merupakan anak perusahaan dari PT.Sampoerna Agro.Tbk, Sumatra Selatan.
Kegiatan yang saya lakukan yaitu mengikuti seluruh kegiatan operasional perusahaan yaitu manajemen budidaya, khususnya manajemen panen kelapa sawit sesuai dengan topik yang saya angkat. Selain melakukan dan mengamati pelaksanaan kegiatan, juga dilakukan pengumpulan data serta mencari permasalahan-permasalahan yang ada. pengumpulan data dilakukan dengan metode survei, pengumpulan data primer dan sekunder. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara kepada pimpinan hingga karyawan, sedangkan data primer didpatkan dari data administrasi yang terdapat di kantor.
Topik yang saya angkat adalah manajemen panen kelapa sawit. Namun semua hal tentang budidaya kelapa sawit hingga pengolahannya di pabrik saya pelajari, termasuk juga fungsi riset di kebun Surya Adi PT. Bina Sawit Makmur yang juga anak perusahaan PT.Sampoerna Agro, Tbk. Dalam pelaksanaan kerja lapangan, mahasiswa secara aktif belajar/praktek dilapangan secara langsung, sehingga diharapkan mahasiswa akan semakin memahami materi yang sudah didapatkan di ruang kuliah.

IV. KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
IV. 1. Profil Perusahaan
PT Sampoerna Agro Tbk, merupakan perusahaan agribisnis yang bergerak di bidang perkebunan yang memproduksi minyak kelapa sawit (CPO). Perusahaan ini memiliki kantor pusat di Palembang, Sumatra Selatan. PT. Sampoerna agro Tbk memiliki 9 kebun dan 4 Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit (PKS) yang berlokasi di Sumatra Selatan. Sembilan kebun tersebut antara lain kebun Mesuji, Belida, Surya Adi, Sumber Sawit, Hikmah I, Hikmah II, Hikmah III, Hikmah IV dan Gading Jaya. Dengan PKS yang dimiliki antara lain PKS Permata Bunda (kapasitas 60 ton/jam), PKS Belida (60ton/jam), PKS Selapan Jaya (120 ton/jam), PKS Telaga Hikmah (60ton/jam). Kedepannya PT. Sampoerna Agro terus menambah luas areal perkebunannya hingga ke Pulau Kalimantan. Pada awalnya perusahaan ini didirikan oleh PT. Tania Selatan pada tahun 1988. Pada tahun 1998 PT. Tania Selatan diambil alih oleh dua perusahaan yaitu PT. Wilmart Plantation dan PT. Selapan Jaya Group, nama Selapan Jaya diambil dari nama anak perusahaan Tania Selatan. Pada tanggal 1 Februari 2007 PT. Selapan Jaya Group di beli oleh Putra Sampoerna dan berganti nama menjadi PT. Sampoerna Agro Tbk. Perusahaan ini merupakan perusahaan besar swasta Nasional (PBSN) yang berbadan hukum dengan menjalin kemitraan dengan petani plasma dengan pola PIR .
IV. 2. Kebun Mesuji, PT. Aek Tarum
PT. Aek Tarum dengan kebun Mesuji merupakan salah satu anak perusahaan PT. Sampoerna Agro Tbk. yang secara administratif terletak di kecamatan Mesuji kabupaten Ogan Komilir Ilir, Sumatra Selatan. Kebun produksi dengan luas areal 2283 ha, dan luas areal administratur 40 ha ini merupakan kebun tertua di PT. Sampoerna Agro Tbk .Luas areal kebun tersebut terdiri dari kelapa sawit dengan tahun tanam 1989, 1991, 1992, 1995, 1996,1967, 2001, 2002 dimana kesemuanya tanamannya merupakan kategori tanaman menghasilkan (TM). Namun komposisi tersebut sebagian besar (86%) didominasi oleh areal yang ditanam pada tahun 1989 (pohon tua). Sebelah utara kebun Mesuji ini berbatasan dengan kebun plasma Surya Adi, sebelah selatan berbatasan dengan desa Sumber Deras, sebelah Timur berbatasan dengan PT. BSM atau Kebun Surya Adi yang juga milik PT. Sampoerna Agro Tbk., dan sebelah Barat berbatasan dengan Desa Tegal Sari dan Plasma IA desa Kali Deras.
IV. 3. Struktur Organisasi Kebun Mesuji, PT. Aek Tarum
Meski kebun Mesuji merupakan anak perusahaan PT. Sampoerna Tbk, dalam operasional di lapangan anak perusahaan ini memiliki struktur organisasi dan manejemen sendiri. Pimpinan manajemennya adalah seorang manajer yang membawahi beberapa unit kegiatan/operasional yaitu pemeliharaan, produksi, dan administrasi.
Manajer bertanggung jawab terhadap semua kegiatan di kebun mesuji, kepala tata usaha bertanggung jawab terhadap seluruh administrasi dari operasional unit kebun mesuji, asisten pemeliharaan bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan pemeliharaan tanaman kelapa sawit, asisten produksi bertanggungjawab terhadap kegiatan produksi setiap harinya. Asisten dibantu oleh karyawan-karyawan operasional yaitu mandor yang mengatur pekerja serta pekerja itu sendiri.

Gambar 1 : Struktur organisasi kebun Mesuji

V. MANAJEMEN BUDIDAYA KELAPA SAWIT DI KEBUN MESUJI
Kebun mesuji merupakan kebun tertua yang dimiliki PT.Sampoerna, dengan kesemua tanaman merupakan tanaman menghasilkan, sehingga informasi terkait proses awal budidaya seperti pembukaan lahan, pembibitan, dan penanaman sangat kurang. Untuk itu, penulis lengkapi dari kajian studi pustaka.
V. 1. Pembukaan Lahan / Land Clearing
Perkebunan kelapa sawit dapat dibangun di lahan bekas hutan primer, hutan sekunder, konversi dari tanaman karet, kelapa, kopi, kakao, atau alang-alang. Lahan-lahan tersebut mempunyai topografi yang beragam, dapat datar, landai, bergelombang, atau berbukit-bukit. Hal yang harus diperhatikan dalam dalam pelaksanaan pembukaan lahan adalah terjaganya lapisan atas (top soil), dan tidak merusak lingkungan antara lain menyebabkan terjdinya erosi atau drainase yang berlebihan. Sejak awal pembukaan lahan sampai saat siap untuk ditanami dibutuhkan waktu sekitar 6-8 bulan. Jangka waktu ini harus disinkronkan dan merupakan bagian integral dari jadwal keseluruhan program pembangunan kebun. Land clearing adalah pekerjaan membersihkan lahan dari vegetasi atau tumbuhan yang ada diareal atau lahan yang akan ditanami. Langkah teknis yang pertama dilakukan adalah persiapan-persiapan seperti membuat lay-out blok tanaman sawit. Lay-out blok mencakup luas blok, bentuk blok serta jalur pengangkutan /transportasi. Luas blok tanaman kelapa sawit di kebun Mesuji adalah 100 ha, yang dibagi menjadi petak-petak seluas 25 ha untuk memudahkan kegiatan-kegiatan pemeliharaan, produksi dan pengangkutan. Dalam antar petak terdapat jalan produksi selebar 5 m, sedangkan jalan antar blok selebar 8 m. Terdapat pula jalan poros/jalan utama selebar 10 m.
V. 2. Persiapan Benih dan Pembibitan
Pembibitan merupakan langkah permulaan yang sangat menentukan keberhasilan penanaman di lapangan, sedangkan bibit unggul merupakan modal dasar dari suatu usaha untuk mencapai produktivitas dan mutu minyak kelapa sawit yang tinggi. Keberhasilan penanaman kelapa sawit dilapangan selama 25 tahun dilapangan tidak luput dari sifat-sifat bahan tanam yang dipakai (varietas unggul). Penanaman kelapa sawit dilakukan secara besar besaran dalam skala perkebunan, dengan bahan tanam dari biji hasil persilangan antara Dura dan Psifera .
PT. Sampoerna Agro juga memproduksi benih, sehingga memiliki Unit yang tertugas mengadakan riset pemuliaan yang secara regular melakukan pengamatan terhadap komponen produksi varietas unggul. Penciptaan varietas unggul membutuhkan riset yang panjang dan inovasi baru. Sehingga perusahaan ini memiliki unit khusus untuk memproduksi benih. Unit tersebut adalah Breeding Research Unit yang terdiri atas kegiatan Crossing Program dan Field Trial Analysis. Field Trial Analysis meliputi vegetatif measurement dan generatif measurement. Pengukuran vegetatif meliputi pengukuran daun yaitu panjang pelepah, jumlah anak daun, lebar dan panjang anak daun, pengukuran lebar dan tebal petiole, pengukuran produksi daun/ pelepah selama setahun, pengukuran diameter batang tanaman, pengukuran tinggi tanaman. Pengukuran generatif meliputi sensus bunga/ sex ratio, penimbangan buah, dan bunch and oil analysis. Setelah dihasilkan TBS dari seed garden calon-calon benih tersebut masuk ke Seed Preparation Unit (unit persiapan benih). Di Kebun Surya Adi, PT. BSM yang merupakan kebun riset dan penghasil benih membawahi Seed Garden, Seed Preparation, Breeding Research Unit dan Agronomi Research Unit.
Seed garden adalah kebun penghasil benih. PT. Sampoerna Agro terlatak di kebun Surya Adi PT. Bina Sawit Makmur. Sebagai bahan dasar tetua betina PT. Sampoerna Agro memiliki 225 famili dura. Famili-famili dura tersebut merupakan turunan dari dura-dura yang sebelumnya diseleksi di pusat-pusat keunggulan kelapa sawit dunia pada kurun waktu 1920-1970, seperti material dura Dami-Papua Nugini, Chemara- Malaysia, Harrison dan Crossfield dan Socfin-Malaysia. Disisi lain, material genetik sebagai tetua jantan juga tidak kalah beragam. Sampoerna Agro saat ini memiliki 50 famili Psifera origin Nigeria, Ekona, Ghana Dami komposit, Yangambi, La Me dan Avros yang diintroduksi berdasarkan hasil uji progeny.

Seed Preparation di PT. BSM, Sampoerna Agro Tbk.
Seed Preparation adalah proses persiapan benih, terdiri dari proses penerimaan buah dari seed garden hingga benih siap untuk di kecambahkan di SPU atau dipasarkan. Langkah prosesing benih di seed preparation adalah sebagai berikut :

Flow Chart Seed Preparation :
1. Penerimaan Buah
Syarat penerimaan buah adalah adanya identitas dari tetua yang jelas / adanya label, persentase buah jadi diatas 20%, Buah telah masak fisiologis ditandai dengan adanya buah membrondol sebesar + 5 %, dan buah senantiasa dalam pengawasan quality control.
Setelah buah diterima, ditimbang untuk mengetahui berat tandan buah. Data berat tandan ini nantinya akan digunakan untuk bernagai kepentingan.
2. Chopping
Chopping adalah perlakuan memotong tandan buah untuk memisahkan spikelet buah dengan tangkainya (stalk). Alat yang digunakan adalah kapak.
3. Fruit Removal
Pada perlakuan ini, brondolan dipisahkan dari spikelet. Alat yang digunakan adalah pisau.
4. Depericarping
Depericarping adalah istilah yang digunakan pada proses pelepasan atau pengupasan mesocarp buah sehingga didapatkan biji (nut). Alat yang digunakan adalah Vertical Silindrical Depericarper. Prinsip dari proses ini adalah berputarnya buah bersama alat yang berputar 1450 RPM dimana bagian bawah terdapat pisau untuk menyayat/mencacah mesocarp buah sehingga dhasilkan biji/nut buah yang bersih. Selama proses ini air dialirkan untuk mempercepat proses pengupasan mesocarp.
5. Seed Cleaning
Merupakan proses pemisahan kembali serabut mesokarp yang masih menempel, kemudian biji direndam dalam larutan sabun sebagai disinfektan sehingga biji benar-benar bersih dari sisa-sisa minyak yang menempel.
5. Fungisida Treatment
Setelah biji bersih, selanjutnya diberikan perlakuan fungisida, yaitu biji direndam dalam larutan fungisida supaya terhindar dari berbagai penyakit seperti jamur dan cendawan.
6. Seed Drying
Proses selanjutnya adalah pengeringan biji selama 24-30 jam pada suhu ruang tanpa sinar matahari bila perlu menggunakan kipas angin. Tujuan dari pengeringan adalah untuk mengurangi kelembaban biji sehingga tidak mudah terserang jamur.
7. Seed Handling
Proses ini terdiri dari dari pemilahan (seleksi), menghitung, pengemasan dan labeling pelabelan. Dalam seleksi benih-benih afkir dibuang, diantaranya benih kecil, benih abnormal,benih tipis dan benih rusak. Setelah diseleksi benih dihitung dengan alat bantu yang terbuat dari papan kayu. Dalam pengemasan satu tandan buah dikemas dalam satu kemasan plastik yang sudah dilubangi supaya biji tidak lembab dan berjamur. Setiap kemasan benih diberi label yang tertera jenis varietas dan tetuanya.
8. Temporary Seed Storage
Adalah proses penyimpanan sementara benih sebelum biji/benih dikirim ke SPU. Biji kelapa sawit mampu bertahan enam bulan sampai dua tahun dalam kondisi yang sesuai/ terjaga yaitu dengan suhu 18-22 C dengan lama penyimpanan tergantung dari kebutuhan proses di SPU.
9. Seed Dispatching
Atau Delivery order adalah proses pengiriman benih ke SPU atau ke konsumen meng gunakan angkutan khusus dimana suhunya tetap dijaga sebesar 28 ˚C agar kualitas benih tetap terjaga.

Sistem pembibitan di PT. Sampoerna Agro terdiri dari dua tahap, yaitu Pada tahap pre nursery yaitu dari kecambah hingga berumur tiga bulan dan main nursery selama Sembilan bulan, sehingga umur bibit siap ditanam satu tahun. dengan metode dua tahap tersebut memudahkan pengawasan, pemeliharaan dan pengelolaan lebih intensif. Pembibitan kelapa sawit terdapat pada areal seluas 70 ha di kebun hikmah II, salah satu anak perusahaan PT. Sampoerna Agro. pada tahap pre nursery, kecambah daitanam pada polibag yang berukuran diameter 15 cm dengan tinggi 23 cm. sedangkan pada main nursery polibag berukuran lebih besar yaitu diameter 40 cm dan tinggi 50 cm.
Media tanam yang digunakan adalah lapisan top soil yang dicampur dengan rock phosphate dengan perbandingan 10 kg RP untuk 4,5 meter kubik tanah. Pupuk yang diaplikasikan adalah NPK dan urea. Sebelum diaplikasikan pupuk harus diencerkan terlebih dahulu sehingga bibit lebih mudah dalam menyerap pupuk. Urea dan NPK dengan dosis 30 gr dilarutkan dalam 18 liter air, larutan tersebut digunakan untuk 400 bibit sehingga dosis per bibit + 40 cc. Pemupukan urea pada pre nursery dimulai pada minggu ke-4 setelah tanam, sedangkan NPK pada minggu ke-5.
Pengendalian gulma dilakukan secara manual sedangkan pengendalian hama penyakit bersifat preventif dengan membuang bagian bibit yang sakit dengan pisau steril serta membongkar dan membakar bibit yang terinfeksi. sedangkan upaya pengendaliannya dengan melakukan penyemprotan insektisida. Hama yang sering menyerang di pembibitan adalah kumbang Apogonia sp dan Adoratus sp, ulat api, ulat kantong, dan belalang. Penyakit yang sering menyerang di pembibitan adalah penyakit-penyakit yang disebabkan jamur dan cendawan.
Salah satu upaya untuk mencegah kerugian akibat penenaman bibit yang kualitasnya jelek adalah dengan melakukan pengawasan dan seleksi yang ketat. Diantara bibit yang terdapat dipersemaian biasanya hanya sebesar 80 % yang kualiatasnya baik atau sehat, sedangkan 20 % lainnya afkir atau tidak normal. Seleksi bibit dilakukan empat kali, yaitu saat bibit berumur 3 bulan yaitu saat pindah tanam dari pre nursery ke main nursery, saat berumur 6 bulan, 9 bulan dan 12 bulan. Setelah bibit berumur 12 bulan bibit siap untuk ditanam di lahan.
V. 3. Penanaman
Pola tanam yang digunakan adalah berbentuk segitiga sama sisi. Jarak tanam yang digunakan di kebun perusahaan ini adalah 9,25 X 9,25 X 9,25 m dengan lebar baris 8 m sehingga populasi dalam satu hektar terdiri dari 135 pohon. Penentuan pola dan jarak tanam yang digunakan akan menentukan populasi tanaman pada areal yang digunakan. Jarak tanam yang terlalu lebar akan mengurangi populasi di areal, sedang jarak tanam yang terlalu rapat menyebabkan tajuk tanaman akan saling menaungi sehingga produkstifitas tanaman akan rendah karena fotosintesis yang tidak maksimal dan juga dapat terjadi etiolasi karena kurang cahaya matahari. Pembuatan lubang tanam paling lambat dua minggu sebelum penanaman agar lubang yang sudah digali tidak tertimbun longsor dari tanah galian. Setelah bibit ditanam diadakan konsolidasi atau pengawasan dan perawatan bibit. Bibit yang mati atau pertumbuhannya tidak normal akan di replanting/diganti secepatnya dengan tanaman baru agar jumlah populasi persatuan luas tidak berkurang.

V.4. Pemeliharaan
a. Pengairan
Air sangat penting artinya bagi tanaman kelapa sawit. Pengairan untuk tanaman kelapa sawit hanya mengandalkan dari air hujan. Biasanya disaat musim hujan atau cukup air produksi kelapa sawit paling tinggi, inilah yang dinamakan peak crop atau panen puncak yang terjadi pada bulan-bulan dimusim penghujan. Pengairan dapat meningkatan hasil rata-rata 74% per tahun. Bila tidak memungkinkan dilakukan pengairan, usaha mempertahankan lengas dapat dilakukan dengan pemberian mulsa .Mulsa dapat berupa rumput, seresah atau bahan organik yang lainnya. Mulsa organik yang telah melapuk dapat menambah bahan organik dan hara, terutama dari familia leguminose (kacangan). Mulsa organik yang banyak diterapkan pada pertanaman sawit muda adalah kacangan sementara pada sawit dewasa banyak digunakan Nephrolepis spp .Sementara bila hujan berlebih atau terlalu banyak air akan merugikan karena tanaman menjadi jenuh. Untuk itulah perlu dibuat saluran drainase berbentuk parit-parit. Dikebun Masuji yang arealnya tidak rata (bergelombang) , saat musim hujan tiba daerah yang lebih rendah selalu tergenang air sehingga perlu dibuat parit drainase untuk membuang kelebihan air. Sedangkan tipe parit drainase yang mungkin diperlukan dikebun kelapa sawit adalah :
 Drainase lapangan, yaitu perit yang searah dengan berisan pohon.
 Drainase pengumpul, yaitu parit yang berfungsi menampung air dari drainase lapangan.
 Drainase pembuang, yaitu parit yang menerima air dari drainase pengumpul dan mengalirkan langsung kesungai atau parit drainase utama.
 Drainase lingkar yaitu parit drainase yang dibuat sejajar dengan tanggul pencegahan banjir. Ukuran drainase lingkar disesuaikan kebutuhan. tanah yang digali untuk membuat parit dipakai untuk membuat tanggul.
 Drainase utama yaitu parit drainase yang menerima air dari drainese pembuang dan mengalirkannya ke sungai.

b. Pemupukan
Pemupukan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hara tanaman guna menunjang pertumbuhan untuk mencapai produksi yang optimal, serta ketahanan terhadap hama dan penyakit. Sekitar 80% dari dana operasional kebun diserap oleh kegiatan pemupukan. Besarnya anggaran dana untuk kegiatan pemupukan, menyebabkan kegiatan tersebut harus dilakukan secara tepat, baik tepat dosis, tepat waktu, dan tepat cara aplikasi sehingga pelaksanaan pemupukan dapat berjalan dengan efektif dan efisien.
Dosis kegiatan pemupukan ditentukan berdasarkan hasil analisa daun, hasil penelitian, umur dan kondisi tanaman, tanah, iklim, keseimbangan hara, efisiensi biaya, produksi yang telah diperoleh, dan tempat produksi. Analisis daun dilakukan terhadap Leaf Sampling Unit (LSU). Pengambilan LSU dilakukan setiap tahun sekali oleh Agronomy Research Unit. Pada kondisi normal, Pengambilan LSU dilakukan sekitar 2-3 bulan setelah pemupukan semester I dilaksanakan. Daun yang diambil harus merupakan indikator yang sensitif dari keadaan hara tanaman dengan pedoman sebagai berikut :

Tabel 1 : Daun yang diamati untuk LSU
Tanaman (umur) Daun yang diambil untuk contoh
5 % . Hama lainnya adalah tikus. Sensus hama tikus dilakukan 3 bulan sekali yaitu dengan mengecek intensitas serangan tikus pada buah yang terkumpul di TPH. Sampel TPH minimal 25 TPH setiap petak, diusahakan agar jarak antar TPH yang disensus sekitar 10 baris. Apabila intensitas serangan tinggi dilakukan pengendalian dengan pemasangan racun tikus. Pencegahan serangan hama tikus dilakukan dengan introduksi Tyto alba.

Gambar 4 : a. Sarang tyto alba b. TBS terserang hama tikus
Hama lain yang terdapat di kebun Mesuji adalah ulat daun. Untuk mengetahui serangannya dilakukan sensus. Sensus hama daun dilakukan setiap bulan sekali. Mengambil daun pada pokok sampel, lalu dilihat apakah ada hama daun pada daun tersebut dan seberapa parah intensitas serangannya. Hama daun ada 2 jenis yaitu ulat api (Thosea asigna, Thosea vetusta, Thosea bisura, Setora nitens, Darna trima, Ploneta deducta, dan lain sebagainya) dan ulat kantong (Mahasena corbetti, Metisa plana, Clania sp., Pteroma pendula). Keduanya dapat dibedakan dari serangannya. Dikendalikan apabila intensitas serangan >5 %.

Gambar 5 : a. Setora nitens b. pohon terserang
Penyakit yang meyerang kelapa sawit di kebun Mesuji adalah Basal Stem Root yang disebabkan oleh jamur Ganoderma. Pencegahan jamur ini dilakukan dengan sanitasi lapangan yaitu membersihkan sekitar pertanaman dari akar atau tunggul yang dapat menyebabkan penularan.

Gambar 6 : a. Ganoderma b. pohon yang terserang

f. Penanaman Tanaman Penutup Tanah (LCC)
Mengingat jarak tanam kelapa sawit yang cukup lebar, ruang antar baris tanaman mencakup luasan yang besar terutama untuk tanaman kelapa sawit yang masih muda. Kondisi gawangan yang luas ini perlu ditanami dengan tanaman penutup tanah untuk menekan pertumbuhan gulma yang merugikan tanaman. Selain itu tanaman LCC dapat mengkonservasi tanah. Fiksasi nitrogen yang dilakukan tanaman kacangan ini juga dapat menyuburkan tanah. Setelah matipun kacangan ini akan menambah bahan organik bagi tanah.
Tanaman penutup tanah yang ditanam dikebun Mesuji adalah Mucuna braceata yang tidak tahan naungan yang ditanam ditepi jalan antar blok dan Colopogonium cereulium yang tahan naungan sehingga ditanam di sela-sela kelapa sawit.

VI. MANAJEMEN PANEN KELAPA SAWIT DI KEBUN MESUJI
PT SAMPOERNA AGRO Tbk
Kelapa sawit adalah salah satu jenis tanaman yang masa panennya berlangsung sepanjang tahun, yang berarti bahwa masa panen berlangsung terus menerus sepanjang usia produktifnya. Meskipun demikian produktivitasnya berfluktuasi dalam setahun, artinya ada bulan-bulan yang produktivasnya rendah dan ada bulan-bulan dimana produktivitasnya tinggi. Sebagai akibatnya, terdapat periode yang produktivitasnya meningkat dan mencapai puncaknya, kemudian turun lagi. Kelapa sawit tiap pohon hanya menghasilkan sekitar 8-10 tandan setahun dengan jumlah panen tiap bulan tidak sama. Dikenal apa yang disebut bulan panen puncak dan bulan panen rendah. Panen bulan puncak sekitar 1,5 kali dari penen rata-rata dan 3-4 kali panen bulan rendah. Semester pertama menghasilkan 40-45% dan semester kedua 55-60%. Sehingga selama 6 bulan berada dibawah rata-rata dan selama 6 bulan di atas rata-rata. Konsekuensi dari adanya fluktuasi ini adalah pabrik kelapa sawit harus dirancang lebih kurang sesuai dengan produktivitas puncak, yang berarti bahwa pada bulan-bulan yang produktivitasnya rendah sebagian dari kapasitas pabrik akan menganggur.
Tanaman kelapa sawit beralih dari tanaman belum menghasilkan (TBM) ke tanaman menghasilkan (TM) setelah berumur 3 tahun. Berat rata-rata tandan pada umur tersebut sudah melampaui 3 kg. Buah kelapa sawit tersebut matang panen apabila buahnya telah lepas dan jatuh secara alami dari tandannya Panen merupakan kegiatan pengambilan hasil dengan cara memotong dan mengumpulkan tandan buah yang sudah matang. Selanjutnya menyusun tandan buah ke tempat pengumpulan hasil.
Buah kelapa sawit menjadi masak sekitar 6 bulan setelah terjadinya polinasi dan fertilisasi. Kemasakan buah adalah aspek yang pengaruhnya paling menonjol terhadap kuantitas dan kualitas minyak. Buah yang tepat masak memberikan kualitas maupun kuantitas minyak yang maksimal, sehingga diupayakan panen buah pada saat tepat matang. Seminggu sebelum titik tepat masak, kandungan minyak dalam mesocarp baru mencapai sekitar 73%, sisa 27% dari proses konversi terjadi hanya dalam waktu satu minggu terakhir dari proses pemasakan. Dengan demikian bila dipanen satu minggu sebelum tepat masak, perusahaan akan kehilangan 27% dari potensi produksinya. Untuk perkebunan kelapa sawit berskala besar, perbedaan ini setara dengan ribuan ton minyak kelapa sawit pertahun. Hal ini memberikan gambaran bahwa kondisi buah yang masak bersifat kritis karena menyangkut jangka waktu yang sangat pendek. Sedangkan jika dipanen lewat matang kualitas minyak akan menurun karena kandungan (ALB) asam lemak bebasnya meningkat.
Kegiatan manajemen produksi kelapa sawit mencakup kegiatan-kegiatan sebagai berikut :

1. PERENCANAAN PRODUKSI
a. Sensus Buah Hitam / Forecasting
Produksi TBS ditentukan oleh jumlah tandan bunga yang dapat berkembang menjadi tandan buah. Perhitungan tandan dilakukan sebagai ukuran pantauan atau target yang akan dicapai, yaitu untuk membuat Rencana Anggaran Belanja Bulanan (RAB). Forecasting atau sensus buah hitam di kebun Mesuji dilakukan tiga bulan sekali, dengan perhitungan ini dengan mudah dapat diramalkan atau ditargetkan berapa produksi TBS yang akan diperoleh tiga bulan mendatang. Banyaknya pohon yang diamati (sampel) tergantung pada luas blok. Di kebun Mesuji persentasi sampel untuk forecasting sebesar 7 – 9,6 % / ha. Artinya sampel pokok sensus yang diambil setiap 25 ha/ satu petak sebesar 9,6%. Nilai ini dianggap cukup mewakili dan paling mendekati realisasinya. Cara pengamatan dengan memasuki baris setiap kelipatan sepuluh sehingga dalam 25 ha terdapat 12 baris yang diamati, kemudian dihitung jumlah buah hitam dalam baris tersebut. Kebutuhan tenaga kerja untuk sensus diterapkan dengan norma 0,4/ha, artinya dalam areal seluas 25 ha pekerja memperoleh upah 1 hk ( Rp. 32.280,-).
Jika Forecasting untuk mengestimasi produksi hingga tiga bulan mendatang, taksasi panen dilakukan setiap hari guna mengetahui kerapatan panen untuk menentukan kebutuhan tenaga kerja hari itu. Caranya, sehari sebelum kegiatan panen, mandor penen melihat kerapatan buah masak untuk memperkirakan hasil panen keesokan harinya. Dengan memperkirakan kerapatan panen, dapat mengoptimalkan pemakaian tenaga kerja pemanen dan juga transportasi.
Tabel 5 : Contoh perhitungan kerapatan buah masak :
No.Baris Jumlah Tanaman yang diamati Jumlah Tandan Masak
10 27 8
20 26 6
30 27 7
40 25 8
50 27 9
60 27 12
70 27 10
80 26 8
90 27 7
100 27 6
120 27 9
Jumlah 293 90
persentase buah matang : 90/293 X 100% = 30,71%
luas yang akan dipanen : 100 ha
jumlah pokok per ha : 135 pohon/ha
jumlah TBS masak : 100 X 135 X 30,71% = 4145, 85 =4145 TBS
berat tandan reta-rata : 22 kg/TBS
berat tandan akan dipanen : 4145 X 22 = 91190 Kg = 911,9 ton
jumlah tenaga kerja : 911,9/15 ton = 60 pemanen

1. ORGANISASI PRODUKSI
Dalam hal ini adalah tenaga kerja. Organisasi Panen atau produksi terdiri dari asisten produksi, mandor I, mandor panen dan pemanen. Kebutuhan juga pemanen tergantung pada keadaan dan umur tanaman atau ketinggian pokok tananam dan luas areal. Di kebun Mesuji memiliki luas kebun 2283 ha yang dibagi menjadi dua devisi yang dikepalai seorang asisten produksi.

Gambar 7 : Bagan struktur organisasi produksi

2. PELAKSANAAN PANEN
Panen pada tanaman kelapa sawit adalah suatu kegiatan pekerjaan memotong tandan buah masak, serta mengutip berondolan. Tandan buah dan berondolannya kemudian dikumpulkan ke tempat pengumpulan hasil (TPH). Memanen semua buah pada tingkat kematangan yang optimum, yaitu pada saat tandan buah segar (TBS) mengandung rendemen minyak dan kernel tinggi sehingga buah harus segera dikirim ke Pabrik dalam waktu 24 jam setelah panen. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kandungan asam lemak bebas dalam minyak sawit mentah.
Tandan buah harus matang dan mempunyai sedikitnya satu brondolan di piringan sebagai tandan buah tersebut dapat dipanen. pelepah yang di tunas dipotong dan disusun dengan rapi pada gawangan. Seluruh buah dan brondolan harus dipanen, dikumpulkan, dan dikirim ke pabrik. Rotasi dipertahankan pada interval 7-10 hari. Tandan buah dan brondolan disusun dengan rapi pada tempat pengumpulan hasil (TPH) untuk pengangkutan ke pabrik. Tangkai tandan buah dipotong, dan seluruh kotoran pada TBS di bersihkan di TPH sebelum buah diangkut. Tingkat ekstraksi minyak > 23 % (rendemen minyak), ekstraksi kernel > 4% dan asam lemak bebas (ALB) < 3.5%.
Setiap pemanen dibekali dengan peralatan secara lengkap. Panen mendapat prioritas utama dibandingkan kegiatan lain. Peralatan yang dibutuhkan adalah :

Tanaman di lapangan yang berumur < 7 tahun

1. Dodos dengan lebar 10 – 12,5 cm disambung dengan pipa besi atau tongkat kayu Ø 4 cm.

2. Garuk/piring aluminium dan bekas kantong pupuk yang bersih untuk pengutipan brondolan.

3. Gancu adalah besi untuk mengangkat TBS keatas angkong

4. Kereta dorong/angkong

5. Kapak kecil atau parang untuk memotong tangkai TBS dan batu asah.

6. Tojok adalah alat untuk mengangkut TBS ke dalam truk.

Tanaman di lapangan yang berumur  7 tahun

1. Egrek disambung dengan pipa alumunium.

2. Garuk/piring aluminium dan bekas kantong pupuk yang bersih untuk pengutipan brondolan.

3. Gancu adalah besi untuk mengangkat TBS keatas angkong

4. Kereta dorong/angkong

5. Kapak untuk memotong tangkai TBS dan batu asah.

6. Tojok adalah alat untuk mengangkut TBS ke dalam truk

Gambar 8 : Kereta dorong / Angkong

Gambar 9 : Egrek

Gambar 10. Kapak

Gambar 11. Mengangkat TBS dengan tojok
Setiap pemanen diberikan baris tanaman (ancak) untuk dipanen. Jumlah baris yang ditentukan tergantung pada umur tanam, kerapatan buah, dan kemampuan pemanen. Ancak yang baru dapat diberikan kepada pemanen setelah baris tanaman yang diberikan telah dipanen sesuai dengan standar.
1. Pemanen mulai berjalan pada baris tanaman yang akan dipanen sambil memperhatikan setiap pohon, mengamati jumlah brondolan pada piringan maupun pada tajuk .
2. Jika pemanen menjumpai buah matang, pemanen memotong pelepah yang menjaga buah. Dodos digunakan untuk panen sampai pohon dianggap cukup tinggi ( 2m ), pohon tinggi diatas 2m panen segera dilakukan dengan menggunakan egrek. Pemanen berdiri pada tempat yang aman pada saat dan buah jatuh.
3. Pangkal pelepah yang berduri dipotong dan diletakan ditengah tumpukan pelepah atau di gawangan, yang jauh dari jalan panen atau piringan. Hal ini dilakukan untuk menghindari cidera pada kaki pemanen maupun pekerja pemeliharaan.
4. Pada areal tanaman muda (<5 TH) dasarankan agar pemanen memanen dengan sistem curi buah untuk mempertahankan 2-3 pelepah dibawah tandan buah yang di panen. Hal ini dimaksudkan untuk mempertahankan luas daun tanaman muda yang pada giliranya akan mendorong pertumbuhan tanaman dan produksi. Pelepah lain agar ditunas mepet dan diletakan pada tumpukan daun.
5. Setalah mencapai pertengahan blok pertanaman, pemanen mengambil kereta dorongnya lalu mengumpulkan dan mengangkut TBS ke TPH. Pada saat yang sama pemanen mengumpulkan brondolan dengan menggunakan piring alumunium dan kantong pupuk bekas.
6. TBS harus disusun dengan rapi, sedangkan brondolan diletakan dalam kantong pupuk bekas di sebelah TBS.

Gambar 12 : Melihat brondolan di piringan pohon

Gambar 13 : Memanen kelapa sawit dengan egrek

Gambar 14 : Merapikan pelepah yang turun

Gambar 15 : Mengangkat TBS dengan angkong

Gambar 16 : TBS di TPH

Gambar 17 : Mengangkat TBS ke dalam truk

Gambar 18 : Mengatur TBS dalam truk
Rotasi dan Sistem Panen
Panen adalah kegiatan produksi yang dilakukan setiap hari untuk memasok TBS ke pabrik, maka kegiatan ini dilakukan setiap hari sehingga diperlukan rotasi panen.
1. Rotasi Panen
Adalah waktu yang diperlukan antara panen terakhir sampai panen berikutnya pada satu ancak panen yang sama. Rotasi panen dianggap baik bila buah dipanen tidak lewat matang, yaitu menggunakan rotasi panen 7-10 hari. Artinya satu areal TM harus dipanen oleh pemanen setiap 7-10 hari sekali, sebab perkembangan buah mentah merah hingga menjadi matang panen membutuhkan waktu 7-10 hari. Pada kebun Mesuji rotasi panennya/ pusingan sebesar 7-10 hari. Berdasarkan pertimbangan adanya hari-hari libur.
2. Sistem Panen
Umumnya dikenal dua sistem ancak panen, yaitu Ancak Giring dan Ancak Tetap
SISTEM GIRING
Pemanen diberi ancak sempit dan setelah selesai pindah ke ancak berikutnya yang telah ditunjuk oleh mandor. Sistem ini baik digunakan untuk areal yang rata. Kelebihan sistem ini adalah memudahkan pengawasan pekerjaan panen dan hasil panen lebih cepat sampai ke TPH untuk diangkut ke PKS.
SISTEM TETAP
Pemanen diberikan ancak yang tetap setiap rotasi panen di areal tersebut. Sistem ini baik digunakan pada areal yang sempit, daerah rendahan atau daerah berbukit dan pada areal tahun tanam yang berbeda. Pada sistem ini mandor lebih mudah membagi ancak, tetapi buah lebih lambat keluar, sehingga lambat juga sampai ke pabrik.

3. PEKERJA DI BAGIAN PRODUKSI
Regu Panen, yang dikepalai seorang asisten produksi yang membawahi mandor panen I, mandor panen membawahi sekitar 15 orang pemanen. Berikut tugas, dan premi pekerja dari pemanen hingga asisten :
a ) PEMANEN
Pemanen adalah pekerja yang melaksanakan kegiatan panen berdasarkan ancaknya. Pemanen di kebun Mesuji merupakan Karyawan Harian Tetap (KHT) yang mendapatkan gaji setiap bulan sekali berdasarkan banyaknya TBS yang dipanennya dikalikan komedel (rata-rata berat per TBS pada satu hari) dikalikan dengan upah per kilogram buah.
b ) TUKANG MUAT
Tukang muat bertugas mengangkut buah dari TPH ke dalam Truk. Tukang muat adalah karyawan harian tetap dengan gaji yang dibayarkan berdasarkan tonase yang dimuat (sesuai upah minimum propinsi). Tukang muat tidak memperoleh premi berdasarkan jumlah tonase yang dimuatnya. Tukang muat bekerja bersama supir mengambil buah di TPH-TPH yang telah dikumpulkan oleh pemanen pada tiap ancaknya. Untuk mengangkut buah biasanya supir membawa dua orang tukang muat sehingga mempercepat pekerjaan. Sedangkan tukang muat dalam satu hari rata-rata dapat memuat dua truk (sekitar 12 ton), atau tergantung dari kemampuan tukang muat tersebut.
c ) SUPIR
Supir bertugas mengantar buah ke PKS. Supir adalah karyawan harian tetap, dengan gaji bulanan yang telah ditetapkan yaitu Rp. 807.000,- (sebesar upah umum regional propinsi). Diluar gaji bulanan, perusahaan memberikan premi untuk meningkatkan produktivitas pekerja. Premi untuk supir dihitung dari ritase yaitu banyaknya TBS yang diangkut oleh truk ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS) atau premi bertingkat. Misalnya / Contoh perhitungan premi :
Ritase 1/Trip 1 : Rp. 1.750,-/ton X banyaknya buah yang diangkut (ton)
Ritase 2/Trip 2 : Rp. 2.000,-/ton X banyaknya buah yang diangkut (ton)
Ritase 3/Trip 3 : Rp. 2.250,-/ton X banyaknya buah yang diangkut (ton)
Pada kebun Mesuji PT.Sampoerna Agro Tbk. dibagi menjadi 2 divisi yaitu devisi utara dan selatan. Jumlah supir angkut buah di kebun Mesuji sebanyak 25 yang semuanya merupakan KHT (Karyawan Harian Tetap).
d ) MANDOR PANEN
Tugas mandor panen adalah membantu mandor I dalam merencanakan, mengawasi, dan melaporkan kegiatan-kegiatan panen agar pencapaian produksi optimal. Bersama mandor I, mandor panen membagi ancak panen, mengawasi dan memastikan panen berjalan sesuai prosedur. Mandor merupakan karyawan harian tetap. Mandor panen adalah karyawan harian tetap atau pegawai bulanan. Premi yang didapatkan Mandor berdasarkan pada tonase yang didapat pemanen dalam satu bulan.
e ) MANDOR I PANEN
Mandor I panen bertugas membantu asisten lapangan dalam merencanakan, melaksanakan dan mengawasi serta melaporkan kegiatan produksi dan transportasi. Mandor I bertanggung jawab terhadap asisten. Mandor I merupakan karyawan harian tetap. Premi yang didapatkan Mandor berdasarkan pada tonase yang didapat pemanen dalam satu bulan.
f ) ASISTEN PRODUKSI
Asisten Produksi merupakan staf perusahaan yang bertugas membantu Manager Kebun dalam merencanakan, melaksanakan, mengendalikan, melaporkan dan mengevaluasi semua kegiatan produksi tanaman dan pengelolaan asset produksi di kebun serta mendokumentasikan semua data produksi tanaman secara efektif dan efisien. Memonitor pelaksanaan kegiatan kastrasi, sensus buah hitam, panen tandan buah segar (TBS) kelapa sawit dan pengangkutannya ke Pabrik Kelapa Sawit (PKS). Mendistribusikan, mengumpulkan, menyimpan data yang telah diisi sesuai dengan pelaksanaan kerja.
Pengawasan Panen oleh :
Mandor Panen, Mandor I, Asisten, Askep & Manajer.
Tugas Pengawasan :
1. meriksa TBS matang panen yang tertinggal atau tidak diangkut ke TPH
2. meriksa kebersihan brondolan
3. meriksa kualitas buah yang sudah dipanen
4. memeriksa TBS restan
5. megadakan evaluasi kerja

5. PENGANGKUTAN BUAH
Pengangkutan buah adalah kegiatan mengirim TBS dan brondolan ke pabrik dalam keadaan baik secepatnya dalam jangka waktu 24 jam untuk menekan nilai ALB. menjaga jadwal pengiriman dan jumlah buah secara tepat sehingga pabrik kelapa sawit (PKS) dapat bekerja secara optimal. Seluruh TBS harus dikirim pada hari panen dan kerusakan buah sekecil mungkin. TBS bersih dari buah, tanah. Pengangkutan buah menggunakan armada yaitu dump truk dengan kapasitas 6-10 ton. Dikebun Mesuji terdapat sedikitnya 15 armada dump truk untuk mengangkut buah.
Tugas pengangkutan buah dilakukan oleh supir. Untuk memuat TBS dari TPH kedalam truk dilakukan oleh tukang muat. Biasanya dalam satu armada supir membawa dua sampai tiga tukang muat. Setelah truk penuh, sopir membawa sendiri TBS ke PKS terdekat. Transport TBS secara efektif dan efisien sangat penting diperhatikan. Hal itu memerlukan hubungan yang erat dalam hal perencanaan harian antara kegiatan lapangan, pengangkutan, dan pengelolaan pabrik. Jika mungkin, kelompok pemanen bekerja sedemikian rupa sehingga jumlah TPH dan jarak pengangkutan dapat dikurangi. Setiap hari sopir angkutan diberitahu lokasi panen dan ke areal tempat pemanen akan bergerak minggu depan. TBS dari kebun dikirimkan ke PKS perusahaan yang terdekat untuk menekan meningkatnya kandungan asam lemak bebas (FFA).
Semua buah yang telah dipanen dan terkumpul di TPH harus habis diangkut ke PKS. Buah restan atau buah yang menginap biasanya terjadi karena berbagai kendala seperti kurangnya armada, keadaan jalan, antrean masuk truk masuk PKS, banyaknya buah (panen puncak) atau kurangnya pengawasan dari unit produksi.
Kendala yang dihadapi bagian pengangkutan biasanya terkait armada dan rusaknya jalan. Dimusim hujan kerap kali terjadi buah restan karena truk tidak bisa menjangkau lokasi dikarenakan rusaknya jalan akibat hujan. Dimusim panen puncak armada pengangkutan terasa kurang karena banyaknya TBS yang harus dikirim, belum lagi lamanya truk mengantri di PKS karena banyaknya truk yang mau mengirim buah baik dari kebun inti maupun plasma. Jika sudah seperti ini banyaknya buah restan tidak dapat dihindari, kecuali dengan mempersiapkan manajemen yang tepat dan penambahan armada.

VII. MASALAH KHUSUS
1. Kehilangan Hasil
Kehilangan hasil atau Losses adalah bentuk kehilangan hasil yang disebabkan oleh berbagai hal seperti tandan buah mentah terpanen, buah lepas/brondolan tidak terambil atau tertinggal dipiringan, buah masak dipohon yang tidak dipanen, dan buah busuk, tangkai buah terlalu panjang hingga bentuk kecurangan seperti pencurian. Kehilangan hasil harus diminimalisir supaya perusahaan tidak rugi. Perlu pengawasan yang ketat agar tidak menyalahi prosedur ISO mengingat PT. Sampoerna Agro Tbk telah memperoleh ISO. Kehilangan hasil yang paling banyak adalah tidak terambilnya brondolan hingga membusuk dipiringan dan akhirnya dibuang. Seharusnya perlu penambahan tenaga kerja untuk mengambil brondolan (pembrondol) atau mewajibkan pemanen mengutip brondolannya dan diberi premi khusus bagi pemanen yang mau mengutip brondolan hingga bersih. Sementara banyaknya buah membusuk dikarenakan tidak cepatnya transportasi mengangkut TBS ke PKS atau kurangnya armada apalagi jika musim panen puncak (Peak Crop) datang. Jumlah armada seharusnya cukup untuk mengangkut buah di musim peak crop. Masalah lain yang pernah terjadi adalah banyaknya pencurian bahkan melibatkan pegawai perusahaan. Seharusnya dapat dihindari dengan pengawasan yang lebih ketat dan bagian keamanan meningkatkan kewaspadaan dengan rutin berpatroli.
2. Pohon Tua/ Pokok Tinggi
Tanaman kelapa sawit di Kebun Mesuji rata-rata merupakan pokok tinggi yang menyebabkan masalah tersendiri. Tingkat kesulitan memanen pokok tinggi memiliki konsekuensi pemberian premi bagi pemanennya. Selain itu tidak semua pemanen dapat memanen pokok sawit tinggi belum lagi keadaan pohon yang lebat karena pelepah tua yang lama tidak dipruning menambah kesulitan memanen pokok tinggi. Jalan keluar untuk mengatasi masalah adalah dengan mendatangkan tenaga kerja baru dan melatihnya, mengingat kebun Mesuji kekurangan tenaga pemanen dan pruning.
3. Peak Crop
Peak Crop/ panen puncak yaitu membanjirnya buah pada waktu-waktu tertentu. Saat peak crop tiba perusahaan akan mendapatkan keuntungan yang besar karena besarnya produksi, namun disisi lain menghadirkan masalah tersendiri. Masalah yang dihadapi kebun saat peak crop antara lain penundaan panen karena PKS tidak mampu lagi mengolah seluruh pengiriman TBS, penurunan kualitas dan kuantitas TBS, rotasi panen yang tinggi hingga 40 hari menyebabkan TBS membusuk dipohon dan FFA meningkat, penambahan biaya panen karena diperlukan tenaga pengutip brondolan khusus, penambahan biaya transportasi karena ritase/trip supir menurun dikarenakan lamanya antrean di PKS, Penambahan biaya muat baik mekanis maupun manual, penambahan biaya keamanan karena harus menambah tenaga keamanan untuk mengamankan buah restan, dan yang paling merugikan justru menurunnya harga CPO dikarenakan menurunnya kualitas CPO yang disebabkan meningkatnya FFA tadi. Diperlukan tim khusus yang melakukan perencanaan yang tepat untuk mengahadapi peak crop guna mengelola melimpahnya TBS yang mengalir ke PKS dengan lebih baik.

V. KESIMPULAN
1. PT. Sampoerna Agro Tbk, merupakan Perusahaan Besar Nasional yang bergerak dibidang agribisnis kelapa sawit yang berbadan hukum yang menjalin kemitraan dengan petani Plasma dengan pola PIR.
2. Manajemen budidaya kelapa sawit di kebun Mesuji, PT. Sampoerna Agro Tbk, dibedakan menjadi manajemen pemeliharaan dan manajemen produksi yang dipimpin oleh asisten pemeliharaan dan asisten produksi yang bertanggung jawab kepada pemimpin/ manajer kebun.
3. Fungsi pemeliharaan mencakup semua kegiatan yang bertujuan meningkatkan produktivitas kelapa sawit sehingga dicapai hasil yang tinggi. Fungsi manajemen produksi mencakup semua kegiatan yang bertujuan mengambil hasil dan meminimalisir kehilangan hasil. Fungsi ini mencakup perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan serta evaluasi kegiatan.
4. Permasalahan yang ditemui di kebun Mesuji adalah keadaan pokok sawit tinggi yang menyebabkan tingkat kesulitan memanen, kurangnya tenaga kerja pemanen, dan tingginya kehilangan hasil (losses).
5. Kehilangan hasil merupakan masalah utama dalam kegiatan manajemen produksi. Sebab-sebab kehilangan hasil seperti : tandan buah mentah terpanen, buah lepas/brondolan tidak terambil atau tertinggal dipiringan, buah masak dipohon yang tidak dipanen, dan buah busuk, tangkai buah terlalu panjang hingga bentuk kecurangan seperti pencurian. Kehilangan hasil dapat diminimalisir melalui pelaksanaan kegiatan yang sesuai standar ISO dengan pengawasan yang ketat.

Perihal puputwawan
About me? I don't have more story or something to description about me..

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 31 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: