Botani kelapa sawit

1. BOTANI DAN VARITAS

Nama latin dari kelapa sawit adalah Elaeis guineensis Jacq. Elaeis berasal dari kata Elaion yang berarti minyak dalam bahasa Yunani dan Guineensis berasal dari kata Guinea yaitu pantai Barat Afrika. Jacq berasal dari nama ahli botani (botanist) Amerika bernama Jacquin.

Berdasarkan Taksonomi, kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

Divisi : Tracheophyta
Sub Divisi : Pteropsida
Kelas : Angiospermeae
Sub Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Cocoideae
Famili : Palmae
Sub Famili : Cocoideae
Genus : Elaeis
Spesies : Elaeis guineensis Jacq.

Varitas dari kelapa sawit cukup banyak dan diklasifikasikan dalam berbagai hal, yaitu berdasarkan warna kulit buah, ketebalan cangkang dan daging buah, warna buah dan lain-lain.

1.1. Varitas Berdasarkan Warna Kulit Buah

Berdasarkan warna kulit buah, spesies Elaeis guineensis Jacq dibedakan menjadi 3 varitas, sebagai berikut :

Nigrescens yaitu : Buahnya berwarna violet sampai hitam waktu masih muda dan menjadi merah kuning (orange) sesudah matang.

Virescens yaitu : Buahnya berwarna hijau waktu masih muda dan menjadi merah kuning (orange) sesudah matang.

Albescens yaitu : Buah muda berwarna kuning pucat (keputih-putihan), tembus cahaya karena mengandung sedikit karoten dan tetap menjadi kekuning-kuningan sesudah matang dan ujungnya berwarna ungu kehitaman.

Varitas nigrescens dan virescens buahnya ada yang memiliki carpel tambahan (bersayap) yang dikenal sebagai Diwakka-wakka. Varitas lainnya ada yang disebut sebagai Elaeis idolatrica yaitu daunnya menyatu atau anak daunnya tidak memisah.

1.2. Varitas Berdasarkan Ketebalan Cangkang dan Daging Buah

Berdasarkan tebal tipisnya cangkang (tempurung) dan daging buah (mesocarp), spesies Elaeis guineensis jacq dapat dibedakan menjadi 5 varitas, yaitu :

• Dura yaitu : Buah dengan cangkang cukup tebal antara 2,0 – 5,0 mm dan tidak terdapat lingkaran pada bagian luar cangkang. Daging buah relatif tipis dengan perbandingan daging buah terhadap buah antara 20% – 65%. Sedangkan kernel berukuran besar tetapi kandungan minyaknya rendah.

• Pisifera yaitu : Buah dengan cangkang tipis (bahkan hampir tidak ada) sedangkan daging buahnya tebal. Perbandingan daging buah terhadap buah cukup tinggi. Kernel berukuran kecil dengan kandungan minyak yang rendah. Jenis Pisifera tidak dapat diperbanyak tanpa menyilangkan dengan jenis yang lain. Varitas ini dikenal sebagai tanaman betina yang steril sebab bunga betina gugur pada fase dini.

• Tenera yaitu : Buah yang memiliki sifat-sifat yang berasal dari Dura dan Pisifera. Cangkang tipis dengan ketebalan antara 1,0 – 2,5 mm dan terdapat lingkaran sabut disekelilingnya. Perbandingan daging buah terhadap buah cukup tinggi antara 60% – 90%. Tandan buah yang dihasilkan varitas Tenera lebih banyak daripada varitas Dura dan Pisifera tetapi ukuran tandanya relatif lebih kecil.

• Macrocarya yaitu : Buah dengan cangkang sangat tebal, sekitar 4 – 8,5 mm, sedangkan daging buahnya tipis hanya 0,75 – 2,5 mm. Varitas ini jarang sekali digunakan untuk pemuliaan tanaman.

• Diwakka-Wakka yaitu : Buah memiliki dua lapisan daging buah. Ketebalan daging buah tergantung hasil persilangan, yaitu Diwakka-wakka-Dura, Diwakka-wakka-Pisifera dan Diwakka-wakka-Tenera.

1.3. Varitas Unggul

Varitas-varitas unggul dihasilkan melalui hibridisasi atau persilangan buatan antara varitas Dura sebagai induk betina dengan varitas Pisifera sebagai induk jantan.

Beberapa varitas Dura Deli yang dipakai sebagai induk betina adalah

 Dura Deli Marihat.
 Dura Deli Dolok Sinumbah, Pabatu, Bah Jambi, Tinjowan, Dolok Ilir.
 Dura Dumpy Pabatu.
 Dura Deli Gunung Bayu, Gunung Melayu.
 Dura Deli IRHO dan Socfin.

Pohon induk jantan dari varitas Pisifera yang dikembangkan terdiri dari beberapa tipe yang umumnya diberi nama dari asal pohon induk diperoleh, antara lain :

 Pisifera Dolok Sinumbah dan Bah Jambi (berasal dari Yangambi).
 Pisifera Marihat (berasal dari Kamerun)
 Pisifera SP 540 T (berasal dari Kongo dan ditanam di S. Pancur).
 Pisifera Lame.
 Pisifera Yangambi (berasal dari Pantai Gading).
 Pisifera Nifor.

Dari hasil persilangan antara pohon induk betina (Dura) dan pohon induk jantan (Pisifera) dihasilkan keturunan kesatu (filial ke-1= F-1) yang disebut Tenera. Varitas Tenera tersebut sudah banyak dibudidayakan secara komersial karena menghasilkan minyak yang lebih tinggi.

Beberapa contoh hasil persilangan antara varitas Dura dengan Pisifera yang menghasilkan bibit lebih unggul (Tenera) adalah sebagai berikut :

2. BAGIAN DARI TANAMAN

Kelapa sawit yang tumbuh tegak lurus dapat mencapai ketinggian 15 – 20 meter. Tanaman berumah satu (monoecious) karena bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu pohon. Bunga jantan dan bunga betina terdapat pada masing-masing tandan bunganya dan terletak terpisah yang keluar dari ketiak pelepah daun. Tanaman dapat menyerbuk sendiri dan menyerbuk silang.

2.1. Akar (Radix)

Tanaman kelapa sawit mempunyai sistem perakaran serabut. Akar akan tumbuh ke bawah dan ke samping membentuk akar primer, akar sekunder, akar tertier dan akar kuarter. Akar primer tumbuh ke bawah di dalam tanah sampai batas permukaan air tanah. Akar sekunder, tertier dan kuarter tumbuh sejajar dengan permukaan air tanah atau menuju ke lapisan atas atau ke tempat yang banyak mengandung unsur hara. Akar kuarter berfungsi sebagai penyerap air dan unsur hara. Selain itu, akan tumbuh juga akar napas yang berfungsi terutama untuk mengambil oksigen dalam tanah. Perkembangan akar dari mulai kecambah dapat dijelaskan sebagai berikut :

Akar pertama yang muncul dari kecambah adalah radikula yang panjangnya  15 cm, mampu bertahan hingga 6 bulan. Dari radikula akan muncul akar lainnya yang bertugas mengambil air dan hara. Akar ini kemudian fungsinya diambil alih oleh akar primer yang keluar dari bagian bawah batang beberapa bulan kemudian. Akar primer tersebut berfungsi mengambil air dan unsur hara. Dari akar primer tumbuh akar sekunder yang tumbuh horisontal dan dari akar sekunder tumbuh juga akar tertier dan kuarter yang berada dekat pada permukaan tanah.

Pada tanaman di lapangan akar tertier dan akar kuarter berada pada 2,0 – 2,5 m dari pangkal pohon atau di luar piringan dan terkonsentrasi pada kedalaman 0 – 20 cm dari permukaan tanah. Akar primer yang keluar dari pangkal batang jumlahnya sangat banyak dengan diameter 5,0 – 10,0 mm dan tumbuh ke bawah sampai kedalaman 1,5 m. Sedangkan akar sekunder, tertier dan kuarter ukurannya semakin kecil dengan diameter masing-masing 2,0 – 4,0 mm, 0,7 – 2,0 mm dan 0,1 – 0,3 mm.

2.2. Batang (Caulis)

Batang pokok berbentuk tegak dengan ukuran garis pusatnya 35 hingga 65 cm. Kadar kenaikan tinggi pokok kelapa sawit adalah 45 hingga 70 cm setahun dan dapat mencapai ketinggian maksimum 20 hingga 30 meter. Batang pokok tunggal, tidak berdahan dan mempunyai pelepah-pelepah diujungnya. Pelepah ini tersusun secara lingkaran dan tiap-tiap pelepah yang tua mempunyai rakis, helai daun dan duri. Setiap tahun, dua puluh atau tiga puluh pelepah daun akan ditunas, tergantung umur pokok tersebut. Pada setiap aksil pelepah daun terdapat satu tunas bunga yang akan membentuk sama ada seludang bunga jantan atau betina.

Batang kelapa sawit tidak memiliki kambium, tumbuh tegak lurus (phototropi) dan pada umumnya tidak bercabang. Batang berbentuk silinder dengan diameter antara 20 – 75 cm. Selama beberapa tahun batang tertutup rapat oleh pelepah daun dan pelepah akan gugur karena membusuk dimulai dari bagian bawah mulai pada umur 10-11 tahun.

Bagian bawah batang umumnya lebih besar (disebut bongkol batang = bowl). Pertumbuhan meninggi batang berbeda-beda tergantung dari varitas dan tipenya, tetapi pada umumnya tinggi batang bertambah 25 – 45 cm per tahun. Dalam kondisi lingkungan yang sesuai pertambahan tinggi dapat mencapai 100 cm per tahun. Tinggi pohon maksimum yang ditanam di perkebunan berkisar antara 15 – 18 m.

Kelapa sawit mempunyai pertumbuhan terminal, yang mula-mula hanya pembesaran batang tanpa diikuti pertambahan tinggi. Titik tumbuh terletak diujung batang yang disebut umbut. Selama minimal 12 tahun, batang tertutup rapat oleh pelepah daun. Pertumbuhan batang tergantung dari keadaan lingkungan, apabila pertumbuhannya normal maka diameter batang berkisar antara 45 sampai 60 cm. Bentuk batang silinder, tetapi sampai 60 cm diatas tanah batang membesar dan lebih besar daripada bagian atas.

2.3. Daun (Folium)

Daun pertama yang keluar pada stadia bibit adalah berbentuk lanceolate kemudian berkembang menjadi bifurcate dan terakhir berbentuk pinnate . Pada umur bibit 5 bulan akan dijumpai 5 lanceolate, 4 bifurcate dan 3 pinnate. Sedangkan pada umur bibit 12 bulan akan terdapat 5 lanceolate, 4 bifurcate dan 10 pinnate.

Pangkal pelepah daun (petiole) adalah bagian daun yang mendukung atau tempat duduknya anak/helaian daun dan terdiri atas rachis (basis folium), tangkai daun (petiolus), duri (spine), helai anak daun (lamina), ujung daun (apex folium), lidi (nervatio), tepi daun (margo folium) dan daging daun (Iintervenium).

Daun kelapa sawit memiliki rumus daun 1/8. Lingkaran atau spiralnya ada yang berputar kiri dan kanan tetapi kebanyakan putar kanan. Produksi pelepah daun pada tanaman selama setahun dapat mencapai 20 – 30 pelepah, kemudian berkurang sesuai umur menjadi 18 – 25 pelepah atau kurang. Panjang pelepah dapat mencapai 7,5 – 9,0 m pada tanaman dewasa. Pada tiap pelepah diisi oleh anak daun di kiri dan kanan rachis. Jumlah anak daun pada tiap sisi dapat mencapai 125 – 200. Anak daun yang ditengah dapat mencapai panjang 1,2 m. Pada satu pohon dewasa dapat dijumpai 40 – 50 pelepah. Daun muda yang masih kuncup berwarna kuning pucat.

Luas permukaan daun dapat mencapai 10 –15 m2 pada tanaman dewasa yang berumur 10 tahun atau lebih. Pada umumnya luas daun akan mencapai maksimum pada umur 10 – 13 tahun. Untuk tercapainya produksi yang baik maka luas permukaan daun yang optimal adalah 11 m2 .

Daun yang masih muda belum membuka dan tegak berdiri, dalam waktu 2 tahun daun mulai membuka yang kemudian kedudukannya makin condong sesuai dengan umurnya. Pada tanah-tanah yang subur daun akan cepat membuka sehingga akan makin efektif proses asimilasinya.

Dalam satu bulan akan terbentuk dua sampai tiga pelepah daun pada tanaman produksi sedang, sedangkan pada tanaman yang berproduksi tinggi dalam waktu yang sama terbentuk tiga sampai empat pelepah daun. Untuk tanaman yang normal terdapat 45 sampai 55 pelepah daun, kadang-kadang sampai 60 pelepah jika tidak dipotong. Sisa pelepah yang dipotong akan melekat pada batang minimal 12 tahun. Umur daun dari mulai terbentuk sampai tua sekitar enam hingga tujuh tahun.

Letak pelepah daun pada batang menurut garis spiral yang bergerak dari kanan atas ke kiri bawah. Letak daun 1 hampir tepat sejajar pada spiral daun ke-9,17, 25, 33 dan seterusnya atau spiral lain daun ke-2, 10, 18, 26, 34 dan seterusnya. Pola ini berlaku untuk daun ke-3,.4, 5 dan seterusnya.

2.4. Bunga (Flos)

Tanaman kelapa sawit di lapangan mulai berbunga pada umur 12 – 14 bulan, tetapi baru ekonomis untuk dipanen pada umur 2,5 tahun. Dari setiap ketiak pelepah daun akan keluar satu tandan bunga jantan atau bunga betina. Identifikasi bunga jantan dan bunga betina di lapangan tidak terlalu sulit, meskipun bunga masih terbungkus seludang. Bunga jantan ditandai dengan bentuknya lonjong memanjang dan ujung kelopak bunga agak meruncing sedangkan bunga betina bentuknya agak bulat dengan ujung kelopak bunga agak rata.

Sebagian dari tandan bunga akan gugur (aborsi) sebelum anthesis atau sesudah anthesis. Pada tanaman muda sering juga dijumpai bunga abnormal seperti bunga banci (hemaprodit) yaitu tandan bunga yang memiliki dua jenis kelamin, bunga andromorphic (androgynous) yaitu secara morfologi adalah bunga jantan tetapi pada sebagian spikeletnya dijumpai bunga betina yang dapat membentuk buah sawit kecil. Persentase bunga abnormal sangat kecil yaitu kurang dari satu bunga setiap pohon dan tidak semua pohon.

Sex diferensiasi terjadi 17 – 25 bulan sebelum anthesis dan setelah anthesis membutuhkan waktu 5 – 6 bulan buah menjadi matang panen. Secara visual tandan bunga jantan atau bunga betina baru dapat diketahui setelah muncul dari ketiak pelepah daun yaitu 7 – 8 bulan sebelum buah matang panen atau 1 – 2 bulan sebelum anthesis. Lamanya matang tandan sejak anthesis adalah 158 – 160 hari.

Tandan bunga betina dibungkus oleh seludang bunga yang akan pecah 15 – 30 hari sebelum anthesis. Satu tandan bunga betina memiliki 100 – 200 spikelet dan setiap spikelet memiliki 15 – 20 bunga betina. Tidak semua bunga betina akan berhasil membentuk buah sempurna yang matang, terutama pada bagian dalam. Pada tandan tanaman dewasa dapat diperoleh 600 – 2.000 buah (brondolan) tergantung pada besarnya tandan dan setiap pohon dapat menghasilkan 15 – 25 tandan/pohon/tahun pada tanaman muda dan pada tanaman dewasa dan tua menghasilkan 8 – 12 tandan/pohon/tahun.

Bunga betina tidak serentak proses anthesisnya. Pada satu tandan membutuhkan waktu 3 – 5 hari atau lebih. Bunga betina yang sudah mekar atau dalam keadaan reseptif mengalami beberapa tingkat perkembangan dan dapat diketahui dari perbedaan warnanya, sebagai berikut :

• Hari pertama : Warna bunga pada saat mekar adalah putih.
• Hari kedua : Warna bunga berubah menjadi kuning gading
• Hari ketiga : Warna bunga berubah menjadi agak kemerahan (jingga)
• Hari keempat : Warna bunga menjadi kehitam-hitaman.

Masa reseptif (masa subur) bunga betina membutuhkan waktu 36 – 48 jam, tetapi tidak semua bunga terbuka pada waktu yang sama. Ada tenggang waktu sampai 2 minggu antara terbukanya bunga betina pertama dengan bunga betina terakhir dalam satu rangkaian bunga. Pada satu tangkai bunga betina yang normal, pembukaan bunga pada hari kedua merupakan saat yang tepat untuk melakukan penyerbukan sebab pada saat tersebut rata-rata 82% bunga betina sudah terbuka semua.

Seludang bunga jantan mempunyai tangkai dengan spikelet-spikelet atau jari-jari dengan ukuran 12 – 20 cm panjang. Sebanyak lebih kurang 200 spikelet dapat dijumpai pada satu seludang bunga jantan. Pada setiap spikelet terdapat bunga yang berwarna kuning keputihan dan timbul dari pangkal ke ujung bagi tiap-tiap spikelet. Seludang bunga betina mengandung beberapa ribu bunga keluar dari 100 hingga 250 spikelet yang berduri dan tersusun secara melingkar. Buah-buah akan terbentuk dan matang di antara 5½ hingga 6 bulan selepas pembuahan. Biasanya dalam satu tandan dapat diperoleh lebih kurang 1500 buah pada pokok-pokok dewasa. Buah kelapa sawit ialah jenis drup dan terdiri dari bagian luar (eksokarp) atau kulit tipis, bagian tengah (mesokarp) atau pulpa dan bagian dalam (endokarp) atau tempurung dan inti. Minyak kelapa sawit didapat dari mesokarp dan inti. Daur hidup kelapa sawit adalah sekitar 25 – 30 tahun.

Demikian juga tandan bunga jantan dibungkus oleh seludang bunga yang pecah jika akan anthesis seperti bunga betina. Tiap tandan bunga jantan memiliki 100 – 250 spikelet yang panjangnya 10 – 20 cm dan diameter 1,0 – 1,5 cm. Setiap spikelet berisi 500 – 1.500 bunga kecil yang akan menghasilkan tepung sari. Tiap tandan bunga jantan akan dapat menghasilkan tepung sari sebanyak 40 – 60 gram.

Bunga jantan akan mengalami tingkat perkembangan dimulai dari terbukanya seludang sampai siap melakukan penyerbukan, dengan tahapan sebagai berikut :

• Hari pertama : Seludang terbuka, tepung sari keluar dari bagian ujung tandan bunga.
• Hari kedua : Tepung sari keluar dari bagian tengah tandan bunga.
• Hari ketiga : Tepung sari keluar dari bagian bawah tandan bunga dan mengeluarkan bau yang khas (spesifik). Kondisi ini menandakan bunga jantan sedang aktif dan tepung sari dapat dipergunakan/diambil untuk penyerbukan buatan.

Pada tanaman muda jumlah bunga jantan per pohon lebih sedikit dibandingkan dengan tandan bunga betina dan perbandingan ini akan berubah sesuai peningkatan umur tanaman.

a. Cara Penyerbukan.

Bunga kelapa sawit termasuk berumah satu atau monocius, dimana bunga jantan dan betina terdapat pada satu pohon tetapi masa antesisnya berbeda.

Oleh karena itu pada umumnya terjadi penyerbukan silang. Penyerbukan sendiri secara buatan dapat dilakukan dengan mempergunakan serbuk sari yang disimpan.

b. Perkembangan bunga dan penyerbukan

Pada titik puncak batang terdapat titik tumbuh dari bakal daun dan pada ketiaknya terdapat satu bakal bunga.

Perkembangan bunga pada pohon dewasa, mulai dari tingkat diferensiasi sex sampai antesis, berlangsung dalam waktu kurang lebih dua tahun. Pada masa perkembangan sebagian bunga dalam rangkaian itu gugur, biasanya sekitar 4-5 bulan sebelum tingkat kematangan penuh.

Cabang-cabang (spikelets) dari bunga jantan kurang lebih sama dengan bunga betina, tapi jumlah bunga tiap cabang pada bunga jantan lebih banyak yaitu sekitar 700 sampai 1.200 bunga, sedang pada bunga betina hanya sekitar 5 sampai 30. Ditinjau dari dasar bentuknya semua bunga nampaknya berkelamin ganda (bisexual).

Dalam masa transisi antara siklus jantan dan betina kadang-kadang terjadi rangkaian bunga yang hemaprodit, terutama pada tanaman muda. Kejadian ini bervariasi mulai dari rangkaian bunga betina dengan beberapa cabang bunga jantan atau sebaliknya, sampai kadang-kadang terdapat suatu rangkaian disebut “andromorphous” yang mempunyai bentuk susunan rangkaian bunga jantan tapi mempunyai ratusan bunga betina yang keci-kecil pada cabang-cabangnya.

Sebuah rangkaian bunga jantan dapat menghasilkan serbuk sari dalam jumlah yang cukup sampai 50 gram, Serbuk sari ini dibawa oleh angin atau serangga. Viabilitas serbuk sari segar biasanya baik, tapi dalam cuaca lembab viabilitas tersebut turun sekali dan penyebarannya sangat terbatas.

Masa reseptif (dapat diserbuki) bunga betina adalah 36 sampai 48 jam. Akan tetapi tidak semua bunga terbuka pada waktu yang sama, sehingga ada tenggang waktu sampai dua minggu diantara masa terbentuknya bunga betina pertama dan bunga terakhir dari satu rangkaian bunga.

Rangkaian bunga yang mempunyai persentase tertinggi dari bunga yang lambat terbuka dapat menyulitkan dalam penyerbukan buatan.

Pada rangkaian bunga yang normal hari kedua pembukaan bunga betina adalah yang paling baik untuk penyerbukan dimana pada waktu itu rata-rata 82 persen dari bunga betina telah terbuka.

2.5. Buah (Fructus)

Bunga betina setelah dibuahi akan berkembang pada spikelet. Berat satu buah (brondolan) yang sudah matang tergantung pada tipe induknya. Pada tipe tertentu berat buah (brondolan) rata-rata 13 gram dan pada tipe lainnya ada yang mencapai 18 – 20 gram.

Berdasarkan letaknya pada tandan, buah (brondolan) dibedakan menjadi 2 bagian yaitu buah dalam dan buah luar. Buah dalam adalah buah yang terletak di bagian dalam, ukuran lebih kecil (karena terjepit) dan kurang sempurna bentuknya. Buah luar adalah buah yang posisinya berada di luar, terlihat jelas, bentuknya sempurna dan ukurannya besar.

Proses kematangan buah mengalami beberapa tahapan, yaitu :

• Matang morfologis : Kematangan buah telah sempurna bentuknya dan kandungan minyak sudah optimal.
• Matang fisiologis : Kematangan buah yang sudah lanjut yaitu telah siap untuk tumbuh menjadi kecambah. Biasanya 1 bulan sesudah matang morfologis.

Buah (brondolan) luar yang telah lepas dari tandan dan jatuh ke tanah dipakai untuk identifikasi atau kriteria kematangan tandan dalam pemanenan. Istilah yang digunakan adalah fraksi. Kriteria kematangan buah dibedakan menjadi 5 fraksi.

Secara umum, fraksi tandan yang baik adalah fraksi 2 dan fraksi 3. Panen dikatakan baik jika dapat mengumpulkan fraksi 2 dan fraksi 3 lebih dari 75%, fraksi 1 maksimal 10% dan fraksi 4 kurang dari 15%. Perkembangan dari satu fraksi ke fraksi lainnya sangat cepat seperti urutan berikut :

Hari 2,80 2,97 1,64 1,22 1,00
Fraksi 0 1 2 3 4

Dari angka tersebut, maka perhitungan rotasi panen untuk mendapatkan kualitas buah yang baik adalah fraksi 1 + fraksi 2 + fraksi 3 + fraksi 4 = (2,97 + 1,64 + 1,22 + 1,00) hari = 6,83 hari (dibulatkan 7 hari).

Daging buah terdiri atas minyak, air dan serat. Serat buah terutama terdiri atas selulosa dan lignin. Kadar air dan minyak berubah menurut kematangan buah, sedangkan kadar serat pada daging buah hampir tetap yaitu 13% terhadap berat buah sejak 3 bulan sesudah anthesis sampai buah matang. Semakin tinggi kadar serat pada daging buah akan memberi peluang lebih besar kehilangan minyak saat pengolahan.

Dalam waktu kira-kira 5 – 6 bulan setelah penyerbukan, buah menjadi matang, cuaca kering terlalu panjang dapat memperlambat pematangan buah. Jumlah buah yang terdapat dalam satu tandan sangat bervariasi, diantaranya tergantung dari umur. Pada pohon yang sudah cukup tua jumlah buah berkisar sekitar 1.600 buah per tandan. Bentuk dan ukuran buah tergantung pada posisinya dalam tandan. Panjang sampai 5 cm dengan berat sampai 30 gram. Warna buah tergantung dari varitas dan tingkat kematangan.

Pada dasarnya buah terdiri dari :

(i) Pericarp

Yaitu daging buah yang mempunyai arti ekonomi yang sangat penting karena kandungan minyaknya. Bagian ini terdiri dari exocarp, yaitu kulit luar sebagai pelindung dan mesocarp, yaitu bagian yang bersabut dan mengandung minyak sangat banyak.

(ii) Biji

Yaitu bagian yang terdiri dari kulit biji yang berupa tempurung yang ketebalannya bervariasi di antara berbagai varitas. Dalam tempurung ini terdapat cotyledon yang disebut kernel atau inti sawit dan mempunyai arti ekonomi, karena mengandung minyak yang dapat diektrasi.

2.6. Biji

Biji merupakan bagian buah yang telah terpisah dari daging buah dan sering disebut sebagai noten atau nut. Biji terdiri atas cangkang, embryo dan inti (endosperm). Namun terdapat juga biji tanpa inti.

Embryo panjangnya 3 mm berdiameter 1,2 mm berbentuk silindris dan memiliki 2 bagian utama (bagian yang tumpul berwarna kuning dan bagian yang agak tajam berwarna putih).

Endosperm merupakan cadangan makanan bagi pertumbuhan embryo. Pada perkecambahan embryo akan keluar melalui lobang cangkang (germpore) membentuk radikula (bakal akar) dan plumula (bakal daun).

3. SYARAT TUMBUH KELAPA SAWIT

3.1 Iklim

Kelapa sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropika basah pada ketinggian 0 – 500 m dari atas permukaan laut dan antara 120 lintang utara dan lintang selatan.

Dengan heterogennya faktor iklim ini, maka akan menentukan kelas kesesuaian iklimnya yang nantinya akan sangat berpengaruh terhadap potensi produksi di masa mendatang. Berikut disajikan kelas kesesuaian iklim untuk kelapa sawit mulai dari kelas 1 sampai dengan kelas 4

Keadaan iklim (klas 1)
Baik (klas 2)
Sedang (klas 3)
Kurang baik (klas 4)
Tidak baik
Curah hujan (mm) 2.000–2.500 1.800–2.000 1.500–1.800 400
Hari terpanjang tidak hujan < 10 < 10 10
Temperatur (0 C) 22 – 33 22 – 33 22 – 33 22 – 33
Penyinaran (jam) 6 6 < 6 < 80
Kelembaban (%) 80 80 < 80 < 80

a. Curah Hujan

Jumlah curah hujan yang baik adalah 2.000 – 2.500 mm/tahun, tidak memiliki defisit air, hujan agak merata sepanjang tahun. Hal ini bukan berarti kurang dari 2.000 mm tidak baik, karena kebutuhan efektif hanya 1.300 – 1.500 mm. Terpenting adalah tidak terdapat defisit air 250 mm. Lebih dari 2.500 mm juga bukan tidak baik asal saja jumlah hari hujan setahun tidak terlalu banyak misalnya lebih dari 180 hari.

b. Temperatur

Temperatur yang optimal untuk pertumbuhan kelapa sawit adalah antara 24 – 280 C, dengan suhu minimal 180C dan maksimal 320C dengan lama penyinaran 5 – 7 jam/hari. Pada beberapa daerah seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan sering terjadi pada bulan tertentu penyinaran matahari ini kurang dari 5 jam.

c. Faktor iklim Lainnya

Kelembaban rata – rata yang tinggi akan merangsang perkembangan penyakit, kelembaban udara yang baik adalah 36
Solum (cm) > 80 80 60 – 80 80 60 – 80 50 – 60 40 – 50
Tekstur Lempung lempung liat Liat berpasir liat Pasir lempung liat Pasir
Bahan organik (cm) 5 – 10 5 – 10 5 – 10 > 5
Keadaan batuan Dalam Dalam Dalam Mengham
bat akar
Erosi Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sedikit
Drainase Baik Bak Agak baik Agak baik
Banjir Tidak ada Tidak ada Tidak ada Sedikit
Pengaruh pasang surut Tidak ada Tidak ada Tidak ada Ada

3.3. Sifat Kimia Tanah

Beberapa sifat kimia tanah yang dapat dipakai sebagai pedoman untuk tanaman kelapa sawit adalah :

- Keasaman tanah (pH) yang sesuai untuk kelapa sawit antara 4,0 – 6,0 dimana pH yang optimum adalah 5,0 – 5,5. pH tanah sangat terkait pada ketersediaan hara yang dapat diserap oleh akar. Tanah yang mempunyai pH rendah dapat dinaikkan dengan pengapuran namun biasanya dijumpai pada daerah pasang surut terutama tanah gambut.

- C/N ratio yang sesuai untuk tanaman kelapa sawit adalah mendekati 10, dimana kandungan C ± 1 % dan N ± 0,1

- Kapasitas Tukar Kation (KTK) yang penting adalah unsur Mg dan K. Besarnya KTK untuk Mg yang baik adalah 0,4 – 1,0 me/100 gr sedangkan untuk K adalah 0,15 – 0,20 me/100 gr

4. ILUSTRASI FOTO

Foto 1. Persilangan antara Biji Dura dengan Pisifera menghasilkan keturunan tenera.

Foto 3. Tandan Bunga Jantan pada kelapa sawit yang keluar dari ketiak pelepah daun.

Foto 5. Tandan Bunga Banci yang sering dijumpai pada tanaman muda.

Foto 2. Perbedaan warna Kulit buah pada Varietas Nigrescens, Virescens & Albescens.

Foto 4. Tandan Bunga Betina pada kelapa sawit.

Foto 6. Proses produksi Benih dgn penyerbukan pada pokok induk Dura.

Foto 7. Penampakkan pokok induk dengan beberapa tandan yang telah diserbuk.

Foto 9. Tahapan perkembangan akar kelapa sawit pada berbagai stadia pertumbuhan.

Foto 11. Daun Bifurcate yang merupakan perkembangan dari bentuk daun laceolate.

Foto 8. Spikelet yang terdapat pada tandan buah segar kelapa sawit.

Foto 10. Tahapan terbentuknya daun laceolate yang terjadi pada stadia bibit.

Foto 12. Daun Pinnate yang merupakan perkembangan dari bentuk daun Bifurcate.

About these ads

Perihal puputwawan
About me? I don't have more story or something to description about me..

One Response to Botani kelapa sawit

  1. herry hb mengatakan:

    thanks infonya. Bgimana cara agar buah tidak terjepit pelepah? maksudnya agar buah dapat tumbuh besar normal, tidak mengecil akibat terjepit pelepah….
    big thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: